Pacar Frelance Tuan Muda

Pacar Frelance Tuan Muda
Episode 2


__ADS_3

Erlangga gemas sama Dimas yang bilang pada Mamanya kalau si pembuat kue itu adalah


pacarnya


“Dim,  lo apa-apaan sih, lo bilang kalau yang kue


itu pacar lo.”


“Aduh,  habisnya mo gimana lagi, gue tu pusing tahu


gak kalau dengan Mama gue omong masalah jodoh terus.”


“Ya  kan gak harus lo bilang yang buat kue itu pacar lo,”


“Udah  deh, sekarang lo cariin gue pacar pura-pura.”


“Apa, pacar pura-pura.”


“Iya, tar lo cariin gadis yang mau jadi pacar pura-pura gue,”


“Tap lo udah terlanjur bilang sama Mama lo kalau pacar lo yang buat kue itu, tar


kalau Mama kamu ajak dia buat kue gimana Dim, hari gini susah lho cari cewek


yang bisa buat kue.”


“Ya  udah kalau gitu cewek itu aja.”


“Maksud  lo, Laura.”


“Entah  siapa lah namanya, pokoknya yang buat kue itu aja suruh jadi pacar pura-pura


gue, dia gak usah pikirin soal tokonya, lagian tokonya mau tutup kan, dia bakal


dapat penghasilan berkali-kali lipat kalau mau kerja sama gue.”


“Dimas,  dia tu bukan cewek yang mata duitan, hadehhh lo selalu deh buat masalah aja.”


“Udah  deh, lo gak usah ribet, sekarang lo bilang sama dia sekarang, mau gak jadi


pacar pura-pura gue.”


“Ya  gak segampang itu kali Dim.”


“Gue  percaya sama lo, lo itu orang yang paling bisa gue andalin pokoknya, gue yakin


lo pasti bisa, kalau lo gak bisa, lo carikan gue cewek yang bisa di ajak kerja


sama buat jadi pacar pura-pura gue, oke.” Dimas mengedipkan matanya lalu keluar


ruang kerjanya. Erlangga hanya menggelengkan kepalanya. Sebagai orang


kepercayaan nya. Erlangga harus turuti apa maunya sahabatnya itu.


***


Laura  menemui Erlangga di tempat pertama kali bertemu, karena Erlangga ingin bicara


sesuatu yang penting.


“Maaf  ya mas, nunggu lama?”


“Oh,  enggak kok, silahkan duduk.”


“Ada  apa ya mas Erlan, mau pesen kue lagi, kan bisa telephon aja.”


“Emm,  iya saya pasti bakal pesen kue lagi, tapi ini gimana ya, saya bingung mau


bicara.”


Laura  memandang dengan seksama sikap Erlangga yang canggung.


“Iya  tidak apa-apa mas, bilang aja, apa kue yang saya kirim tadi gak enak.”


“Oh tidak justru enak sekali.”


Laura hanya menganguk pelan.


“Lalu  ada apa mas,”


“Em  begini Laura, apakah kamu sudah punya pacar?”


“Pacar?”  Laura tampak bingung, apa Erlangga mau menjadikan nya pacar masa iya secepat


itu.


“Iya  apa kamu punya pacar?”


Laura  menggeleng.


“Jadi  begini Laura, saya minta maaf sebelum nya ya, ini bukan bermaksud apa-apa sih,


jadi saya mau nawarin kamu pekerjaan frelance.”


“Pekerjaan  frelance? Lalu apa hubungan dengan saya punya pacar atau bukan mas.”


“Iya  kalau kamu punya pacar, harus izin pacar kamu dulu.”

__ADS_1


“Memangnya  pekerjaan apa itu?”


“Menjadi pacar pura-pura.”


“Apa,  pacar pura-pura, kok saya gak paham ya.”


Erlangga  menghela nafas dan mengubah posisi duduk nya agar lebih nyaman.


“Jadi  begini Laura, bos aku, membutuhkan pacar pura-pura karena Mamanya selalu


menekan dia untuk mempunyai pacar, sementara bos aku masih ingin fokus dengan


karirnya, dia mau menambah cabang perusahaan nya, dan sikap Mamanya itu membuat


dia tidak fokus bekerja.” Cerita Erlangga.


“Bos  mas Erlan yang,,,”


“Iya,  Dimas Fhanza.”


“Kok  saya mas, kan banyak cewek lain yang...”


“Masalahnya  Dimas sudah terlanjur bilang sama Mamanya kalau yang membuat kue yang kamu


kirim ke kantor itu adalah buatan pacarnya.”


“Kenapa  dia bilang begitu mas.”


“Situasi  yang membuatnya bilang begitu, dan kamu tahu sendiri kan saya ini hanya bekerja,


ini perintah dia.” Kata Erlangga, Laura sepertinya tengah berpikir.


“Laura,  jadi bagaimana? Kamu tenang aja, kamu bakal mendapatkan gaji setiap bulan nya.”


“Memangnya  sebagai pacar pura-pura nya Mas Dimas saya harus apa mas?”


“Ya  seperti layaknya pacaran aja, kalau orang tuanya membutuhkan kamu, ya kamu


datang kerumahnya, dan yang paling penting kamu bisa sering-sering nemanin Mama


nya Dimas, agar Mamanya tidak menggagu pekerjaan Dimas.”


Laura  tampak berpikir, saat ini dia butuh banget modal untuk membangun usahanya


kembali, toh ini hanya pekerjaan frelance.


“Mas,  apakah mas Dimas akan mengizinkan saya untuk tetap mengurus toko kue saya.”


