Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 23


__ADS_3

Erlangga menyuruh seseorang untuk menyulik Sindi, tujuan nya adalah untuk memaksa Dimas mengakui bahwa dia membawa berkas penting itu.


Kalau kamu mau pacar kamu selamat, kamu harus datang dan membawa berkas itu padaku, aku akan mengirimkan alamat nya untuk mu.


“Apa-apaan sih ini.” Kata Dimas sambil menyetir.


“Kenapa mas?” Tanya Laura, saat itu memang dia sedang pergi bersama Laura.


“Gak tahu, aku tu beberapa hari ini kena teror orang..” kata Dimas sebelum dia melanjutkan bicaranya, ponselnya berbunyi. Dimas terlihat sedang mendengarkan dengan seksama.


“Percuma anda culik dia, saya tidak akan datang, hubungan saya dan dia sudah berakhir.” Dimas menutup ponsel.


“Diculik, siapa?”


“Ga tau orang gila mungkin.”


“Mas?”


“Itu Sindi katanya diculik, aku juga ga tau, beberapa hari ini ada orang yang suka teror aku.”


“Teror gimana? Memangnya Mas Dimas punya salah apa?”


“Aku juga ga tau aku gak punya salah apa-apa.”


“Lah terus kalau gak punya salah apa-apa kenapa mas Dimas diteror, terus mbak Sindi bagaimana?”


“Paling itu hanya akal-akalan dia aja, sudahlah gak usah dibahas.”


Dimas memarkir mobil nya didepan kantor. Kemarin Dimas mengakhiri hubungan nya dengan Sindi, karena Dimas sudah tidak tahan dengan sikap Sindi yang posesif dan cemburuan.


“Lho Dimas, kok lo disini?” tanya Erlangga terlihat kaget.


“Lah emang gue mau kemana?”


“Bukan nya Sindi sedang diculik?”


“Terus, gue gak peduli, paling itu akal-akalan dia aja, soalnya kemarin gue udah putusin dia.” Kata Dimas cuek. Erlangga tampak kesal diwajahnya.


“Tunggu, kok mas Erlangga tau kalau mbk Sindi di culik.” Kata Laura tiba-tiba mengagetkan Erlangga, Dimas juga memandang Erlangga dengan curiga.


“Emm itu tadi juga ada yang telephon ke nomer gue, dan minta di sampaikan sama Dimas.” Kata Erlangga terbata.


“O iya terus kenapa lo gak kabari gue.” Kata Dimas.


“I.. iya gue bilang ama penculiknya untuk hubungi lo langsung.” Erlangga masih berupaya membela diri.


“Aneh kok penculiknya tahu nomernya mas Erlangga daripada mas Dimas, kan mba Sindi pacarnya mas Dimas?” Laura membuat Erlangga kesal.


“Maksud kamu apa Ra, kamu mau menuduh aku sekongkol sama Sindi.” Kata Erlangga geram.


“Sudah-sudah, gue gak masalah itu, bodo amat, gue gak peduli.” Kata Dimas.


Dimas langsung pergi keruangan nya diikuti Laura.


“Apa-apaan sih Erlangga tu, lebay banget.” Kata Dimas kesal.


“Kenapa sih Mas?”


“Enggak aku tuh gak suka kalau dia kasar sama kamu.”


“Dia gak kasar kok sama aku, ya aku aja yang keterlaluan.”


“Gak kok Ra, kamu sudah benar, Erlangga memang akhir-akhir ini terlihat mencurigakan.”


“Mencurigakan bagaimana?”


“Dia terlihat sedang mencari-cari sesuatu dikantorku”

__ADS_1


Laura tampak diam.


“Sudahlah mas, ga usah terlalu dipikir, sebaiknya kita tolong Sindi, kasian dia.”


“Aku yakin itu hanya alasan dia aja karena tidak terima aku putusin.”


“Kenapa mas Dimas putusin?” tanya Laura. Dimas rasanya gemas dengan ucapan Laura, dia mendekat kearah Laura dan menatapnya tajam.


