
“Lo dimana?” Suara Dimas tiba-tiba dibalik ponsel
Laura.
“Siapa ini?”
“Bos lo.”
“Oh,, Mas Dimas, iya Mas aku lagi di kampung.”
“Kapan lo balik.”
“Sepertinya agak lama Mas, aku sedang ada urusan.”
“Alasan aja lo, mau kabur kan lo,”
“Maksudnya apa ya Mas.”
“Gue gak mau tahu, besok lo harus balik, lo besok ikut gue sama Mama pergi ke
acara ulang tahun nikahan sepupu gue.”
“Apa, tante gak bilang apa-apa kok.”
“Udah deh gak usah banyak protes, gu tuh capek kalau besok di tanya mana pacar lo dan
lain-lain nya, gue gak mau tahu, gue udah bayar lo mahal, jadi besok lo harus
ada, klik.” Dimas menutup telephone nya.
Laura jengkel, apa-apaan sih kok jadi gini. Padahal Laura baru saja akan mencari
orang tuanya, dia baru menemukan alamat kampungnya dari ibu panti Asuhan.
“Bunda, apa tidak ada sesuatu yang bisa saya gunakan untuk mencari orang tua saya, saya
ingat terakhir kali bersama orang tua saya saat kecelakaan.” Kata Laura saat di
panti.
“Begini Nak, Bunda sama sekali tidak tahu menahu soal orang tua kamu, waktu itu ada
seorang suster yang mengantarkanmu ke panti ini, waktu itu kamu memakai Kalau
bertuliskan Laura.” Kata Ibu panti asuhan, Laura tahu itu, kalungnya sampai
sekarang masih dia simpan, karena sudah tidak cukup lagi jika di pakai sekarang.
“Coba Bunda ingat-ingat lagi.”
Ibu panti berusaha mengingat. “ Oh iya ada satu lagi, sebentar.”
Ibu panti masuk kedalam dan mengambis sesuatu, kemudian memberikan pada Laura. “
Waktu itu kamu memegang foto ini saat datang, di belakang tertulis sebuah
alamat mungkin itu alamat kamu, ibu menyimpannya di arsip sampai lupa, maafkan
ibu.”
Laura menerima sebuah foto, sama-samar benar itu foto orangtuanya, Mama nya yang
tengah menggendongnya saat dia masih berusia sekitar 2 tahun, Papanya memangku
seorang anak laki-laki yang sekitar 7 tahun an, Laura mencoba mengingat, siapa
anak ini, apa itu kakaknya, Laura tidak bisa mengingat kalau dia punya Kakak,.
“Ibu yakin saya memegang foto ini”
“Iya Nak, kamu terus menangis sembari memegang foto itu saat di bawa kerumah sakit,
saat fotonya di ambil kamu pasti menangis, Dokter kesulitan memeriksa, jadinya
foto itu terus kamu pegang, sampai suster mengantarkan mu kesini.”
“Apa suster itu meninggalkan pesan bu.”
“Iya, tapi kamu yang sabar ya.”
“Apa Bun?”
“Suster itu berkata bahwa kedua orang tua kamu tidak dapat di selamatkan, dan tidak ada
kerabat sama sekali yang bisa di hubungi, setiap nomor yang ada di handphone
orang tua kamu mengaku tidak kenal dengan orang tua kamu.” Ibu panti bercerita
dengan nada sedih.
Laura semakin bingung, sebenarnya ada apa dengan masa lalunya, kenapa Laura sama
sekali tidak bisa mengingat apapun kecuali kecelakaan itu. Apa benar kedua
orang tua Laura telah meninggal. Laura benar-benar bingung.
__ADS_1
Laura telah sampai ke alamat yang di maksud, akan tetapi nama orang tuanya pun Laura
tidak ingat, Laura bertanya kepada orang-orang apakah melihat orang yang di
foto itu, semua orang tidak mengenal nya. Laura merasa lelah sekali. Di tambah
telephon dari Dimas membuatnya semakin kesal.
Tidak ada pilihan lain Laura harus kembali ke kota untuk menuruti kemauan Dimas. Jika
Laura tidak tanda tangan kontrak selama satu tahun jadi pacar pura-pura dia,
pasti Laura akan berhenti sesuka hatinya, uang dari Dimas pun sudah di pakai untuk
membayar kontrakan.
****
Pergi ke acara ulang tahun pernikahan keluarga Dimas, Laura berdandan secantik
mungkin. Ini hanya akan di hadiri oleh keluarga, sebagai pacar konglomerat
muda, Laura tentu harus berpenampilan menarik, Dimas sudah membayarnya dengan
mahal, Laura tidak ingin Dimas merasa di rugikan. Gaun putih dan antik
berkemilau menambah kecantikan Laura hari itu.
Laura menunggu Dimas dan Mamanya menjemputnya di rumahnya, tidak lama kemudian
klakson mobil terdengar, Laura keluar rumah dengan anggun nya. Penampilan Laura
kala itu membuat Dimas ternganga, sementara Mama Dimas tampak berbinar.
“Ya ampun Laura sayang, kamu cantik banget.”
“Terimakasih Tante.” Kata Laura yang melihat Dimas mengemudi di depan.
“Sudah kaya sopir aja ya gue.” Dimas mulai jengkel melihat Mama dan Laura malah asyik
sendiri di belakang, Dimas sesekali melirik kearah Laura yang saat itu cantik
sekali.
“Iya sudah nanti kamu pulang nya sama Laura aja, biar Mama di antar Faris.” Mamanya
menggoda Dimas, Faris adalah salah satu keponakanya.
