Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 28


__ADS_3

“Laura, ini sertifikat warga dikampung kamu, coba kamu periksa dulu.” Kata Dimas memberikan berkas-berkas itu pada Laura, dan Laura mulai memeriksanya.


“Iya mas betul, aku akan mengembalikan ini pada warga dan bilang yang sebenarnya, bahwa sebenarnya ayah hanya ingin menyelamatkan harta mereka.”


“Aku antar ya.”


“Gak usah mas, mas kan banyak banget pekerjaan nya, jadi biar aku sendiri aja.”


“Yakin kamu ga apa-apa sendirian.”


“Iya, biasanya aku juga sendirian kok.”


“Iya sudah kamu hati-hati ya.”


Laura menganguk, dan tanpa menunda lagi, Laura segera pergi dari rumah Dimas. Dan menuju kampung halaman nya.


Tanpa Laura sadari ada seseorang yang mengintainya dan mengikutinya. Orang itu adalah Erlangga.


“Paman, seperti nya Laura akan pergi ke desa kita.” Kata Erlangga saat menelpon paman nya.


“Benarkah, bagus itu artinya dia masuk perangkap kita, lebih baik kamu bereskan sekalian aja.” Kata Pak suprapto, Erlangga tampak menyimak dengan seksama apa yang dia dengar lewat telepon itu.


Sementara Dimas yang tengah berada dikantor punya perasaan cemas.


“Kemana pak Erlangga?”


“Hari ini cuti pak.”


“Anak itu sering cuti sekarang.” Kata Dimas, dia segera mengecek cctv di kantornya,apa yang mereka bahas saat tidak ada Dimas minggu kemarin. Dimas akhirnya mengetahui bahwa Sindi dan Erlangga bukan lah orang yang baik.


****


Laura mendapati dirinya disebuah gudang, kepalanya sangat pusing, seseorang memanggil namanya, Laura melihat dengan samar-samar.


“Laura...Laura bangun.” Suara itu makin terdengar jelas, Laura membuka matanya dan terlihat tantenya disana.


“Tante, kenapa kita disini tante, ini tempat apa?”

__ADS_1


“Ini gudang belakang rumah tante, tempatnya tidak jauh dari rumah tante, kenapa kamu disini.” Tanya Tante nya, Laura berusaha mengingat-ngingat. Saat dia akan memasuki desa nya, dia hadang oleh sekolompok penjahat, dan memaksanya untuk keluar mobil, satu diantaranya menutup hidup Laura denga sesuatu yang menyengat yang menyebabkan Laura pingsan.


“Tante, mereka pasti ambil berkas-berkas itu tante, karena Laura tadi kesini untuk mengembalikan itu pada warga sini tante.”


“Pasti itu kerjaan Erlangga dan ayah nya.”


“Tante yakin?”


“Om kamu sendiri yang mengurung tante disini, setelah tahu tante menemui kamu.”


“Jadi tante di perlakukan begini sama om, kenapa tante tidak melawan, ayo kita keluar dari sini tante.”


“Percuma Laura, om kamu itu orang jahat, dia akan melakukan segala cara agar mendapatkan apa yang dia mau, dan kita tidak akan bisa keluar dari sini, karena diluar pasti ada yang menjaga.”


“Tetapi apakah warga sekitar tidak curiga kalau tante dikurung disini dengan penjaga.”


“Kamu lihat saja disini seperti apa?” tantenya memberi tahu Laura, bahwa gudang itu adalah tempat menyimpan bahan hasil panen, ada jagung, padi, kedelai dan lain nya, jika seseorang menjaga gudang itu, tentu itu adalah hal yang biasa bagi warga.


“Tante kita teriak saja minta tolong.”


“Percuma Laura, gudang ini jauh dari rumah warga, ini berada dekat perkebunan milik ayah mu, tidak ada yang datang kesini kecuali om kamu sendiri.”


“Maafkan tante ya Ra, ini semua gara-gara tante, seandainya tante memberitahukan lebih cepat mungkin tidak akan seperti ini.”


“Sudahlah tante, tidak ada yang salah dalam hal ini, aku mengerti, tante pasti kesulitan untuk menemui aku, berkat tante aku sekarang tahu dimana makam orang tuaku.”


“O iya Ra, dimana itu?”


