
"Yesi." panggil Yesaya.
Dia tersentak, dengan cepat Yesi mengalihkan pandangannya pada gue.
"I-iya, Mas." jawab Yesi dengan suara lembutnya.
"Sekarang kita masuk ke kamar! Kata Yesi kelelahan dan minta di pijat?" ucap Yesaya meminta.
"Ta - tapi Yesi mau ngobrol, sama Jovan." jawab Yesi dengan manja.
"Untuk apa?" tanya Yesaya yang tanpa sadar dia meninggikan suaranya. Mereka semua yang ada di ruangan ini jadi terperangah.
"Yesi nggak tahu, Yesi cuma mau ngobrol dengan Jovan." jawab Yesi, dia menangis sesenggukan dan meremas kedua tangannya.
Astaga! Kenapa Yesi aku ini? Gue langsung berdiri dan mengusap wajah dengan kasar.
"Yesa, mungkin Yesi lagi ngidam pengen dekat sama Jovan," ucap Uli.
"Diam!" pekik Yesaya, dia menunjuk tepat wajah mereka satu persatu.
"Kalian bukan yang membawa dia ke sini?" ucap Yesaya kesal.
"Saya hanya ingin bertamu." ucap Jovan mengusap tengkuknya karena nggak enak. Gue menatap tajam padanya.
Tangis kencang Yesi membuat gue memutuskan kontak mata dengan Jovan, dan memilih menatap Yesi yang terisak.
"Jangan marahi mereka, Yesi yang salah, Mas." ucap Yesi merajuk.
Kalau seperti ini, gue nggak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan pelan gue berjongkok dan menenangkannya.
"Sshhh, mas salah. Seharusnya Mas tidak perlu marah-marah. berhenti menangis, Mas nggak akan melarang Yesi dekat dengan Jovan atau siapapun." jawab Yesaya sambil mengusap punggung tangan istrinya.
"Benarkah? apa nggak apa-apa?" ucap Yesi dengan mata berbinar.
"Iya, nggak apa-apa." jawab Yesaya memutar bola matanya malas.
Dia menguraikan pelukannya dan langsung mendekat pada Jovan. Seolah tidak terjadi apa-apa, Yesi sudah kembali tertawa dan hanyut dalam obrolan bersama teman temannya.
Dengan gontai gue menuju kamar dan merebahkan diri di sana.
Selama 30 menit gue memejamkan mata, tiba tiba gue merasakan pergerakan di kasur. Dan seseorang merebahkan kepalanya di dada gue.
"Maafkan Yesi, Mas?" ucap Yesi lagi.
Mata gue sepenuhnya terbuka, dan menemukan Yesi dengan posisi menyamping. Belum sempat gue menjawab, dia sudah mendaratkan ciumannya di pipi gue. Dengan senyuman gue membalasnya.
Beberapa malam ini, gue sering menemukan Yesi Terbangun dari tidurnya dan melamun.
Kadang gue mendengar dia terisak. Entah apa yang dipikirkannya. Tapi gue seolah berpura-pura sedang tidur dan diam diam memeluknya.
Malam ini gue nggak tahan lagi, akhirnya gue memutuskan untuk mengajaknya berbicara.
"Mimpi buruk lagi?" tanya Yesaya.
__ADS_1
Yesi yang awalnya membelakangi gue akhirnya berbalik dan langsung meringsek ke dalam pelukan.
Tapi dia tetap menyisakan jarak agar tidak menyakiti anak kami.
"Yesi hanya takut, Mas. Semakin dekat harinya, Yesi semakin takut." ucap Yesi dengan suara bergetar.
"Mau bercerita?" tanya Yesaya sambil melirik ke arah istrinya yang kesulitan mengambil napas.
"Bagaimana kalau Yesi tidak selamat nanti." jawab Yesi sambil terisak.
Pertanyaan Yesi membuat gue menegang.
Seketika rasa takut ikut menyelinap, membayangkan gue kehilangan Yesi saja gue nggak sanggup, apalagi kalau benar benar terjadi.
"Hei, nggak boleh berpikir seperti itu. Kalau Mommy banyak pikiran Dady sama Baby ikut sedih." jawab Yesaya lagi.
"Mommy sangat mencintai Dady." jawab Yesi akhirnya tersenyum.
"Iya, Dady tahu." ucap Yesaya sambil menenggelamkan wajah Yesi di dada gue dan mengusap rambutnya. Tidak lama, deru napas teratur milik Yesi terdengar, gue mengecup keningnya dan memperbaiki posisi tidur agar dia nyaman.
Sekarang gue yang nggak bisa memejamkan mata. kata-kata Yesi berputar di kepala gue, dan langsung menimbulkan bayangan bayangan buruk.
"Sial! Gue takut sekarang. Benar-benar takut, bagaimana kalau itu benar terjadi? Hidup tanpa Yesi, apakah gue sanggup?" batin Yesaya.
seharusnya gue membenturkan kepala ke dinding. Bisa bisanya gue berpikir seperti itu.
Pagi ini, rumah kami ramai lagi. Karena kedatangan Mama sama Papa. Bahkan lagi lagi mereka membawa perlengkapan bayi untuk kami.
Sedang gue duduk di ruang tamu mengobrol bersama Papa membicarakan masalah pekerjaan.
Pikiran gue kembali di kuasai perkataan Yesi beberapa malam lalu. Rasa takut itu datang lagi, bahkan rasanya lebih besar dan membuat tidak nyaman.
