
Erlangga mendekati Laura, kali ini dia sengaja ingin mencari tahu, sejauh mana Laura tahu tentang keluarganya.
“Kenapa mas Erlan nemui saya, tumben.” Kata Laura saat melihat Erlangga menemuinya di toko kue nya.
“Bukan kah dulu juga seperti ini?” sahut Erlangga.
“Iya dulu kan karena saya ada terikat kerjaan dengan mas Dimas, sekarang kan enggak mas?”
“Memangnya kenapa, apa kamu gak nyaman, bukan nya kemarin kamu bilang aku seperti kakak kamu?”
“Hmm bukan begitu sih mas, takut salah paham aja.”
“Salah paham sama siapa, santai aja kalau Dimas gak mungkin cemburu sama aku.” Kata Erlangga. Sementara Laura yang kini merasa benci dengan Erlangga mulai malas.
“Iya juga sih mas, memangnya mas Erlangga belum punya pacar?”
“Belum, nanti ajalah itu gampang, ribet soalnya kalau urusan perempuan.”
“O iya.”
“Iya lihat aja Dimas, sekarang hidup nya ribet banget.”
Laura hanya tersenyum kecut mendengar pernyataan Erlangga.
“O iya Ra, aku boleh tanya sesuatu?”
“Apa itu mas?” Laura mulai curiga, dan kini dia mulai hati-hati untuk menjawa pertanyaan Erlangga.
“Keluarga kamu dimana?”
“Kenapa mas tiba-tiba menanyakan keluarga saya?” Tanya Laura curiga.
“Oh enggak, selama saya bertemu kamu, kamu kan terlihat sendiri, sampai akhirnya kamu membangun usaha ini, apa orang tua kamu diluar negeri?” Erlangga berbasa-basi, hati Laura rasanya semakin sakit.
“Enggak mas, orang tua saya sudah lama meninggal, selama ini saya tinggal dipanti asuhan.” Laura menjawab apa adanya, karena Laura tahu mungkin om dan tantenya sudah menceritakan kedatangan nya pada Erlangga, Laura tidak ingin memancing kecurigaan Erlangga.
“Oh maaf ya Ra.”
“Tidak apa-apa mas?”
“Jadi kamu selama ini hanya hidup sendiri, apa kamu tidak ada keluarga lain, misal saudara dari orang tua kamu.”
“Saya mencoba mencari mas, tetapi ya gitulah, mereka tidak menerima saya, maaf mas saya tidak ingin cerita banyak tentang masa lalu saya, itu hanya akan membuat saya sedih saja.”
“Iya Ra, maafin saya ya.”
__ADS_1
“Tidak apa-apa mas? O iya saya sudah cerita keluarga saya kalau keluarga mas Erlangga gimana?”
“Aku juga sama kok seperti kamu Ra, kedua orang tua aku juga sudah meninggal karena kecelakaan, lalu aku diasuh oleh paman dan bibi.”
“Mas lebih beruntung.”
“Iya, paman dan bibi sudah seperti orang tuaku sendiri.”
Laura diam, dalam hatinya dia ingin mengatakan pada Erlangga kalau itu bukanlah paman nya melainkan ayah nya. Ya Tuhan kenapa Laura harus mempunyai ibu yang tega menghianati ayah nya.
****
Dimas mendapat pesan misterius, yang tidak dikenal. Isi pesan nya adalah
SAYA TAHU KAMU MENYIMPAN BERKAS PENTING MILIK PAK HANDIKA.
Dimas memandangi pesan nya sembari melamun sendiri diteras rumah nya.
“Dim, kamu melamun apa, malam-malam jangan melamun.”
“Mah, tau gak akhir-akhir ini aku sering kena teror ma.”
“Teror apa?”
“Eh iya lo, kemarin juga ada tamu datang kerumah katanya orang suruhan pak Handika, untuk mengambil berkas yang dititipkan pada Papamu.”
“Ya terus mama jawab apa?”
“Mama bilang kalau mama gak kenal sama pak Handika.”
“Kenapa gitu ma, kan pak Handika itu sahabatnya papa.”
“Iya, Cuma dia itu sebelum kecelakaan mendapat masalah, dengar-dengar sih dia jadi buronan polisi.”
“Masa sih ma.”
“Iya begitu sih ceritanya.”
“Pak Handika itu yang meninggal karena kecelakaan kan ma?”
