
Laura membuka matanya, badannya terasa pegal-pegal semua, dia melihat ke sekeliling nya, tidak ada Dimas dikamar, di kamar mandi juga tidak ada, waktu menunjukan jam 9 pagi, astaga Laura tidak pernah bangun sesiang ini, apa karena dia lelah ya. Satu jam lagi waktunya chek out. Laura segera bersiap dikamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Laura sudah melihat Dimas sudah rapi, ya meskipun masih memakai kaos yang buat tidur semalam, tetapi dari raut mukanya terlihat Dimas sudah mencuci muka nya dan terlihat segar.
“Mas Dimas darimana?”
“Aku baru aja beli sarapan, ini sekalian menghirup udara pagi.”
“Mas Dimas tidur kan semalam.”
“Iya.”
Laura terdiam seperti berpikir, dia tidak ingat apa-apa lagi, karena semalam sangat lelah. Laura membuka bubur ayam yang dibeli Dimas.
“Wah enak banget nih keliatan nya, kenapa kita tidak sarapan di hotel aja sih.”
“Tadi aku juga pingin nya begitu, tapi kamu bangun nya siang, lalu saat aku turun kepikiran deh mau makan bubur ayam jadi aku beli.”
“Jadi mas Dimas tadi keluar hotel.” Kata Laura yang melihat Dimas baru saja meletakan kunci mobil nya, Dimas hanya menganguk sembari menyuap bubur ayam nya.
“Mas Dim suka bubur ayam ya?”
“Suka banget, dulu aku punya langganan, disekitar komplek rumah, Cuma sekarang orang nya sudah meninggal, jadi gak ada lagi.”
“Sayang banget, harusnya ada penerus nya.”
“Iya, harusnya gitu.”
Laura tiba-tiba tersedak, saat itu Dimas segera memberinya minum.
“Pelan-pelan dong Ra,.” Kata Dimas. Laura menganguk pelan, makanan nya tidak habis.
“Kenapa tidak habis? Gak suka?”
“Suka sih, Cuma aku gak selera makan mas.”
“Kenapa, nanti kamu sakit lho, ayo habisini, aku tungguin, pelan-pelan aja.” Kata Dimas. Laura menggeleng.
“Kita pulang aja ya mas.”
“Iya habis ini pulang, ini juga kan hari sabtu, tidak usah buru-buru.” Ucap Dimas.
Laura memandang Dimas dengan matanya yang sayu.
“Kenapa Ra?”
“Em enggak apa-apa kok, kapan mas Dimas mau berikan sertifikat itu.”
“Hari ini juga bisa.”
__ADS_1
“Iya sudah.”
“Kapan kamu mau kekampung halaman kamu.”
“Secepatnya mas, karena aku mau bertemu tante, memastikan kalau dia tidak kenapa-kenapa, ada hal yang belum aku tanyakan yaitu dimana makam kedua orang tuaku.” Ucap Laura lirih.
“Oh,
soal itu, aku tahu, ayah dan ibu kamu dimakam kan di dekat makam papa aku,
karena dulu katanya warga menolak jenasah ayah kamu.”
“Apa benar itu mas.”
“Iya.”
“Alhamdulilah, mas bisa antarin aku kesana kan.”
“Iya pasti aku antarin, tapi kamu habisin dulu makanan nya, aku sudah beli jauh-jauh tadi, sampai keluar hotel juga.”
Laura menganguk dan menghabiskan makanan nya, wajah nya terlihat sangat bahagia. Dimas memandang nya dengan senyum-senyum sendiri.
****
Dimas menunggu Laura dirumah nya untuk berganti baju sebelum pergi ke makam ayah nya, Dimas melihat Laura yang cantik dan anggun dengan baju panjang nya itu.
“Sudah siap mas.”
“Iya
Dimas mengantar Laura dengan wajah yang ceria. Dia sangat bahagia karena mendapatkan waktu yang banyak bersama Laura. Terutama tadi malam, saat Dimas membuka matanya dan melihat wajah Laura begitu dekat dengan nya. Dimas memandang cukup lama wajah cantik yang tidur lelap dengan nya semalam.
“Mas, hati-hati jangan melamun.”
“Eh iya, sorry.”
“Capek ya, sini biar aku yang gantiin.”
“Ga usah, sama kamu tuh ga ada capek nya.”
“Mas Dimas jangan gombal dong.”
“Kenapa?”
