
Erlangga menatap tajam kearah Laura, tatapan nya membuat Laura ketakutan.
“Ada apa mas?”
“Ra, gue tahu lo waktu itu tahu semuanya.”
“Tahu apa mas?”
“Sudah lo gak usah pura-pura, lo kan yang lihat gue digudang tua itu dan menyekap Sindi.” Kata Erlangga membentak Laura.
“Mas Erlan, waktu itu aku.”
“Kenapa? Jelaskan padaku kenapa?”
“Awalnya aku tidak sengaja mas, aku lihat mas Erlan terlihat panik saat keluar dari kantor, lalu aku mengikuti mas Erlan.”
“Kenapa kamu begitu sibuk untuk mengurusi urusan ku, kenapa?”
“Emm aku, aku tidak tahu mas, semuanya mengalir begitu saja, dari awal aku hanya penasaran kenapa mas Erlan pergi dengan buru-buru saat tahu mas Dimas tidak pergi untuk menyelamatkan Sindi.”
“Bohong!” Teriak Erlangga.
“Benar mas, aku tidak sengaja mengikuti mas Erlan.”
“Kalau begitu kenapa kamu lari dari aku ha”
“Aku terkejut mas.”
“Awas ya Ra, kalau sampai kamu ikut campur urusanku, kamu akan tahu sendiri akibatnya.”
Erlangga pergi dari rumah Laura. Laura yang ketakutan karena sikap Erlangga menangis. Bagaimana jika Erlangga berhasil menemukan berkas penting ayahnya dan memberikan pada paman nya, lalu paman nya akan menjualnya. Setelah itu warga akan selama nya mengecam orang tuanya.
Saat Laura tengah memikirkan sesuatu, tiba-tiba Laura mendapat telepon dari nomor baru.
“Hallo.”
“Iya, hallo apa benar ini Laura.”
“Iya saya sendiri, ini siapa?”
“Ini saya tante Merlina, masih ingat, istri om suprapto.”
“Oh iya tante, ada apa, apa ada berita baru dari kakak saya.” Tanya Laura, dia masih berusaha untuk pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
“Begini Laura, apakah kamu bisa menjemput saya, ada yang mau saya bicarakan sama kamu.”
“Baik tante, tante sms in tante sekarang ada dimana, Laura akan jemput tante.”
“Iya Laura.”
Laura segera bergegas untuk bersiap diri, Laura menuju tempat yang dimaksud tantenya dan segera menjemput nya. Tak butuh waktu lama Laura segera sampai ditempat yang Tantenya maksud. Tante Laura segera masuk kedalam mobil. Laura tampak melihat-lihat sekelilingnya, dia memastikan tidak ada yang mengikutinya.
“Laura, kamu melihat siapa?”
“Oh tidak, apa tante datang sendirian?” tanya Laura.
“Iya Ra, tapi tante juga khawatir, karena tante kabur dari rumah.”
“Kenapa tan, ada masalah apa?”
“Tante sebenarnya bingung, mau cerita darimana, yang jelas, om kamu dan kakak mu akan segera mencari tante Ra.”
Laura masih fokus menyetir mobil nya.
“Tante bangga sama kamu, kamu sekarang sukses, setidak nya tante tidak begitu merasa bersalah.”
“Kenapa tante harus merasa bersalah.”
Laura yang masih merasa was-was itu bingung akan mengajak Tante nya ini kemana, tidak mungkin juga kerumahnya, Erlangga baru saja mengancam nya, jika tau tantenya dirumah nya, pasti Erlangga akan mengahabisinya. Belum lagi kalau tantenya disuruh menjadi mata-mata oleh suaminya, ah Laura sangat bingung. Akhirnya dia memilih sebuah hotel untuk bicara dengan tantenya.
“Ra, kenapa kita ke hotel.”
“Tante tenang aja ya, tidak usah khawatir, disini aman dan tidak akan ada yang tahu, karena dirumahku banyak orang tante, ada banyak teman-teman yang tinggal bersamaku.” Kata Laura.
Tante Merlina tampak diam tidak menyahut, dia memilih menurut saja. Laura mematikan semua ponsel nya, agar tidak ada yang menggagunya saat ini. Di dalam kamar hotel itulah tantenya menceritakan kejadian yang sebenarnya.
