
Laura membuka kembali toko kue nya, kali ini hanya di bantu oleh Tika, karyawan nya dulu.
“Selamat ya mba Laura, akhirnya tokonya kembali buka.”
“Iya Tik, pokoknya kita sekarang kudu berusaha lebih keras lagi, apa yang membuat kita jatuh kemarin
itu kita perbaiki sekarang ya.”
“Siap mbak, tapi mba Laura dapat modal darimana?”
“Aku ada pekerjaan frelance nanti makanya kalau aku kerja, kamu urusin toko ya.”
“Oh, oke mbk siap.”
Laura sendiri belum tahu apakah Dimas akan memanggilnya kembali atau tidak, sudah tiga hari ini
Dimas tidak menghubunginya, Laura juga tidak ambil pusing soal itu. Di tengah
kesibukan Laura tiba-tiba saja datang Dimas dan Mamanya ke toko kuenya yang
sekaligus jadi satu dengan rumah sederhana Laura.
“Tante,” Sapa Laura dengan sopan.
“Iya Laura kamu apa kabar?.”
“E saya baik Tante, mari masuk.” Laura mengajak Mama Dimas masuk ke rumah sederhana nya itu,
didalam rumah sederhana Laura bersih dan sangat rapi.
“Tante mau minum apa?” Laura tampak canggung karena dia hanya berpenampilan sederhana saat itu, tapi
kecantikan yang alami itulah yang membuat Mama Dimas semakin sayang dengan
Laura.
“Apa aja.”
“Sebentara ya Tante.” Laura tampak pergi kedalam dapur nya dan menyiapkan jus untuk tamu yang tak
disangka kedatangan nya itu.
“Terimakasih lho Ra, kamu repot aja.”
“Tidak kok Tan.”
“Kamu jarang kerumah sekarang.”
“Em, iya Tante maaf, Laura sekarang sibuk.”
“Usaha kamu lumayan rame juga ya.” Mama Laura yang melihat toko kue Laura yang tampak dari dalam
rumah nya. Laura hanya tersenyum.
“Iya kecil-kecilan Tante,”
“Tidak apa-apa Tante suka kamu mandiri, o iya Laura, kedatangan Tante disini tadi ingin tahu apa
kamu dengan Dimas sudah putus?.” Kata Mama Dimas.
Laura menatap Dimas yang berwajah datar, menatap Laura dengan tatapan yang sulit di jelaskan.
“Laura, tolong maafkan Dimas,” Pinta Mama Dimas, memohon pada Laura dan Laura tidak tahu harus
menjawab apa, kalau dia menerima tawaran Dimas kembali dia akan di katakan
munafik, tapi jika tidak Mama Dimas akan terus merengek.
“Tante, bukan seharusnya tante yang minta maaf, Laura dan Dimas sudah memutuskan ini
matang-matang Tante.”
“Tidak, kamu bilang pacaran dengan Dimas sudah satu tahun lebih dan saat ini tante baru saja
mengenal kamu dalam waktu satu bulan, kenapa putus, jangan-jangan kalian ini
membohongi Mama.”
“Bukan tante, mungkin Dimas bisa menjelaskan kenapa saya tidak bisa melanjutkan hubungan ini.” Kata
Laura, Dimas merasa di jebak dengan Laura. Mama Dimas menatap Dimas dengan
tajam.
__ADS_1
“Iya Laura, Dimas sudah cerita dan Dimas mengaku salah, kamu pahami ya karena Dimas juga banyak
pekerjaan.” Kata Mama Dimas, Laura melihat Dimas yang seperti bocah SMA aja,
seperti ini saja harus membawa Mamanya.
“Iya sudah, tante tenang aja ya, saya dan Dimas akan mencoba memperbaiki hubungan kita, tetapi
Laura juga tidak bisa janji Tante, kalau Dimas tidak mau berubah, mungkin Laura
yang akan...”
“Udah kamu tenang aja, kalau Dimas menyakiti kamu lagi, kamu bilang aja sama Tante.”
Semua nya terdiam.
“Dimas, Mama ingin kamu segera melamar Laura, dan bertunangan secepatnya.”
“Itu terserah Laura Ma kapan dia siap.” Dimas mengkode Laura untuk memberi jawaban yang tepat.
“Bagaimana Laura.”
“Jangan buru-buru dulu ya tante, Laura masih ingin fokus pada karis Laura dulu.”
“Iya sudah kalau gitu, yang penting Mama tidak mau kalian putus lagi.”
Laura dan Dimas hanya diam, dan mereka izin pulang.
“Mama ke mobil duluan ya, Dimas mau ngomong sama Laura sebentar.”
“Iya sudah, jangan lama-lama ya.” Mama Dimas menuju mobil sementara Dimas menatap Laura yang
berdiri menatap nya. Dimas berjalan mendekat ke Laura dengan tatapan tajam,
Laura merasa Dimas akan melahap nya, perlahan Laura mundur, akan tetapi Dimas
terus mendekatinya.
