Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 26


__ADS_3

Dimas memarkir mobil nya dirumahnya yang mewah, dia segera masuk kedalam rumah dan menemui Laura. Laura yang sudah menunggunya segera berdiri menatap Dimas seolah bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi.


“Laura, kamu tenang ya, aku tidak marah kok sama kamu, sekarang kita bicara, Mama, pastikan semua pintu dikunci, dan bilang sama satpam kalau kita tidak terima tamu hari ini.” Kata Dimas bicara sama mama nya dan mengajak Laura bicara diteras belakang.


“Mas, sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Laura.


“Justru aku yang bertanya sama kamu, apa yang sebenarnya terjadi, sampai Erlangga dan Sindi menuduh kamu soal kejadian kemarin.”


“Tapi mas percaya kan sama aku.”


“Justru karena aku percaya sama kamu, makanya aku minta penjelasan sama kamu.”


“Aku juga tidak tahu mas, waktu itu aku merasa curiga aja, kenapa Mas Erlangga tahu kalau mbak Sindi di culik, dan saat mas Dimas cuek tentang berita penculikan itu, Mas Erlangga terlihat marah, dan saat Mas Dimas pergi untuk menolong mbak Sindi, aku melihat Mas Erlangga tersenyum aneh, dan saat dia bertanya padaku, aku menjawab kalau Mas Dimas tidak pergi menemui mbak Sindi melainkan ada pekerjaan lain, lalu aku melihat gelagat yang mencurigakan dari mas Erlangga, kemudian aku mengikutinya, dan ternyata yang menyulik mbak Sindi itu mas Erlangga sendiri.” Cerita Laura.


“Kamu yakin?”


“Iya mas, malahan sebelum aku kekantornya mas Dimas, mas Erlangga datang kerumah dan mengancam aku untuk tidak ikut campur dalam urusan nya, kalau mas Dimas tidak percaya mas Dimas bisa tanya orang dirumahku.”


“Enggak, aku percaya sama kamu, tapi kamu ga apa-apa kan?”


“Sejujurnya aku takut menghadapi mas Erlangga.” Kata Laura dengan bibir yang bergetar.


“Sudah kamu ga usah takut, ada aku, Cuma situasi saat ini emang sedang rumit, tiba-tiba saja Sindi menjadi sangat baik pada Erlangga.”


“Itu karena mbak Sindi dan Mas Erlangga tengah bekerja sama mas.”


“Bekerja sama? Apa yang membuat mereka saling bekerja sama?” tanya Dimas. Laura menceritakan semua yang dia lihat kemarin, Dimas tampak memperhatikan cerita Laura dengan seksama. Dimas hampir tidak percaya, tetapi kenyataan memang seperti itu.


“Aku benar-benar kecewa pada Sindi, ternyata mama benar, Sindi hanya memanfaatkan aku saja.” Kata Dimas.


“Maafin aku mas, aku tidak bermaksud...”


“Kenapa kamu meminta maaf, justru aku sangat berterimakasih karena kamu memberitahuku yang sebenarnya.” Ucap Dimas, saat itu juga mama Dimas datang.


“Dimas, sebenarnya ada apa sih, ada masalah apa?”


“Tidak ada masalah apa-apa ma, hanya salah paham sedikit aja antara Sindi dan Laura.”


“Iya Laura tadi juga cerita sama mama, aneh Sindi itu, diputusin kok gak terima, mana berani fitnah Laura lagi.”


“Mama tenang aja, aku juga percaya sama Laura kok, Laura tidak mungkin seperti itu.”


“Iya sudah, pokoknya kalian berdua harus hati-hati lo.”


“Iya mas, mama juga harus hati-hati.”


“Iya sudah kalian lanjutkan, Mama gak mau ganggu.” Kata mamanya menggoda.


“Mama masih aja sempat menggoda kita ma, kita berdua lagi cari solusi agar Sindi tidak ganggu kita lagi,”


“Kenapa bingung mencari, solusi itu gampang.”


“Apa.”


“Kalian menikah aja.” Ucap Mama nya.  Dimas dan Laura saling pandang dan terdiam. Mereka terlihat malu. Mama Dimas melihat gemas pada putra nya dan menepuk pundak nya, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


“Gak usah di ambil hati omongan Mama, Mama Cuma bercanda.” Ucap Dimas, Laura hanya menganguk.


“Mulai sekarang kamu harus hati-hati kalau dirumah, aku takut Erlangga akan berbuat nekat lagi.”


“Sebenarnya aku takut untuk pulang kerumah, tapi...”


“Aku akan pekerjakan Satpam untuk berjaga dirumah kamu ya.”

__ADS_1


“Tidak usah Mas, aku tidak mau merepotkan.”


“Sama sekali tidak merepotkan kok, justru aku akan lebih tenang kalau kamu aman.”