****
“Laura, sebenarnya orang tuamu tidak bersalah, suamiku lah yang bersalah, suamiku sudah lama menjalin hubungan dengan ibumu, akan tetapi nenek dan kakekmu menjodohkan ibumu dengan kakak suamiku, tante dan ayahmu sama sekali tidak mengetahui hubungan mereka yang ternyata sudah jauh, hingga suatu ketika ayahmu sangat marah pada om kamu, dan memakinya, dan tante sangat kaget saat mengetahui kalau Erlangga adalah anak dari suamiku dan ibumu, tante marah sebagai seorang perempuan terlebih tante belum bisa memberi keturunan pada om kamu. Saat ayahmu tengah marah, dia pergi bersama ibumu dan kamu, rasanya pertengkaran terjadi saat itu hingga menyebabkan pertengkaran, saat itu aku dan om kamu pergi kerumah
sakit, suamiku menangisi kematian ibumu, saat itu tante melihatmu masih hidup dan juga ayahmu. Tante menemui ayahmu dan sahabat ayahmu waktu itu, ayahmu menitipkan sertifikat warga pada sahabat nya, agar tidak sampai ditangan yang salah, karena om kamu ingin menguasai harta semua warga kampung, tetapi nanti yang akan disalahkan adalah ayahmu, yang tante tahu waktu itu, ayahmu berpesan pada tante untuk merawat kamu, dan berpesan pada sahabatnya, jika ayahmu tak dapat bertahan maka kamulah yang akan mengambil sertifikat itu. Ini hanya rahasia antara tante, ayahmu dan sahabat ayahmu. Saat itu tante keluar rumah sakit menggendongmu, dan om kamu sangat marah, dia tidak mau merawatmu, saat itu tante memutuskan untuk membawamu ke panti asuhan, om kamu tidak tahu kalau tante memberimu peninggalan foto orang tuamu, kalau tidak, siapa yang akan mengambil berkas itu Ra, saat ini sudah waktunya kamu menggantikan posisi ayahmu dan bilang kewarga bahwa ayahmu hanya ingin menyelamatkan mereka, sekali lagi maafkan tante Ra, maafkan tante.”
Laura menghembuskan nafas panjang.
“Tante masih tahu sahabat ayah itu.”
“Tante punya foto nya, ini orang nya, kalau tidak salah namanya Didi Jaelani.” Kata tantenya, hal itu membuat Laura tersentak kaget, bagaimana mungkin, Didi Jaelani adalah papa nya Dimas.
__ADS_1
“Tante, apa tante tidak salah.”
“Tidak nak, ini adalah sahabat ayahmu.”
“Yang Laura tahu pak Didi Jaelani ini sudah meninggal tante.”
“O iya, terus bagaimana?”
“Sekarang Laura mau tanya pada tante, siapa kakak tiri Laura sebenarnya.”
“Namanya adalah Erlangga, kami akrab memanggilnya angga, dia dekat dengan kami sebenarnya, setiap bulan dia pasti pulang, meskipun pulang hanya sebentar dan tidak lama.”
“Apakah ini orang nya.” Laura memberikan foto erlangga yang ada di ponselnya yang dia ambil dari sosial media Erlangga.
“Iya betul ini kakak kamu, kok kamu tahu Ra.”
“Laura sudah lama kenal dengan Mas Erlangga tante, sejak Laura masih dirumah kontrakan, dia langganan Laura beli kue, tetapi mungkin Mas Erlangga sudah tau siapa Laura.”
“Bisa jadi, karena selama ini om kamu juga punya orang suruhan untuk mengawasi kamu, sepertinya om kamu juga khawatir kalau kamu mencari tahu tentang orang tuamu, dan yang pasti om kamu tidak sepenuhnya percaya sama tante.”
“Iya, dan juga mas Erlangga sudah lama mengincar Dimas, anak pak Jaelani.”
“Oh iya, ya ampun ternyata om kamu sudah bertindak jauh selama ini,”
“Tidak apa-apa tante semua belum terlambat kok, aku akan menemui Dimas dan mengambil sertifikat itu.”
“Iya Ra, tetapi kamu harus menyebutkan ini saat bertemu dengan nya karena ini adalah kode rahasia itu.” Kata Tante Laura sembari membisikan sesuatu pada Laura.
“Baiklah tante, Laura akan mencoba menemui Dimas.”
“Ra”
“Iya tante”
“Tante bingung mau kemana, saat ini tante tidak berani pulang, om kamu akan menghabisi tante kalau sampai tahu tante berada dipihak kamu.”
“Tante tenang aja, sementara tante tinggal disini dulu, aku akan mengunjungi tante, aku harus menemui mas Dimas dulu tante, sebelum mas Erlangga melakukan sesuatu, karena kemarin saja mas Erlangga menyulik Sindi pacar Dimas untuk membuat Dimas mengaku bahwa dia yang membawa berkas itu.”
“Iya sudah tolong kamu cepat pergi ke Dimas ya Ra, jangan sampai berkas itu sampai ke tangan om kamu yang serakah itu, kasihan warga disana Ra, penghasilan nya hanya dari kebun-kebun mereka saja.”
“Baik tante, Laura pergi dulu ya.”
“Iya hati-hati ya.”
__ADS_1
Setelah memberikan pegangan uang pada tante nya, Laura segera pergi menemui Dimas, dia merasa bersyukur saat ini, tante nya memberitahukan kejadian sebenarnya. Di tengah jalan Laura teringat sesuatu, tantenya belum cerita dimana orang tuanya dimakam kan, Laura aka menanyakan nya nanti, saat ini dia harus bertemu dengan Dimas dahulu, dia akan mengambil barang penting ayah nya. Dan mengembalikan pada warga, agar ayah nya juga tenang dialam sana.