
Laura menerima Telepon dari Dimas saat dia masih termenung di penginapan.
“Hallo Ra, lo dimana?”
“Aku...” Suara Laura terdengar sangat lemah, saat itu hatinya tengah hancur, bahkan airmatanya tak dapat mengalir.
“Lo dimana? Dimana keadaan lo?”
“Aku baik.”
“Kapan lo pulang, gue mau bertemu sama lo.”
“Besok.”
“Oke gue tunggu besok ya.”
Laura menutup telepon nya, dia teringat pada Erlangga, bagaimana bisa selama ini Erlangga yang sudah tau dia adik tirinya tidak memberitahukan nya, bagaimanapun juga Laura dan Erlangga lahir dari rahim yang sama. Meskipun saat ini Laura menjadi tidak suka pada Ibunya, apapun itu berselingkuh dengan adik suaminya itu sangat salah.
Laura akan mencari tahu apa rencana Erlangga dan ayah nya, mungkin kan selama ini Erlangga mengira Laura mempunyai sertifikat warga itu, Laura harus menemukan terlebih dahulu daripada Erlangga, agar warga tidak salah paham pada Ayah Laura. Tetapi apa Erlangga tidak mengetahui kalau Ayah sebenarnya adalah om nya sendiri, ah, Laura jadi pusing memikirkan ini, Laura harus hati-hati dan bersikap biasa aja pada Erlangga. Seperti di awal bahwa Laura akan berpura-pura tidak tahu.
****
Laura bertemu dengan Dimas di suatu tempat, Laura tidak menolak saat Dimas mengajaknya bertemu, disisi lain Laura ingin tahu tentang Erlangga lebih jauh.
“Lo kemana aja sih.”
“Aku kan sudah bilang mas aku ada urusan di kampung.”
“Kok lama urusan apa?”
“Kenapa sih mas Dimas mulai sibuk urus hidup aku.”
“Sebanarnya gue gak mau urus kehidupan lo, Cuma gue gak tahu aja apa lagi yang mau gue obrolin sama lo karena lo jutek banget sama gue.”
“Sebenarnya aku gak jutek mas, harusnya mas ngerti donk, aku gak mau nyakiti hati pacar mas Dimas.”
“Gue juga bingung ra sama perasaan gue, yang pasti gue lebih nyaman sama lo saat ini.” Kata Dimas, tatapan matanya tajam menatap Laura.
“Mungkin Mas Dimas hanya perlu waktu sedikit saja untuk lebih mengerti mbak Sindi, bukan kah dari awal Mas Dimas menantikan kedatangan nya.”
“Iya, tetapi Sindi yang dulu dan saat ini berubah, dia tidak seperti dulu lagi, saat ini dia lebih manja, lebih semaunya sendiri dan dia suka menekan aku, aku sama sekali tidak suka itu.”
“Tapi Mas tidak bisa menolak kan?”
“Iya gue sama sekali tidak bisa menolak.”
“Itu artinya Mas masih mencintai nya, hanya saja mungkin keberadaan ku yang salah.”
__ADS_1
“Tidak Ra, bukan begitu.”
“Lalu?”
“Orang tua Sindi dan orang tuaku telah menjadi sahabat baik, dulu sebenarnya ayahku akan menjodohkan aku bersama anak sahabat nya, akna tetapi sahabat ayah itu telah meninggal bersama keluarganya, dan saat itu ayah Sindi berkata pada ayah sebelum meninggal kalau sebaiknya anak nya di jodohkan, ya meskipun tidak secara paksaan tetapi akan lebih baik jika hubungan keluarga kita bersatu.”
“Alasan bisnis?” tanya Laura.
“Iya begitulah.”
Laura terdiam, dia tahu situasi nya, demi urusan bisnis terkadang seseorang lupa dengan perasaan.
“Jujur saja, dulu aku memang menyukai Sindi, dia baik, aku terus mengejarnya meskipun dia sangat cuek, sampai akhirnya dia memutuskan pergi, itupun dia tidak ingin aku menunggunya, aku masih saja menunggunya, dan saat aku mulai memutuskan untuk tidak menunggu nya, dia seakan menyalahkan aku.” Kata Dimas, sementara Laura hanya diam saja.
“Ra, coba bilang sesuatu, jangan diam aja, apa aku salah saat ini.”
“Iya, mas Dimas sangat salah, mas Dimas tidak bisa setia.”
