Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 25


__ADS_3

Laura menemui Dimas dikantornya, Dimas tampak berbicara serius dengan Erlangga dan Sindi.


“Mas Dimas, aku mau bicara sebentar.”


“Iya bicara saja disini.”


“Tapi mas” Laura menatap Erlangga dan Sindi.


“Kenapa Ra, lo mau ngomong apa sama Dimas, soal kemarin? Dimas sudah tahu kok.”


“Maksudnya apa ya?”


“Laura, apa benar kamu yang merencanakan penculikan pada Sindi?”


“Apa, buat apa aku melakukan itu.”


“Karena kamu ingin mendapatkan Dimas.” Kata Sindi. Laura memandang Dimas dan menggelengkan kepalanya tanda dia tidak melakukan itu.


“Mas aku gak melakukan itu, justru mereka sudah bekerja sama untuk menipu kamu.”


“Laura, jaga bicaramu, Erlangga ini sahabat aku, dan Sindi adalah orang yang paling aku percaya selama ini.”


“Mas Dimas,”


“Keluar kamu.” Kata Dimas lalu menyeret tangan Laura untuk keluar kantor.


“Mas aku gak melakukan apa-apa.”


“Sutttttt,,,,, iya-iya aku tahu, saat ini situasinya sulit,  kita ketemu dirumahku, kamu duluan, aku akan pulang sebentar lagi, percaya sama aku, ayo sebelum mereka curiga.”


Laura sedikit bingung dengan situasi ini, apa rencana Erlangga dan Sindi sebenarnya, kenapa mereka menghasut Dimas. Laura sangat bingung, dia segera pergi kerumah Dimas. Sementara Dimas kembali ke ruangan nya.


“Jadi bagaimana kalian tahu kalau semua itu adalah ulah Laura.” Tanya Dimas penuh selidik.


“Jadi kemarin saat gue datang selamatin Sindi, Laura ada disana, dan penjahat itu juga teriak boss ke dia.”


“Iya, dan meskipun mataku ditutup, aku juga kenal kalau itu suara Laura, Laura bilang kalau gara-gara aku lah, dia tidak bisa dekatin kamu, awalnya aku juga bingung kenapa Laura berkata begitu, tetapi Erlangga menjelaskan kalau dulu kamu sempat meminta Laura untuk jadi pacar pura-pura kamu, dan sepertinya dia terbawa perasaan, makanya dia benci banget sama aku.” Cerita Sindi memelas, sayangnya Dimas tidak semudah itu percaya dengan cerita Sindi, Dimas paham bagaimana sifat Laura. Demi membongkar kejahatan Erlangga dan Sindi, Dimas berpura-pura percaya pada mereka.


“Sindi, bukan nya aku membela Laura, pada dasarnya aku memutuskan hubungan kamu karena aku sudah tidak nyaman lagi sama kamu, kamu berubah, kamu posesif, dan saat ini aku juga masih sendiri, tidak jalan dengan Laura, kamu tahu aku kan, aku tidak mudah untuk jatuh hati sama orang.” Kata Dimas.


“Iya aku bersikap begitu karena aku takut kehilangan kamu Dim.”

__ADS_1


“Justru sifat kamu yang seperti itulah yang membuat kamu jauh dari aku”


“Aku benar-benar menyesal.”


“Sudahlah, segala sesuatu nya tidak bisa dipaksakan, yang jelas kamu tahu kan sekarang kalau aku dan Laura tidak ada hubungan apa-apa, sebenarnya ada hal yang aneh sih.”


“Apa itu Dim?” Tanya Erlangga dan Sindi hampir bersamaan, Dimas memandang mereka berdua secara bergantian.


“Waktu kamu di culik, ada poesan bahwa aku suruh membawa berkas, entahlah akhir-akhir ini aku selalu diteror untuk membawa berkas-berkas milik siapa ya aku lupa, padahal aku sama sekali tidak tahu berkas apa itu.” Dimas pura-pura berpikir.


“Berkas, coba kamu ingat-ingat lagi Dim, apa Papa kamu tidak menitipkan berkas penting ke kamu.”


“Aku tidak tahu, semuanya yang papa tinggalkan sih semuanya penting, tapi aku tidak tahu mana yang dimkaksud orang itu.”


“Mungkin berkas orang lain yang tidak ada hubungan nya dengan perusahaan kamu.” Kata Erlangga. Dimas tampak berpikir sesuatu.


“Aku juga tidak tahu, aku akan cari lagi.”


“Mungkin aku bisa bantu Dim.” Kata Erlangga.


“Semua berkas papa yang papa tinggalin yang ada dikantor sini semua.”


“Yakin ga ada yang kamu simpan dirumah kamu?” Erlangga terus memburu pertanyaan, hal ini justru membuat Dimas semakin curiga.


“Emm enggak gitu Dim, lo tahu kan kemarin seperti apa Sindi celaka, gue takut aja nanti bakal merembet ke yang lain.” Kata Erlangga berusaha menjelaskan, tetapi Dimas yang sudah curiga sama mereka memandang tajam ke arah Erlangga dan Sindi. Sindi pun tampak menghindari tatapan Dimas.


“Lo gak percaya sama gue.” Kata Erlangga.


