Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 13


__ADS_3

“Akhirnya kamu pulang juga Sin,” Kata Julian saat menjemput sepupunya Sindi Viantika di bandara.


“Iya nih, awalnya emang aku mau lanjut kerja disana, tapi kamu tahu sendirilah Mama bagaimana? Dia selalu nyuruh aku pulang.” Balas Sindi


“O ya Sin, kamu udah tahu belum, kalau Dimas udah punya pacar?”


“Apa?”


“Iya, minggu lalu aku sama dia bertemu di reuni, dan dia bawa pacarnya.”


“Ho ya, gimana pacar nya?”


“Gimana bagaiamana? Ya jelas selera Dimas banget lah, cantik.” Ucap Julian, Sindi terlihat cemberut.


“Tapi kalian sudah putus kan?”


“Entahlah  Jul, yang jelas waktu itu kita hanya tidak mau terikat satu sama lain, dan saat aku bilang dia gak usah nunggu aku, dia juga yang bilang sampai kapan pun akan


nunggu aku, bhulsit banget.”


“Kamu  nya kelamaan sih, ya jelas Dimas nya gak tahan.’


“Gak  nyangka aja aku kalau dia seperti itu.”


“Dia tu disini sukses banget tau gak, perusahaan nya top 10.”


“Terus.”


“Yah sebenernya kalau kamu jadi sama Dimas, pasti orang tua kamu bakal seneng banget, apalagi sekarang Viantika Hotel juga di ambang kebangkrutan, coba si


Dimas tu punya adek, bisa aku gebet dia.”


“Jahat banget kamu.”


Sindi dan Julian tertawa, tetapi meskipun begitu Sindi merasa tidak terima dengan sikap Dimas. Dia akan datang menemui Dimas dan menanyakan hal ini padanya, dan kenapa waktu Sindi meminta untuk tidak usah menunggu dia merengek untuk menunggu.


***


Sindi dan Laura tidak sengaja bertabrakan disebuah pusat perbelanjaan.


“Aduh maaf ya kak.” Kata Laura meminta maaf pada Sindi.


“Aduh bagaimana sih, lihat-lihat donk, belanjaan saya jadi jatuh semua tahu.”


“Iya Kak, saya minta maaf ya.”


“Maaf-maaf emangnya kalau kamu minta maaf, barang saya bisa kembali lagi.”


“Saya ganti ya kak.”


“Gak usah, kamu pikir saya gak mampu beli lagi, gak usah sombong kamu.”

__ADS_1


“Lho, bukan itu maksud saya kak, saya Cuma mau...”


“Udahdeh, kamu itu Cuma buat mood aku rusak aja.” Sindi langsung pergi meninggalkan Laura.


Laura hanya menggelengkan kepalanya, kok ada ya cewek sombong seperti itu. Laura kembali melanjutkan belanja, kali ini dia butuh lebih banyak bahan-bahan kue, karena pesanan semakin bertambah. Sudah ada beberapa hotel yang mengajak nya kerja sama, untuk mengisi menu breakfast mereka. Laura terlihat semangat untuk berbelanja.


Sementara Dimas di kantornya selalu teringat Laura. Dia terlihat gelisah dimeja kerjanya.


“Udah, daripada kepikiran mendingan ditelepon deh.” Goda Erlangga yang sedang berada


di ruang kerja Dimas membaca laporan kerja.


“Siapa sih.”


“Iya siapa lagi kalau bukan Laura.”


“Tar  dia Gr kalau gue telepon duluan.”


“Jadi mau di telepon duluan.” Kata Erlangga. Dimas diam tak bergeming.


“Gak salah kalau Laura itu nyebut lo tuan muda, manja banget sih.’


“Eh kok jadi bela Laura sih, enak aja bilang gue tuan muda, gue tu Cuma gak mau Laura tu salah paham.”


“Gak mungkin lah bro kalau dia salah paham.”


“Kenapa emangnya, apa dia punya pacar.”


“Hallo Laura, kamu lagi apa?” Suara Erlangga yang menelpon Laura.


“Kok lo telepon Laura sih.” Dimas berbisik pada Erlangga, sementara Erlangga malah menghindar dan mengejek Dimas.


“Oh kamu lagi belanja, sama siapa?” Erlangga membuat Dimas semakin cemburu.


“Aku sendiri mas, ada apa mas?” Sahut Laura.


