Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 29


__ADS_3

Akhirnya yang ditunggu Erlangga datang juga, pamannya datang dengan wajah yang sangat sumringah.


“Paman, terlihat bahagia sekali.”


“Iya, paman sangat bahagia sekali, karena mulai hari ini pamanmu ini menjadi kaya raya, sangat kaya raya.”


“Paman, maksudnya apa?”


“Jadi begini Erlangga, berkas yang dibawah Handika itu adalah sertifikat tanah seluruh warga disini, dan seluruh tanah warga disini dari dulu di incar oleh keluarga pak Sarwoto, karena pak Sarwoto akan membangung pabrik diarea tanah mereka.”


“Jadi warga akan kehilangan pekerjaan nya donk?”


“Oh tentu tidak, warga masih bisa bekerja dilahan pak Sarwoto dengan gaji yang lumayan tentunya, daripada hasil panen mereka yang tidak jelas berapa penghasilan nya.”


“Tapi waktu itu paman bilang ayah yang menipu mereka, kenapa sekarang jadi paman yang bersikap begitu, jadi sebenarnya yang penipu itu ayah atau paman?”


“Erlangga!” bentak paman nya, Erlangga hanya diam menunggu jawaban paman nya.


“Kamu tidak seharusnya memanggil dia ayah karena dia bukan ayahmu, akulah ayahmu.” Kata pak Handika.


“Paman, apa sih maksud paman, Erlangga tidak paham.”


“Erlangga, ada satu hal yang belum kamu tahu.”


“Belum aku tahu?, artinya aku aja yang belum tahu.” Tanya Erlangga, mengingat bukan dia saja anak dari Handika, ada Laura juga, Erlangga curiga paman nya terlalu banyak menyembunyikan rahasia padanya.


“Yah, kemungkinan memang begitu, sepertinya hanya kamu saja yang belum tahu ini.”


“Apa itu?”


“Bahwa sebenarnya adalah kamu anak ku bukan anak Handika.” Ucapan paman nya membuat Erlangga tercengang.


“Maksud paman apa? jangan mengada-ada cerita lain paman, hanya untuk membuat aku berada dipihak paman, selama ini juga aku sudah berada dipihak paman.” Ucap Erlangga meyakin kan ucapan paman nya kembali.


“Iya, memang kenyataan nya begitu Erlangga, terkadang aku pun merasa bahwa kedekatan kamu denganku, dan berpihaknya kamu dengan ku itu bukan karena semata-mata kamu ingin membalas budi saja, melainkan karena kamu adalah darahku.” Ucap pak Suprapto, sementara Erlangga masih belum bereaksi apa-apa.


“Itu kenapa setelah ayah meninggal, paman mengganti nama belakangku dengan nama paman,”

__ADS_1


“Berhenti memanggilku paman Erlangga, dan berhenti memanggil Handika ayah, dia bukanlah ayahmu, kamu sudah ada dirahim ibumu sebelum ibumu menikah dengan ayah tirimu itu.”


“Bukan kah dia kakak kandung paman.”


“Erlangga, cinta tetap cinta, tidak ada hubungan antara saudara kandung dan yang lain nya.”


“Aku masih belum bisa mempercayai ini, perlahan paman membuatku membenci kedua orang tuaku, sekarang paman memberi kenyataan baru bagiku, padahal jika paman memberitahuku lebih awal, mungkin aku tidak akan merasa dibohongi dan dimanfaatkan saja oleh paman.”


“Erlangga, menyikap kenyataan itu tidak mudah, terlebih aku tahu bahwa sebenarnya kamu sayang sekali dengan Handika, dan sejak itu aku cemburu, dan aku berusaha ingin merebutmu.”


“Apapun alasanya kebohongan tetaplah kebohongan, dan itu salah.”


“Ya Ayah tahu itu.”


“Maaf, aku butuh waktu untuk memanggil paman menjadi ayah.”


“Silahkan, ayah sudah memberitahukan yang sebenarnya.”


“Jadi sebenarnya ayah tiriku tidak bersalah, dimana mereka dimakamkan?”


“Setelah paman tahu kalau Laura satu-satunya yang hidup dari kecelakaan itu, kenapa paman tidak merawatnya juga, kenapa malah menitipkan dia kepanti asuhan?”


