
Erlangga gemas sama Dimas yang bilang pada Mamanya kalau si pembuat kue itu adalah
pacarnya
“Dim, lo apa-apaan sih, lo bilang kalau yang kue
itu pacar lo.”
“Aduh, habisnya mo gimana lagi, gue tu pusing tahu
gak kalau dengan Mama gue omong masalah jodoh terus.”
“Ya kan gak harus lo bilang yang buat kue itu pacar lo,”
“Udah deh, sekarang lo cariin gue pacar pura-pura.”
“Apa, pacar pura-pura.”
“Iya, tar lo cariin gadis yang mau jadi pacar pura-pura gue,”
“Tap lo udah terlanjur bilang sama Mama lo kalau pacar lo yang buat kue itu, tar
kalau Mama kamu ajak dia buat kue gimana Dim, hari gini susah lho cari cewek
yang bisa buat kue.”
“Ya udah kalau gitu cewek itu aja.”
“Maksud lo, Laura.”
“Entah siapa lah namanya, pokoknya yang buat kue itu aja suruh jadi pacar pura-pura
gue, dia gak usah pikirin soal tokonya, lagian tokonya mau tutup kan, dia bakal
dapat penghasilan berkali-kali lipat kalau mau kerja sama gue.”
“Dimas, dia tu bukan cewek yang mata duitan, hadehhh lo selalu deh buat masalah aja.”
“Udah deh, lo gak usah ribet, sekarang lo bilang sama dia sekarang, mau gak jadi
pacar pura-pura gue.”
“Ya gak segampang itu kali Dim.”
“Gue percaya sama lo, lo itu orang yang paling bisa gue andalin pokoknya, gue yakin
lo pasti bisa, kalau lo gak bisa, lo carikan gue cewek yang bisa di ajak kerja
sama buat jadi pacar pura-pura gue, oke.” Dimas mengedipkan matanya lalu keluar
ruang kerjanya. Erlangga hanya menggelengkan kepalanya. Sebagai orang
kepercayaan nya. Erlangga harus turuti apa maunya sahabatnya itu.
***
Laura menemui Erlangga di tempat pertama kali bertemu, karena Erlangga ingin bicara
sesuatu yang penting.
“Maaf ya mas, nunggu lama?”
“Oh, enggak kok, silahkan duduk.”
“Ada apa ya mas Erlan, mau pesen kue lagi, kan bisa telephon aja.”
“Emm, iya saya pasti bakal pesen kue lagi, tapi ini gimana ya, saya bingung mau
bicara.”
Laura memandang dengan seksama sikap Erlangga yang canggung.
“Iya tidak apa-apa mas, bilang aja, apa kue yang saya kirim tadi gak enak.”
“Oh tidak justru enak sekali.”
Laura hanya menganguk pelan.
“Lalu ada apa mas,”
“Em begini Laura, apakah kamu sudah punya pacar?”
“Pacar?” Laura tampak bingung, apa Erlangga mau menjadikan nya pacar masa iya secepat
itu.
“Iya apa kamu punya pacar?”
Laura menggeleng.
“Jadi begini Laura, saya minta maaf sebelum nya ya, ini bukan bermaksud apa-apa sih,
jadi saya mau nawarin kamu pekerjaan frelance.”
“Pekerjaan frelance? Lalu apa hubungan dengan saya punya pacar atau bukan mas.”
“Iya kalau kamu punya pacar, harus izin pacar kamu dulu.”
__ADS_1
“Memangnya pekerjaan apa itu?”
“Menjadi pacar pura-pura.”
“Apa, pacar pura-pura, kok saya gak paham ya.”
Erlangga menghela nafas dan mengubah posisi duduk nya agar lebih nyaman.
“Jadi begini Laura, bos aku, membutuhkan pacar pura-pura karena Mamanya selalu
menekan dia untuk mempunyai pacar, sementara bos aku masih ingin fokus dengan
karirnya, dia mau menambah cabang perusahaan nya, dan sikap Mamanya itu membuat
dia tidak fokus bekerja.” Cerita Erlangga.
“Bos mas Erlan yang,,,”
“Iya, Dimas Fhanza.”
“Kok saya mas, kan banyak cewek lain yang...”
“Masalahnya Dimas sudah terlanjur bilang sama Mamanya kalau yang membuat kue yang kamu
kirim ke kantor itu adalah buatan pacarnya.”
“Kenapa dia bilang begitu mas.”
“Situasi yang membuatnya bilang begitu, dan kamu tahu sendiri kan saya ini hanya bekerja,
ini perintah dia.” Kata Erlangga, Laura sepertinya tengah berpikir.
“Laura, jadi bagaimana? Kamu tenang aja, kamu bakal mendapatkan gaji setiap bulan nya.”
“Memangnya sebagai pacar pura-pura nya Mas Dimas saya harus apa mas?”
“Ya seperti layaknya pacaran aja, kalau orang tuanya membutuhkan kamu, ya kamu
datang kerumahnya, dan yang paling penting kamu bisa sering-sering nemanin Mama
nya Dimas, agar Mamanya tidak menggagu pekerjaan Dimas.”
Laura tampak berpikir, saat ini dia butuh banget modal untuk membangun usahanya
kembali, toh ini hanya pekerjaan frelance.
“Mas, apakah mas Dimas akan mengizinkan saya untuk tetap mengurus toko kue saya.”
“Saya rasa itu tidak masalah sih, yang penting
kamu bisa atur aja.”