“Iya sudah kalau begitu aku pamit ya mas.”


“Aku antarin kamu ya.”


“Tapi aku kan bawa mobil tadi.”


“Iya udah aku antarin nya pakai mobil kamu, nanti aku biar dijemput sopir.”


“Tapi aku masih mau pergi ke..”


“Kemanapun kamu mau pergi aku antar.”


“Iya sudah.” Laura tersenyum, dia merasa bahagia saat diperlakukan Dimas seperti itu. Mereka berdua menuju mobil Laura dan bersiap untuk pergi.


“Baik Nona, sekarang kita mau kemana dulu.”


“Mas Dimas apaan sih, jangan buat aku malu.”


“Kamu cantik kalau sedang malu.”


“Mulai deh, pertama ke toko dulu.”


“Siap.”


Dimas mengantarkan Laura pergi ketokonya, sebelum tokonya tutup rupanya Laura melakukan briefing dulu pada karyawan nya. Setelah selesai Laura meminta Dimas untuk mengantarkan nya ke hotel tempat tantenya menginap.


“Nih aku bawain kue kesukaan mas Dimas,”


“Wah makasih, sumpah ini makin enak banget, sekarang kita kemana?”


“Ke hotel.” Kata Laura, yang membuat Dimas tersedak.


“Iya mas, masa mau tahun baru.” Kata Laura.


“Kok kamu gak bilang-bilang sih kalau mau ajak aku kehotel,” Kata Dimas


“Apa yang mas pikirkan, tante aku ada disana dan aku mau nemuin tante aku.” Kata Laura sambil mengunyah kue bolu andalan nya.


“Ouhhh kirain.” Kata Dimas tersenyum lalu mengemudikan mobilnya menuju hotel.


****


Laura telah sampai dihotel tempat tante nya menginap, akan tetapi Laura tidak menemukan tantenya disana, semua sudah kosong. Menurut petuga hotel, tantenya pergi dengan seorang pria.


“Ya ampun, tante pergi bersama siapa, ayo tante aktifkan ponselnya.” Laura terlihat panik.


“Laura tenang, mungkin tante kamu sedang pergi bersama saudaranya.”


“Dia tidak punya saudara mas, dan dia kesini juga sedang kabur, aku takut, aku takut kalau...”


“Kalau apa?”


“Ada yang mengikutinya dan....” Ucap Laura, dia duduk di ranjang hotel yang baru saja tadi pagi dia buat ngobrol dengan tantenya.


“Laura, sekarang kamu tenang dulu ya, jangan berpikir macam-macam dulu, sebaiknya kita istirahat aja disini, ini juga sudah malam kan.” kata Dimas saat melirik jam nya menunjukan pukul 22.00 . Laura menatap Dimas, mungkin Dimas juga sangat lelah tidak sempat makan malam juga, hanya kue yang Laura ambil dari tokonya sebelum tutup tadi.


“Iya sudah, emmm aku pergi ke bawah sebentar ya, kamu beres-beres dulu.”


Kata Dimas, dan langsung menuju lobby hotel untuk membeli dua pasang kaos yang dijual toko oleh-oleh hotel, Dimas yang belum sempat ganti baju kerjanya merasa gerah. Dia melipat kemejanya dan melanjutkan belanja beberapa makanan ringan. Setelah kembali ke kamar, Dimas melihat Laura masih mandi di kamar hotel nya.

__ADS_1


“Laura” Panggil Dimas.


“Iya.”


“Aku ada belikan kaos buat kamu, aku taruh didepan pintu ya.” Kata Dimas lalu pergi ke balkon hotel. Laura tidak menyahut setelah selesai mandi, dia memakai kaos yang diberikan Dimas, lumayan nyaman, daripada baju formalnya yang dia pakai. Sekarang dia merasa lebih segar. Laura melihat Dimas yang sedang duduk santai diteras balkon. Laura menghampiri Dimas.


“Emm mas, aku sudah selesai mandi, kalau mas mau mandi silahkan.”


“Aku nanti saja, bagaimana keadaan kamu, apa kamu sudah mulai tenang?”


“Iya mas.” Kata Laura duduk di sebelah Dimas.


“Laura”


“Iya.”


“Kalau tidak keberatan, kamu bisa cerita tentang tante kamu itu, mungkin aku bisa membantu.”


“Aku tidak mau merepotkan mas Dimas lagi.”


“Tidak Ra.”


Laura akhirnya menceritakan semua yang tentang dirinya, hingga kedatangan tantenya tersebut, hanya saja Laura tidak menceritakan bahwa tantenya itu adalah tante Erlangga juga, Dimas lebih baik tidak tahu kalau Laura dan Erlangga itu adalah saudara. Sementara masih terdiam dengan cerita Laura, dia hampir tidak percaya kalau Laura sebenarnya adalah anak pak Handika.


