Pacarku Kakak Kelasku

Pacarku Kakak Kelasku
batal barbeque-an


__ADS_3

Setelah kami berdiskusi di kelas. Akhirnya kami memutuskan rencana malam ini, kami satu kelas mau membuat pesta barbeque di rumah Uli. Barulah gue memisahkan diri dari rombongan dan diam-diam menuju kelas XII IPA-1. Pengen ketemu Yesi.



Gue berjalan mengendap-endap. Sebelum membuka pintu kelas XII IPA-1, gue melihat sekeliling. Kali aja ada murid lain yang memergoki gue. Nanti mereka bingung lagi karena gue mampir ke kelas Yesi.



Setelah gue rasa aman, perlahan gue membuka kenop pintu. Baru setengah badan masuk, kaos yang gue pakai di tarik seseorang dari belakang.



"Eh, eh, ada apa, ini ?" ucap Yesaya yang badannya terseret keluar lagi.



"Ngapain lo masuk ke sini?" tanya Dea dengan mata membelalak.



Kaos gue sudah dilepas, perlahan gue memutar badan.



"Eh, Dea." ucap Yesaya nyengir, terciduk sama Dea.



"Ngapain lo, Yesa?" Tanya Dea.



"Itu..." ucap Yesaya lama berpikir.



"Ada perlu sama Yesi." jawab Yesaya lagi.


"Seharusnya lo nggak ke kelas ini, tapi ke kantin." ucap Dea sambil mengangguk.


"Emang ada apa di kantin?" tanya Yesaya bingung.



"Pak Harry di kantin ngobrol sama Yesi." jawab Dea lagi.



Mata gue melotot sepenuhnya dengar nama Pak Harry, dengan cepat gue berbalik. Saat ini keinginan kuat gue adalah ke kantin. Tapi, lagi-lagi tangan gue ada yang narik, siapa lagi kalo bukan Dea.



"Mau kemana?" tanya Dea mencegah.



"Mau ke kantin, Lah!" jawab Yesaya tanpa sadar, gue ngomong sinis. Mungkin efek Yesi sedahsyat ini.



"Bareng sama gue aja. Tapi, kita harus ke ruang OSIS dulu, ada yang pengen gue ambil." ucap Dea.



"Dea, gue ngga-." ucapan gue kepotong begitu saja.



Dea sudah menyeret gue menuju ruang OSIS yang berlawanan dari arah kantin. Ih, Dea bener-bener udah bikin gue kesel, nanti keburu Pak Harry sama Yesi pergi, gimana?



Gue menggigit jari, pasalnya gue jadi greget banget sama Dea. Gue kira sebentar aja, tapi sampai ke menit 20 masih nggak ada tanda-tanda dia keluar dari ruangan OSIS.



"Masih lama, Dea? mending gue duluan aja." teriak Yesaya.



"Sebentar, barangnya belum ketemu." ucap Dea berjongkok di depan meja, kayanya dia lagi menggeledah isi laci, entah nyariin apa, gue nggak tahu?



"Cepetan, dong!" teriak Yesaya lagi.



Dea mendongak.



"Lo ngapain, sih, buru-buru ke kantin?" ucap Dea kesal, kemudian menunduk lagi.



"G- gue laper. Iya laper!" ucap Yesaya matanya mengerjap cepat.


__ADS_1


"Sudah ketemu Dea?" tanya Yesaya lagi.



Dia Menggoyang-goyangkan dompet. Ah, rupanya nyariin dompet toh.



"Dari tadi, dong!" protes Yesaya.



Dia terkekeh. Kali ini gue yang menyeret Dea. Kami berjalan menuju kantin.



Di sepanjang koridor menuju kantin banyak siswa berseliweran. Sekarang, Yesi jauh lebih penting. Titik!



"Pelan-pelan, dong, Yesa. Gue tahu lo laper, tapi nggak nyeret-nyeret kayak banteng gini juga!" ucap Dea protes tapi dia nggak mencoba ngelepasin tangannya.



Kami berdua memasuki kantin, tatapan gue langsung tertuju pada bangku pojok. Dua orang manusia berbeda jenis kelamin sedang makan berduaan dengan santainya. Si gadis tengah tersenyum, si pria dengan wajah datarnya.



Gue berteriak, BAGUS!!!



Tiba-tiba semua penghuni kantin menatap ke gue, Dea, Pak Harry dan Yesi juga.



Gue menatap balik Yesi. Tapi, yang herannya, tatapan Yesi bukan ke wajah gue.



Gue ikutin pandangannya, setelah sadar, dengan cepat gue ngelepasin tangan Dea yang sedari tadi gue pegang.



Dea mendekat, dia berbisik pelan.



"Lo ngapain teriak-teriak?" tanya Dea berbisik.



Pertanyaan Dea nggak gue jawab. Yesi kini melotot gue tajam, kedua tangannya terlipat angkuh di depan dada. Gue meneguk ludah gugup. Waduh, rencananya gue kepengen marahin Yesi, tapi kenapa nyali gue yang menciut duluan.




Gue menuju rumah Yesi untuk menjemputnya. Tapi, sampai waktu Maghrib tiba, Yesi nggak mau gue ajak ikut.



Padahal gue sudah dandan rapi, semprot parfum sana-sini, kurang apalagi?



