Pacarku Kakak Kelasku

Pacarku Kakak Kelasku
EPILOG


__ADS_3

           Lima tahun kemudian......


         "Oma...." pekik Isa kegirangan.


     Baru saja kami membuka pintu rumah Mama sama Papa, Isa sudah berteriak dan berlari ke arah mereka.


       "Eh, cucu Oma datang kok gak kasih kabar Oma kalau datang." ucap Yolanda memeluk Isa dan memeluknya berkali-kali.


Isa menguraikan pelukannya dan berpindah pada Papa.


     "Bial jadi kejutan, Oma, Isa juga kangen Opa." ucap Isa.


       Papa tersenyum dan mengusap pipi Isa.


"Opa juga kangen sama Cucu yang paling cantik." ucap Zain tidak mau kalah.


          Gue dan Yesi mendekat untuk menyalami mereka satu persatu. Setelahnya kami bersama menuju ruang tamu untuk mengobrol.


      Mbok surti datang dengan membawa nampan yang berisi minuman dan camilan, setelah itu dia pamit kembali ke belakang untuk meneruskan pekerjaannya.


      "Bagaimana pekerjaan di perusahaan, Yesa?" tanya Zain pada putranya.


         "Berat, Pa." ucap Yesa meringis sambil mengelus punggung tangan Yesi.


     "Yesa jadi nggak punya waktu banyak untuk keluarga, belum lagi pekerjaan kantor yang begitu menguras tenaga." ucap Yesa lagi.


       "Dinikmati saja, seiring dengan berjalannya waktu, kamu akan terbiasa namanya juga proses pasti tidak ada yang di dapat secara instan. Nantinya kamu akan terbiasa. Apalagi sekarang kamu seorang ayah, ada anak dan istri yang harus kamu tanggung." ucap Papa memberi support dukungan.


          "Iya, Pa." jawab Yesa.


      "Jadi, kamu ada rencana memberi Isa adik?" tanya Yolanda yang sedari tadi asik bermain dengan Isa kini menoleh pada kami.

__ADS_1


         "Ih, Mama ngomongnya blak blakan gitu,sih?" protes Yesi dan seketika wajah Yesi memerah, dia bersembunyi di lengan gue.


         Kalau sedang salah tingkah, Yesi mencubit tangan gue dan tersenyum malu-malu seperti sekarang.


       "Lagi proses buat, Ma." jawab Yesaya seadanya.


       "Kapan, Daddy? Isa nggak sabal punya adik, bial Isa nggak kesepian ada teman main di lumah." jawab sekaligus tanya Isa.


      "Tuh dengerin!" ucapbYolanda membenarkan ucapan Isa.


"Biar Isa nggak kesepian ya, kan? Oma juga senang kalau punya banyak Cucu, kalau bisa ada sepuluh orang. Biar rumah Oma nggak sepi." ucap Yolanda lagi.


         "Mama kira Yesi kucing, sekali melahirkan keluar banyak?" ucap Yesi.


     "Ya kan kata Mama kalau bisa, kalau nggak, seadanya saja." ucap Yolanda kembali.


        Gue dan Papa tertawa bersamaan mendengar percakapan Yesi dan Mama. Dua orang itu benar benar duplikat. Darah Mama rupanya lebih kental di tubuh Yesi daripada darah Papa.


       


     Saat permintaannya terpenuhi, Isa melambai-lambaikan tangan dan tersenyum lebar di atas kuda. Dia enggak tau saja kalau gue dan Yesi sangat cemas takut kalau Isa terjatuh.


       Selesai naik komedi putar, Isa membawa gue dan Yesi ke penjual permen kapas. Isa juga merengek agar kami berdua ikut memakan permen kapas seperti dirinya.


    Sebenarnya gue enggak suka makanan manis, tapi kalau Isa meminta, mau enggak mau gue harus menurutinya.


      "Daddy, Isa mau naik bianglala. Ayo Daddy?" ucap Isa meminta.


       "Isa, jangan lari lari gitu!" ucap Yesi mengejar Isa yang ada di depan kami, tapi itu terlambat, karena Isa menabrak pejalan kaki.


       "Tuh kan, apa Mommy bilang. Disini banyak orang, badan kecil kamu enggak terlihat kalau jatuh." ucap Yesi memberikan pengertian pada Isa.

__ADS_1


        Bukannya menangis, Isa malahan tersenyum lebar.


"Maafin Isa, Mom?" ucap Isa pada Yesi.



Gue ikut berjongkok di samping Yesi.



"Sudah sudah, tidak ada yang sakit, kan?" tanya Yesa.


      "Nggak ada, Dad. Isa kuat." ucap Isa dengan senyuman manisnya.


     "Sekarang jadi naik bianglalanya?" tanya Yesi melihat wajah Isa yang begitu senang.


       "Jadi jadi." ucap Isa memekik antusias, masing-masing tangannya menggenggam tangan gue dan tangan Yesi. Kami membeli tiket terlebih dulu dan ikut mengantri.


      Didalam kincir angin, Isa tidak berhenti berbicara. Dia kagum dan menunjuk hal yang menarik menurutnya. Dengan sabar Yesi menjelaskan, sedang gue hanya memperhatikan mereka dalam diam dan ikut tersenyum.


      Saat di puncak tertinggi pandangan gue dan pandangan Yesi bertemu, gue berbicara tanpa mengeluarkan suara. Lebih tepatnya hanya gerakan bibir saja.


     "I love you?" ucap Yesa tersenyum lebar.


     "I love you, too." ucap Yesi lewat gerakan mulutnya. Tapi semua itu tidak berlangsung lama, karena suara cempreng Isa meneriaki kami.


     "Mom, Dad!" dengelin Isa ngomong!" ucap Isa yang tiba-tiba marah.


      Seketika tawa gue dan Yesi pecah saat mendengar Isa mengomel.


                        **TAMAT**

__ADS_1


__ADS_2