Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 18


__ADS_3

Laura menuju desanya, kali ini dia lebih jauh dari tempat yang dia tuju sebelum nya, karena menurut Rio, di bagian terpencil dari desanya lah ada seseorang yang mengenal orang tua nya. Laura sebenarnya sangat gelisah saat datang seorang diri, akan tetapi demi mengetahui siapa orang tua nya dan dimana orang tuanya dimakamkan Laura bertekad untuk mencari tahu.


“Permisi pak, apa bapak tahu orang di foto ini.” Tanya Laura pada seorang petani yang dia jumpai untuk pertama kalinya saat memasuki desa tersebut.


“Ya ampun, ada apa lagi sih, kenapa banyak sekali yang mencari tahu orang ini.” Kata Bapak itu dengan ketus.


“Banyak, maksud bapak banyak sekali orang yang menanyakan orang ini.”


“Iya, dulu banyak wartawan dan polisi yang mencari, tapi setalah lama hampir 15 tahun sudah hilang tidak ada kabar tapi sekarang ada lagi,.”


“Selain saya ada yang menanyakan lagi pak?”


“Iya, beberapa bulan lalu seorang laki-laki yang bertemu saya menanyakan orang ini, saya sudah bilang saya tidak tahu dan gak mau tahu.”


“Pak, maaf sebelum nya, saya bukan wartawan, saya bukan polisi, kemungkinan beberapa bulan yang lalu yang bapak temui itu adalah teman saya, yang memang sedang membantu saya untuk mencari orang ini pak.”


“Oh begitu, memangnya ada urusan apa kamu sama orang ini.”


“Begini pak, ada kecil yang ada di foto ini adalah saya.” Kata Laura sembari menunjuk foto pada anak perempuan yang ada di foto. Tampak Bapak tua terkejut.


“Jadi kamu ini anak nya pak Handika?”


“Bapak kenal sama bapak saya?”


“Semua orang penduduk sini pasti kenal sama bapak kamu, bapak kamu penipu dan orang jahat.”


Laura memandang wajah bapak itu dengan terheran.


“Pak, saya mohon maaf bila orang tua saya menyakiti hati bapak, tapi saya benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tolong bapak ceritakan sama saya, seperti apa keluarga saya pak, mungkin saya bisa membantu.”


“Baik, ayo ikut kerumah saya.”

__ADS_1


Laura mengikuti langkah bapak tua itu dengan hati berdebar, sesampai di rumah yang sangat sederhana itu Laura masuk dan disambut oleh istri bapak tua itu dengan ramah.


“Ayo silahkan duduk.”


Laura segera duduk dan bersiap mendengarkan cerita dari petani tua itu.


“Semua orang di kampung ini sangat mengenal Pak Handika, beliau adalah orang terpercaya di kampung ini, beliau adalah orang yang menjadi harapan bagi warga  kampung sini.” Tampak pak tua itu menghela nafas, Laura sedikit bingung barusan saja Bapak itu berkata kalau orang tua Laura adalah orang jahat.


“Semua warga kampung sini mempercayakan seluruh hasil panen nya pada Pak Handika, karena pak Handika bisa membeli harga panen kami dengan harga mahal danmembawanya ke kota untuk menjual lagi pada sahabatnya di kota, semua orang sangat menyayangi Pak Handika, hingga suatu saat ada pengusaha yang ingin membeli tanah warga kampung disini dengan harga yang sangat mahal, bukan Cuma itu saja pengusaha itu juga menawarkan seluruh kampung disini untuk masih bisa bekerja di tanah yang mereka beli, dengan begitu keuntungan akan menjadi berkali lipat, tetapi pak Handika tidak setuju, kita semua tahu kalau kita mengikuti saran pengusaha itu tentu Pak Handika tidak akan mempunyai penghasilan lagi, Pak Handika menipu kami, Pak Handika meminta seluruh surat tanah kami yang awalnya akan di berikan pada pengusaha tersebut untuk dijual, akan tetapi Pak Handika malah membawanya kabur, dan hingga saat ini, seluruh warga tidak dapat menjual tanah mereka, dan hidup kami sekarang yah,, apalagi pak Suprapto yang sekarang jadi tempat penampung hasil bumi kami membelinya sangat murah.”


“Lalu pak, kenapa ada wartawan dan polisi yang datang mencari orang tua saya.”


