
Sepanjang perjalanan Laura terdiam, perasaan nya berkecamuk. Dia tidak berani menatap Dimas. Malu dan marah menjadi satu, pun Dimas dia juga terdiam menatap jalanan. Entah apa yang dia lakukan tadi pada Laura, itu adalah hal yang salah. Laura hanyalah pacar kontrak nya, bukan pacar asli nya.
“Aku.....Gue.” Mereka mengucap bersamaan nya.
“Mas aja dulu.”
“Lo dulu aja.”
“Aku sudah gak apa-apa kok, aku akan temani Mas ke tempat reuni.”
“Oh, gak usah ga apa-apa, lo istirahat aja,.”
“Mas mau pergi sendiri?”
“Enggak, gue gak jadi pergi, gue langsung pulang aja nanti.”
“Ga apa-apa aku temani.”
Laura mengeluarkan alat make up nya dari tas, Dimas tidak berkomentar dengan sikap
Laura, cewek memang aneh, tadi dia marah tidak mau menemani, eh sekarang
giliran dia yang mengalah, malah gantian dia yang nawarin diri mau nemanin.
Dimas memandang Laura yang membersihkan wajah nya lalu bermake up kembali
tipis-tipis. Dimas melirik Laura menggunakan lipstik pink di bibir mungil nya
yang tadi di kecup Dimas. Ah bibir itu sangat manis. Laura menambah kelentikan
bulu matanya, sisa tangisan nya masih ada di mata indah nya, dengan sentuhan
maskara itu tentu saja menambah kecantikan Laura. Terakhir Laura merapikan
rambutnya yang terurai panjang, dia menyisirnya dengan rapi dan sedikit
menggulung bagian bawah nya. Setelah semuanya selesai Laura menambahkan parfum
khas nya di sekitar lehernya yang putih mulus. Dimas merasa gerah dengan setiap
apa yang dilakukan Laura. Jika dia tidak ingat dia pacaran kontrak dengan
Laura, dia pasti menyergap Laura saat itu juga.
“Sudah?” Tanya Dimas dengan nada sedikit menggoda, sementara laura melihat ke arah Dimas
dengan malu-malu.
“Bagimana?”
“Apa?”
“Cantik gak?” Laura bertanya seolah-olah Dimas adalah pacar nya saja. Dimas batuk
kecil, dan tidak menjawab pertanyaan Laura.
“Eh maaf, maksud aku, udah rapi belum.” Ralat Laura.
“Cantik.” Jawab Dimas singkat.
Laura hanya diam, entah kenapa setiap kali dia ingin menghindari Dimas dia selalu
tidak bisa, semarah apapun dia, dia pasti luluh kembali. Atau Laura jatuh cinta
pada Dimas, enggak Laura tidak boleh bermimpi seperti itu.
“Sudah yuk.” Dimas mengajak Laura untuk turun ketika sudah sampai ke tempat reuni,
ternyata banyak banget orang nya.
“Mas, kok orang nya banyak banget, katanya satu gank kamu aja.”
“Iya mungkin mereka mengajak pacar nya juga, dan keluarganya, ga apa-apa ayo.” Dimas
turun duluan dan membuka pintu untuk Laura.
Dimas menggandeng tangan Laura, meskipun Laura berusaha untuk melepas. Tetapi Dimas
semakin erat menggegam tangan Laura.
“Hai Bro, Dimas wow.” Sapa seseorang.
“Hai, apa kabar lo.”
“Iya gue sehat, siapa tuh.”
“O iya ini Laura, Laura ini Julian teman aku.”
Laura dan Julian saling berjabat tangan. Berikut dengan teman-teman yang lain nya.
“Cantik cewek lo bro, terus gimana si Sindi” Kata Julian berbisik. Dimas tahu kalau
__ADS_1
Julian masih sepupuan sama Sindi
“Lo kan tahu sendiri gue ama Sindi udah lama lost kontak.”
“Haha iya sih,.”
Dimas hanya tersenyum, dia melihat ke arah Laura yang cepat sekali akrab dengan
teman-teman nya. Banyak teman yang memuji Laura,.
Laura dan Dimas memasuki mobil setelah acara selesai, Laura tampak terlihat gembira.
“Kenapa?”
“Enggak, aku belum pernah lo merasakan reuni begitu, dulu aku di sekolah tidak punya
teman, ya tidak ada yang mau berteman dengan anak panti asuhan seperti aku,
jadi kalaupun mereka mengadakan reuni, pasti aku adalah orang paling
dilupakan.” Cerita Laura.
“Rugi sekali mereka.”
“Kenapa?”
“Melupakan teman seperti lo, cantik, mandiri dan hebat.”
“Itu semua karena Bunda panti, aku belajar banyak hal dari bunda panti, makanya aku
bisa seperti ini.”
“Kapan-kapan ajak gue bertemu Bunda Panti ya.”
“Buat Apa,”
“Mau ngucapin terimakasih karena sudah membentuk kamu seperti ini.”
“Seperti apa, Bunda panti hanya mengajari aku cara membuat kue, selebih nya aku pelajari
di kampus dan di yutube hehe.” Laura tersenyum sendiri saat mengingat awal mula
dia belajar tutorial make up dan cara jalan yang anggun.
