
Laura memasuki ruang kerja Dimas, dadanya berdebar. Bagaimana kalau Dimas tidak
menyukai nya. Dan apa yang di pikirkan Laura memang benar, meskipun Dimas tidak
menunjukan kalau dia menolak tapi sikap
ramahnya sama sekali tidak ada.
“Dimas, kenalkan ini Laura yang akan kerja sama, sama kita.”
“Oke, saya harap kamu sudah membaca persyaratan nya, dan saya harap kamu bisa
mengerti dengan sendirinya soal pekerjaan kamu, dan tentunya tidak merepotkan
saya.” Ucap Dimas, Laura menatap ketampanan Dimas.
“Emm tapi pak, saya.”
“Laura, jangan panggil pak, panggil Dimas aja, atau langsung panggil sayang juga
boleh.” Erlangga menggoda, Laura tampak malu, sementara Dimas terlihat santai
saja.
“Begini mas Dimas, saya tidak tahu apa saya bisa melakukan pekerjaan ini, karena
saya,,,”
“Belum pernah pacaran?” Potong Dimas, menyebalkan juga orang ini batin Laura.
“Bukan, maksud saya.”
“Kalau kamu pernah pacaran, pekerjaan ini tidak berat kok, santai saja, saya tidak
akan kurang ajar sama kamu, saya hanya perlu kamu menemani saya bertemu Mama
saja, dan mengatakan kalau kita pacaran, dan saat Mama menanyakan sesuatu, kamu
bisa menanganinya.”
“Iya, tapi.”
“Apa lagi, gajinya kurang.” Dimas menatap Laura.
“Bukan-bukan,” Laura tampak gugup, Dimas segera menyuruh Erlangga untuk menjelaskan nya.
“Laura, sudah kamu jangan gugup, kamu tenang aja, aku bakal bantuin kamu kok, dan
disini hanya tertulis satu tahun kontrak kerja, dan aku yakin kamu juga pasti
bisa. Soal gaji, kamu gak usah pikirkan, itu memang sudah menjadi hak kamu.”
Erlangga memberi penjelasan pada Laura yang masih tampak bingung.
“Iya mas Erlan, saya akan berusaha buat sebaik mungkin.”
“Oke bagus kalau begitu, hari ini kamu akan saya ajak ke rumah untuk bertemu Mama,
jadi kamu baca baik-baik apa yang sudah tertulis di situ, agar tidak salah saat
di tanya oleh Mama, sikap kamu natural aja, agar Mama tidak curiga.”
“Baik Mas.”
Dimas keluar ruangan untuk sesuatu bersama Erlangga, Laura memperlajari materi yang
di berikan Dimas untuk nya. Satu jam kemudian Dimas datang menjemput Laura.
“Laura.” Panggil Dimas, Laura serasa aneh saat Dimas memanggilnya.
“Iya.”
“Kita berangkat sekarang ke rumah Mamaku.”
“Ok.”
Laura masuk kedalam mobil Dimas, banyak mata yang menatapnya. Laura jadi canggung
sendiri.
“Bersikap biasa saja, karyawan kantor memang begitu,” Dimas menjalankan mobilnya.
Sungguh Laura tidak mengerti akan satu hal, ini nyata atau mimpi, cowok keren di
sampingnya mengemudikan mobil dengan licah, sepanjang perjalanan Dimas dan
Laura hanya diam, tidak ada yang bertegur sapa.
Sesampai di rumah Dimas yang mewah itu, Laura langsung di sambut ramah oleh Mama Dimas.
“Selamat sore Tante.” Laura mencium tangan Mama Dimas.
__ADS_1
“Iya selama sore, wah kamu cantik sekali.”
“Terimakasih tante,”
“Mama, ini Laura, pacar Dimas.” Ucap Dimas sambil tersenyum ke arah Laura, ini seperti
senapan yang tiba-tiba menembus dada Laura.
“Laura, ayo sini masuk.” Mama Dimas mengajak Laura masuk, Dimas memperhatikan Laura
yang memang bersikap profesional. Dimas akhirnya lega ternyata Laura tidak
merepotkan, dia juga terlihat seperti wanita cerdas, anggun dan tentunya
cantik. Sayangnya Dimas masih belum bisa melupakan Sindi, pacar nya saat di
SMA, mereka putus karena Sindi kuliah di luar negeri hingga sekarang tidak tahu
lagi kabarnya.
Laura tidak mengalami kesusahan saat berkenalan dengan Mama Dimas, karena Mama Dimas
orang yang sangat baik,.
“Jadi kamu ini sudah pacaran satu tahun sama Dimas, kenapa tidak pernah main
kerumah.”
“Iya tante karena saya belum ada kesempatan.”
“Iya Dimas juga sudah cerita kalau kamu sedang sibuk berbisnis ya, wah kamu ini
masih muda, cantik mandiri lagi.”
“Terimakasih tante.”
Mereka cepat sekali akrab, setelah makan malam Laura pamit pulang.
“Laura kamu sering-sering main kerumah tante ya.” Ucap Mama Dimas, Laura menatap
Dimas.
“Iya Tante, sekarang Laura pamit dulu ya.”
“Iya, Dimas kamu antar Laura ya,”
“Tidak usah tan, Laura bisa naik taksi kok.”
“Iya betul Ma, aku akan antar Laura cari taksi.”
ini aman sampai di rumah.”