“Jadi katanya tante, sebelum ayah meninggal, ayah menitipkan berkas itu pada sahabatnya yang bernama Pak Didi Jaelani, surat itu harus aku ambil untuk aku kembalikan pada warga masing-masing dan memberi tahu yang sebenarnya kalau sebenarnya ayahku menyelamatkan tanah mereka dari om aku yang serakah.”


Dimas masih terdiam, sementara Laura yang tahu Didi Jaelani adalah papa Dimas, paham kalau Dimas tidak berkomentar.


“Apakah ada pesan dari ayahmu untuk mengambil berkas itu.”


“Ada mas, saat aku bertemu dengan orang yang membawa berkas itu aku harus mengucapkan.”


“BERKAS BIRU 135 HANDIKA LH 211299” Laura dan Dimas mengucapkan secara bersamaan. Dan mereka saling berpandangan.


“Mas Dimas tahu kode itu.” Tanya Laura. Dan Dimas menganguk.


“Itu pesan dari ayahku saat aku akan mengambilnya, LH 211299 itu adalah inisial namaku dan tanggal lahirku, sedangkan 135 itu mungkin...”


“Jumlah seluruh sertifikat nya, dan semua nya ada stiker biru.” Kata Dimas.


“Jadi.” Kata Laura hampir tidak percaya.


“Berkas itu ada padaku Laura, kamu tenang aja, aku akan bantu kamu untuk mengembalikan pada warga sesuai amanat ayahmu.”


“Terimakasih mas, aku benar-benar sangat bersyukur.” Laura menitikan airmatanya.


“Tetapi apa hubungan nya Erlangga dengan berkas itu.” Tanya Dimas masih penasaran.


“Mas Erlangga adalah anak dari adik ayahku mas.”


“Apa! jadi kalian saudara, Erlangga sepupu kamu.”


“Dia kakak kandung ku, beda ayah.” Kata Laura, Dimas masih belum bisa mempercayai semuanya. Kenapa Erlangga tega melakukan ini semua. Laura tampak kedinginan di malam yang semakin larut itu.


“Iya sudah Ra, kamu masuk kedalam, kamu istirahat ya.”


Laura berdiri dan masuk kedalam, dia merebahkan dirinya pada ranjang hotel yang tidak seberap luas itu, karena Laura pikir hanya untuk tantenya, makanya dia menyewa kamar yang biasa. Saat Dimas masuk kedalam, Laura berkata.


“Mas Dimas, tidur aja disebelahku, jangan sampai tidak istirahat, mas pasti capek banget.” Kata Laura dengan suara parau, Dimas hanya tersenyum kecil lalu masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya, dalam hatinya dia masih belum percaya dengan semua yang ada, jadi anak yang akan dijodohkan papanya itu dulu adalah


Laura.


Dimas mengingat kembali detik-detik saat Papanya akan pergi.

__ADS_1


“Dimas, kamu jaga baik-baik berkas itu, dulu pak Handika berpesan, kalau anak nya akan mengambil berkas itu pada papa, tapi sayangnya papa tidak tahu lagi, anak pak Handika itu masih hidup atau tidak, karena sejak kecelakaan itu, tidak ada kabar lagi tentang anak nya, anak nya dirawat tantenya, dan papa belum sempat bertemu tantenya selama ini, papa rasanya tidak tenang jika berkas itu belum sampai di tangan yang benar, sementara papa sudah tidak kuat lagi, huk huk.” Papa Dimas batuk-batuk sebelum melanjutkan ucapan nya. “Dulu papa dan pak Dika ingin menjodohkan anak kami masing-masing, tetapi sayangnya kami akan pergi lebih cepat, tolong kamu jaga amanat ini ya, jika suatu saat kamu bertemu anak pak Dika kamu berikan berkas itu, jika memang dia anak pak Dika asli, dia akan mendapat pesan dari tantenya untuk mengambil dia akan mnegucapkan ini BERKAS BIRU 135 HANDIKA LH 211299 karena pak Dika juga punya anak tiri, maka jangan sampai kamu memberikan pada orang yang salah, dan sampaikan juga pada anak nya kalau makam pak Dika dan istrinya ada di pemakaman tanah keluarga kita.” Ucapan  papa Dimas sebelum pergi untuk selama nya.


Dimas selesai mandi, dia merasa badan nya sangat lelah, waktu menunjukan pukul 01 dini hari, Dimas mulai gelisah, Dimas menatap Laura yang tertidur dengan pulas, dia tampak sangat cantik saat tidur. Perlahan Dimas merebahkan diri disamping Laura. Saking lelahnya, dia langsung terlelap. Dan malam itu rasanya sepasang malaikat cinta siap menembakan busur jodoh nya untuk mereka berdua.


__ADS_2