Dimas tersenyum, apapun itu wanita di sebelahnya adalah wanita kreatif, mandiri, dan
tentunya cantik.
***
Dimas. Kenapa Laura tidak menyesali itu, Laura merasakan kalau Laura sudah
jatuh cinta pada Dimas. Di tempat yang sama Dimas juga merasakan hal yang sama,
dia teringat akan apa yang dilakukan nya pada Laura. Dimas benar-benar dilema,
rasa sepinya dan kerinduang pada Sindi tidak seharusnya dia lampiaskan pada
Laura.
Malam itu di bawah langit yang berbintang, Laura dan Dimas sama-sama memejamkan
matanya dengan bayangan satu sama lain.
“Kriiiingggggg”
Suara alarm yang nyaring membangunkan Dimas dari mimpi indah nya.
“Dimas, ayo bangun, tumben banget kamu bangun terlambat, tidak kekantor hari ini.” Kata
Mamanya, tidak biasanya Dimas bangun terlambat.
“Kamu kenapa? Sakit?” Mama Dimas meraba kening anak kesayangan nya.
“Emmm enggak ma, cuma Dimas susah tidur aja semalam,”
“Susah tidur, ada masalah?”
“Iya gitulah ma.”
“Masalah apa, masalah pekerjaan apa masalah hati?”
“Masalah hati bagaimana ma?”
“Iya kalau dilihat kamu semalam pulang senyum-senyum sendiri terus sekarang
terlambat bangun pasti kamu ada masalah hati.”
“Mama suka ngaco deh, udah ah Dimas mau mandi.”
“Malam nanti ajak Laura makan malam dirumah ya, Mama kangen sama dia.”
__ADS_1
“Hemmm.” Dimas menjawab Mama nya dengan malas.
Mama Laura tersenyum gemas melihat anak semata wayang nya saat ini terlihat bahagia
kembali, setelah sekian lama terlalu serius dalam hidup.
***
Laura bersiap di meja kerjanya, mendata semua penjualan yang masuk hari itu, sudah
ada beberapa hotel yang minta kerja sama dengan nya. Laura merasa puas dengan
hasil kerja kerasnya ini.
“Permisi.” Sapa seorang kurir pada Laura.
“Iya.”
“Mba Laura.”
“Iya saya sendiri mas.”
“Ini ada kiriman bunga untuk Mba Laura,”
“O iya terimakasih ya.” Laura menerima bunga yang indah dengan rasa penasaran.
“Dari siapa ini ya.” Laura berbicara sendiri dan membuka kartu dalam bunga nya. Dan
ternyata dari Rio. Bunga nya memang kesukaan Laura, akan tetapi perasaan Laura
merasa biasa aja menerima bunga itu, andai saja bunga itu datang dari Dimas.
“Duh mbak Laura pagi-pagi sudah ada yang mengirimkan bunga, seneng nya.”
“Tika kamu ngagetin aja.”
“Hehe maaf.”
Laura meletakan bunga di meja kerjanya sembari melihat ke arah Tika dan Lusi yang
menyusun kue-kue nya. Tidak lama setelah itu terlihat mobil Dimas datang, “Mau
apa dia pagi-pagi datang kemari.”
“Mba Laura, ada mas ganteng.” Kata Tika yang melihat Dimas turun dari mobil membawa
bunga.
“Laura.”
“Iya mas, tumben pagi-pagi udah kesini.”
“Iya gue mau ke kantor jadi gue mampir dulu, ini buat lo.” Kata Dimas sembari
memberikan bunga ke Laura. Laura menerima bunga dengan terheran-heran, kenapa
dia membawa bunga untuk nya.
“Itu ucapan terimakasih gue karena lo kemarin sudah temani gue dan berakting dengan
baik di depan teman-teman gue.”
“Oh repot-repot aja, itu kan sudah tugas saya, santai aja.”
“Gue gak merasa di repotkan kalaupun harus kirim setiap hari asal lo suka.” Ucap
Dimas yang membuat Laura tersipu.
“O iya tar malam Mama ngundang lo untuk makan malam, tar gue jemput ya.”
Laura hanya mengangguk.
“Iya udah kalau gitu gue pergi.”
“Eh tunggu.” Kata Laura lalu pergi mengambilkan kue kesukaan Dimas, saat Laura
pergi itulah Dimas melihat ada buket bunga di meja kerja Laura.
“Ini bawa ke kantor ya, ucapan terimakasih juga buat bunganya.”
“Emm sepertinya gue bukan satu-satunya yang kirim bunga hari ini.” Dimas mulai
penasaran dengan bunga yang ada di meja Laura, Laura paham akan maksud Dimas,
setelah melirik bunga dari Rio, Laura berkata.
“Tapi kamu satu-satu nya yang dapat kue spesial ini secara gratis.” Ucap Laura
tersenyum.
Dimas membalasa senyuman Laura lalu pamit pergi. Meskipun Dimas tersenyum, tetap saja
__ADS_1
dihatinya masih ada rasa penasaran, bunga dari siapa yang ada ditempat Laura.