
Laura menjalani hari-harinya seperti biasa, dia semakin menyibukan diri agar lupa dengan Dimas, dia semakin gencar melakukan promosi dan workshop di berbagai daerah. Tiga bulan telah berlalu, Laura memutuskan untuk pindah tempat, saat gini dia menyewa outlate didalam Mall, dengan hasil kerja kerasnya Laura kini memiliki rumah dan kendaraan sendiri.
Laura sengaja menonaktifkan nomor lamanya, agar Erlangga maupun Mama Dimas tidak menggagunya, termasuk Rio. Malam itu dengan hati yang masih penuh dengan dilema, Laura mengangtifkan kembali nomor lamanya. Banyak sekali pesan masuk disana,Erlangga, Mama Dimas, Rio. Dan Dimas, Laura membuka isi pesan dari Dimas
tersebut.
“Apa kabar Ra.”
“Ra, lo baik-baik aja.”
“Ra, gue tadi kerumah lo, katanya lo pindah, lo pindah kemana.”
“Ra, hubungin gue.”
Laura menghela nafas, apa sih maksud Dimas ini, jelas-jelas hubungan kerjanya sudah selesai. Selain itu pesan dari Erlangga dan Mama Dimas hanya menanyakan kabar nya saja. Laura melempar ponsel lamanya itu di ranjang nya, saat ini dia lebih memilih menikmati hasil kerja kerasnya saja. Sekarang dia owner sebuah Kafe, yang menyediakan desert terlezat, dan kue-kue nya juga laris dipasaran, saat ini Laura juga akan mempersiapkan cabang baru.
***
“Luar biasa” Erlangg tiba-tiba datang keruangan Dimas dan mengagetkan Dimas.
“Apaan sih lo.”
“Lihat ini.” Kata Erlangga sembari menyerahkan koran pagi itu, disana memuat berita
Laura.
Laura Hanifa, wanita muda berusia 22 tahun sukses dengan Desert andalan nya.
Dimas memperhatikan berita itu, tampak Laura kini semakin cantik dan berkelas. Dimas benar-benar mengagumi wanita pekerja keras ini.
“Laura emang orang yang luar biasa kok.” Erlangga mengaggumi Laura di depan Dimas yang semakin terlihat gelisah.
“Sayang” Panggil Sindi tiba-tiba saja datang.
“Ayo temani aku ke salon.” Katanya manja pada Dimas.
“Aduh gue tu sibuk Sindi, gak bisa hari libur aja.”
“Kamu gitu, tar hari libur kamu capek maunya istirahat.” Sindi mulai merengek, Erlangga akhirnya keluar sambil mengejak Dimas.
“Iya tapi gue tu banyak pekerjaan.”
“Iya kan bisa dikerjakan karyawan kamu, kamu bagaimana sih, buat apa coba kamu perkerjakan mereka kalau kamu masih bekerja sendiri."
“Gak bisa begitu, gue tetap harus kontrol.”
__ADS_1
“Ya kan bisa nanti, nyenengin pacar kapan lagi.”
“Pergi sendiri aja ya, ni kamu bawa atm aku.”
“Gak mau.”
“Benaran deh aku hari ini gak bisa, aku sibuk banget.”
“Ya udah, aku pulang aja.”
Kata Sindi mulai merajuk, Dimas masih dengan sikap cuek nya.
“Kamu itu kenapa sih, sekarang berubah banget, nyesel tahu gak aku pulang, kamu tu gak menghargai aku banget.” Sindi tiba-tiba saja marah dan membuat Dimas merasa bersalah.
“Iya sudah ayo.” Dimas berdiri merapikan pekerjaan nya dan mengantarkan Sindi salon.
“Gitu dong, masa nyenengin pacar aja harus nunggu pacar nya marah-marah.”
Dimas tidak berkomentar dia segera mengikuti kemauan Sindi, gadis yang dulu sangat dia cintai dan dia tunggu kedatangan nya, tetapi saat ini dia tidak mengerti kenapa perasaan nya berubah menjadi sangat hambar.
Sesampai di Salon, Dimas menunggu Sindi seperti biasa sembari membaca majalah, beberapa cewek berbisik, betapa beruntungnya punya cowok sekeren Dimas masih mau mengantar cewek nya ke salon. Dimas sebenarnya risih, tetapi anehnya dia tidak bisa menolak kemauan Sindi.
