Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 10


__ADS_3

Laura datang kekantor Dimas dengan membawa kue kesukaan nya, sebenarnya beberapa hari


ini dia dan Dimas tidak berkomunikasi. Tapi demi pekerjaan nya yang masih


terikat kontrak Laura memberanikan diri untuk datang ke kantor nya Dimas.


“Aduh ma Dimas itu sibuk, kenapa sih Mama tidak pergi belanja sendiri aja.” Kata


Dimas saat akan keluar dari kantor.


“Mama mau kenalkan kamu dengan anak teman Mama.”


“Mama please deh.”


Langkah  Dimas terhenti saat melihat Laura datang.


“Laura.”  Mama Dimas menyapa Laura dengan wajah yang sumringah.


“Iya tante apa kabar?”


“Tante baik sayang,”


“Mas,  aku bawain kue kesukaan kamu.” Kata Laura, Dimas menerima kue yang dibawa


Laura.


“Ya ampun ternyata kalian ini romantis sekali, Dimas kamu bohongi Mama ya, katanya


kamu sudah putus sama Laura.” Mama Dimas mencubit anak nya.


Dimas menatap Laura.


“Iya  habisnya Mama sih, cari Laura terus, anak Mama itu aku apa Laura.”


“Ih kamu cemburu, iya udah kalau itu Mama pergi sama Laura aja ke Mall nya, kamu


lanjut kerja aja ya.”


Dimas  terlihat lega, dan tersenyum pada Laura.


“Iya  udah kalau Mama mau pergi sama Laura, hati-hati ya kalian.”


Laura  dan Mama Dimas pergi. Sementara Dimas kembali bekerja, dia menuju ruangan kerja


Erlangga terlebih dahulu, karena beberapa hari ini Erlangga jarang sekali datang


keruang kerjanya.


“Lang.” Panggil Dimas.


“Iya Dim, ada apa?”


“Sibuk banget, ada masalah kah?” Tanya Dimas pada Erlangga yang menjabat sebagai


penanggung jawab kantor cabang.


“Tidak ada sih, hanya ada satu cabang aja yang banyak sekali laporan buruk, dan banyak


karyawan yang berhenti.”


“O iya dimana itu?”


“Di Surabaya.”


“Lo mau kesana lihat?”


“Saat  ini gue baru kontrol disini aja, kalau emang seminggu ini tidak ada perubahan


gue izin kesana deh.”


“Oke oke.” Kata Dimas sembari meletak kan dus kue dimeja Erlangga.


“Itu  kue,,”


“Iya, tadi Laura kesini bawain kue ini.”


“Wuidihhh  pantesan muka lo sumringah bro.”


“Apaan  sih.”


“Kalau  lo suka sama Laura, kenapa lo gak jadiin pacar beneran aja sih, daripada


pura-pura, toh Mama lo udah suka kan.”


“Makin  ngaco ngomong nya, emang Laura itu cantik, tapi masih bukan tipe gue.”


“Iya  daripada lo nungguin Sindi yang gak jelas.”


“Gue yakin Sindi bakal balik kesini.”


“Balik kesini nya iya, Cuma kalau masih suka sama lo gak yakin gue.”


Ucapan  Erlangga membuat Dimas terdiam.


****


Laura tiba dirumah dengan wajah lelahnya, Mama Dimas mengajak nya berkeliling kota


dan belanja, kakinya serasa pegal.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Mama Dimas sangat antusias menceritakan Dimas.


“Dimas itu anak satu-satunya tante yang tante sayangi, dulu Dimas punya adik perempuan


mungkin kalau masih hidup dia seumuran kamu.” Cerita Mama Dimas.


“Tante yang sabar ya.”


“Namanya Diandra, dia meninggal karena suatu penyakit saat berumur 12 tahun, saat itu


Dimas menangis, dia sangat menyayangi adik nya.”


Laura  tidak menyangka kalau dibalik sosoknya yang menyebalkan itu ternyata dia


penyanyang.


“Saat  Dimas baru saja lulus sekolah, Papanya menyusul adiknya karena sebuah


kecelakaan, sejak itu Dimas yang memegang perusahaan sembari berkuliah, ya


kadang-kadang tante bantu.”


“Emm,  maaf saya mau tanya Tan, apakah Dimas punya pacar sebelum saya.”


“Kenapa  kamu tanya seperti itu hayo,,,”


“Emm  tidak Tan,,”


“Iya tante paham, dulu Dimas punya pacar, namanya Sindi, setelah Papa Dimas


meninggal, Sindi pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliah nya, sampai


sekarang Sindi masih belum pulang.”


“Apa  mereka sudah putus Tan,”


“Rasanya  sudah, mereka sudah hampir lima tahun berpisah, kamu tenang aja, kamu tidak


usah khawatir, kamu sudah mendapatkan tempat utama dihati tante,”


“Kenapa  Tante menyukai Laura.”


Mama  Dimas memandang Laura.


“Karena  kamu sama seperti Diandra, sayang dengan orang tua, lemah lembut dan suka


membuat kue.”


