Pacarku Kakak Kelasku

Pacarku Kakak Kelasku
api cemburu


__ADS_3

"Bapak akhiri materi hari ini, sampai jumpa di hari sabtu depan." ucap pak Beno Dldengan langkah yang ringan Pak Beno keluar ruangan. Menyisakan kami satu kelas yang melongo terheran-heran.


     Sepeninggal Pak Beno, derai tawa mulai terdengar dari mayoritas kaum cowok. Bahkan saking berlebihannya, ada yang menepuk-nepuk meja.


     "sangat masuk akal sekali." ucap Uli dengan tubuh besarnya itu terguncang-guncang dengan tertawa.


"Gue setuju sama jawaban Pak Beno." ucap Yesaya.


       Anjay! bahkan Daffa si ketua kelas yang pendiam saja ikut ngakak.


      "Iya. Makanya, Van jangan PHP IN anak cewek. Karena lo nggak sekuat mereka," ucap Ryan ikut ngakak.


     Anak cewek di kelas ini berjumlah 17 orang mereka semua mulai jengkel mendengar tawa anak cowok. CK! Menyebalkan.


    Bel istirahat berbunyi. Gue, Uli, Ryan dan Ivan menuju kantin bersama-sama. Dan di koridor berpapasan dengan Jovan dan dua temannya.


    Dengan canggung gue melirik Jovan. Di sudut bibirnya tercetak jelas lebam yang membiru.


    Begitu juga Jovan, dia menatap gue balik.


     Sebenarnya gue sedikit takut, dia sudah tahu rahasia paling besar dalam hidup gue. Dengan hal itu, pasti mudah untuk seorang Jovan menebar bibit gosip. Apalagi dengan jabatan berpengaruh dan fansnya bejibun.


     Bagas dan ketiga orang temannya mengeluarkan aura permusuhan dari tatapan mereka. Dengan sengaja mereka menabrak bahu Uli. Gue yang sedari tadi jalan beriringan di samping Uli ikut terbentur matanya.


     Uli menghentikan langkahnya dan berbalik dengan kesal.


"Rusuh! Kalo jalan pake mata!" ucap Uli kesal.


      Geng The King yang pada dasarnya berisi orang-orang paling egois dan sombong itu langsung tersulut. Mereka juga berbalik.


     "*****! Jaga mulut, lo!" ucap Fajri kalah sinis, Fajri mulai menyemburkan bisanya.


     Jovan dan dua temannya yang berjarak sejengkal kini mulai melerai perkelahian itu. Mereka juga ikut berhenti karena perdebatan ini.


     "Sudah-sudah! Kalian mau masuk ruang BK? tau gimana. Kalau Pak Harry nggak segan-segan ngasih hukuman. Kalian juga cukup membuat keributan mengatasnamakan gue! Gue kasihan sama lo semua Sebentar-sebentar ngeributin yang nggak penting!" ucap Yesaya mencoba menasehati.


Tatapan Jovan beralih ke gue.

__ADS_1


"Lo, Yesa! pulang sekolah temui gue di perpustakaan!" ucap Jovan meradang.


       Setelah mengatakan pidatonya, Jovan pergi begitu saja dengan kedua sahabatnya. Kata-kata terakhirnya bukan memadamkan api, justru itu menyulutnya bahkan lebih besar.


     Keadaan sekolah mulai sepi lenggang karena memang sudah jam pulang. Langkah kaki gue mengayun menuju perpustakaan, tempat di mana, Jovan temu janji sepihak.


      Suasana hening menyambut. Pandangan gue mengedar ke sekeliling untuk mencari keberadaan Jovan. Sosoknya duduk tepat di meja yang tengah-tengah. Dengan pasti, gue mendekat dan mendaratkan bokong di kursi yang berhadapan langsung dengan Jovan.


 


     Mendengar pergerakan, Jovan mendongakkan kepalanya. Memandang gue beberapa menit lalu menghembuskan napasnya. "Semenjak kejadian itu bagaimana hubungan kalian?"


   


      Mengerjapkan mata, gue sedikit terkejut mendengar Jovan menanyakan hal itu secara langsung. Gue kira Jovan bakal menyambut kedatangan gue dengan hinaan. Ternyata salah! Gue terlalu banyak berandai-andai hal yang buruk.


     "Baik. Yesi sempat sangat marah, tapi dia maafin gue." ucap Yesaya sambil menunduk.


      "Sukurlah, desahnya. Maaf, sebelumnya gue nggak tau? Gue yang seharusnya meminta maaf. Tidak seharusnya melibatkan lo. Dan jelas salah gue dari awal karena tidak ngomong dengan jujur tentang Yesi." ucap Yesaya lagi.


    Jovan terkekeh, lalu menggelengkan kepalanya.