“Aku tak dapat lagi memendam perasaanku padamu lagi Ra, aku tidak bisa jauh dari kamu, dan aku ingin memiliki kamu.”


“Mas, jangan seperti ini. Bagaimanapun juga kita harus menolong Sindi, kasihan dia, kalau dia benaran diculik bagaimana?”


“Iya sudah, tapi kamu gak boleh ikut ya, aku akan datang sendiri.”


“Tapi...”


“Aku ga akan kenapa-kenapa, aku akan ajak beberapa karyawanku untuk mengikutiku.”


“Iya udah kalau gitu.”


Dimas keluar kantor dengan beberapa karyawan, Laura memandang dengan perasaan khawatir. Sementara Laura melihat Erlangga tersenyum licik saat melihat Dimas pergi.


“Katanya tidak peduli, nyatanya pergi juga dia.” Kata Erlangga berjalan mendekatI Laura.


“Maksud mas Erlangga apa ya?”


“Dimas pergi untuk menjemput Sindi kan?”


“Enggak kok, dia ada urusan pekerjaan” Laura berbohong untuk mengetahui reaksi Erlangga.


“Apa! jadi Dimas tidak pergi menemui Sindi.”


Laura menggeleng


“Iya sudah ya mas Erlan, Laura pulang dulu.” Laura pamit dan segera menuju mobil nya. saat akan menjalankan mobilnya tiba-tiba saja Laura melihat Erlangga menuju mobil nya dan pergi dengan cepat. Laura segera mengikutinya dengan hati-hati agar tidak ketahuan.


Erlangga berhenti disebuah gudang yang sepi, Laura memarkir mobilnya ditepi jalan, jauh dari tempat parkir mobil Erlangga. Dan mengikuti secara diam-diam.


“Sialan benar, heh, kenapa pacarmu itu tidak peduli sama kamu.” Kata Erlangga pada Sindi yang matanya di tutup.


“Siapa kamu.” Suara Sindi ketakutan.


“Kamu itu dasar tidak berguna, aku menyulikmu karena Dimas sudah mengambil barang penting ayahku.” Teriak Erlangga.


“Aku tidak tahu urusan kalian sama Dimas, kenapa kalian melibatkan aku.” Teriak Sindi.


“Kamu memang tidak tahu urusan kami, tetapi aku menyulikmu untuk menekan Dimas, ternyata kamu gak penting bagi dia, dia tidak peduli kamu mati atau hidup, aku sudah memberitahumu tentang hal ini, tetapi dia cuek, kasihan sekali kamu.”


“Kamu yang bodoh, tidak tahu siapa aku, aku juga selama ini memanfaatkan Dimas.” Kata Sindi.


“Apa kamu bilang?”


“Aku tahu kalau Dimas sekarang tidak lagi menyukai ku, tetapi perusahaanku membutuhkan nya, Dimas sudah mengetahui itu dan memutuskan hubungan kita, jadi kalau kau menyulik ku, itu percuma, seharusnya kau menyulik wanita perebut itu.”


“Siapa.” Kata Erlangga datar.


“Laura.” Sebut Sindi.


Laura yang keget saat Sindi menyebutny terjatuh mundur, sadar kalau Erlangga menyadarinya, Laura segera berlari dan menuju mobil nya. Erlangga tampak mengejarnya akan tetapi Laura berhasil kabur dengan cepat. Didalam mobil nya dia tampak ketakutan. Laura melihat kalau Erlangga menatap mobilnya Laura pergi.


***


“Sialan, itu tadi mobil Laura.”


“Siapa boss?”


“Dia itu Laura, kenapa dia mengikutiku, awas kamu Laura!” Kata Erlangga.

__ADS_1


“Jadi bagaimana ini Bos.”


“Lepaskan dia.” Kata Erlangga dan kembali masuk kedalam gudang.


Erlangga melepaskan Sindi dan tampak berbicara serius, tidak lama kemudian Dimas datang.


“Boss, boss orang nya datang boss.”


