
Rio menjemput Laura dirumahnya, hari ini dia akan mengajaknya makan malam dan mengenalkan kepada Dimas sebagai pacar Rio. Tentu Rio akan sangat bangga punya pacar seperti Laura.
Laura yang saat itu tidak mau mengecewakan Rio berdandan maksimal, dia memilih gaun biru putih yang membalut tubuh langsing nya, memakai anting mutiara yang berkilau, Rambutnya yang panjang di biarkan nya berurai, benar-benar terlihat cantik dan seksi. Rio pun sampai tercengang melihat kecantikan Laura.
“Mas Rio.”
“Eh iya.”
“Kenapa, Laura jelek ya, atau Laura ganti baju lagi.” Kata Laura.
“Enggak, enggak, sumpah kamu cantik banget hari ini.”
“Mas Rio bisa aja.” Laura tersipu malu, saat Rio membukakan pintu mobil untuk nya.
Didalam mobil Rio selalu melirik ke arah Laura.
“Kenapa sih mas.”
“Ga apa-apa, kan aku bilang kamu cantik banget, andaikan kamu mau terima aku jadi pacar kamu Ra, pasti aku bahagia sekali.” Kata Rio, saat mendengar ucapan Rio, Laura tidak menjawab sepatah kata pun. Rio mengerti, tidak bisa kita memaksakan perasaan seseorang.
Rio dan Laura telah sampai di restorant tempat mereka akan makan malam, ternyata dia datang lebih dulu. Dimas dan Sindi belum datang juga.
“Rekan bisnis kamu belum datang mas?”
“Iya nih, mungkin sebentar lagi.”
“Oh ya udah aku ke toilet sebentar ya.”
“Oke.”
Laura pergi ke toilet untuk memperbaiki make up nya, baru saja Rio akan duduk di kursinya Dimas dan Sindi datang.
“Rio, sudah lama, maaf ya terlambat.” Kata Dimas.
“Oh, Mas, gak kok saya baru aja sampai.”
“Oh ya kamu datang sendiri katanya...”
“Tidak-tidak saya datang sama pacar saya, sedang ke toilet, mari silahkan duduk.” Kata Rio mempersilahkan duduk Dimas dan Sindi. Dimas dan Sindi mulai membuka menu yang ada di restorant tersebut.
Laura yang baru saja datang melihat teman Rio dari belakang, dia sama sekali tidak mengenali kalau itu adalah Dimas dan Sindi.
“Sayang, kenalin ini rekan bisnis aku, Pak Dimas.” Kata Rio. Saat itu juga Laura dan Dimas saling bertatapan, Dimas menatap Laura yang saat itu begitu cantik.
“Laura.” Panggil Dimas.
“Oh, kalian sudah kenal.” Tanya Rio.
__ADS_1
“Emm iya, sebenarnya Pak Dimas ini, lebih tepatnya Mamanya langganan kue di toko
aku.” Kata Laura.
“Oh bagus kalau begitu, kue-kue buatan pacar saya ini memang luar biasa.” Puji Rio.
Laura duduk disamping nya, dan menatap ke arah Sindi, mereka saling bertatapan sinis. Karena memang sebelumnya mereka saling bertemu, Sindi perempuan yang angkuh.
“Sayang kamu mau pesan apa?” Kata-kata Rio seakan membuat telinga Dimas panas.
“Kamu kan tahu kesukaan aku.” Kata Laura manja, Rio sendiri suka dengan gaya Laura.
“Kalian sudah berapa lama pacaran?” Tanya Dimas.
“Kita baru aja kok jadian nya, tetapi kita sudah saling mengenal sejak kecil.” Jawab Laura dengan cepat, dan disetujui oleh Rio.
“Oh ya,” Ucap Dimas seolah tidak percaya. Bisa jadi Rio juga memakai jasa pacar frelance.
“Kalau Pak Dimas sendiri sudah lama pacaran?” Tanya Laura kembali.
“Tentu, kita sudah pacaran sejak kita SMA.” Jawab Sindi lebih sinis.
“Bagus kalau begitu, jangan lupa undang-undang nanti kalau kalian menikah.” Kata Rio.
Suasana makan malam itu serasa menyesakan bagi Dimas dan Laura. Dari sekian banyaknya rekan bisnis Rio kenapa harus Dimas, dan dari sekian banyak nya perempuan kenapa harus Laura.