"Maksud lo, Jo?" tanya Yesaya sambil mengeryitkan kening bingung.


    Kekehan Jovan makin besar.


"Yesa, Yesa, gue bingung, kenapa cewek primadona se Mahardika Internasional School yang bernama Yesenia Maya Kaya bisa-bisanya kepincut sama cowok playboy kaya lo Yesa? Sini gue kasih tahu! Lo itu nggak peka dengan kehadiran seseorang." ucap Jovan terkekeh.


    "Maaf-maaf saja, kalau bukan karena Yesi memiliki kharisma yang berbeda dari cewek lain pada umumnya, mungkin gue juga ogah pacaran sama dia." ucap Yesaya.


     Terlihat ekspresi kaget dari Jovan.


"Serius? Lo sama Yesi udah pacaran? Kok, bisa?" tanya jovan menggebu-gebu.


    "Bisalah... hidup gue beneran kaya di dongeng-dongeng kebanyakan. Gue dan Yesi sama-sama terlahir anak pertama cuma bedanya gue memiliki satu adik perempuan dan Yesi anak tunggal di keluarganya. Saat gue ngenalin Yesi ke Mama dan Papa mereka langsung kepincut dengan sikap Yesi yang ramah juga pengertian begitu pula saat orang tua gue dan orang tua Yesi kita pertemukan mereka malah akrab dan bersahabat. Maka terjadilah...." ucap Yesaya menjelaskan secara detail.

__ADS_1


"Terus? Bagaimana kalian menjalaninya? Secara, berpacaran dengan cewek yang memiliki sifat lebih dewasa bukannya sulit tingkat dewa. kalau tidak salah, sangat sedikit yang berhasil." tanya Jovan antusias.


   


   "Awalnya juga gitu, tapi tidak ada yang mustahil, bukan? Nantinya dua manusia berbeda jenis kelamin tinggal satu atap tidak mungkin selamanya tanpa melibatkan perasaan, seperti yang gue bilang tadi, kehidupan gue benar-benar seperti dongeng. Walau baru saling kenal tapi terikat dalam suatu hubungan, ujung-ujungnya saling cinta juga." ucap Yesaya sambil tersenyum bahagia.


   Tiba-tiba Jovan mendesah. Semangatnya cepat banget berubah-ubah.


    "Lo benar-benar nggak peka, ya? "Apa lo tidak merasa aneh, Yesi tiba-tiba dekat sama lo?" ucap Jovan dengan tawa menyindir.


    "Gini ya, Jo. Gue itu nggak suka mikir yang aneh-aneh. Kalau mau temanan sama gue tidak mempermasalahkan niat mereka tulus atau nggak nya." ucap Yesaya bijak.


   "Itu salah satu sifat yang gue temuin di Yesi. Cewek yang gue liat waktu main rugby. Yesi duduk dengan menjadikan buku sebagai kipas sambil menonton kami latihan. Cewek pertama yang berani mengejek guru killer di sekolah ini." ucap Yesaya kembali.


Sejenak Jovan menarik napas dan menghembuskannya mendengar penjelasan gue.


    "Sejak itu, tiba-tiba aja gue pengen tahu tentang Yesi lebih banyak lagi, Dan kebetulan kita beberapa kali tidak sengaja bertemu. Terakhir kali gue bilang ke Yesi jika kita bertemu lagi, dan dia itu jodoh gue. bukan sekedar hubungan kakak kelas dengan adik kelas, saat itu gue memantapkan untuk mendekati Yesi. Gue nggak suka berlama-lama, karena itu bukan gaya gue. Rencananya gue pengen bertunangan dengan Yesi sesudah kelulusan nanti di tahun depan." ucap Yesaya dengan senyum lebarnya.


    "segitu aja tanggapan lo, Yesa? Gue kecewa," ucap Jovan.


   "Lo mau gue apa? Salto? Kayang? Atau guling-guling?" tanya Yesaya.


    "Kayak sedikit susah ngilangin perasaan gue ke Yesi biarpun dia udah jadi milik lo Yesa. Tapi kita tetap berteman, bukan?" ucap Jovan tertawa.


     "Tentu saja." ucap Yesaya tersenyum.


"Selamat berjuang, Jovan." teriak Yesaya dia ikut mengangkat tangannya. Sedetik kemudian dia mendongak.



"Yesa,  lo nggak lupa, kan? gue masih punya hutang traktiran." ucap Jovan lagi.


     "Tidak, lah!" ucap Yesaya dengan cepat dia mengangguk.


     "Gue mau melunasi sekarang bisa. Bisa?" tanya Jovan.


      Tentu saja. Senyum lebar Jovan terbit. Kami bangkit dan keluar dari perpustakaan bersama-sama.

__ADS_1


    


    


__ADS_2