
Erlangga kembali ke kantor dan bertemu dengan Dimas.
“Darimana lo.”
“Sorry Dim, orang tua gue sakit, jadi gue harus pulang dan tanpa beritahu lo dulu.”
Kata Erlangga.
Dimas melihat Erlangga, sudah 3 tahun ini dia menemaninya berkarir, dan hubungan nya juga
sudah akrab, Erlangga juga teman kampusnya. Rasanya tidak mungkin jika Erlangga
yang menyimpan kebohongan padanya.
“Ada apa?”
“Enggak, jadi sebelum lo pergi ada kejadian di kantor.”
“Kejadian apa,?”
“Iya kantor berantakan seperti ada yang mau maling aja disini.”
“Lalu.”
“Ya awalnya gue nuduh Laura, karena saat itu Laura yang ada di ruangan gue.”
“O ya, memangnya apa yang dicari, bukanya gaji dia cukup besar.”
“Ya gak tau gue, sekarang dia gak mau gue gaji segitu, dia minta setengah nya aja.”
Erlangga hanya manggut-manggut saja, tampaknya Laura bisa di kambinghitamkan dari
kejadian yang sebenarnya itu adalah ulah dia sendiri.
“Menurut lo kira-kira apa yang akan di curi dari lo.”
“Ya mana gue tahu.”
“Apa lo gak punya sesuatu apa gitu yang berharga yang mungkin bakal jadi incaran
maling.”
Dimas diam sejenak, ada memang sebuah rahasia, tapi dia sudah berjanji untuk tidak
bicara pada siapapun.
“Ada.”
“Apa itu?” Erlangga tampak serius menyimak Dimas.
“Hati gue,”
“Sial, bukan nya hati lo sudah dibawa Sindi, emang ada hati yang lain.” Kata-kata
Erlangga menginggatkan dia pada seseorang. Dimas berharap hatinya masih untuk
nya saat ini.
****
“Tika sepertinya harus nambah karyawan deh untuk bantuin saya buat kue nya, ini
jumblah pesanan kue nya banyak banget.”
“Iya mbak, panggil aja Lusi, karena dia juga belum kerja.”
“Oh gitu, ya sudah aku hubungi Lusi ya.”
Laura mencoba menghubungi Lusi, dulu dia juga membantunya di toko kuenya. Laura
senang akhirnya satu persatu mereka dapat membawa kembali rekan nya.
“Laura.” Tamu datang kerumah Laura
“Mas Rio.” Laura terlihat sumringah saat Rio datang.
“Iya, lagi sibuk aku ada hal yang ingin aku bicarakan.”
__ADS_1
“Enggak kok Mas, mari masuk.”
Laura mengajak Rio untuk masuk kedalam rumahnya.
“Bagaimana mas?”
“Begini Laura, ini soal orang tuamu, aku menemukan hal yang aneh.”
“Yang aneh bagaimana mas?”
“Jadi kemarin kan kamu bilang kalau aku kurang jauh menelusui kampung itu, jadi aku
lebih masuk kedalam lagi, disana ada sebuah desa kecil lagi, dulu desa itu
memang jadi satu sama desa yang tertulis di alamat kamu ini, tapi 10 tahun yang
lalu ada banjir bandang yang tiba-tiba memisahkan desa tersebut, karena jalanan
mengalir air dari sungai yang telah banjir tersebut.”
“Lalu.”
“Disana ada yang mengenal Pak Handika dan Bu Ifa, itu nama yang ada di foto kamu itu.”
Laura terdiam sejenak, dia bahkan tidak mengingat nama orang tuanya.
“Lalu apa lagi mas, yang aneh apa?”
“Saat aku tanya tentang foto itu tiba-tiba saja orang itu seperti tahu sesuatu hal
tapi tidak mau menjelaskan pada kita.”
Rio mulai menceritakan kejadian saat mencari info keluarga Laura tersebut.
“Sore pak, maaf mau tanya, apa bapak mengenal orang yang ada di foto ini.” Kata Rio pada
salah satu warga yang ditemuinya. Bapak tua itu tampak kaget.
“Mas ini wartawan mana lagi, memangnya kasus orang ini belum selesai mas, ini sudah
17 tahun yang lalu, warga sini sudah capek kalau di datangi wartawan buat
“Memangnya orang ini siapa Pak.”
