Pacarku Kakak Kelasku

Pacarku Kakak Kelasku
A Day With Yesi


__ADS_3

      Gue duduk di meja makan, gue melihat Mama masih sibuk menyiapkan beberapa makanan untuk makan malam kami malam ini. Sengaja gue mengundang Yesi untuk makan malam bersama kami. Yesi duduk tepat di salah satu kursi sebelah gue dengan wajah datar dan tidak menunjukkan ketidaksukaannya. Hal ini sudah berlangsung sejak Yesi datang tadi sore. Matanya menatap tajam sejak gue turun dari motor Jovan.


      Dengan congkaknya dia menarik tangan gue cepat dan menarik pintu gerbang dengan kasar di depan Jovan.


     Maklum Yesi tidak suka bila gue berteman dengan Jovan, karena sifat Jovan yang egois dan sombong. Karena itu Yesi suka marah bila melihat gue main bersama Jovan.


    Dasar tukang ngambek!


    Rupanya marah Yesi masih bertahan sampai detik ini. Dan hebatnya gue nggak ada niatan untuk minta maaf. Gue nggak salah, iya kan? Orang gue cuma main sama teman kok, nggak lebih. Dianya aja yang berlebihan.


    Setelah menyendok nasi lengkap dengan sayur dan lauknya, gue menyerahkan piring kosong tepat di depan Yesi. Yesi menyendok nasi untuk dirinya sendiri.


      Mulai menyuap satu sendok nasi ke dalam mulut, gue melirik Yesi yang masih belum ada pergerakan.


     "Sayang, tidak makan?" tanya Yesaya.


    Tidak ada jawaban. Gue kembali memasukan sendok yang sudah ketiga, dilanjutkan sendok keempat dan seterusnya. Nasi di piring gue hampir habis, tapi Yesi tidak ada tanda-tanda melepas mode patungnya.


      Bosan-bosan, gue tarik piring yang ada di depannya. Untuk mengembalikan piring kosong ke tempat asalnya.


    Pergelangan gue di tahan Yesi.


     "Apa yang Yesa lakukan?" tanya Yesi.


     "Yesi diam bukan berarti tidak makan, Yesa." jawab Yesi kesal.


     "Terus apa? Mengheningkan cipta?" ucap Yesaya lagi.


    Yesi mencubit bibir gue dengan tangan kanannya.


"Pahamlah, Yesi mau kamu meminta maaf. Kamu tahu 'kan kesalahan kamu?" ucap Yesi dengan suara manjanya.


    "Tidak! Gue menjawab di sertai gelengan, memang apa?" tanya Yesaya.


     Menggeram, Yesi melepaskan tangannya.


"Kamu pulang Sama Jovan dan Pacar kamu ini tidak suka liat kamu main sama Jovan!" ucap Yesi dengan nada menekan.


     "Terus. Yesi mau gue seperti apa?" tanya Yesaya terkekeh.


     "Suapin." jawab Yesi sambil mengedipkan mata ke arah piring yang penuh makanan.


     "Dih......Kaya bocah. Suap sendiri saja!" ucap Yesaya tersenyum.


      Yesi menggeleng tegas, menunjukkan jarinya ke arah piring dan bergantian ke arah mulutnya. Seolah berkata, suapin sekarang!


      Mencibirkan bibir, gue menyendok nasi beserta lauknya. Lalu membawa ke mulut Yesi.

__ADS_1


"Makan yang banyak, ya, sayang, biar badannya makin gede." ucap Yesaya bergurau.


       *****


     Hari minggu. Cuaca cerah, secerah suasana hati gue. Kami berdua janjian bangun pagi sekali untuk jogging di taman depan komplek gue.


     Baru kali pertama jogging bareng Yesi, bukan hanya cuma gue dan Yesi saja yang ada di taman. Tapi, masih banyak lagi. Mayoritasnya pasangan suami istri yang usianya hampir setengah abad. Mungkin mereka ingin sehat di usianya yang tidak lagi muda.


     Puas berlari selama 40 menit. Gue dan Yesi duduk di salah satu taman. Gue meneguk air mineral yang tadi kami bawa dari rumah kemudian menyerahkannya pada Yesi.


    "Yesi, lihat, deh! Tampang mantan gue ada di mana-mana." ucap Yesaya sambil menunjuk random pada segerombolan gadis yang lewat di pinggiran dekat taman.


    "Itu hal yang wajar bila taman di jadikan tempat favorit anak muda." ucap Yesi, kata-kata terakhirnya sangat kecil sekali. Tapi pendengaran gue dengan jelas menangkapnya.


    Tiba-tiba gue di kaget kan para ibu-ibu berkumpul mengelilingi Yesi. Bukan, lebih tepatnya mengelilingi gue.


    "Mas ini rumahnya dengan gerbang berwarna hitam itu, ya?" tanya ibu yang memakai t-shirt berwarna biru muda.


      Mengerjap, gue jadi terlihat bingung.


     "Mas olahraga juga?" tanya ibu-ibu yang lainnya.


     "Istri masnya mana?" tanya ibu yang berdiri di sebelah ibu berwarna biru muda itu, pertanyaan yang terakhir ini membuat tensi gue naik.


     Gue tersisih oleh kerumunan ibu-ibu ini. Kesal, dan rasanya gue pengen teriak.


"ini gue anak Pak Zain. Oy!" batin Yesaya malu.