“Kalian tu romantis banget ya.” Kata Sindi yang terlihat iri saat melihat Laura memberikan minum pada Rio, sebaliknya Rio mengusap makanan yang belepotan di bibir Laura. Sementara Sindi dari tadi di cuekin Dimas.
“Iya begitulah, pacar aku ini manja sekali.” Kata Rio.
“Apaan sih.” Laura memberikan senyum termanisnya untuk Rio di depan Dimas.
Mereka keluar bersama dari restorant.
“Terimakasih lho Mas Dimas untuk makan malam nya.” Kata Rio.
“Sama-sama.”
“Kalau begitu saya duluan ya.”
“Oke.”
Dimas dan Sindi menatap Rio dan Laura yang pergi meninggalkan mereka, saat akan masuk kedalam mobil, tiba-tiba saja ada ambulan dengan suara kenceng melintas. Laura langsung menutup telinganya. Rio segera berlari menuju Laura dan memeluk nya. Dimas yang saat itu juga akan menuju ke arah Laura langkah nya terhenti.
“Ih kenapa tuh, masa sama ambulan aja takut.” Kata Sindi. Dimas tidak menyahut pertanyaan Sindi, Dimas langsung berjalan menuju mobil nya. Terlihat disana Rio mencoba menenangkan Laura dan membuka kan pintu mobil untuk Laura.
“Gimana Ra, kamu udah tenang?” Tanya Rio panik. Laura hanya mengangukkan kepalanya.
__ADS_1
“Kamu gak mau coba pergi ke terapi atau apa gitu buat ngilangin phobia kamu.” Kata Rio lagi, dia yang dari kecil tahu kalau Laura phobia sama ambulan. Laura hanya menggeleng, wajahnya seketika menjadi pucat.
“Ya udah aku antar pulang ya.”
Laura menganguk pelan, dia mulai memejamkan matanya. Dadanya berdetak sangat kencang, bayang-bayang dimasa lalu nya begitu sangat menyakitkan. Rio memapah Laura saat sampai dirumahnya.
“Ra, kamu ga apa-apa.”
“Iya ga apa-apa lagian ada mbak di rumah.”
“Iya udah, kamu istirahat ya, makasih sudah temani aku.”
“Sama-sama.”
“Ya sudah kamu masuk, istirahat.”
“Iya mas pulang nya hati-hati ya.”
Rio mengangukan kepalanya, lalu pergi untuk pulang. Sekali lagi dia menatap Rumah Laura yang tertutup. Perasaan nya kini menjadi sangat kuat.
***
Hari ini jadwal Dimas dan Rio meeting kembali. Setelah meeting Dimas dan Rio melanjutkan obrolan mereka, sementara sekretaris mereka telah pulang lebih dulu ke kantor.
“Mas Rio ini luar biasa, baru beberapa bulan saja sudah memberi keuntungan sebesar ini.”
“Ah Mas Dimas pandai memuji, padahal Mas yang lebih hebat.”
“O iya kemarin saya lihat terjadi sesuatu sama pacar kamu sebelum kalian pulang, apa dia baik-baik aja.”
“Oh Mas Dimas masih melihat ya, iya Mas, pacar saya punya phobia dari kecil dia takut ambulan.”
“Oh ya?”
“Iya, saya dan dia sama-sama dibesarkan di panti asuhan, dia mengalami kecelakaan saat dia berusia 5 tahun,mungkin saat kecelakaan itulah dia mulai takut dengan suara ambulan, dia juga kehilangan orang tuanya sejak itu.”
“Oh,, jadi kalian sahabat dari kecil.”
“Iya begitulah.”
“Sejak kapan kalian pacaran?” Tanya Dimas, Rio hanya diam belum menjawab.
“Baru beberapa bulan ini, saya sudah mengutarakan perasaan saya sudah lama, tetapi dia baru menerima saya baru-baru ini.” Kata Rio, yang sedikit curiga karena Dimas terlalu jauh bertanya urusan pribadinya.
“Oh iya, semoga hubungan kalian langgeng ya.”
“Terimakasih, semoga mas juga, kalian pasangan yang serasi.”
__ADS_1
Dimas hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Rio, padahal yang dia rasakan saat ini bersama Sindi adalah kehambaran saja. Justru setiap hari Dimas malah merindukan Laura.