Sesampai di tempat Dimas berjalan disamping Laura, mereka berdua tampak canggung, Laura
kekaguman nya melihat kecantikan Laura.
“Woyyy, Mas Dimas, datang sama siapa nih.” Goda Riska, sepupunya.
“Kenalkan ini Laura, Laura ini Riska adik sepupu gue.”
Laura menjabat tangan gadis unik yang terlihat cerewet itu.
“Kak Laura cantik banget.”
“Terimakasih.”
“Pacar baru ya mas, duh duh duh, cantik lho.” Ejek Riska. Dimas hanya tersenyum dalam
hati. “Gue udah bayar dia 10 juta perbulan, kalau sampai tidak bisa dandan
cantik dan mempermalukan gue, dia bisa mati.” Batin Dimas dan menatap sinis
Laura. Sementara Laura merasakan tatapan Dimas. “ Kenapa orang nyebelin ini
menatap aku seperti itu, hhh di kira dia aku gak bisa kali dandan, atau dia
pikir aku bakal mempermalukan dia.” Batin Laura mmenatap sinis ke arah Dimas
juga.
Sepanjang acara Dimas mencuri-curi waktu untuk memandang Laura yang tengah ngobrol dengan
Riska dan juga sepupunya yang lain, saat tertawa dia makin terlihat cantik.
“Dim, cantik juga pacar lo, ayo kapan buruan nyusul.”
“Gue sih siap-siap aja bro, Cuma dia nya yang belom siap.” Dimas dengan sombongnya
menunjuk ke arah Laura.
“Belum siap, apa yang perlu disiapin bro, lo udah mapan.”
“Cewek gue tu mandiri bro, dia sedang mengurus bisnis juga, dan sepertinya memang
masih belum mau menikah.”
“Ohhh, bagus kalau gitu, beruntung banget lho, gue doain langgeng deh sampai ke
jenjang pernikahan.”
__ADS_1
“Amin.”
“Ya udah gue cabut duluan ya, nyokap gue gak bisa di acara gini lama-lama.”
“Oke.” Dimas melambaikan tangan nya pada sepupunya itu, sesesaat dia sadar telah
mengaminkan kata-kata Rio. Seketika Dimas menutup bibirnya, “Ups, kok gue pakai
amin segala sih, ya ampun tar kalau di catat malaikat sebagai doa gue
bagaimana, ya ampun.”
Dimas langsung seperti orang kebingungan.
“Mas Dim, apa bisa kita pulang sekarang.” Laura bicara mendekat ke arah Dimas.
“Kenapa, lo gak betah ya sama keluarga gue, buru-buru banget, gue udah bayar lo tau.”
“Iya Mas, aku tahu, kenapa sih bahas gaji mulu, aku kan gak minta di gaji mahal
juga.” Laura mulai cemberut. Padahal dia merasa tidak enak badan aja karena
dari kemarin dia belum makan dan juga kurang istirahat. Pikiran nya dihabiskan
untuk mencari orang tuanya dan masa lalunya.
“Makanya gak usah protes, diem kenapa sih.”
“Bukan gitu Mas, aku kurang enak badan.”
“Halah manja banget sih.”
Laura tidak tahan dengan sikap Dimas, akhirnya dia pergi meninggalkan Dimas dan
mencari tempat duduk yang sepi, sementara dari kejauhan dia melihat Dimas
tampak asyik ngobrol dengan saudaranya yang sesama cowok, sungguh acara seperti
ini tidak dapat membuat nyaman Laura. Kepalanya makin berkunang-kunang,
keringat dingin makin mengucur, dan wajahnya makin pucat.
Dimas melihat ke arah Laura yang hanya diam seorang diri, Laura tampak menahan rasa
sakit dengan menggigit bibir bawahnya, Dimas merasa kalau Laura beneran sakit.
“Eh gue cabut duluan ya.”
“Kok buru-buru banget.”
“Iya gue masih ada urusan soalnya.”
“Urusan pacaran ya, ya udah deh di lanjut, thanks ya udah datang ke acara gue,
jarang-jarang banget nih, tuan muda bisa datang.”
“Apaan sih biasa aja, ya udah yukk.” Dimas berpamitan pada keluarga besarnya dan
Mamanya yang masih ingin di pesta itu.
“Sudah ayo pulang.”
“Sudah selesai, ga apa-apa kalau belum selesai aku tungguin.”
“Udah ayo pulang, daripada mereka lihat lo aneh disini kaya mayat hidup.” Dimas
melihat wajah cantik Laura mulai memucat.
“Aku pamit dulu.”
“Gak usah udah gue pamitin.”
Laura mengikuti langkah Dimas, memang gak ada terimakasihnya tu anak, Laura sudah
bela-belain tampil maksimal masih aja di cuekin, bukan salah dia juga kalau
mendadak sakit, Laura mana tahu kalau perutnya yang kosong sejak kemarin tidak
cocok dengan minuman di pesta keluarga Dimas. Laura tampak lemah di mobil, tapi
dia tetap berusaha menyembunyikanya.
“Sakit apa sih lo, tadi berangkatnya biasa aja, pasti alasan aja kan lo.” Dimas mengemudikan
mobil nya.
Laura malas sekali menyaut, entah apa yang dia minum di pesta tadi, sehingga perutnya
terasa mual dan seperti teraduk-aduk, padahal dari kemarin juga perutnya masih
kosong.
Dimas melirik ke arah Laura yang hanya diam saja, tampak Laura begitu lemah
disampingnya.
__ADS_1