“Tar aku jadi bahagia.” Kata Laura tersenyum, Dimas melirik Laura dengan gemas. Tiba di tempat pemakaman, Dimas menggandeng tangan Laura, karena Laura tampak gemetar, karena ini pertama kali nya dia akan bertemu orang tua nya.
“Laura, itu ayah dan ibu kamu.” Kata Dimas sembari menunjuk dua makam bersebelahan yang bertuliskan nama ayah dan ibu nya. Laura mendekat dan mengelus nisan tersebut. Air matanya tumpah seketika, Dimas hanya terdiam dan tidak menggagu nya. Dimas membiarkan Laura menangis sampai selesai, terlihat Dimas memeluk nisan ayah nya sembari mengucapkan kalimat-kalimat yang menyedihkan.
__ADS_1
Hati Dimas terasa pedih melihat Laura menangis seperti itu, Laura selama ini berjuang sendirian.
“Ra,,” panggil Dimas saat melihat Laura sudah tenang.
“Sudah selesai?” tanya Dimas kemudian.
“Sebenarnya aku masih ingin lama-lama disini mas.”
“Ra, kamu sudah lama disini, sudha hampir dua jam tau gak, aku janji kapan pun kamu mau datang kesini aku bakal antarin kamu.” Dimas yang merasa khawatir akan kondisi Laura yang menangis terlalu lama mencoba membujuk Laura untuk mengajak nya pulang. Dimas membantu Laura berdiri dan memapahnya menuju mobil.
“Ra,
kamu minum dulu ya.” Dimas memberikan minum pada Laura.
“Sudah jangan menangis lagi, aku yakin orang tua kamu pasti bangga kok sama kamu, kamu sekarang sudah sukses, dan yang pasti kamu juga sudah menemukan amanat terkahir ayah kamu, nanti secepat nya kita antar sertifikat itu ya.”
“Iya mas.”
“Ya udah yuk pulang, kerumahku dulu ya.” Dimas mengemudikan mobil nya dengan perlahan, sepanjang perjalanan Laura hanya terdiam, Dimas juga tidak ingin menggagu nya.
****
“Angga,kamu itu bagaimana sih, masa kamu bertahun-tahun ikut sama anak Jaelani kamu masih belum juga dapat berkas itu.” Pak supapto marah pada Erlangga.
“Saya sudah berusaha paman, tetapi Dimas sepertinya tidak tahu menahu soal itu.”
“Bohong, karena bibi mu sendiri adalah saksi nya.”
“Bibi?”
“Iya, bibimu selama ini berada dipihak Laura, dia diam-diam kabur dan menemui Laura, untuk paman mengikuti nya.”
“Lalu.”
“Apalagi, bibimu sudah memberi tahu Laura semuanya, tentang berkas itu, pasti sekarang berkas itu sudah ada ditangan Laura.”
“Apa paman yakin.”
“Karena bibimu sendiri yang mengatakan itu pada Laura, kemari paman membututi bibimu dan dia bertemu dengan Laura, makanya sekarang bibimu aku kurung dikamar agar tidak pergi kemana-kemana.”
Erlangga terdiam, paman nya bercerita kalau dia memergoki bibinya bertemu Laura dan saat melihat Laura keluar hotel, paman nya langsung menelpon bibinya, dan mengancam bibinya akan menyakiti Laura jika tidak keluar dan pergi dengan nya. sepanjang perjalanan bibinya dipaksa mengaku, untuk apa bertemu dengan Laura, dan ternyata bibinya sudah memberi tahu kebenaran tentang sertifikat itu pada Laura.
“Lalu sekarang apa yang harus Erlangga lakukan paman.”
“Minta paksa saja sama Laura, karena paman yakin Laura sudah mendapatkan sertifikat itu.”
“Tapi apa mungkin Dimas langsung mempercayai ucapan Laura.”
__ADS_1
“Karena Laura punya pesan sendiri untuk mengambil nya itu, sudah paman bilang, bibimu mengetahui semuanya.”
“Tapi kenapa bibi tidak membantu paman?” Tanya Erlangga, pak Suprapto terdiam sejenak, jelas saja istrinya tidak memihak padanya, karena istrinya membencinya, membenci perselingkuhan nya dengan ifa, ibu dari Laura. Pak Suprapto belum bisa menjawa pertanyaan Erlangga, bahkan sampai saat ini pun masih belum sempat memberi tahu kalau Erlangga sebenarnya adalah anak kandungnya.