“Hai Say.. lama tidak kesini, kangen banget aku, kamu apa kabar?” Kata pegawai bersuara keras pada seseorang.
“Baik.” Jawab seseorang, suara itu seperti Dimas pernah kenal, Dimas segera melihat kearah suara tersebut, benar disana ada Laura, senyum nya semakin cantik. Tanpadisadari juga Laura juga menatap Dimas, sejenak mereka saling bertatapan.Tetapi setelah itu Laura kembali berbicara dengan pegawai salon dan seolah tidak mengenal Dimas.
“Bisa aja, ya udah ini pesanan kamu, aku antar sendiri spesial.”
“Lho kamu gak mau perawatan dulu.”
“Lain kali deh.”
“O ya udah aku tunggu ya.”
“Okey by.” Laura pamit dan pergi meninggalkan salon yang sebenarnya sejak Laura membuka cabang toko kue di mall tersebut, salon itu menjadi langganan nya juga.
Dimas yang melihat Laura pergi segera mengikuti Laura tanpa sepengetahuan Sindi yang tengah asyik merawat rambut nya.
“Laura.” Panggil Dimas. Laura menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Dimas.
“Kamu apa kabar?”
“Baik.”
“Kamu dimana sekarang.”
__ADS_1
“Masih di kota ini, ada pa Mas?.” Laura bertanya dan menatap Dimas semakin lembut, rasanya ingin Dimas memeluknya saat itu.
“Emm enggak aku...” Dimas merasa gugup dan tidak tahu harus bicara apa. Laura melangkah kembali dan di ikuti Dimas.
“Kamu mau kemana? Pulang, aku antar ya.” Kata Dimas. Laura berhenti dan menatap Dimas.
“Maaf ya Mas, diantara kita sekarang sudah selesai, jadi tolong jangan bersikap seperti itu.”
“Ra.” Dimas memegang tangan Laura.
“Aku kangen banget sama kamu.” Kata Dimas. Belum sempat Laura menjawab, ponsel Dimas berbunyi dan itu ternyata dari Sindi yang menyuruhnya kembali ke salon.
“Mas kesini bersama pacar dan masih berani mengejar cewek lain.”
“Bukan begitu Ra, nanti aku jelasin.”
“Ya buat apa dijelasin diantara kita kan ga ada apa-apa mas.”
“Iya aku tahu tapi itu dulu Ra, sekarang telah terjadi sesuatu dan ada apa-apa”
Laura yang semakin tidak mengerti maksud Dimas langsung pergi begitu saja, sementara Dimas sudah tidak mengejarnya lagi.
Laura sedih, kenapa harus bertemu dengan Dimas lagi. Sementara Dimas juga merasakan hal yang sama, dia kembali menemui Sindi yang sedang menunggunya di kasir.
“Kamu darimana sih?” Tanya Sindi.
“Toilet.” Dimas menjawab dengan malas pertanyaan Sindi, saat ini pikiran nya hanya di penuhi oleh Laura saja.
***
Rio berkunjung ke kantor Dimas, kerja sama mereka berjalan dengan baik, danhubungan mereka juga semakin akrab. Bahkan mereka berdua berjanji untuk pergimakan malam dengan pasangan mereka masing-masing. Karena itu Rio membujuk Laura untuk menemaninya.
“Ayo ding Ra, temani aku makan malam sebagai pacar aku.”
“Ha, sebagai pacar.”
“Iya, jadi aku tu mau makan malam sama rekan bisnis aku, terus rekan bisnis aku bawa pasangan nya, masa aku datang sendiri.”
Laura merasa dirinya sial, dulu dia berpura-pura jadi pacar nya Dimas, sekarang diaharus berpura-pura jadi pacarnya Rio. Hufttt, kalau begini caranya harusnya dia benar-benar membuka jasa pacar frelance aja.
“Gimana Ra?” Tanya Rio.
Laura mengangukan kepalanya, bagaimanapun juga Rio adalah orang yang selama ini selalu ada untuknya, meskipun perasaan Laura hanya sebatas perasaan Kakak pada Rio.
Rio dan Laura saling melempar senyum.
__ADS_1
“Terimakasih ya Ra.”
Sekali lagi Laura yang belum tahu dengan siapa Rio akan bertemu di makan malam itu, menganguk perlahan.