“Saya  rasa itu tidak  masalah sih, yang penting


kamu bisa atur aja.”


“Laura,  kamu ini sedikit banyak sudah berkecimpung di dunia bisnis, kamu paham soal


penampilan ya apa adanya kamu aja ini sudah oke kok, dan saya tahu kok kamu


gadis yang pintar kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.” Kata Erlangga. Laura


memang gadis yang cantik, lembut dan anggun. Untuk jadi pacar Dimas tidak perlu


lagi melakukan make over.


“Akan  saya pikirkan ya mas, karena saya juga belum mengenal Mas Dimas itu seperti


apa.”


“Percaya  sama saya, kalau kamu dapat dengan cepat mengenal saya, kamu juga bakal dengan


cepat mengenal Dimas.”


“Tapi  kan dia kelihatan nya angkuh Mas, tidak seperti mas Erlangga yang ramah.”


“Kamu  bisa aja, atau saya atur kan kamu untuk bertemu Dimas besok, kabari saya malam


ini kamu bisa atau gak.”


Laura  menganguk. Erlangga segera pamit dan meninggalkan Laura yang masih tampak


terlihat bingung.


Memang  benar, Laura tampak bingung. Laura belum pernah mengenal Dimas, dia juga bukan


orang sembarangan. Disisi lain dia juga membutuhkan modal untuk meneruskan


usahanya.


Siapa  lagi yang dapat membantu nya, Laura seorang diri di dunia ini, tidak punya


siapapun. Setelah mengambil keputusan yang matang. Akhirnya Laura menyetujui tawaran


Erlangga.


Malam  harinya Laura gelisah, dia tidak dapat tidur, bagaimana mungkin cowok sekeren


ini belum punya pacar, Laura melihat sosial media Dimas Fhanza.


***

__ADS_1


Laura  merasa gugup saat akan bertemu dengan Dimas, hari itu dia dandan lebih cantik


dari biasanya. Bagaimanapun juga Dimas bukan lah orang yang sembarangan, dia


tidak ingin membuat malu dirinya sendiri.


Laura  berangkat naik taksi on line, sepanjang perjalanan dia sangat gelisah. Rasanya


ini masih seperti mimpi.


Sesampai  di kantor Laura masih menunggu Erlangga dengan gugup. Tidak lama kemudian


Erlangga datang ke lobby dengan wajah yang terlihat kagum. Luar biasa ternyata


Laura sangat cantik dan berkelas, tidak salah Erlangga memilih Laura menjadi


pacar pura-pura Dimas.


“Laura  terimakasih kamu sudah datang, kita bicara disini sebentar ya.”


“Baik mas,”


“Jadi  begini, sekarang Dimas sedang ada meeting, setelah itu akan menemui kamu, dan


jika nanti ada Mamanya Dimas, saya harap kamu tidak canggung, ini yang kamu


harus pelajari.” Erlangga memberikan kertas peraturan kerja pada Laura.


“Mas,  memangnya Mas Dimas setuju,”


“Kalau  saya bilang iya, pasti dia juga iya, dia itu terlalu sibuk dengan kerjaan nya,


jadi kamu tinggal pelajari aja itu, kalau Mama Dimas bertanya sejak kapan


kalian pacaran, sudah berapa lama dan lain nya disitu sudah ada draf nya. Kamu


tinggal pelajari aja, biar sama jawaban kalian nanti.”


Laura  masih diam seribu bahasa. Laura membaca surat kerja dan apa yang harus dia


kerjakan selama menjadi pacar Dimas beserta aturan-aturan yang tidak boleh di


lakukan, dan di bagian akhir, terdapat gaji yang akan dia terima, Laura


terbelalak melihat gaji tersebut.


“Mas,  ini gaji saya segini.”


“Iya.”


“Apa  ini tidak kebanyakan.”


“Tidak,”


Laura  diam, seperti tengah memikirkan sesuatu, bagaima bisa dia dibayar 10 juta


perbulan selama satu tahun pacaran. Baginya itu harga yang tinggi. Laura justru


takut.


“Tidak  mas, saya tidak bisa menerima pekerjaan ini.”


“Lho  kenapa, bukanya kamu sudah setuju.”


“Tapi  gaji segitu buat saya terlalu mahal mas, saya takut nanti,,,”


“Tidak  akan terjadi apa-apa Laura kamu tenang aja, Dimas memberi harga segitu agar


kamu bisa membeli kebutuhan kamu buat mendukung pekerjaan kamu.”


“Maksudnya?”


“Iya  kamu bisa membeli baju, sepatu tas atau yang lainnya,”


“Apa  penampilan saya seperti ini masih kurang.”


“Enggak,  ini sudah bagus, tapi kamu pasti bakal membutuhkan lebih dari ini, oke gini


nanti masalah ini bisa di bicarakan asalkan kamu bantuin saya, kalau kamu tidak


mau saya bisa di pecat.”


“Kok  gitu, bukanya mas Dimas itu baik, Mas Erlan sendiri yang bilang.”


“Bukan  Dimas yang pecat saya Ra, tapi Mamanya, karena saya sudah mendukung kebohongan


Dimas.”


Laura  terdiam kembali, entah apa yang akan dia lakukan. Jantung Laura berdebar saat


Erlangga menerima telephon dari Dimas.


“Hallo  Dim, lo udah selesai, iya ini gue di bawah sama Laura, sebentar gue bawa dia


naik ke atas.”  Erlangga menutup telephon


nya.

__ADS_1


“Ayo,  kita sudah di tunggu Dimas di ruangnya.”


Jantung  Laura seakan mau berhenti.


__ADS_2