Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 4


__ADS_3

“Lo  dimana?” Suara Dimas tiba-tiba dibalik ponsel


Laura.


“Siapa  ini?”


“Bos  lo.”


“Oh,,  Mas Dimas, iya Mas aku lagi di kampung.”


“Kapan  lo balik.”


“Sepertinya  agak lama Mas, aku sedang ada urusan.”


“Alasan  aja lo, mau kabur kan lo,”


“Maksudnya  apa ya Mas.”


“Gue gak mau tahu, besok lo harus balik, lo besok ikut gue sama Mama pergi ke


acara ulang tahun nikahan sepupu gue.”


“Apa, tante gak bilang apa-apa kok.”


“Udah deh gak usah banyak protes, gu tuh capek kalau besok di tanya mana pacar lo dan


lain-lain nya, gue gak mau tahu, gue udah bayar lo mahal, jadi besok lo harus


ada, klik.” Dimas menutup telephone nya.


Laura jengkel, apa-apaan sih kok jadi gini. Padahal Laura baru saja akan mencari


orang tuanya, dia baru menemukan alamat kampungnya dari ibu panti Asuhan.


“Bunda, apa tidak ada sesuatu yang bisa saya gunakan untuk mencari orang tua saya, saya


ingat terakhir kali bersama orang tua saya saat kecelakaan.” Kata Laura saat di


panti.


“Begini  Nak, Bunda sama sekali tidak tahu menahu soal orang tua kamu, waktu itu ada


seorang suster yang mengantarkanmu ke panti ini, waktu itu kamu memakai Kalau


bertuliskan Laura.” Kata Ibu panti asuhan, Laura tahu itu, kalungnya sampai


sekarang masih dia simpan, karena sudah tidak cukup lagi jika di pakai sekarang.


“Coba  Bunda ingat-ingat lagi.”


Ibu  panti berusaha mengingat. “ Oh iya ada satu lagi, sebentar.”


Ibu  panti masuk kedalam dan mengambis sesuatu, kemudian memberikan pada Laura. “


Waktu itu kamu memegang foto ini saat datang, di belakang tertulis sebuah


alamat mungkin itu alamat kamu, ibu menyimpannya di arsip sampai lupa, maafkan


ibu.”


Laura  menerima sebuah foto, sama-samar benar itu foto orangtuanya, Mama nya yang


tengah menggendongnya saat dia masih berusia sekitar 2 tahun, Papanya memangku


seorang anak laki-laki yang sekitar 7 tahun an, Laura mencoba mengingat, siapa


anak ini, apa itu kakaknya, Laura tidak bisa mengingat kalau dia punya Kakak,.


“Ibu  yakin saya memegang foto ini”


“Iya  Nak, kamu terus menangis sembari memegang foto itu saat di bawa kerumah sakit,


saat fotonya di ambil kamu pasti menangis, Dokter kesulitan memeriksa, jadinya


foto itu terus kamu pegang, sampai suster mengantarkan mu kesini.”


“Apa  suster itu meninggalkan pesan bu.”


“Iya,  tapi kamu yang sabar ya.”


“Apa  Bun?”


“Suster  itu berkata bahwa kedua orang tua kamu tidak dapat di selamatkan, dan tidak ada


kerabat sama sekali yang bisa di hubungi, setiap nomor yang ada di handphone


orang tua kamu mengaku tidak kenal dengan orang tua kamu.” Ibu panti bercerita


dengan nada sedih.


Laura  semakin bingung, sebenarnya ada apa dengan masa lalunya, kenapa Laura sama


sekali tidak bisa mengingat apapun kecuali kecelakaan itu. Apa benar kedua


orang tua Laura telah meninggal. Laura benar-benar bingung.

__ADS_1


Laura  telah sampai ke alamat yang di maksud, akan tetapi nama orang tuanya pun Laura


tidak ingat, Laura bertanya kepada orang-orang apakah melihat orang yang di


foto itu, semua orang tidak mengenal nya. Laura merasa lelah sekali. Di tambah


telephon dari Dimas membuatnya semakin kesal.


Tidak  ada pilihan lain Laura harus kembali ke kota untuk menuruti kemauan Dimas. Jika


Laura tidak tanda tangan kontrak selama satu tahun jadi pacar pura-pura dia,


pasti Laura akan berhenti sesuka hatinya, uang dari Dimas pun sudah di pakai untuk


membayar kontrakan.


****


Pergi ke acara ulang tahun pernikahan keluarga Dimas, Laura berdandan secantik


mungkin. Ini hanya akan di hadiri oleh keluarga, sebagai pacar konglomerat


muda, Laura tentu harus berpenampilan menarik, Dimas sudah membayarnya dengan


mahal, Laura tidak ingin Dimas merasa di rugikan. Gaun putih dan antik


berkemilau menambah kecantikan Laura hari itu.


Laura  menunggu Dimas dan Mamanya menjemputnya di rumahnya, tidak lama kemudian


klakson mobil terdengar, Laura keluar rumah dengan anggun nya. Penampilan Laura


kala itu membuat Dimas ternganga, sementara Mama Dimas tampak berbinar.


“Ya ampun Laura sayang, kamu cantik banget.”


“Terimakasih  Tante.” Kata Laura yang melihat Dimas mengemudi di depan.


“Sudah  kaya sopir aja ya gue.” Dimas mulai jengkel melihat Mama dan Laura malah asyik


sendiri di belakang, Dimas sesekali melirik kearah Laura yang saat itu cantik


sekali.


“Iya  sudah nanti kamu pulang nya sama Laura aja, biar Mama di antar Faris.” Mamanya


menggoda Dimas, Faris adalah salah satu keponakanya.