“Berita penipuan pak Handika sudah menyebar kemana-kemana dan itulah polisi mencarinya, dan suatu ketika kami semua mendengar kalau Pak Handika kecelakaan bersama keluarganya dan meninggal semua, akan tetapi surat-surat tanah warga kampung disini belum kembali, tidak ada yang dapat menemukan surat tersebut.”


Laura tampak terdiam, dia hampir tidak percaya kalau orang tuanya akan berbuat seperti itu, mungkin ada alasan lain dibalik sikap orang tuanya itu.


“Saya sangat terkejut saat mengetahui kamu masih hidup, karena kabar yang kita dengar tidak ada yang selamat dari kecelakaan tersebut.”


“Lalu pak, siapa anak ini, apakah ini anak bapak saya juga.” Tanya Laura pada foto anak lelaki yang ada difoto, karena dia sama sekali tidak mengingat apapun dimasa lalunya.


“Iya, itu adalah anak pertama pak Handika, saat kecelakaan itu Angga tidak ikut karena harus sekolah, saat keluarga semuanya meninggal Angga di rawat oleh saudara Bapakmu, pak Suparpto.”


“Jadi saya masih punya paman.”


“Iya.”


“Apakah saya boleh meminta alamat rumah nya pak.”


“Buat apa kamu menemui pamanmu, pamanmu sudah mengagapmu mati,.”


“Saya ingin bertemu dengan kakak saya, saya juga ingin menemui keluarga saya.”

__ADS_1


Bapak tua itu memandang istrinya dan istrinya mengangukan kepala tanda setuju.


“Baiklah nanti akan aku beri tahu, rumahnya tidak jauh dari sini, dan Kakak mu itu dia tidak ada disini, dia bekerja di kota.”


“Setidak nya saya tahu siapa kakak saya, dan saya akan mencari nya di kota.”


“Kamu sudah menemukan keluarga kamu, sekarang bagaimana nasib warga disini, semua warga disini ingin kehidupan yang lebih baik, sementara harta satu-satu nya yang warga punya, sudah di curi oleh bapak mu, kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan kabar yang beredar pun bapak mu sudah menggadaikan pada bank, maka dari itu kita tidak berani mengurus yang baru maupun menjual tanpa surat.”


Laura memahami kegelisahan warga desanya itu, Laura akan menyelidiki kembali apakah benar orang tuanya menipu warga untuk kepentingan nya sendiri.


“Pak, sampai saat ini saya belum tahu dimana makam orang tua saya.”


“warga sini juga tidak tahu, karena warga sini menolak jenasah orang tua mu.”


Hati Laura sangat teriris mendengar pernyataan tersebut, tetapi Laura tidak bisa berbuat apapun karena dari cerita pak Tua itu, memang orang tuanya lah yang bersalah.


“Saya akan membantu pak, saya akan mencari tahu pada siapa surat tanah itu di gadaikan oleh orang tua saya  dan saya akan bertanggung jawab.” Kata Laura, pak Tua itu tampak saling pandang dengan istrinya.


“Bagaimana caramu bertanggung jawab, sementara surat itu sudah 15 tahun tidak ada satupun yang tahu ada dimana dan digadaikan pada siapa meskipun itu saudara bapakmu sendiri.”


“Begini pak, saya akan menggantikan peran bapak saya, mulai bulan depan bapak dan seluruh warga bisa menjual hasil panen pada saya, saya akan membelinya seperti apa yang telah dilakukan bapak saya dulu.”


“Kamu belum tahu pamanmu, dia pasti akan marah kalau kamu mengambil alih profesi nya.”


“Soal itu bapak tenang saja, saya akan bicara pada paman saya.”


“Ya sudah itu terserah kamu, bagaimana cara kamu akan bertanggung jawab pada kesalahan orang tuamu pada kami.”


“Baik pak, terimakasih, sekali lagi saya mengucapkan banyak terimakasih.”


Laura meminta izin untuk pamit, dan dia telah mendapatkan alamat paman nya yang memang tidak jauh dari rumah bapak tua yang baru saja menceritakan tentang orang tuanya itu, meskipun hasilnya tidak memuaskan namun setidaknya Laura masih menemukan informasi seputar orang tuanya, Laura yakin suatu saat Laura akan menemukan kenyataan yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2