Dimas tidak bisa menolak keinginan Mamanya, terpaksa Dimas mengantar Laura ke
rumahnya.
“Rumah kamu dimana,”
“Ehm, di Jl.Melati 3 Mas, tapi kalau itu kejauhan saya bisa naik taksi kok ga
apa-apa.” Laura yang merasa Dimas keberatan, untuk mengantarnya.
“Oke, saya antarkan kamu darisini aja, kamu bisa cari taksi disini.”
“Iya Mas.”
“Oh ya, satu lagi, kamu tidak perlu datang ke kantor kalau saya tidak menyuruh kamu
datang ke kantor, tugas kamu adalah deket sama Mama aku, bukan sama aku, jadi
kamu tawari Mama Jalan-jalan, atau kamu main kerumah temani Mama, terserah,
yang penting Mama jangan sampai datang kekantor dan mengaggu pekerjaan ku.”
“Iya Mas.”
Laura turun dari mobil Dimas, tanpa menunggu Laura mendapat taksi, Dimas langsung
saja pergi meninggalkan Laura. “Dasar cowok nyebelin.” Umpat Laura.
Lama sekali Laura menunggu taksi lewat, Laura bosan sekali. Laura terkejut saat
mendengar suara ambulan dari kejauhan, terlihat juga mobil ambulan dari
kejauhan. Laura langsung berubah pucat, dia minggir ke jalan dan mencari tempat
perlindungan di balik pohon, Laura menutup telinganya rapat-rapat. Dia sangat
takut dengan suara ambulan, ada bayangan buruk saat mendengar suara ambulan.
Laura duduk di tanah dengan lemas, setelah ambulan itu menjauh. Air matanya
__ADS_1
mengalir, dan menyebutkan Mama dan Papanya.
***
“Bagaimana Dim, Laura.” Tanya Erlan saat di kantor.
“Bagaimana apanya?”
“Ya dia sukses gak jadi pacar pura-pura lo.”
“Gue rasa dia tuh pacarnya banyak,”
“Kenapa begitu.”
“Dia mahir sekali akting jadi pacar pura-pura, sampai lo tau gak, nyokap sekarang
yang di tanyain Laura mulu.”
“Wah, siap-siap aja lo sekarang, bakal di suruh nikah sama Laura.”
“Apa! menikah.”
“Iya kan nyokap lo udah suka sama Laura, bukan tidak mungkin Nyokap lo bakal nyuruh
lo buat nikah secepatnya sama Laura.”
“Kok gue gak pernah mikir sampai kesana ya, justru gue malah nyuruh Laura buat
deketin terus Mama gue.”
“Parah lo Dim, itu sama aja lo bunuh diri, ketahuan lo sekarang yang gak pernah
pacaran.” Ejek Erlangga. Dimas juga diam, terlihat dirinya memikirkan sesuatu.
“Ah gue percaya sama si Laura itu pasti bisa bekerja dengan baik, kalau sampai yang
lo omongin itu benar, Mama nyuruh gue cepat nikah, gue yakin Laura bisa
memberikan alasan yang tepat untuk Mama.”
“Ya semoga aja begitu.”
Erlangga melihat ponselnya yang baru saja berbunyi. Ternyata dari Laura.
“Eh ini ngapain Laura kasih kabar ke gue sih, bukan ke lo aja.”
“Kabar apaan, gue aja gak punya nomer hp nya.”
“Parah banget sih lo Dim, dia bilang dia lagi ada urusan ke luar kota selama
seminggu,”
“Tuh anak benar-benar ya, baru dapat gaji langsung aja pergi.”
“Iya kan dia kerja Cuma Frelance, kenapa lo mulai kangen sama dia, karena tiap kali
lo pulang kerja, selalu ketemu ama Laura.”
“Ih ngaco banget, gak setiap hari dalam sebulan ini baru 3 kali gue ketemu dia di
rumah, itupun gue gak ngobrol sama dia, Mama yang ngobrol ama dia.”
“O,,, iya udah kalau gitu.”
“Masalahnya gue bakal pusing kalau di tanya Mama, Laura kemana, kenapa tidak kesini, dan
lain nya.” Dimas menirukan gaya Mamanya.
“Hahaha, seperti nya nyokap lo udah cocok banget ya sama Laura.”
“Ya gitulah Mama, dia gampang cocok sama siapa aja,”
“Hoya, tapi kabarnya pacar kamu yang dulu tidak disukai sama nyokap lo.”
Dimas menghentikan memandang laptopnya yang sejak tadi dia baca sesuatu disana. Memang
betul yang di bicarakan Erlangga, Mamanya tidak menyukai Sindi. Entahlah, yang
jelas apapun yang dilakukan Laura, masih belum bisa membuat hati Dimas
melupakan Sindi, meskipun tidak dapat di pungkiri kalau Laura juga cantik.
“Lo kirim nomer Laura ke gue, anak itu lama-lama ngelunjak.”
“Ngelunjak bagaimana, dia bilang pulang kampung, ya mungkin aja dia mau beri uang buat
keluarganya Dim, kan baru kali ini dia dapat gaji yang besar,”
“Iya gue juga gak bakal nyuruh dia cepat pulang kok, buat jaga-jaga aja kalau nyokap
gue minta di telponin Laura, masa iya gue gak punya nomernya.”
__ADS_1
“Hehe, iya-iya, ni gue kirim ke lo ya,”
Dimas menganguk pelan.