Sesampai di tempat Dimas berjalan disamping Laura, mereka berdua tampak canggung, Laura


kekaguman nya melihat kecantikan Laura.


“Woyyy,  Mas Dimas, datang sama siapa nih.” Goda Riska, sepupunya.


“Kenalkan  ini Laura, Laura ini Riska adik sepupu gue.”


Laura  menjabat tangan gadis unik yang terlihat cerewet itu.


“Kak  Laura cantik banget.”


“Terimakasih.”


“Pacar  baru ya mas, duh duh duh, cantik lho.” Ejek Riska. Dimas hanya tersenyum dalam


hati. “Gue udah bayar dia 10 juta perbulan, kalau sampai tidak bisa dandan


cantik dan mempermalukan gue, dia bisa mati.” Batin Dimas dan menatap sinis


Laura. Sementara Laura merasakan tatapan Dimas. “ Kenapa orang nyebelin ini


menatap aku seperti itu, hhh di kira dia aku gak bisa kali dandan, atau dia


pikir aku bakal mempermalukan dia.” Batin Laura mmenatap sinis ke arah Dimas


juga.


Sepanjang  acara Dimas mencuri-curi waktu untuk memandang Laura yang tengah ngobrol dengan


Riska dan juga sepupunya yang lain, saat tertawa dia makin terlihat cantik.


“Dim,  cantik juga pacar lo, ayo kapan buruan nyusul.”


“Gue  sih siap-siap aja bro, Cuma dia nya yang belom siap.” Dimas dengan sombongnya


menunjuk ke arah Laura.


“Belum  siap, apa yang perlu disiapin bro, lo udah mapan.”


“Cewek  gue tu mandiri bro, dia sedang mengurus bisnis juga, dan sepertinya memang


masih belum mau menikah.”


“Ohhh, bagus kalau gitu, beruntung banget lho, gue doain langgeng deh sampai ke


jenjang pernikahan.”

__ADS_1


“Amin.”


“Ya  udah gue cabut duluan ya, nyokap gue gak bisa di acara gini lama-lama.”


“Oke.”  Dimas melambaikan tangan nya pada sepupunya itu, sesesaat dia sadar telah


mengaminkan kata-kata Rio. Seketika Dimas menutup bibirnya, “Ups, kok gue pakai


amin segala sih, ya ampun tar kalau di catat malaikat sebagai doa gue


bagaimana, ya ampun.”


Dimas  langsung seperti orang kebingungan.


“Mas  Dim, apa bisa kita pulang sekarang.” Laura bicara mendekat ke arah Dimas.


“Kenapa,  lo gak betah ya sama keluarga gue, buru-buru banget, gue udah bayar lo tau.”


“Iya  Mas, aku tahu, kenapa sih bahas gaji mulu, aku kan gak minta di gaji mahal


juga.” Laura mulai cemberut. Padahal dia merasa tidak enak badan aja karena


dari kemarin dia belum makan dan juga kurang istirahat. Pikiran nya dihabiskan


untuk mencari orang tuanya dan masa lalunya.


“Makanya  gak usah protes, diem kenapa sih.”


“Bukan  gitu Mas, aku kurang enak badan.”


“Halah  manja banget sih.”


Laura  tidak tahan dengan sikap Dimas, akhirnya dia pergi meninggalkan Dimas dan


mencari tempat duduk yang sepi, sementara dari kejauhan dia melihat Dimas


tampak asyik ngobrol dengan saudaranya yang sesama cowok, sungguh acara seperti


ini tidak dapat membuat nyaman Laura. Kepalanya makin berkunang-kunang,


keringat dingin makin mengucur, dan wajahnya makin pucat.


Dimas  melihat ke arah Laura yang hanya diam seorang diri, Laura tampak menahan rasa


sakit dengan menggigit bibir bawahnya, Dimas merasa kalau Laura beneran sakit.


“Eh  gue cabut duluan ya.”


“Kok  buru-buru banget.”


“Iya  gue masih ada urusan soalnya.”


“Urusan  pacaran ya, ya udah deh di lanjut, thanks ya udah datang ke acara gue,


jarang-jarang banget nih, tuan muda bisa datang.”


“Apaan  sih biasa aja, ya udah yukk.” Dimas berpamitan pada keluarga besarnya dan


Mamanya yang masih ingin di pesta itu.


“Sudah  ayo pulang.”


“Sudah  selesai, ga apa-apa kalau belum selesai aku tungguin.”


“Udah  ayo pulang, daripada mereka lihat lo aneh disini kaya mayat hidup.” Dimas


melihat wajah cantik Laura mulai memucat.


“Aku  pamit dulu.”


“Gak  usah udah gue pamitin.”


Laura  mengikuti langkah Dimas, memang gak ada terimakasihnya tu anak, Laura sudah


bela-belain tampil maksimal masih aja di cuekin, bukan salah dia juga kalau


mendadak sakit, Laura mana tahu kalau perutnya yang kosong sejak kemarin tidak


cocok dengan minuman di pesta keluarga Dimas. Laura tampak lemah di mobil, tapi


dia tetap berusaha menyembunyikanya.


“Sakit  apa sih lo, tadi berangkatnya biasa aja, pasti alasan aja kan lo.” Dimas mengemudikan


mobil nya.


Laura  malas sekali menyaut, entah apa yang dia minum di pesta tadi, sehingga perutnya


terasa mual dan seperti teraduk-aduk, padahal dari kemarin juga perutnya masih


kosong.


Dimas  melirik ke arah Laura yang hanya diam saja, tampak Laura begitu lemah


disampingnya.

__ADS_1


__ADS_2