“Karena aku tidak suka anaknya Handika, kamu kenapa memikirkan dia, bukan kah kamu membencinya.”


“Aku membenci Laura karena paman bilang, Laura lah penyebab orang tuaku meninggal, apa paman tidak ingat telah menceritakan cerita-cerita palsu padaku.”


“Erlangga, sudahlah, semua yang ayah ceritakan itu demi kamu, sekarang hanya ada kita, aku dan kamu saja, ayo ikut ayah kita pindah di kehidupan yang baru.”


“Setalah paman mendapatkan semuanya, dan sekarang menjadi kaya raya, paman mau pergi begitu saja.”


“Lalu apa lagi yang kamu inginkan, bibimu bukan lah ibumu.”


“Laura juga masih sedarah dengan ku,”


“Ayah yakin dia juga membencimu, karena cerita bibimu.”


“Setidaknya jika memang dia benar-benar anak ayah Handika dan ibuku, aku yakin dia tidak akan punya sifat jahat.”

__ADS_1


“Jangan memuji ayah tirimu itu didepan ayah kandungmu, itu sangat menyakitkan.”


“Dan tidak ada ayah kandung yang tega membohongi anaknya sendiri dan menjadikan nya umpan untuk kepentingan nya.”


“Kepentingan apa Erlangga, selama ini ayah menghidupi kamu, menyekolahkan kamu, menjadikanmu orang yang sukses,”


“Untuk bisa dekat dengan keluarga Jaelani, iya kan?”


“Erlangga.”


“Entahlah paman, sekarang berikan kunci gudang itu padaku, aku harus mengeluarkan bibi dan Laura.”


“Mereka akan melaporkan kita ke polisi Erlangga.”


“Paman, aku butuh waktu untuk memahami semua ini, yang pasti aku tidak mau berada di kesalahan yang sama.”


“Erlangga, tolong kamu percaya sama Ayah, kamu tidak perlu memikirkan Laura dan bibimu ayo ikut ayah pergi.”


“Tidak, kalau paman tidak mau memberikan kunci itu padaku, aku akan mendobrak gudang itu.” Kata Erlangga lalu pergi keluar rumah untuk mendobrak gudang tempat dimana Laura dan bibinya disekap. Pak Suprapto memberi kode pada anak buahnya untuk mencegah Erlangga, anak buahnya yang awalnya tunduk pada Erlangga kini mulai menyerang Erlangga dan membawanya kedalam mobil secara paksa, Pak suprapto segera pergi dari rumah itu bersama Erlangga.


“Paman, kita mau pergi kemana, lepaskan Laura dan bibi dulu, baru aku akan ikut paman.”


“Jangan konyol Erlangga, mereka akan membawa kita hidup kedalam penjara.”


“Paman ...” Erlangga memberontak.


“Buat saja dia pingsan.” Perintah Pak Suparpto pada anak buahnya, dan dengan sigap anak buah nya membuat Erlangga pingsan, dan malam itu mereka melanjutkan perjalanan mereka, pergi jauh dari desa itu dengan segepok uang hasil menjual tanah para warga, belum lagi yang ditransfernya, Pak Suprapto akan menjadi orang paling kaya saat ini.


Sementara didalam gudang, istrinya dan Laura tengah menderita, kelaparan, kedinginan dan udara sangap ngap tanpa cahaya.


“Tante, mungkin Laura tidak kuat lagi.” Laura yang merasakan kehausan dan habis tenaga karena menangis dan berteriak itu terlihat sangat lemah, karena dari kemarin dia juga belum sempat isi perutnya karena terlalu bahagia akan segera memenuhi amanat ayahnya.


“Bertahanlah Laura, kita pasti selamat dari sini.” Kata tante memangku kepala Laura.


“Dingin sekali tante.”


“Sabar-sabar.” Kata Tantenya mendekap Laura, tubuh Laura tidaklah sekuat itu, daya tubuhnya cepat sekali melemah. Malam itu Tante dan Laura benar-benar berjuang diantara hidup dan mati, lama sekali dia menunggu cahaya matahari datang. Malam itu Laura hanya mengingat Dimas, entah dia bisa bertemu lagi dengan Dimas atau tidak, di malam yang samapun Dimas juga tengah gelisah memikirkan Laura.

__ADS_1


__ADS_2