Laura tersenyum, Laura bahagia, setidaknya dia merasakan bagaimana punya ibu, jika


nanti suatau saat Laura sudah tidak berhubungan lagi dengan Dimas, maka Laura


Laura  terkejut dengan bunyi di ponselnya.


“Hallo.”  Suara serak Laura.


“Ra, lo sakit lagi.” Kata Dimas di seberang telephon, entah kenapa saat Laura


memikirkan cowok nyebelin ini, pasti selalu dia selalu muncul.


“Enggak, Cuma capek, aku baru aja sampai sih.”


“Oh, di ajak jalan-jalan kemana aja sama Mama.”


“Belanja  aja sih tadi, kenapa?”


“Ga apa-apa sih, Cuma nanya.”


“Hemm, terus?”


“Terus apa?”


“Iya kan udah tanya terus apa lagi.”


“Lo  gak suka ya gue telephon.”


“Bukan  gak suka Mas, aku capek banget.”


“Iya  iya ya udah lo istihat gue gak telephon lo lagi.” Dimas menutup telephon nya.


Laura sebenarnya suka di telephon Dimas, tapi bagaimanapun juga dia hanyalah


pacar kontrak, Laura takut kalau dia akan jatuh cinta beneran dengan Dimas.


***


Rio  datang menemui Laura, saat itu Rio yakin hari itu adalah hari yang tepat untuk


nya mengungkapkan rasa pada Laura.


“Tumben  banget Mas Rio mau ngajak aku makan disini.”


“Kenapa  memangnya?”


“Iya  tempatnya seperti tempat orang pacaran gitu, biasanya kan Mas Rio ngajak nya


makan rumah makan padang, hehe.” Ucap Laura.


“Iya sesekali lah.”

__ADS_1


“Iya  deh.”


“Iya  udah kamu pesan aja apa yang kamu mau.”


Laura  mengangukan kepalanya.


“Hari  ini itu sekalian dalam rangka syukuran.”


“Syukuran?”


“Iya,  mulai hari ini aku resmi menjadi direktur utama.”


“Wah  selamat ya Mas.”


“Bukan  hanya itu, aku juga bekerja sama dengan perusahaan terbesar.”


“O  iya perusahaan mana?”


“Itu  masih rahasia,”


“Emm  pakai rahasia segala.”


“Aku  yakin setelah perusahaan aku bekerja sama dengan perusahaan orang ini,


perusahaan aku akan berkembang pesat.”


“Semoga  ya, aku pasti doain yang terbaik buat Mas Rio.”


Rio  berhenti sejenak saat makanan yang dipesan mereka telah datang, mereka menikmati


makanan dengan santai. Laura menatap Rio, cowok  itu tidak kehilangan kesederhanaan nya, dia masih Rio yang dulu, sungguh


dia orang yang sangat beruntung, dibalik masa lalunya yang hanya dibuang


didepan panti, kini dia mendapatkan kehidupan yang sempurna, orang tua yang


baik yang telah sukses.


“Kenapa  Ra, ga enak makanan nya.”


“Em  enggak, enak kok Mas.”


“Kenapa  lihatin aku begitu.”


“Mas  Rio beruntung ya, saat ini mas Rio sudah punya keluarga dan menyayangi mas Rio,


sampai sekarang akhirnya mas Rio sukses begini.”


“Laura,  kamu juga harusnya bersyukur, kamu sekarang juga sudah menjadi perempuan yang


mandiri, itu karena kamu bekerja keras, aku juga salut sama kamu.”


“Iya  Mas, tapi aku masih sangat merindukan orang tuaku, aku ingin merasakan punya


orang tua yang sesungguhnya, ingin mengenalnya kembali agar aku dapat


menyebutnya dalam doa ku.”


“Kamu yang sabar, aku pasti bantu kamu buat menemukan orang tua kamu ya.”


“Iya  Mas.”


“O Iya Ra, sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu.”


“Apa  itu Mas?”


“Apa  kamu mau menjadi pendamping hidup aku.”


Seketika  Laura tersedak, dia menatap Rio, meyakinkan kembali kalau dia tidak salah


dengar.


“Apa  mas?”


“Apa  kamu mau menjadi pendamping hidup aku, sebenar nya sudah lama aku suka sama


kamu Ra.”


Laura  menghela nafas, Rio adalah orang yang dia kenal dengan baik selama ini, dia


juga mengetahui masa lalu nya, saat ini dia mapan, tidak ada alasan sebenarnya


untuk menolak nya, karena Rio pasti akan menjaganya. Tapi kenapa perasaan Laura


menjadi sangat aneh, dia menyayangi Rio hanya sebatas sahabat.


“Bagaimana  Laura.”


“Mas,  aku belum bisa menjawab nya sekarang.”


“Kamu  bisa menjawab kapan pun.”


“Saat  ini aku masih ingin fokus pada pencarian orang tuaku.”


“Laura,  apapun jawaban kamu aku tidak akan pernah berhenti untuk membantu kamu dan aku


akan selalu ada buat kamu.” Kata Rio menggegam tangan Laura.


Hati  Laura semakin gelisah.

__ADS_1


__ADS_2