“Apasih maunya anak itu, Sindi lo ingat kata-kata gue tadi kan.” kata Erlangga pada Sindi yang rupanya sudah diajak bekerja sama dengan Erlangga.


“Sekarang bagaimana boss.”


“Lo hajar gue, gue disini yang sudah menyelamatkan Sindi, saat dia datang lo tanya berkas itu.”


“Baik boss.”


Erlangga melakukan drama  bersama komplotan nya. Dimas segera menolongnya bersama karyawan yang mendampinginya, pertarungan terjadi begitu sengit, penjahat-penjahat yang disewa Erlangga bukan lah penjahat sembarangan, Dimas dan Karyawan nya akhirnya tumbang.


“Lo, maunya ngelawan gue ha!”


“Lo mau apa dari gue, lepasin teman-teman gue.”


“Berkas handika, mana berkas handika!”


“Handika siapa, gue gak kenal!”


“Bohong, kalau lo masih mau mereka hidup, serahin berkas lo, atau kalau perlu ibu lo juga yang akan gue bawa kesini.”


“Kurang ajar lo.” Dimas mulai menghajar penjahat itu lagi. Dan tidak tahu siapa yang menghubungi polisi, tiba-tiba saja polisi datang dan penjahat itu berhamburan.


“Erlan lo ga apa-apa?” Tanya Dimas. Sementara Sindi langsung lari memeluk Dimas.


“Dim, aku takut sekali Dimas.”


“Kenapa kalian ada disini sih, Erlan.”


“Dim, penjahat itu terus menghubungi gue, dia mengancam akan membunuh Sindi, dan akan membuat lo yang bersalah, karena gue takut perusahaan dan nama lo hancur, gue datang kesini buat nolong Sindi.”


“Gue heran darimana penjahat itu tau lo.”


“Aku yang kasih nomernya Erlangga, karena aku tahu kamu gak mungkin datang, penjahat itu tidak percaya, dan akhirnya aku mengirimkan nomernya Erlangga.” Kata Sindi dengan cepat, Erlangga menatap Sindi, bakat juga anak ini berbohong.


“Lalu kamu sejak kapan punya nomor Erlangga?” tanya Dimas penuh selidik.


“Sejak kamu cuekin aku, aku meminta nomer Erlangg untuk memata-matai kamu, siapa gadis yang telah menggantikan posisiku.”


“Oh bagus ya, gak salah kalau aku mutusin kamu, kamu yang terlalu posesif.”


“Dimas maafin aku, semua ini aku lakukan karena aku sayang sama kamu.”


“Sudahlah, sekarang kalian sudah aman, lo pulang sama Erlangga.” Dimas segera pergi meninggalkan Erlangga dan Sindi.


“Dimas.” Teriak Sindi, Erlangga menggegam tangan Sindi erat.


“Biarkan saja dia pergi, urusan kita belum selesai, ayo ikut gue.”


Erlangga membawa Sindi kemobil nya, sementara melihat mobil Dimas telah pergi. Didalam mobil Erlangga berharap kalau orang suruhan nya tidak tertangkap, ini akan membahayakan dirinya.


“Pasti Dimas sebelum datang kesini dia melapor kepolisi dulu, dia main-main rupanya, lihat aja, gue akan buat dia lebih menderita.” Kata Erlangga geram sembari menjalankan mobilnya.


“Kamu itu punya dendam apa sih sama Dimas, tolong apapun dendam lo jangan sampai buat aku kehilangan Dia.” Kata Sindi.


“Lo tenang aja, kalau dia sudah menyerah, dan memberikan berkas itu sama gue, gue akan pergi dari kehidupan Dimas.”


“Berkas apa sih, sepenting itu kah.”


“Nanti lo akan tahu sendiri, yang pasti lo harus bantu gue, gue juga akan bantu lo buat dapatin Dimas.”

__ADS_1


“Oke.”


Sindi dan Erlangga merencakan hal jahat pada Dimas.  Sepanjang perjalanan mereka membahas rencana demi rencana yang akan mereka lakukan.


__ADS_2