“Gakada apa-apa cuma tanya keadaan kamu aja.” Erlangga cekikikan saat Dimas berhasil meraih ponsel nya dan mendengarkan jawaban Laura.


“Iya aku baik mas.” Jawab Laura pelan, nada nya terdengar sedih.


“Kalau baik kenapa  nada suara lo seperti itu ha.” Suara Dimas buat kaget Laura di seberang, sementara Erlangga semakin terkekeh.


“Mas Dimas, kok jadi kamu sih.”


“Memangnya kenapa kalau jadi gue.”


“Iya  ga apa-apa, Cuma mas kan punya hape sendiri kenapa gak telepon sendiri.”


“Udah  deh ga usah ngalihin pembicaraan, lo ada masalah?”


“Ga ada.”

__ADS_1


“Gak percaya gue.”


“Gak percaya ya udah, udah ya aku sibuk.” Laura menutup telepon dengan gemas, gak bisa apa cowok satu ini baik seterusnya, baik kok musiman.


“Berani dia ya tutup telephon gue kaya’ gini, sementara kalau ngomong sama lo dia lembut banget.” Dimas protes pada Erlangga yang terkekeh.


“Iya siapa tahu dia naksir sama gue, tar kalau Sindi pulang biar Laura jadi pacargue aja.” Goda Erlangga. Sementara Dimas langsung bisu seketika, tidak tahu dia harus jawab apa.


Erlangga makin terkekeh melihat wajah Dimas yang terlihat bingung dan gelisah.


“Udah santai aja, gue gak akan.....” Erlangga menghentikan kata-katanya saat sekretaris Dimas datang.


“Selamat siang Pak, ada tamu sedang menunggu Bapak.” Kata Nisa.


“Tamu, siapa? Saya tidak ada jadwal bertemu tamu hari ini.”


“Namanya Ibu Sindi pak.” Kata-kata Nisa membuat Erlangga dan  Dimas saling pandang dan terkejut.


“Sindi”


“Iya  pak sekarang ada diruang tunggu tamu pribadi bapak.”


“Yaudah saya akan segera kesana, bilang tunggu 5 menit lagi ya, saya masih ada pekerjaan.”


Kata Dimas, setelah Nisa keluar. Dimas terlihat tidak percaya kalau Sindi akan datang secepatnya.


“Dim, lo bilang Sindi bakal datang tahun depan?”


“Iya  gue gak tahu, dia tiba-tiba datang.”


“Terus sekarang bagaimana?”


“Gue temuin dia dulu deh.” Dimas pergi menemui Sindi. Sementara Erlangga terlihat kebingungan.


“Gak bisa seperti ini, gak sesuai rencana banget, kalau Sindi datang, nanti Dimas putus sama Laura, lalu yang bantuin gue buat balasa dendam ke Dimas siapa, atau gue bilang ke Laura kalau gue adalah saudaranya ya, enggak. Duh, kok jadi ribet gini sih.” Erlangga menggerutus dalam hati, dengan wajah kesal nya, lalu keluar ruangan Dimas.


***


Dimas menemui Sindi di ruangan pribadinya untuk menerima tamu. Dimas sedikit canggung, tidak ada rasa terkejut, bahagia, senang dan yang lain nya, pertemuan Dimas dan Sindi setelah sekian lama rasanya begitu hambar.


“Dimas.” Sindi menyapa Dimas dan langsung memeluk nya. Dimas tidak membalas pelukan Sindi sama sekali.


“Dimas aku tuh kangen banget sama kamu Dim, aku sengaja pulang cepet karena aku memutuskan untuk bekerja disini aja,” Cerita Sindi, padahal dulu saat dia telah selesai kuliah, dia ngotot untuk kerja dulu minimal satu tahun disana.


“Dimas, kok kamu diam aja sih, kamu gak suka ya aku datang.”


“Em enggak , gue cuma kaget aja.”


“Pastinya dong, o iya aku punya oleh-oleh buat kamu.”


Sindi membawakan oleh-oleh untuk Dimas, di ruangan itu Dimas dan Sindi mengobrol banyak hal.

__ADS_1


Sebenarnya kedatangan karena keluarganya juga membutuhkan dia, sementara Sindi yang mendengar Dimas yang telah mempunyai pacar, Sindi merasa tidak terima. Tidak ada satu orang pun yang dapat memiliki Dimas selain Sindi.


__ADS_2