“Iya, itu sudah lama sekali, waktu itu kamu masih berumur berapa ya, masih kecil pokoknya.”
Cerita mamanya, Dimas sendiri memang tidak tahu soal pak Handika, yang pasti saat papanya sakit dan sebelum meninggal. Papanya menitipkan sesuatu pada Dimas.
“Dimas, papa tahu umur papa ga akan lama lagi, papa titip perusahaan dan mama kamu ya, kamu jaga baik-baik, dan juga ini, ini adalah berkas penting milik sahabat papa, suatu saat akan ada anaknya yang mengambil, dan menyebutkan kode ini .....” Papanya membisikan sesuatu pada Dimas. Setelah itu papanya pergi, sampai saat ini berkas itu masih Dimas simpan dengan baik di brangkas pribadinya, tidak ada yang tahu satupun, termasuk mamanya. Saat ini Dimas juga sedang menunggu anak dari sahabat papanya itu yang akan mengambil berkas penting itu.
__ADS_1
“Kenapa lagi Dim, kamu kok seperti banyak pikiran begitu.”
“Iya sih ma, Dimas sedang memikirkan sesuatu yang akhir-akhir ini terjadi.”
“Mama juga tidak tahu, karena papa juga tidak bilang apapun pada Mama.”
“Mama harus hati-hati ya mulai sekarang, Dimas khawatir banget.”
“Iya kamu tenang aja, mama pasti bisa jaga diri kok.”
Dimas dan Mamanya terdiam sejenak.
“O iya Dim, apa kamu yakin hubungan kamu dengan Sindi.”
“Kenapa ma?”
“Sepertinya mama melihat kamu lebih nyaman sama Laura daripada sama Sindi.”
“Dimas juga tidak tahu ma.”
“Kamu bilang aja baik-baik pada keluarganya Sindi, kalau kamu memang tidak dapat meneruskan hubungan kamu.”
“Maunya sih begitu ma, Cuma sekarang mamanya Sindi lagi sakit, Dimas gak tega mau bilang itu.”
“Kalau kamu gak tega, nanti kamu bisa susah sendiri, dan sepertinya keluarga Sindi sengaja meminta kamu menikahi anaknya untuk menyelamatkan perusahaannya yang hampir bangkrut itu.”
“Mama kok punya pikiran begitu sih.”
“Iya kan Mama tahu betul keluarga dia seperti apa, dari awal mama lihat kamu pacaran sama Sindi juga mama gak suka, dari kedua sahabat papamu Cuma papa nya Sindi yang mama gak suka.”
“Itu karena mama sekarang suka nya sama Laura kan?”
“Memangnya kamu gak suka sama Laura, dia cantik, mandiri, sopan dan sayang sama mama.”
Dimas tidak menyahut ucapan mamanya, memang apa yang diucapkan mamanya itu benar adanya, Laura memang gadis yang luar biasa.
“Tuh kan melamun lagi, kamu pasti mikirin Laura ya?” Ejek mamanya.
“Mama apa sih, udah ah, Dimas mau istirahat.”
Dimas masuk kedalam kamar nya dan membuka berkas yang papanya pernah titipkan padanya. Dimas mengambil tas batik yang berisi berkas-berkas itu, Dimas merasa kaget karena isinya lebih dari 30 an surat sertifikat tanah.
“Ini pasti penting banget, kenapa belum diambil sampai sekarang?” Dimas bergumam. Dimas mulai memperhatikan alamat-alamat yang ada diberkas tersebut, Dimas memperhatikan alamat yang jauh dari kotanya itu. Dimas mulai penasaran, apa benar Pak Handika terlibat penipuan, tetapi jika benar kenapa berkas ini dititipkan pada Papanya, dan kenapa juga Dimas harus menunggu seseorang untuk mengambilnya. Dimas kin mengerti bahwa yang dititipkan padanya kini barang yang penting.
Dimas masih memikirkan sesuatu ataukan Dimas mengembalikan saja pada warga, tetapi Dimas masih bingung, pasti ada alasan nya warga menyerahkan berkas ini pada pak Handika. Dimas menyimpan kembali berkas itu di brankas pribadinya. Dia tidak mau terlibat masalah karena ikut menyembunyikan ini, pelan-pelan Dimas akan menyelidiki tentang keberadaan berkas ini, kenapa sampai ada di tangan nya sekarang.
__ADS_1