“Lang, lo ngomong apa sih, jelas gue percaya sama lo lah, lo kan sahabat gue, gue makasih banget lo bisa perhatian begitu sama gue.” Kata Dimas menepuk bahu Erlangga. Mereka bertiga terlihat mencari-cari sesuatu.


“Kira-kira berkas apa yang penting banget buat mereka?” tanya Sindi.


“Iya betul apa ya kira-kira, biar kita bisa mencari nya lebih mudah, terlalu banyak berkas penting disini.” Kata Dimas, dia melirik ke arah Erlangga.


“Berkas yang penting adalah sertifikat tanah, rumah, dan sejenis property lain nya, iya gak Dim.” Kata Erlangga, Dimas yang sedang membuka berkas berhenti sejenak saat mendengar Erlangga mengucapkan itu, benar saja yang diucapkan Erlangga, sertifikat tanah, sama seperti sertifikat yang papa titipkan padanya.


“Tetapi kita tidak punya berkas seperti itu, perusahaan kita kan bukan dibidang property tetapi dibidang Fashion.” Kata Dimas.


Semua tampak terdiam, Dimas menunggu reaksi Erlangga kemudian.


“Emm mungkin kamu lupa Dim, bisa jadi ada seseorang yang meminjam dana lalu menjaminkan sertifikat nya atau sejenisnya.” Kata Sindi, terkadang disela kebingungan dan rasa bersalah nya, ucapan mereka terlihat bodoh.

__ADS_1


“Sindi, kamu pikir perusahaan aku ini pegadaian, iya kali orang ada orang pinjam seperti itu.” Kata Dimas terkekeh.


“Emm maksud aku dulu-dulu nya gitu Dim, sebelum kamu yang memegang perusahaan, waktu masih dikelola papa kamu, kan dulu juga belum sebesar ini.” Kata Sindi berusaha memperbaiki ucapan nya.


“Bisa jadi sih, Cuma kalau urusan nya sama almarhum papa aku, tidak semuanya aku tahu.” Dimas masih terlihat santai. Dia menghentikan aksi melihat berkas-berkas nya. sementara Erlangga masih sibuk mencari.


“Apa ada orang kepercayaan papa kamu Dim.” Kata Sindi.


“Ada,” jawab Dimas, dan ucapan Dimas itu menghentikan aksi Erlangga.


“Siapa Dim?” Erlangga bertanya dengan cepat, Dimas  memperbaiki jas nya dengan santai, Dimas merasa Erlangga lah orang nya yang paling ingin tahu, atau mungkin dia yang menginginkan berkas itu.


“Ada sih sahabat papa, dia orang kepercayaan papa, dia juga yang menyimpan semua aset warisan papa.” Kata Dimas santai, dia sesekali melihat ponselnya.


“Mungkin sama dia disimpan berkas itu Dim.” Kata Erlangga, dan Dimas menatap Erlangga dalam.


“Gue tidak tahu.”


“Lo harus tanya Dim.”


“Iya gue nanti bakal tanya, tetapi selama penjahat itu tidak menggagu kita lagi, ya sudah, kenapa dipikirkan, bisa jadi penjahat itu hanya mengecoh kita untuk menghancurkan perusahaan kita, iyakan?” kata Dimas pada Erlangga.


“Iya bisa jadi sih begitu.” Erlangga mulai geram sendiri, karena susah sekali membujuk Dimas.


“Iya sudah kalau begitu, aku pulang dulu ya, kalian mau pulang juga gak.” Kata Dimas seraya membereskan meja kerjanya.


“Dimas antarin aku pulang ya.” Rengek Sindi.


“Maaf ya Sin, aku ada janji sama Mama, hari ini mau antarin mama kerumah tante, keponakan aku ada yang ulang tahun, minta tolong Erlangga aja ya, lang lo bisa kan antarin Sindi.”


“Oke.”


“Iya sudah makasih ya, gue duluan ya.” Dimas segera keluar, dalam hatinya dia merasa menang bisa mengerjai mereka berdua, sementara diruangan Dimas, Sindi tengah mengumpat.


“Ihhhh sebel tahu gak, kalau kaya begini caranya bagaimana aku bisa balikan lagi sama Dimas coba, kamu juga katanya mau bantuin aku mana?” kata Sindi pada Erlangga.


“Lo yang sabar bisa gak, urusan gue aja belum selesai, harusnya gue yang bergantung sama lo, lo deketin Dimas, dan lo yang minta berkas itu sama dia, lo kan perempuan pandai merayu kek apa kek gitu, lo gak tau betapa pentingnya berkas itu buat gue tahu gak.”


“Udahlah, bodo amat, kalau kamu gak bisa bantuin aku deket sama Dimas lagi, aku akan bongkar sendiri sama Dimas kalau sebenarnya kamu yang culik aku, dan mengajak aku kerja sama.”


“Oh, kamu berani bilang begitu, silahkan, kamu pikir dengan begitu kamu akan mendapatkan Dimas, justru Dimas tidak akan pernah percaya lagi sama  lo tau gak.”

__ADS_1


Sindi menatap Erlangga tajam, dan keluar meninggalkan Erlangga yang mengumpat geram. Tanpa mereka sadari, segala ucapan mereka telah terekam kamera cctv yang diam-diam dipasang oleh Dimas dikantornya.


__ADS_2