       Hari ini, gue di rumah sendirian, Mama dan Papa juga Oci  sedang liburan ke Bali. Tujuannya untuk mengisi weekend yang sudah di janjikan sejak lama untuk si kecil Oci. Sebenarnya gue juga di paksa ikut, tapi gue tolak mentah-mentah. Bepergian itu melelahkan.


       Berguling-guling di sofa sambil memainkan hape. Seperti itu saja kegiatan gue selama dua jam lebih sampe gue eneg banget. Akhirnya, gue memutuskan untuk bangkit.


       Gue melangkah menaiki tangga menuju kamar untuk mengambil jaket berwarna coklat agar menutupi badan gue yang kekar atletis.


      Setelah memastikan pintu rumah benar-benar terkunci, barulah gue perlahan berjalan kaki menuju minimarket yang berjarak 200 meter dari rumah. Alasan gue yang mageran ini keluar rumah membeli makanan dan minuman ringan.


       Dengan sekuat tenaga gue mendorong pintu mini market dan langsung menuju rak pajangan snack dan minuman ringan nggak ketinggalan gue juga membeli ice cream magnum, cornetto dan langsung menuju kasir.


      Kebetulan mengantri tidak terlalu panjang, sang pegawai sedang menghitung belanjaan pelanggan lain, berlanjut dengan menghitung belanjaan gue dan menyebutkan jumlah yang harus gue bayar.


      Setelah mengucapkan terima kasih, gue beranjak keluar dari minimarket. Saat hampir sampai di depan pintu, gue berpapasan dengan Bagas. Gue melirik kaget, dia dengan pakaian santainya berlalu begitu saja setelah memberi tatapan sinis.


      Menggelengkan kepala, mencoba untuk tidak peduli. Gue memutuskan untuk kembali ke rumah. Di komplek tempat lingkungan gue tinggal, tidak ada satupun tetangga yang deket sama gue, bahkan untuk sekedar bertegur sapa saja tidak pernah. Bukan karena gue sombong, tapi karena mereka semua tidak memiliki anak seusia gue.


      Rata-rata komplek di sini berisi pasangan yang berusia 20-40 tahun ke atas. Kalo kebetulan mereka menyapa Sok Kenal Sok Akrab. Gue hanya dianggap penghuni komplek ghaib sama mereka. Ada keberadaannya, tapi tidak terlihat di mata mereka.

__ADS_1


      Dari kejauhan, gue melihat cewek bersandar di mobilnya. Yang terparkir tepat di depan rumah gue. Siapa?


      Saat berjarak sejengkal, akhirnya gue mengenali cewek pemilik mobil yaris putih itu.


       "Yesi?" panggil Yesaya.


    Sang empunya nama berbalik dan langsung menyunggingkan senyum.


"Yesi kira nggak ada orang." ucap Yesi mengendikkan kepala ke arah rumah.


     "Ada, kok. Ini di depan kamu." jawab Yesaya menggoda.


     Terkekeh, Yesi berjalan menjauh dari mobilnya dan berhenti tepat di depan gue.


    


    "Mama sama Papa, ada?" tanya Yesi lagi.


     "Lagi ke Bali." jawab Yesaya singkat.


      Gue mempersilahkan Yesi masuk ke dalam rumah. Saat gue tinggal di ruang tamu, Yesi terlihat menyusuri ruangan.


     Sekembali gue dari dapur kemudian kami duduk di sofa. Dengan Yesi berada duduk di samping gue.


     "Yesi, kamu mau ikut gue?" tanya Yesaya.


      "Kemana?" tanya Yesi lagi.


tawaran gue menarik perhatian Yesi, dari pada di rumah nggak ada kerjaan mending kita jalan-jalan.


      "Gue lagi ikut lomba fotografer, dan kebetulan tema nya bebas. Jadi, gue pengen ngajakin kamu ke suatu tempat dan jadiin kamu sekaligus modelnya. Mau nggak? Kalau nggak mau nggak pa-pa, kok?"


       Sesaat Yesi berpikir, kemudian mengangguk.


"Boleh, deh!" jawab Yesi tersenyum manis.


     


      Sebelum pergi, gue mengganti baju. Barulah setelah itu, gue dan Yesi keluar dari rumah dimana mobil terparkir. Mengernyit bingung saat Bu Wati yang berdiri di samping mobil Yesi sambil melongokkan kepala ke arah rumah.


      Saat melihat kami Bu Wati pura-pura berdehem. Lalu dia menangkap kehadiran Yesi, dengan cepat memandangi kami dengan intens.


        "Orangtua nggak ada di rumah langsung bawa cewek. Dasar anak jaman sekarang," ucap bu Wati menggeleng-gelengkan kepala sambil berlalu menuju rumahnya. Untung stok kesabaran gue banyak. Kalau tidak langsung gue geplak tuh janda haus belaian. Suka banget cari masalah sama gue.


         "Siapa?" tanya Yesi.


         "Biasa, tetangga sirik. Hidup gue di kelilingi orang-orang yang sangat sayang sama gue, dia jadi iri juga." jawab Yesaya.

__ADS_1


         Menggeleng-gelengkan kepala, Yesi menyerahkan kunci mobil ke gue dan menyuruh gue masuk, setelah itu dia menyuruh gue yang pegang kemudi mobil.


    


__ADS_2