“Laura, kamu ini sedikit banyak sudah berkecimpung di dunia bisnis, kamu paham soal
penampilan ya apa adanya kamu aja ini sudah oke kok, dan saya tahu kok kamu
gadis yang pintar kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.” Kata Erlangga. Laura
memang gadis yang cantik, lembut dan anggun. Untuk jadi pacar Dimas tidak perlu
lagi melakukan make over.
“Akan saya pikirkan ya mas, karena saya juga belum mengenal Mas Dimas itu seperti
apa.”
“Percaya sama saya, kalau kamu dapat dengan cepat mengenal saya, kamu juga bakal dengan
cepat mengenal Dimas.”
“Tapi kan dia kelihatan nya angkuh Mas, tidak seperti mas Erlangga yang ramah.”
“Kamu bisa aja, atau saya atur kan kamu untuk bertemu Dimas besok, kabari saya malam
ini kamu bisa atau gak.”
Laura menganguk. Erlangga segera pamit dan meninggalkan Laura yang masih tampak
terlihat bingung.
Memang benar, Laura tampak bingung. Laura belum pernah mengenal Dimas, dia juga bukan
orang sembarangan. Disisi lain dia juga membutuhkan modal untuk meneruskan
usahanya.
Siapa lagi yang dapat membantu nya, Laura seorang diri di dunia ini, tidak punya
siapapun. Setelah mengambil keputusan yang matang. Akhirnya Laura menyetujui tawaran
Erlangga.
Malam harinya Laura gelisah, dia tidak dapat tidur, bagaimana mungkin cowok sekeren
ini belum punya pacar, Laura melihat sosial media Dimas Fhanza.
***
__ADS_1
Laura merasa gugup saat akan bertemu dengan Dimas, hari itu dia dandan lebih cantik
dari biasanya. Bagaimanapun juga Dimas bukan lah orang yang sembarangan, dia
tidak ingin membuat malu dirinya sendiri.
Laura berangkat naik taksi on line, sepanjang perjalanan dia sangat gelisah. Rasanya
ini masih seperti mimpi.
Sesampai di kantor Laura masih menunggu Erlangga dengan gugup. Tidak lama kemudian
Erlangga datang ke lobby dengan wajah yang terlihat kagum. Luar biasa ternyata
Laura sangat cantik dan berkelas, tidak salah Erlangga memilih Laura menjadi
pacar pura-pura Dimas.
“Laura terimakasih kamu sudah datang, kita bicara disini sebentar ya.”
“Baik mas,”
“Jadi begini, sekarang Dimas sedang ada meeting, setelah itu akan menemui kamu, dan
jika nanti ada Mamanya Dimas, saya harap kamu tidak canggung, ini yang kamu
harus pelajari.” Erlangga memberikan kertas peraturan kerja pada Laura.
“Mas, memangnya Mas Dimas setuju,”
“Kalau saya bilang iya, pasti dia juga iya, dia itu terlalu sibuk dengan kerjaan nya,
jadi kamu tinggal pelajari aja itu, kalau Mama Dimas bertanya sejak kapan
kalian pacaran, sudah berapa lama dan lain nya disitu sudah ada draf nya. Kamu
tinggal pelajari aja, biar sama jawaban kalian nanti.”
Laura masih diam seribu bahasa. Laura membaca surat kerja dan apa yang harus dia
kerjakan selama menjadi pacar Dimas beserta aturan-aturan yang tidak boleh di
lakukan, dan di bagian akhir, terdapat gaji yang akan dia terima, Laura
terbelalak melihat gaji tersebut.
“Mas, ini gaji saya segini.”
“Iya.”
“Apa ini tidak kebanyakan.”
“Tidak,”
Laura diam, seperti tengah memikirkan sesuatu, bagaima bisa dia dibayar 10 juta
perbulan selama satu tahun pacaran. Baginya itu harga yang tinggi. Laura justru
takut.
“Tidak mas, saya tidak bisa menerima pekerjaan ini.”
“Lho kenapa, bukanya kamu sudah setuju.”
“Tapi gaji segitu buat saya terlalu mahal mas, saya takut nanti,,,”
“Tidak akan terjadi apa-apa Laura kamu tenang aja, Dimas memberi harga segitu agar
kamu bisa membeli kebutuhan kamu buat mendukung pekerjaan kamu.”
“Maksudnya?”
“Iya kamu bisa membeli baju, sepatu tas atau yang lainnya,”
“Apa penampilan saya seperti ini masih kurang.”
“Enggak, ini sudah bagus, tapi kamu pasti bakal membutuhkan lebih dari ini, oke gini
nanti masalah ini bisa di bicarakan asalkan kamu bantuin saya, kalau kamu tidak
mau saya bisa di pecat.”
“Kok gitu, bukanya mas Dimas itu baik, Mas Erlan sendiri yang bilang.”
“Bukan Dimas yang pecat saya Ra, tapi Mamanya, karena saya sudah mendukung kebohongan
Dimas.”
Laura terdiam kembali, entah apa yang akan dia lakukan. Jantung Laura berdebar saat
Erlangga menerima telephon dari Dimas.
“Hallo Dim, lo udah selesai, iya ini gue di bawah sama Laura, sebentar gue bawa dia
naik ke atas.” Erlangga menutup telephon
nya.
__ADS_1
“Ayo, kita sudah di tunggu Dimas di ruangnya.”
Jantung Laura seakan mau berhenti.