“Sudah ya mas, saya tidak mau ikut campur urusan Bapak Handika dan Bu Ifa,”
“Maaf pak sepertinya bapak salah paham, saya bukan wartawan, saya hanya ingin tahu
kabar keluarga ini pak.”
“Begini mas, Keluarga bapak Handika mengalami kecelakaan dan beserta anak nya dan
sekarang tidak tahu dimana? Karena warga sini juga menolak jenasahnya.”
“Kok begitu pak, memangnya mereka ini salah apa.”
“Saya tidak mau tahu, gara-gara mereka kita semua jadi terjebak dan menderita disini
mas, permisi.” Bapak paruh baya itu pergi dengan nada emosi.
Rio menghela nafas, Laura tampak berpikir. Dia teringat sesuatu memang waktu itu
didalam mobil orang tuanya bertengkar, tapi dia terlalu kecil untuk mengerti
apa yang mereka ributkan.
“Laura, kamu baik-baik aja?” Tanya Rio.
“Iya Mas, aku gak tau apa yang telah di lakukan oleh orang tuaku, yang jelas aku
hanya ingin bertemu mereka, jika memang mereka telah tiada aku ingin melihat
makam nya, hanya itu.”
“Iya Laura, aku paham.”
Laura kembali terdiam, Rio menatap Laura yang tampak sedih itu, Rio dan Laura tumbuh
__ADS_1
di panti asuhan yang sama, Rio sama sekali tidak tahu orang tuanya, karena dia
di temukan di depan panti Asuhan, orang tuanya membuangnya begitu saja, tanpa
nama dan tanpa petunjuk apapun, rasanya Rio menjadi anak yang tak pernah
diinginkan, tetapi akhirnya dia merasa sangat beruntung, karena saat ini dia diangkat
oleh keluarga kaya raya yang baik hati dan bisa membuatnya sukses. Dengan
kesuksesan inilah Rio ingin membantu Laura yang sebenarnya telah lama dia
cintai untuk menemukan kedua orang tua nya.
“Iya sudah mas, aku terimakasih sekali, karena mas sudah mau membantu aku sejauh
ini, nanti jika ada waktu luang aku akan datang sendiri lagi kesana untuk
mencari tahu lagi.”
“Yakin kamu mau kesana lagi, disana mungkin berbahaya buat kamu Ra.”
“Berbahaya?”
“Iya, karena orang-orang sana terlihat tidak suka jika orang menanyakan orang tua
kamu.”
“Makanya itu aku harus tahu mas, sebenarnya apa yang terjadi dengan orang tuaku, itu
aja.”
“Tapi kamu jangan sendirian kesana, biar aku yang mengantarkan kamu ya.”
“Memangnya mas tidak sibuk, sekarang kan mas Rio sibuk banget.”
“Buat kamu aku bisa atur semuanya.”
Laura dan Rio saling bertatapan, Laura merasa beruntung ada cowok sebaik Rio.
“O iya mas mau kue terbaru aku, sebentar ya sekalian aku ambilkan minum sampai
lupa.”
“Boleh.”
Laura segera pergi ke toko kuenya yang ada di halaman rumahnya itu, mengambil kue
terbarunya dan minuman dingin.
“Duh mba Laura sekarang sering di apelin cowok keren terus.” Goda Tika.
“Huss, itu kan Rio, teman aku yang biasa kesini itu lho.”
“Oh itu tadi mas Rio, kok jadi ganteng begitu,”
“Iya sekarang dia udah jadi wakil direktur, makanya dia ganteng.”
“Wah pantesan, tapi mbak Laura lebih cocok sama yang kemarin itu lho mbak, yang
gagah, seksi dan ganteng.”
“Yang mana?”
“Yang kemarin datang sama Ibu nya, kirain kemarin mau lamaran,”
“Kamu ini ngaco aja, udah ah kamu lanjutin kerjanya.”
“Siap.”
Laura tersenyum sendiri selesai mendengar ocehan Tika, Rio memang ganteng, tapi Dimas
tentu lebih keren dari sudut mana aja, dia tinggi, putih, badan nya kekar, dan
ah,, kok jadi mikirin Dimas sih. Dia nyebelin.
Laura kembali ngobrol dengan Rio, banyak hal yang dia ceritakan, sampai akhirnya Rio
__ADS_1
pulang karena dia harus meeting dengan seseorang.