Pacarku Kakak Kelasku

Pacarku Kakak Kelasku
Naik kelas


__ADS_3

Kini yang tersisa di teras rumah hanya gue dan Yesi. Gue bergegas mengambil selang air buat menyiram tanaman, sedang Yesi asik dengan bunga-bunga yang ada di taman rumah gue.



Awalnya keinginan gue cuma mau nyiram tanaman aja, namun tiba-tiba ide jail gue timbul. Pelan-pelan gue berbalik dan mengarahkan selang ke arah Yesi. Dia kaget dengan air yang keluar dari selang yang gue pegang, bahkan kini membasahi badannya.



"Yesa, kamu mau bermain-main air ya?" tanya Yesi mendekat dengan sedikit berlari menuju ke arah gue untuk merebut selang air.


gue terbahak sambil nggak berhenti mengarahkan selang air ke arah Yesi.


"Iya, saya kasian liat Yesi nggak punya teman main!" ucap Yesaya yang menjadi sasaran dia adalah wajah Yesi. Lihat, bahkan dia sampe berbalik karena nggak kuat mukanya gue siram terus dengan air.


Wajah Yesi menghadap kebelakang namun langkah kakinya terus maju dan tangannya mengulur kedepan untuk merebut selang air yang sedari tadi gue pegang. Saat tangan Yesi berhasil menggenggam tangan gue, dengan tergesa dia mencari tombol air agar tidak keluar lagi.



Yesi memeluk tubuh gue erat ke dalam kungkungannya kemudian menyalakan kembali selang air dan mengarahkannya ke wajah gue.



Mata gue pejamkan karena semburan air, tapi gue terbahak-bahak sampe air masuk ke dalam mulut. Bahkan gue sampe menutupi wajah dengan ke dua telapak tangan gue buat menghalau semburan air yang di semprotkan Yesi ke muka gue.



Yesi langsung mematikan air dan menaruh selang pada tempatnya. Kedua tangannya menarik wajah gue, otomatis gue ikut mendongak.



" Apa Yesi terlalu kelewatan?" tanya Yesi sambil menatap tepat di mata gue.



sambil tersenyum lebar gue menggeleng.



"Nggak kok." ucap Yesaya, padahal itu semua bohong. Gue sampe lemas gara-gara terhirup air, bahkan kepala dan hidung gue sakit.



"Ya udah, sekarang kita membersihkan badan. Nanti Yesi buatin secangkir susu hangat buat Yesa." ucap Yesi dengan senyuman lebar.



Kami berdua masuk kedalam rumah. Yesi menggunakan kamar mandi yang ada di lantai satu, sedangkan gue menggunakan kamar mandi yang ada di lantai dua.



Setelah membersihkan badan dan memakai baju, gue kembali turun ke bawah. Di tangga gue berpapasan dengan Yesi. Tubuhnya hanya dililit piyama merah muda yang terbungkus sempurna di tubuhnya. Tangan gue berpegangan erat pada pegangan tangga, gue hanya melirik saja saat Yesi melintas sambil beberapa kali gue meneguk ludah gugup.


__ADS_1


Gue menuju dapur untuk membuat susu hangat untuk kami berdua. Rencananya tadi Yesi yang buat, tapi karena gue duluan yang kelar mandi maka sekalian gue saja yang membuatnya.



Yesi sudah duduk manis di depan televisi. Dia mengalihkan pandangannya dari televisi ke arah gue sambil memperlihatkan senyum manisnya.



"Seharusnya Yesi yang buat susu hangatnya." ucap Yesi, dia menggeser duduknya, memberi celah untuk gue duduk di sampingnya.



"Gue atau Yesi sama aja, sama-sama bikin susu." ucap Yesaya, menyerahkan satu cangkir susu hangat pada Yesi, tangan kanan gue memegang satu cangkir buat gue sendiri.



Sambil berusaha meniup-niup cangkir yang berisi susu hangat, tangan kiri gue gunakan untuk mengambil remote TV untuk mengganti-ganti channel. Mencari tontonan yang memiliki pengetahuan, sampe tiba-tiba jari gue berhenti memencet tombol remote TV, ada satu siaran memberitakan tentang Jelita yang tengah keluar dari bandara Soekarno Hatta dengan di dampingi managernya dengan caption setelah lima tahun menetap di Paris, kini Jelita Sofia kembali untuk menetap di Indonesia.