“Tante tidak tahu?”


Tante nya hanya menggeleng, sejak dia keluar dari rumah sakit dan menyerahkan Laura pada ibu panti asuhan, ayah dan ibu Laura telah meninggal, dan suaminya mengajak nya untuk pura-pura tidak tahu, hingga saat warga menolaknya jenasah nya pun om dan tante nya pura-pura tidak tahu.


“Ayah dan ibu dimakam kan di tempat pemakaman keluarga Jaelani, bahkan makan ayah dan pak Jaelani bersebelahan.”


“Sungguh mereka sahabat yang sejati.”


“Iya tante, sekarang aku lega, aku bisa kapan pun mengunjungi ayah dan ibu, Cuma sekarang bagaimana agar sertifikat tanah warga itu tidak dijual oleh om.”

__ADS_1


“Kita tunggu saja sampai nanti siang ada orang yang mengirim makan siang, setelah itu kita kabur dari sini.”


“Baiklah tante.” Laura menyimpan tenaga nya untuk kabur nanti siang. Kepalanya masih sangat pusing, Laura merasa geram dengan Erlangga. Apapun alasan nya, tidak seharusnya dia berpihak pada ayah nya, karena bagaimanapun juga Erlangga dan Laura tetaplah sedarah.


Laura menatap jam ditangan nya, ini sudah tengah hari tetapi belum juga datang seseorang.


“Tante, jam berapa orang itu datang?”


“Biasanya tengah hari ini sudah datang Laura.”


“Tapi ini kok belum ya tan, jangan-jangan...”


“Jangan-jangan kenapa Ra?”


“Jangan-jangan mereka tidak datang kesini Tan.”


“Tidak mungkin, tante sudah 3 hari ini disini, mereka selalu rajin datang mengirim tante makanan, tunggu sebentar lagi aja.” Kata Tante Laura.


“Iya sudah tan.” Laura duduk di lantai beralasakan tikar yang telah sobek-sobek itu, dia sangat takut sebenarnya digudang itu, ada tikus dan hewan-hewan lain nya, ditambah bau hasil kebun yang menyengat, Tante nya menyapu sedikit tempat yang dibuat nya tidur, Laura sangat kasihan pada tantenya yang harus dikurung disini selama 3 hari, Laura berharap akan ada seseorang yang datang menolongnya.


Waktu semakin berjalan dan tidak ada yang kunjung datang, Laura semakin gelisah, diamulai menggerdor pintu, berteriak dan yang lain nya, akan tetapi usahanya sia-sia. Pak suparpto sudah melarang orang untuk masuk kedalam gudang.


“Biarkan aja mereka mati didalam sana, karena saya sudah mendapatkan apa yang saya mau.” Kata pak Suprapto pada anak buah nya. Lalu dia pergi menemui Erlangga.


“Paman, bagaimana Laura?”


“Sudah kamu tidak usah pikirkan dia, dia bersama bibimu.”


“Apa dia baik-baik saja?”


“Yups, sekarang ayo ikut paman menemui juragan Sarwoto, dia juragan besar yang akan membeli tanah warga sini.”


“Maksudnya, berkas itu berkas warga, lalu kenapa paman jual.”


“Erlangga kamu tidak perlu ikut campur ya, kamu harusnya balas budi karena selama ini kamu saya yang rawat.”


“Paman, Erlangga tahu kalau selama ini Erlangga paman yang merawat, tetapi Erlangga sama sekali tidak tahu kalau ternyata Paman menginginkan sertifikat itu untuk dijual, justru Erlangga pikir, ayah yang mau jual, dan paman yang mau mengembalikan itu pada warga, tapi ternyata.”

__ADS_1


“Erlangga nanti paman akan jelasin semuanya sama kamu setelah paman bertemu dengan pak Sarwoto, kamu tunggu dirumah ya.”


Pak Suprapto pergi meninggalkan Erlangga yang masih terlihat binggung, sebenarnya dia membantu siapa dan dipihak siapa selama ini, Erlangga merasa paman nya meracuni pikiran nya karena paman nya telah menceritakan cerita-cerita jahat ayah nya. Erlangga jatuh terduduk disofa yang sudah terlihat usang itu. Dia tidak sabar menunggu paman nya datang dan ingin tahu cerita sebenarnya.


__ADS_2