"Sayang ikut yuuk ke rumah Uli! Teman-teman sudah pada ngumpul." ucap Yesaya merengek udah kaya anak kecil.



Tidak di dengerin.



"Yesi?" panggil Yesaya.



Tidak di jawab.



"Sayang?!" ucap Yesaya dengan suara lirih, dari panggilan yang lembut, sampai teriak-teriak masih tetap nggak di gubris Yesi. Nih bayi maunya apa, sih? gue gemes banget, gemes pengen gendong bawa dia ke dalam mobil!



"Pacarnya sendiri manggil bukannya nyahut, malah pura-pura tuli!" ucap Yesaya bertolak pinggang dan melotot ke arah Yesi.



Dia bangkit, kali ini dia duduk bersandar di sofa, hape di letakkan nya di atas meja. Yesi melipat ke dua tangannya ke dada sambil menatap gue.



"Apa?" tanya Yesi sengit.



"pasti kamu mau ke rumah Uli mau ketemu Dea?

__ADS_1


apa hubungannya coba Uli sama Dea?" tanya Yesi kesal.


Nih Yesi kayaknya kebanyakan ngirup angin. Buktinya dia nggak nyambung, gue ngomong apa? Dia jawab apa. Untung pacar gue! untung gue sayang banget sama dia.



"Uli, ya Uli, Dea ya, Dea. Mereka nggak ada hubungannya! Yesi aja yang nggak nyambung!" ucap Yesaya dengan suara tegasnya.



"Kamu yang tidak nyambung, Yesa. Dea itu adalah sepupunya Uli, dan dia tinggal satu rumah sama Uli." jawab Yesi menjelaskan.



Perlahan gue mencerna perkataan Yesi. Gue paham kata-kata dia, tapi disini yang bikin gue nggak paham itu, kok dia tahu banget seluk beluk Uli sama Dea?



"Darimana Yesi tahu?" tanya Yesaya heran dalam hati, siapa yang nggak heran coba?



"Yesa, Yesi ini lebih dulu kenal Dea. Jadi apapun yang berkaitan dengan teman sekelas Yesi lebih mudah mendapatkannya, apalagi cuma masalah kecil seperti itu!" ucap Yesi terdengar nada bangga ucapannya.



"Jadi intinya ngapain, Yesi nyelidikin Uli?" ucap Yesi lagi.



Kini gue ikut duduk di samping Yesi. Capek gue berdiri lama-lama dan berdebat dengan Yesi yang nggak ada habisnya.



Bukan hanya Uli, tapi semua teman yang dekat sama kamu.



"Loh. Ngapain?" Maksudnya?" ucap Yesaya bingung.


"Dia itu teman baik kamu!" jawab Yesi sambil menghembuskan napasnya.


"Ya, wajar. Uli itu kan teman sekelas gue. Jadi harus dekat, dong!" jawab Yesaya.



"Terserah kamu. Sudah, Yesi, capek. Ingin tidur!" jawab Yesi.



Yesi bangkit, dia ninggalin gue gitu aja. Gue berteriak.



"Loh, Yesi. Kapan kita berangkat ke tempat Uli?" tanya Yesaya.



Nihil, dia nggak ngejawab gue. Yang gue denger hanyalah debuman pintu kamar yang di tutup dengan kencang.



Gue cuma bisa mendengkus, kemudian mengambil hape yang sedari tadi tersimpan di dalam kantong jeans gue.



Di sana hampir banyak notif  chat dari group kelas gue, ada beberapa chat dari Ryan dan Uli.



Yang pertama gue buka chat dari group kelas. Di sana ada beberapa foto mereka saat pesta barbeque. Setelah gue lihat-lihat, ternyata bukan cuma gue yang nggak ikut, tapi Ivan juga. Gue membuka chat dari Uli.



Dea : lo nggak ikutan party di rumah gue ?



Dea : Ralat, rumah Uli. Intinya, gue tinggal  bareng sama keluarga dia.



Me : nggak diizinin nyokap.



Kebohongan dari sekian banyaknya kebohongan gue sama teman. Tapi, mau gimana lagi? Jujur pun buat apa? Kalo gue jujur, kesannya kaya kepengen banget ngungkapin kesemua orang kalau gue itu pacaran sama Yesi. Jadi, jangan salahin gue. Gue bohong buat ngelindungin diri gue sendiri, kok. Nggak ada niat lain!



Selanjutnya gue buka chat dari Ryan. Isinya nggak jauh beda sama Uli, dia nanyain kenapa gue nggak ikut, terus Ryan juga ngasih tahu kalau dia kaget kalo ngeliat Uli sama Dea itu sepupu. Chat dari Ryan nggak gue balas.



Dengan berat hati gue bangkit, melangkah pulang. Gue tuh sebel banget sama Yesi, dia tuh nggak ngerti gue. Gue itu jarang banget ngumpul sama teman satu kelas, sekali pengen ngumpul malah Yesi nggak mau nemenin.



Gue pamit sama Yesi dan pulang membawa setumpuk rasa kecewa.

__ADS_1



Gue coba memejamkan mata sambil tersenyum memikirkan hal bodoh tadi yang membuat kami saling cemburu gara-gara hal yang sama. Dan, gue nggak nyangka kedekatan gue sama Dea membuat Yesi cemburu. Kalau gitu, gue sering-sering aja deket-deket sama Dea. Karena gue suka ngeliat Yesi cemburu.


__ADS_2