Gue melirik Yesi pandangannya lurus ke arah televisi. Dia nggak berekspresi apa-apa cuma tertegun kaku.



Hari ini hari pertama gue kembali ke sekolah setelah menghabiskan satu minggu penuh liburan. Pukul 7.00 gue baru tiba di sekolah, karena gue bangun kesiangan. Mungkin efek dari liburan mata gue nggak terbiasa lagi bangun pagi-pagi bahkan gue melewati sarapan pagi yang sudah Mama siapkan.




Tepat pada saat gue menuruni anak tangga sekolah gue, tiba-tiba gue teringat ada yang tertinggal. Gue lupa ngambil topi.



Dengan terpaksa gue membalikkan badan menuju kelas untuk mengambil topi. Dasar nasib gue emang nggak beruntung, sampe seisi tas gue keluarin semua tapi gue belum menemukan topi yang gue cari. Gue berpikir sejenak. Setelah beberapa detik, gue menepuk jidat, bisa-bisanya gue melupakan benda keramat di hari Senin?


nnnLalu dengan langkah gontai gue keluar kelas dan terpaksa ikut di barisan murid yang atributnya tidak lengkap. Gue nggak menyangka murid yang tidak membawa topi di hari senin ternyata jumlahnya lumayan banyak. Bahkan ada beberapa murid yang tidak memakai dasi. Dan di antara murid-murid itu ada Fajri dengan senyum lebarnya menatap gue. Gue mengambil barisan di samping Fajri.


"Lo parah topi pakai, dasi nggak?" ucap Yesaya, sambil berbisik bicara ke Fajri.



"Biasa, Yesa. Kalo abis libur lupa naroh di mana gitu. Lo juga, kenapa nggak pake topi?" ucap Fajri sambil terkekeh.



"Gara-gara kesiangan, gue lupa bawa topi." jawab Yesaya.



"Makanya jangan enak-enak mulu." ucap Fajri.


Mata gue melotot dengan kesel gue cubit lengan Fajri.

__ADS_1


Dia mengusap lengannya.



"Gila! cubitan lo sakit banget,Yesa!" ucap Fajri meringis dan itu membuat gue tertawa puas.



Perdebatan kami terhenti karena upacara bendera di mulai. Seperti biasa,Pak Harry berpatroli dibelakang barisan para siswa untuk mengecek apakah ada murid yang mengobrol selama berlangsungnya upacara.



Ketika tiba di barisan murid yang atributnya tidak lengkap. Mata Pak Harry melotot ke arah gue, dengan isyarat mulut dia bertanya.



"Apa yang lupa kamu bawa, Yesa?" tanya pak Harry.



Gue meringis sambil berkata.



"topi pak ketinggalan di rumah." jawab Yesaya.



membuat Pak Harry geleng-geleng kepala. Kurang lebih satu setengah jam upacara bendera di langsungkan, akhirnya terdengar instruksi kalau upacara bendera telah selesai.



Setelah barisan di bubarkan. Yang tersisa hanyalah kami, semua murid yang tidak memakai atribut lengkap. Pak Harry berdiri didepan, dia menginstruksikan kami untuk memungut sampah dan membersihkan toilet guru sebagai hukuman.



Kami di bagi menjadi dua kelompok, kelompok Fajri yang merupakan barisan pertama membersihkan toilet guru, sedangkan kelompok gue baris ke dua memunguti sampah di halaman sekolah. Lalu kami mulai bekerja.


dua puluh lima menit berlalu, akhirnya hukuman kami selesai. Gue mengelap keringat dan menatap Pak Harry yang sedang duduk santuy di bangku taman sekolah. Dia bercengkrama dengan anak-anak kelas XII - 1 IPA.


Fajri menghampiri gue. Lalu kami berdua menuju kelas bersama.



Karena ini hari pertama sekolah. Jadi, yang kami lakukan hanya mencari kelas baru. Karena status gue sekarang kelas 11- A IPA berada di lantai dua, sebelumnya gue mengambil tas yang masih berada di kelas lama.



Baru setelah itu gue dan Fajri menuju kelas 11-A IPA. Beruntung Uli sudah lebih dulu memilih tempat duduk buat gue, jadi gue nggak perlu pusing mikirin duduk di mana.



Bu Ana, yang menjadi wali kelas kami sekarang sedang berbicara di depan kelas beberapa patah kata, setelah itu beliau keluar. Kelas gue jadi ramai seperti pasar malam.

__ADS_1


__ADS_2