
Laura datang kekantor Dimas dengan membawa kue kesukaan nya, sebenarnya beberapa hari
ini dia dan Dimas tidak berkomunikasi. Tapi demi pekerjaan nya yang masih
terikat kontrak Laura memberanikan diri untuk datang ke kantor nya Dimas.
“Aduh ma Dimas itu sibuk, kenapa sih Mama tidak pergi belanja sendiri aja.” Kata
Dimas saat akan keluar dari kantor.
“Mama mau kenalkan kamu dengan anak teman Mama.”
“Mama please deh.”
Langkah Dimas terhenti saat melihat Laura datang.
“Laura.” Mama Dimas menyapa Laura dengan wajah yang sumringah.
“Iya tante apa kabar?”
“Tante baik sayang,”
“Mas, aku bawain kue kesukaan kamu.” Kata Laura, Dimas menerima kue yang dibawa
Laura.
“Ya ampun ternyata kalian ini romantis sekali, Dimas kamu bohongi Mama ya, katanya
kamu sudah putus sama Laura.” Mama Dimas mencubit anak nya.
Dimas menatap Laura.
“Iya habisnya Mama sih, cari Laura terus, anak Mama itu aku apa Laura.”
“Ih kamu cemburu, iya udah kalau itu Mama pergi sama Laura aja ke Mall nya, kamu
lanjut kerja aja ya.”
Dimas terlihat lega, dan tersenyum pada Laura.
“Iya udah kalau Mama mau pergi sama Laura, hati-hati ya kalian.”
Laura dan Mama Dimas pergi. Sementara Dimas kembali bekerja, dia menuju ruangan kerja
Erlangga terlebih dahulu, karena beberapa hari ini Erlangga jarang sekali datang
keruang kerjanya.
“Lang.” Panggil Dimas.
“Iya Dim, ada apa?”
“Sibuk banget, ada masalah kah?” Tanya Dimas pada Erlangga yang menjabat sebagai
penanggung jawab kantor cabang.
“Tidak ada sih, hanya ada satu cabang aja yang banyak sekali laporan buruk, dan banyak
karyawan yang berhenti.”
“O iya dimana itu?”
“Di Surabaya.”
“Lo mau kesana lihat?”
“Saat ini gue baru kontrol disini aja, kalau emang seminggu ini tidak ada perubahan
gue izin kesana deh.”
“Oke oke.” Kata Dimas sembari meletak kan dus kue dimeja Erlangga.
“Itu kue,,”
“Iya, tadi Laura kesini bawain kue ini.”
“Wuidihhh pantesan muka lo sumringah bro.”
“Apaan sih.”
“Kalau lo suka sama Laura, kenapa lo gak jadiin pacar beneran aja sih, daripada
pura-pura, toh Mama lo udah suka kan.”
“Makin ngaco ngomong nya, emang Laura itu cantik, tapi masih bukan tipe gue.”
“Iya daripada lo nungguin Sindi yang gak jelas.”
“Gue yakin Sindi bakal balik kesini.”
“Balik kesini nya iya, Cuma kalau masih suka sama lo gak yakin gue.”
Ucapan Erlangga membuat Dimas terdiam.
****
Laura tiba dirumah dengan wajah lelahnya, Mama Dimas mengajak nya berkeliling kota
dan belanja, kakinya serasa pegal.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Mama Dimas sangat antusias menceritakan Dimas.
“Dimas itu anak satu-satunya tante yang tante sayangi, dulu Dimas punya adik perempuan
mungkin kalau masih hidup dia seumuran kamu.” Cerita Mama Dimas.
“Tante yang sabar ya.”
“Namanya Diandra, dia meninggal karena suatu penyakit saat berumur 12 tahun, saat itu
Dimas menangis, dia sangat menyayangi adik nya.”
Laura tidak menyangka kalau dibalik sosoknya yang menyebalkan itu ternyata dia
penyanyang.
“Saat Dimas baru saja lulus sekolah, Papanya menyusul adiknya karena sebuah
kecelakaan, sejak itu Dimas yang memegang perusahaan sembari berkuliah, ya
kadang-kadang tante bantu.”
“Emm, maaf saya mau tanya Tan, apakah Dimas punya pacar sebelum saya.”
“Kenapa kamu tanya seperti itu hayo,,,”
“Emm tidak Tan,,”
“Iya tante paham, dulu Dimas punya pacar, namanya Sindi, setelah Papa Dimas
meninggal, Sindi pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliah nya, sampai
sekarang Sindi masih belum pulang.”
“Apa mereka sudah putus Tan,”
“Rasanya sudah, mereka sudah hampir lima tahun berpisah, kamu tenang aja, kamu tidak
usah khawatir, kamu sudah mendapatkan tempat utama dihati tante,”
“Kenapa Tante menyukai Laura.”
Mama Dimas memandang Laura.
“Karena kamu sama seperti Diandra, sayang dengan orang tua, lemah lembut dan suka
membuat kue.”