“Mas, kamu tahu kan, Mama kamu terus mendesak aku, aku gak bisa kasih alasan kalau aku mau putus
sama kamu.” Laura berbicara dengan terbata.
“Kamu sendiri gak bilang apa-apa, diam aja.”
ada lagi celah untuk menghindari Dimas, dia menunduk saat Dimas menatap nya.
“Ok gini aja, kalau Mama kamu butuh aku, aku akan datang, tapi kamu gak usah bayar aku, aku ikhlas
bantuin kamu.” Kata Laura masih menunduk, dia tak sanggup lagi menetap Dimas
yang sepertinya marah padanya. Dimas memegang Dagu Laura dan mengarahkan wajah
nya ke arah nya, mereka saling bertatapan.
“Sudah! Gue Cuma mau bilang sama lo, makasih lo sudah maafin gue.” Kata Dimas. Sontak saja Laura
mendorong Dimas.
“Kamu itu buat aku berpikir aneh-aneh aja deh.”
Dimas tersenyum, ini pertama kalinya Laura melihat cowok menyebalkan itu tersenyum.
“Kamu tenang aja, tahun depan aku akan mengakhiri hubungan ini, dan kamu gak akan tersiksa untuk
pura-pura lagi.”
“Iya, satu hal lagi, aku gak mau masuk dalam kantor kamu lagi.” Laura cemberut, Dimas paham, mungkin
Laura masih sakit hati.
“Ok. Ya udah gue pulang.” Dimas melangkah keluar, Laura menatapnya dan kemudian pergi ke toko
kue nya.
“Mbak Laura itu tadi siapa? Pacarnya nya mba Laura.”
“Bukan itu Bos aku.”
“Waduh Bosnya ganteng banget.”
“Ganteng tapi nyebelin.”
Laura kembali ke meja kerjanya, dia masih belum bisa berpikir bagaimana Dimas, terkadang nyebelin
__ADS_1
banget, terkadang juga dia baik.
***
Dimas diam-diam memasang cctv di dalam kantornya dia merasa ada seseorang yang akan mencari
sesuatu darinya. Seminggu ini Erlangga juga jarang masuk kantor, apakah
Erlangga yang melakukan itu, tapi mencari apa. Dimas masih berpikir keras
dengan kejadian yang tak biasa itu. Dimas mengingat sesuatu pesan dari almarhum
Papanya. Waktu itu papanya menitipkan sebuah map berisi berkas-berkas, berkas
itu minta di jaga dengan baik, sampai nanti ada yang mengambil nya. Sampai
sekarng belum ada yang datang mengambil berkas itu, dan Papanya memintanya
untuk merahasiakan nya. Tidak boleh satu orang pun yang tahu.
Dimas kembali ke meja kerjanya, dia juga tidak penasaran dengan isi map rahasia itu, jika benar orang
yang mengacak-acak kantornya itu mencari map rahasia itu, berarti seseorang
telah mengetahui keberadaan nya. Dan orang yang baru masuk dalam kehidupan nya
hanyalah Laura. Tetapi melihat sorot mata Laura, dia sama sekali tidak
melakukan itu. Dimas jadi tidak fokus saat bekerja.
Kemana sebenarnya Erlangga, kenapa dia pergi tanpa pamit.
****
Erlangga berada di sebuah desa yang kemarin di datangi oleh Laura, dia menuju ke satu rumah yang
memang jauh dari tetangga sekitar nya.
“Erlan, paman kecewa kamu masih saja belum mendapatkan berkas itu sampai sekarang, ini sudah 17
tahun semenjak kepergian orang tuamu, berkas rahasia itu belum juga ditemukan,
hanya Jaelani lah sahabat orang tuamu, dan Paman yakin berkas itu akan
dititipkan pada sahabat orang tuamu itu.”
“Erlan sudah coba cari-cari tetapi tidak ada Paman.”
“Paman tidak mau tahu, kamu harus cepat mengambil berkas itu, sebelum.”
“Sebelum apa Paman?”
“Sebelum adik tirimu itu yang menemukan nya.”
“Maksudnya Laura.”
“Iya, Paman dengar-dengar minggu lalu Laura datang untuk mencari orang tuanya.”
“Lalu,”
“Sayang nya sejak insiden kecelakaan itu, orang-orang takut untuk memberikan info tentang orang
tuamu, mereka berpikir itu adalah wartawan yang akan meliput berita penyebab
kecelakaan orang tuamu itu.”
“Tetapi kenapa Laura tiba-tiba mencari orang tua kita paman, bukan kan waktu itu Bibi sudah
membawanya ke panti asuhan.”
“Entah lah, yang jelas ada seorang perempuan dan seorang laki-laki yang mencari keberadaan orang
tuamu.”
“Dengan seorang laki-laki, apa itu Dimas?”
“Siapa Dimas?”
“Iya Dimas itu adalah anak Jaelani, sahabat ayah.”
“Apa hubungan Laura dan Dimas?” Tanya Paman Erlangga.
Erlangga kemudian menceritakan hubungan Laura dan Dimas.
__ADS_1