Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 8


__ADS_3

Erlangga kembali ke kantor dan bertemu dengan Dimas.


“Darimana lo.”


“Sorry  Dim, orang tua gue sakit, jadi gue harus pulang dan tanpa beritahu lo dulu.”


Kata Erlangga.


Dimas melihat Erlangga, sudah 3 tahun ini dia menemaninya berkarir, dan hubungan nya juga


sudah akrab, Erlangga juga teman kampusnya. Rasanya tidak mungkin jika Erlangga


yang menyimpan kebohongan padanya.


“Ada apa?”


“Enggak, jadi sebelum lo pergi ada kejadian di kantor.”


“Kejadian apa,?”


“Iya kantor berantakan seperti ada yang mau maling aja disini.”


“Lalu.”


“Ya awalnya gue nuduh Laura, karena saat itu Laura yang ada di ruangan gue.”


“O ya, memangnya apa yang dicari, bukanya gaji dia cukup besar.”


“Ya gak tau gue, sekarang dia gak mau gue gaji segitu, dia minta setengah nya aja.”


Erlangga hanya manggut-manggut saja, tampaknya Laura bisa di kambinghitamkan dari


kejadian yang sebenarnya itu adalah ulah dia sendiri.


“Menurut lo kira-kira apa yang akan di curi dari lo.”


“Ya mana gue tahu.”


“Apa lo gak punya sesuatu apa gitu yang berharga yang mungkin bakal jadi incaran


maling.”


Dimas diam sejenak, ada memang sebuah rahasia, tapi dia sudah berjanji untuk tidak


bicara pada siapapun.


“Ada.”


“Apa itu?” Erlangga tampak serius menyimak Dimas.


“Hati gue,”


“Sial, bukan nya hati lo sudah dibawa Sindi, emang ada hati yang lain.” Kata-kata


Erlangga menginggatkan dia pada seseorang. Dimas berharap hatinya masih untuk


nya saat ini.


****


“Tika sepertinya harus nambah karyawan deh untuk bantuin saya buat kue nya, ini


jumblah pesanan kue nya banyak banget.”


“Iya mbak, panggil aja Lusi, karena dia juga belum kerja.”


“Oh gitu, ya sudah aku hubungi Lusi ya.”


Laura mencoba menghubungi Lusi, dulu dia juga membantunya di toko kuenya. Laura


senang akhirnya satu persatu mereka dapat membawa kembali rekan nya.


“Laura.” Tamu datang kerumah Laura


“Mas Rio.” Laura terlihat sumringah saat Rio datang.


“Iya, lagi sibuk aku ada hal yang ingin aku bicarakan.”

__ADS_1


“Enggak kok Mas, mari masuk.”


Laura mengajak Rio untuk masuk kedalam rumahnya.


“Bagaimana mas?”


“Begini Laura, ini soal orang tuamu, aku menemukan hal yang aneh.”


“Yang aneh bagaimana mas?”


“Jadi kemarin kan kamu bilang kalau aku kurang jauh menelusui kampung itu, jadi aku


lebih masuk kedalam lagi, disana ada sebuah desa kecil lagi, dulu desa itu


memang jadi satu sama desa yang tertulis di alamat kamu ini, tapi 10 tahun yang


lalu ada banjir bandang yang tiba-tiba memisahkan desa tersebut, karena jalanan


mengalir air dari sungai yang telah banjir tersebut.”


“Lalu.”


“Disana ada yang mengenal Pak Handika dan Bu Ifa, itu nama yang ada di foto kamu itu.”


Laura terdiam sejenak, dia bahkan tidak mengingat nama orang tuanya.


“Lalu apa lagi mas, yang aneh apa?”


“Saat aku tanya tentang foto itu tiba-tiba saja orang itu seperti tahu sesuatu hal


tapi tidak mau menjelaskan pada kita.”


Rio mulai menceritakan kejadian saat mencari info keluarga Laura tersebut.


“Sore pak, maaf mau tanya, apa bapak mengenal orang yang ada di foto ini.” Kata Rio pada


salah satu warga yang ditemuinya. Bapak tua itu tampak kaget.


“Mas ini wartawan mana lagi, memangnya kasus orang ini belum selesai mas, ini sudah


17 tahun yang lalu, warga sini sudah capek kalau di datangi wartawan buat


“Memangnya orang ini siapa Pak.”


