Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 14


__ADS_3

Sepekan sudah Laura dan Dimas tidak pernah bertemu, setiap Laura kekantor Dimas untuk mengirim kue, pasti Dimas tidak ada. Laura memahami kesibukan Bos nya itu, akan tetapi tidak ada telepon sama sekali dari Dimas. Laura yang merasa gelisah akhirnya menelpon Erlangga.


“Hallo mas Erlan.”


“Iya Ra, ada apa.”


“Tidak ada apa-apa mas, saya Cuma mau tanya kabar Mas Dimas.”


“Dia tidak memberi kabar kamu.”


“Tidak mas, apa Mas Dimas baik-baik saja.”


“Ya tentunya dia baik-baik aja Ra, aku lagi di Surabaya udah seminggu ini, tar sore baru balik ke Jakarta.”


“O iya mas.”


“Udah kamu gak usah khawatir sama Dimas, dia baik-baik aja kok, tar kalau aku udah balik aku kabari ya.”


“Iya Mas Erlan, terimakasih.” Laura menutup telepon dan memukul jidatnya sendiri, “Aduh malu banget, ngapain sih aku tanya-tanya Mas Dimas segala, bikin malu aja.” Laura bergumam sendiri.


“Ngomong sama siapa mbak Laura?” Tanya Tika.


“Enggak kok, Cuma lagi sebel sama orang aja, Gimana kue-kue kita udah di kirim ke hotel.”


“Sudah mbak.”


“Oke deh kalau gitu.”


Laura kembali bekerja seperti biasa, beruntung tokonya saat ini bertambah rame, saat Dimas tidak membutuhkan nya, Laura bisa lebih fokus untuk pekerjaanya.


***


“Dim, lo itu gimana sih, maksud lo tu apa.” Erlangga menghujani pertanyaan bertuba-tubi pada Dimas, saat Erlangga datang kerumah Dimas malam itu. Di teras rumah nya yang mewah Dimas tampak memikirkan sesuatu.


“Maksud lo apa sih, gak ngerti gue.”


“Lo gak bisa begitu donk, kalau lo sekarang udah jalan sama Sindi lagi, ya lo selesaikan kontrak kerja lo sama Laura.”


“Kok lo jadi sewot sih, Laura juga gak masalah.”


“Siapa bilang gak masalah, tadi dia telepon gue, tanya kabar lo.”

__ADS_1


“Kok dia selalu kabari lo sih, bukan gue.”


“Ya lihat aja sikap lo kaya gini, males kali dia hubungi lo, dia tuh Cuma butuh penjelasan aja sama lo.”


“Penjelasan apaan, pacaran aja pura-pura.”


“Ya lo selesaikan, mulai sekarang lo putusin kontrak kerja lo, lagian buat apa lagi kan udah ada Sindi.”


“Lo aja deh yang bilang.”


“Kok gue.”


“Inget ya gue ini Bos lo.”


“Oh, gitu oke, malam ini juga gue bakal ke rumah Laura buat putusin hubungan kerja lo sama dia.”


“Kenapa harus malam ini sih.”


“Lebih cepat lebih baik Bos.” Erlangga berdiri, Dimas sama sekali tidak mencegah nya.


“Mana  surat kerja lo sama Laura ambil cepet.”


“Dasar pengecut lo itu Dim.” Erlangga mengambil surat perjanjian itu dan segera pergi. Dimas merebahkan dirinya di kursi, pandangan nya menatap langit-langit. Dia tidak sanggup sebenarnya untuk bertemu Laura dan mengakhiri hubungan nya yang Cuma pura-pura itu, saat ini Dimas benar-benar tidak mengerti yang dia cintai itu Sindi ataukah Laura.


Malam itu dengan berat hati Erlangga datang ke tempat Laura untuk pembatalan kerja dengan Laura.


“Ra, kedatangan saya kesini untuk memberi tahu kamu bahwa kamu tidak perlu lagi menjadi pacar pura-pura Dimas mulai hari ini.”


“Oh ya, kenapa Mas, apa saya melakukan kesalahan.”


“Tidak, pacar Dimas sudah pulang ke Indonesia.” Kata Erlangga membuat jantung Laura seakan berhenti.


“Oh, kenapa Mas Dimas tidak memberi kabar pada saya sendiri.”