Laura tersenyum, Laura bahagia, setidaknya dia merasakan bagaimana punya ibu, jika
nanti suatau saat Laura sudah tidak berhubungan lagi dengan Dimas, maka Laura
Laura terkejut dengan bunyi di ponselnya.
“Hallo.” Suara serak Laura.
“Ra, lo sakit lagi.” Kata Dimas di seberang telephon, entah kenapa saat Laura
memikirkan cowok nyebelin ini, pasti selalu dia selalu muncul.
“Enggak, Cuma capek, aku baru aja sampai sih.”
“Oh, di ajak jalan-jalan kemana aja sama Mama.”
“Belanja aja sih tadi, kenapa?”
“Ga apa-apa sih, Cuma nanya.”
“Hemm, terus?”
“Terus apa?”
“Iya kan udah tanya terus apa lagi.”
“Lo gak suka ya gue telephon.”
“Bukan gak suka Mas, aku capek banget.”
“Iya iya ya udah lo istihat gue gak telephon lo lagi.” Dimas menutup telephon nya.
Laura sebenarnya suka di telephon Dimas, tapi bagaimanapun juga dia hanyalah
pacar kontrak, Laura takut kalau dia akan jatuh cinta beneran dengan Dimas.
***
Rio datang menemui Laura, saat itu Rio yakin hari itu adalah hari yang tepat untuk
nya mengungkapkan rasa pada Laura.
“Tumben banget Mas Rio mau ngajak aku makan disini.”
“Kenapa memangnya?”
“Iya tempatnya seperti tempat orang pacaran gitu, biasanya kan Mas Rio ngajak nya
makan rumah makan padang, hehe.” Ucap Laura.
“Iya sesekali lah.”
__ADS_1
“Iya deh.”
“Iya udah kamu pesan aja apa yang kamu mau.”
Laura mengangukan kepalanya.
“Hari ini itu sekalian dalam rangka syukuran.”
“Syukuran?”
“Iya, mulai hari ini aku resmi menjadi direktur utama.”
“Wah selamat ya Mas.”
“Bukan hanya itu, aku juga bekerja sama dengan perusahaan terbesar.”
“O iya perusahaan mana?”
“Itu masih rahasia,”
“Emm pakai rahasia segala.”
“Aku yakin setelah perusahaan aku bekerja sama dengan perusahaan orang ini,
perusahaan aku akan berkembang pesat.”
“Semoga ya, aku pasti doain yang terbaik buat Mas Rio.”
Rio berhenti sejenak saat makanan yang dipesan mereka telah datang, mereka menikmati
makanan dengan santai. Laura menatap Rio, cowok itu tidak kehilangan kesederhanaan nya, dia masih Rio yang dulu, sungguh
dia orang yang sangat beruntung, dibalik masa lalunya yang hanya dibuang
didepan panti, kini dia mendapatkan kehidupan yang sempurna, orang tua yang
baik yang telah sukses.
“Kenapa Ra, ga enak makanan nya.”
“Em enggak, enak kok Mas.”
“Kenapa lihatin aku begitu.”
“Mas Rio beruntung ya, saat ini mas Rio sudah punya keluarga dan menyayangi mas Rio,
sampai sekarang akhirnya mas Rio sukses begini.”
“Laura, kamu juga harusnya bersyukur, kamu sekarang juga sudah menjadi perempuan yang
mandiri, itu karena kamu bekerja keras, aku juga salut sama kamu.”
“Iya Mas, tapi aku masih sangat merindukan orang tuaku, aku ingin merasakan punya
orang tua yang sesungguhnya, ingin mengenalnya kembali agar aku dapat
menyebutnya dalam doa ku.”
“Kamu yang sabar, aku pasti bantu kamu buat menemukan orang tua kamu ya.”
“Iya Mas.”
“O Iya Ra, sebenarnya ada yang mau aku omongin sama kamu.”
“Apa itu Mas?”
“Apa kamu mau menjadi pendamping hidup aku.”
Seketika Laura tersedak, dia menatap Rio, meyakinkan kembali kalau dia tidak salah
dengar.
“Apa mas?”
“Apa kamu mau menjadi pendamping hidup aku, sebenar nya sudah lama aku suka sama
kamu Ra.”
Laura menghela nafas, Rio adalah orang yang dia kenal dengan baik selama ini, dia
juga mengetahui masa lalu nya, saat ini dia mapan, tidak ada alasan sebenarnya
untuk menolak nya, karena Rio pasti akan menjaganya. Tapi kenapa perasaan Laura
menjadi sangat aneh, dia menyayangi Rio hanya sebatas sahabat.
“Bagaimana Laura.”
“Mas, aku belum bisa menjawab nya sekarang.”
“Kamu bisa menjawab kapan pun.”
“Saat ini aku masih ingin fokus pada pencarian orang tuaku.”
“Laura, apapun jawaban kamu aku tidak akan pernah berhenti untuk membantu kamu dan aku
akan selalu ada buat kamu.” Kata Rio menggegam tangan Laura.
Hati Laura semakin gelisah.
__ADS_1