“Sudah ya mas, saya tidak mau ikut campur urusan Bapak Handika dan Bu Ifa,”


“Maaf pak sepertinya bapak salah paham, saya bukan wartawan, saya hanya ingin tahu


kabar keluarga ini pak.”


“Begini mas, Keluarga bapak Handika mengalami kecelakaan dan beserta anak nya dan


sekarang tidak tahu dimana? Karena warga sini juga menolak jenasahnya.”


“Kok begitu pak, memangnya mereka ini salah apa.”


“Saya tidak mau tahu, gara-gara mereka kita semua jadi terjebak dan menderita disini


mas, permisi.” Bapak paruh baya itu pergi dengan nada emosi.


Rio menghela nafas, Laura tampak berpikir. Dia teringat sesuatu memang waktu itu


didalam mobil orang tuanya bertengkar, tapi dia terlalu kecil untuk mengerti


apa yang mereka ributkan.


“Laura, kamu baik-baik aja?” Tanya Rio.


“Iya Mas, aku gak tau apa yang telah di lakukan oleh orang tuaku, yang jelas aku


hanya ingin bertemu mereka, jika memang mereka telah tiada aku ingin melihat


makam nya, hanya itu.”


“Iya Laura, aku paham.”


Laura kembali terdiam, Rio menatap Laura yang tampak sedih itu, Rio dan Laura tumbuh

__ADS_1


di panti asuhan yang sama, Rio sama sekali tidak tahu orang tuanya, karena dia


di temukan di depan panti Asuhan, orang tuanya membuangnya begitu saja, tanpa


nama dan tanpa petunjuk apapun, rasanya Rio menjadi anak yang tak pernah


diinginkan, tetapi akhirnya dia merasa sangat beruntung, karena saat ini dia diangkat


oleh keluarga kaya raya yang baik hati dan bisa membuatnya sukses. Dengan


kesuksesan inilah Rio ingin membantu Laura yang sebenarnya telah lama dia


cintai untuk menemukan kedua orang tua nya.


“Iya sudah mas, aku terimakasih sekali, karena mas sudah mau membantu aku sejauh


ini, nanti jika ada waktu luang aku akan datang sendiri lagi kesana untuk


mencari tahu lagi.”


“Yakin kamu mau kesana lagi, disana mungkin berbahaya buat kamu Ra.”


“Berbahaya?”


“Iya, karena orang-orang sana terlihat tidak suka jika orang menanyakan orang tua


kamu.”


“Makanya itu aku harus tahu mas, sebenarnya apa yang terjadi dengan orang tuaku, itu


aja.”


“Tapi kamu jangan sendirian kesana, biar aku yang mengantarkan kamu ya.”


“Memangnya mas tidak sibuk, sekarang kan mas Rio sibuk banget.”


“Buat kamu aku bisa atur semuanya.”


Laura dan Rio saling bertatapan, Laura merasa beruntung ada cowok sebaik Rio.


“O iya mas mau kue terbaru aku, sebentar ya sekalian aku ambilkan minum sampai


lupa.”


“Boleh.”


Laura segera pergi ke toko kuenya yang ada di halaman rumahnya itu, mengambil kue


terbarunya dan minuman dingin.


“Duh mba Laura sekarang sering di apelin cowok keren terus.” Goda Tika.


“Huss, itu kan Rio, teman aku yang biasa kesini itu lho.”


“Oh itu tadi mas Rio, kok jadi ganteng begitu,”


“Iya sekarang dia udah jadi wakil direktur, makanya dia ganteng.”


“Wah pantesan, tapi mbak Laura lebih cocok sama yang kemarin itu lho mbak, yang


gagah, seksi dan ganteng.”


“Yang mana?”


“Yang kemarin datang sama Ibu nya, kirain kemarin mau lamaran,”


“Kamu ini ngaco aja, udah ah kamu lanjutin kerjanya.”


“Siap.”


Laura tersenyum sendiri selesai mendengar ocehan Tika, Rio memang ganteng, tapi Dimas


tentu lebih keren dari sudut mana aja, dia tinggi, putih, badan nya kekar, dan


ah,, kok jadi mikirin Dimas sih. Dia nyebelin.


Laura kembali ngobrol dengan Rio, banyak hal yang dia ceritakan, sampai akhirnya Rio

__ADS_1


pulang karena dia harus meeting dengan seseorang.


__ADS_2