“Ya begitulah dia Ra, dia kalau sudah tidak butuh lagi dia tidak akan peduli.” Kata Erlangga, dia akan membuat Laura membenci Dimas.


“Iya saya paham, tidak apa-apa kok Mas,”


“Sekarang kamu bisa lebih tenang dan fokus sama kerjaan kamu, silahkan kamu tanda tangan disini, dan surat ini kamu bawa aja, sebagai tanda kalau kontrak kalian sudah selesai.” Erlangga memberikan surat perjanjian kerja pada Laura.


“Iya Mas,” Laura menandatangani surat kontrak telah selesai, saat itu dia tidak punya kuasa apapun, toh memang hubungan nya Cuma pura-pura. Harus nya Laura senang dengan ini.

__ADS_1


“Iya udah kalau gitu aku pulang dulu ya Ra.”


“Iya Mas, terimakasih ya.”


Laura menatap Erlangga yang pergi dari rumah nya. Laura segera masuk kekamar dan menangis, entah apa yang dia tangisi, perpisahan dengan Dimas, bukan kah selama ini dia hanya pacar pura-pura. Laura sangat merasa sedih. Dia ambil ponsel nya dan mulai mengirimkan pesan pada Dimas.


“Selamat malam mas Dimas, terimakasih atas kerjasama nya selama ini, saya ikut bahagia mendengar kabar kalau pacar Mas Dim sudah kembali, sekali lagi saya mohon maaf kalau saya banyak salah, salam sama tante.” Laura mengirimkan pesan WA dari ponsel nya, dan di lihat Dimashanya membaca nya saja, tidak ada balasan dari Dimas. Ini membuat Laura semakin membenci Dimas, apa yang pernah Dimas lakukan padanya tidak akan pernah dia lupakan.


Sementara di tempat Dimas, Dimas sendiri juga merasakan hancur saat membaca pesan dari Laura, dia tidak tahu apa yang harus dia ucapkan pada Laura, dia ingin sekali berkata bahwa meskipun Sindi kembali, Dimas masih belum bisa menerima Sindi sepenuh nya, tetapi hubungan Dimas dan Laura hanyalah sebatas pura-pura saja. Akhirnya Dimas tidak membalas pesan itu dan memejamkan matanya, meskipun susah sekali untuk Dimas terlelap malam itu, bayangan saat mereka berciuman selalu melintas, dan pelukan ketakutan Laura membuat Dimas tidak tenang dan selalu ingin melindungi Laura.


***


Erlangga terlihat menghindari Dimas saat bertemu di kantor, Dimas langsung menuju ruangan Erlangga.


“Kenapa lo, menghindari gue.”


“Maaf pak, mana mungkin saya menghindari bapak, bapak kan Bos saya.”


“Lo masih tersinggung sama ucapan gue waktu itu.”


“Lo pikir aja sendiri.”


“Iya sorry gue minta maaf, gue salah waktu itu, gue gak bermaksud apa-apa kok, gue Cuma lagi capek aja waktu itu.”


“Lo pikir gue gak capek, gue juga capek Dim, lo tahu kan waktu itu gue baru aja pulang dari Surabaya.”


“Iya gue tahu, gue salah, gue minta maaf.”


“Udah lah, gue juga paham sifat tuan muda lo itu seperti apa.”


“Lang, please lo jangan bilang gitu lagi, itu buat gue inget sama Laura.” Dimas berucap pada Erlangga, karena yang sering menyebut dirinya tuan muda adalah Laura.


“Ngapain juga lo inget, dia juga orang asing, bukan siapa-siapa lo.”


“Oke lo bebas mojokin gue sekarang, Cuma gue pingin tahu bagaimana kabar Laura.”


“Tentu dia bahagia sekali bisa lepas dari lo.” Kata Erlangga berbohong, padahal yang dia lihat kemarin sebenarnya Laura juga sangat sedih.


Dimas terdiam mendengar ucapan Erlangga, benar juga kalau Laura merasa bahagia, dia juga sudah mengucapkan perpisahan pada Dimas semalam. Dimas baru sadar kalau tidak mungkin juga Laura bakal sedih pisah sama Dimas, mereka hanya pacar pura-pura.


Dimas kembali ke ruangan nya dan hari itu hari pertamanya dia merasa kehilangan semangat.

__ADS_1


__ADS_2