“Ra, aku mohon, jangan menyiksa aku seperti ini.” Tatapan Dimas saat ini sangat tulus.
“Karena aku tidak tahu mas apa yang harus aku perbuat.”
“Ra, kamu cukup jangan menghindar lagi dari aku.”
Laura terdiam, dia juga ingin melupakan Dimas, tetapi saat ini tidak menghindari Dimas bukan lah karena dia mengabulkan permintaan Dimas, melainkan dia akan terus membututi Erlangga.
Laura mengangukan kepalanya.
“Apa?”
“Apa benar kamu pacaran sama Rio?”
“Menurut Mas Dimas, aku menjadi pacar frelance nya mas Rio?”
“Emm enggak, aku juga tidak tahu, yang pasti aku cemburu melihat itu, makanya aku ingin tahu yang sebenarnya.”
“Aku pacaran sungguhan, aku sudah mengenal Rio sudah lama, sejak berada di dalam panti asuhan.”
“Wah ternyata kamu memang berbakat kalau jadi pacar frelance.”
“Maksudnya apa?”
“Jawaban kamu dan Rio kompak, sepertinya kamu paham cara belajar nya.”
“Mas Dimas, tolong tidak semua lelaki seperti mas Dimas, aku dan Rio tidak bersandiwara, kami teman sejak kecil.” Kata Laura mengeluarkan foto-foto saat bersama Rio.
“Ini saat Rio dan aku berpisah, dan ini foto kecil kita, dan ini saat kita aku SMA, Rio suka mengunjungi ku, dan ini wisuda dia, dan ini wisuda aku, dan ini...” Laura menunjukan foto-foot di hp nya.
__ADS_1
“Sudah cukup!”
“Kenapa? Cemburu?”
“Laura, kamu sengaja menggodaku?”
“Enggak, aku Cuma gak terima aja sama pernyataan mas barusan yang mengatakan aku jago jadi pacar frelance, aku juga baru pertama kalinya jadi pacar frelance.”
“Andai saja kamu mau menunggu sedikit lagi, aku tidak akan menjadikan mu pacar kontrak, aku berharap kamu secepatnya putus sama Rio.”
“Sungguh tidak dapat di percaya, tuan muda ini ternyata jahat.”
“Jika aku emang benar tuan muda, aku bisa mendapatkanmu sekarang juga.”
Laura dan Dimas saling berpandangan, tatapan mereka sama-sama saling menuju hati masing-masing.
Laura dan Dimas kini memulai hubungan ya baru, persahabatan ya persahabatan.
****
Laura datang ke kantor Dimas untuk mengantar kue, situasi ini benar-benar mengingatkan Laura pada kehidupan nya beberapa bulan yang lalu.
“Lho kak, datang kesini lagi.” Kata Resepsionist, mungkin dia tahu kalau Dimas sudah berganti pacar.
“Iya kak, karena Pak Dimas memesan kembali kue nya.”
“Oh begitu, silahkan ke ruangan nya langsung kak.”
“Terimakasih ya.”
Laura berjalan menuju ruangan Dimas, banyak karyawan yang menatapnya, ini lucu, rasanya mereka sedang bertanya-tanya dalam hati mungkinkan Laura dan Dimas sedang CLBK.
Saat Laura masuk kedalam ruangan Dimas, Laura menatap Erlangga dengan tatapan yang tajam.
“Ra, kamu kesini lagi, wah kejutan ini.” Kata Erlangga.
“Iya mas, aku memang sedang terkejut dengan sesuatu.” Kata Laura.
“Wah wah, ada apa ini?” kata Erlangga saat melihat Dimas dan Laura akrab.
“Tidak ada apa-apa ayo dimakan kue kesukaan nya lo juga kan.”kata Dimas.
“Iya sih sudah lama tidak makan kue ini.”
Laura menatap Erlangga dengan penuh kebencian, jika Laura tidak menginginkan informasi lebih tentang ayah nya, kakak tirinya ini akan dia racun saat melahap kue nya.
“Laura, kenapa?” tanya Dimas saat melihat Laura menatap Erlangga tanpa berkedip.
__ADS_1
“Emm tidak, aku hanya rindu ruangan ini, sudah lama tidak masuk kesini.”
“Apa kamu juga rindu yang punya ruangan nya.” kata Dimas dengan senyum menggodanya.