Gue benar benar tertekan karena hal itu, sungguh! Kalau gue saja tertekan, bagaimana Yesi? Rasanya gue menjadi laki laki yang menyedihkan.
Tepukan di punggung membuat lamunan gue buyar, dengan cepat gue menoleh dan menatap Papa dengan penuh tanda tanya.
"Ada rencana bekerja di perusahaan Papa, Yesa?" tanya Zain.
"Untuk saat ini tidak ada, Yesa hanya ingin bersama Yesi sampai dia melahirkan." jawab Yesaya optimis.
"Kamu ini punya dua restoran, apa saat ini berjalan lancar?" Tanya Zain lagi.
"Untuk beberapa bulan ini, restoran Yesa serahkan pada Rasya dan Rizal. Meraka berdua orang kepercayaan, Yesa." ucap Yesaya menjelaskan, Papa mengangguk mendengar jawaban gue.
Tidak lama, seruan Yesi membuat kami mengalihkan pandangan. Dia dengan maternity gaun musim dingin renda lengan berwarna pink terlihat cantik sekali.
Gue sampai tidak berkedip saat Yesi datang membawa nampan berisi cake red velvet.
Di wajah manisnya ada sedikit tepung, gue tersenyum dan langsung membersihkannya.
Yesi bergelayut manja di lengan gue dan mengendus endus.
"Rasanya capek Yesi langsung hilang kalo mencium aroma, Mas." ucap Yesi sambil mencium suaminya.
__ADS_1
"Yesi, kamu nggak malu di dengar kami?" ucap Zain sampai terbatuk mendengarnya.
"Ngapain malu? bukan anak Papa sudah sama-sama dewasa?" jawab Yesi sambil mengerucutkan bibirnya.
Derai tawa terdengar memenuhi ruang tamu. Mama juga baru ikut bergabung sambil membawakan kami minuman dan kue kering.
Kami mengobrol dan juga di selingi tawa, untuk saat ini gue bernapas lega, setidaknya Yesi bisa lupa sejenak akan rasa takutnya.
Pukul dua pagi, gue bangun dan langsung melaksanakan sholat tahajjud. Dengan segenap hati gue berdoa untuk keselamatan dan kesehatan anak istri gue.
Tidak terasa air mata menetes begitu saja. Hal ini wajar, karena lelaki seperti gue juga manusia, gue juga mudah menangis kalau menyangkut seseorang yang teramat gue sayang.
Yesi terbangun dari tidurnya. Dia turun dari kasur dan melingkarkan kedua tangannya di perut dan bersandar di pundak gue. Tubuhnya bergetar karena ikut menangis.
"Maaf karena sudah mengganggu tidur Yesi?" ucap Yesaya sambil menarik tubuh istrinya agar duduk di pangkuannya.
"Maaf karena mengganggu beban pikiran, Mas?" ucap Yesi sambil menggeleng.
"Tidak apa-apa. Kalau ada yang mengganjal di hati dan pikiran, keluarkan saja. Jadikan Mas tempat untuk bersandar dan berkeluh kesah." jawab Yesaya tersenyum lebar.
Yesi terisak, dia semakin mengeratkan pelukannya. Gue ikut sedih melihat kerapuhan istri gue ini.
"Mas sangat mencintai kamu, Yesi." ucap Yesaya sambil mengecup kening Yesi.
Tidak ada jawaban, badannya yang tadi ikut bergetar kini rileks kembali. Gue tersenyum saat mengetahui kalau Yesi sudah tertidur.
Dengan pelan pelan gue mengangkat tubuhnya dan menurunkan di kasur. Gue pandangi lama wajahnya yang sembab dengan hidung memerah. Gue kecup bergantian mata, hidung, dan bibirnya. Terakhir, gue turun pada bagian perut.
"Apa kabar, Baby? Tolong bantu Dady untuk menghibur, Mommy. dia lagi banyak pikiran, sayang." ucap Yesaya yang bahkan nggak berhenti mengecup perut Yesi.
Gue kaget, ternyata dia nggak tidur, dia bahkan merespon ucapan gue dengan tendangan kecil. Ini kali pertamanya gue merasakan malaikat kecil gue menendang, rasanya luar biasa bahagia.
"Kamu ikut sedih juga?" tanya Yesaya Lagi-lagi dia menendang, dan itu membuat gue semangat mengajaknya berbicara.
Ketakutan yang dirasa beberapa saat lalu langsung hilang begitu saja, bahkan gue nggak sadar kalau cahaya pagi mulai mengintip dari balik celah jendela gorden kamar.
Lenguhan kecil dari Yesi membuat gue langsung duduk. Dia terlihat mengusap kedua matanya untuk memperjelas penglihatan.
"Jam berapa?" tanya Yesi, mata gue langsung tertuju pada jam dinding.
"Jam lima lewat empat puluh lima menit." jawab Yesaya.
"Mas." panggil Yesi terlihat malu-malu, bahkan pipinya memerah.
"Mau mandi bareng, Yesi?" ucap Yesi meminta.
Jadi hal ini yang membuat dia seperti itu. Gue tersenyum, kemudian bangkit lebih dulu untuk mengganti baju tidur dengan piyama yang gue kenakan tadi malam.
Lalu gue kembali menggendong Yesi dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Yesi kira, Mas nggak mau?" ucap Yesi terkekeh.
"Apa yang nggak untuk, Nyonya Yesa?" jawab Yesaya ikut terkekeh.
__ADS_1
Yesi memukul kecil dada gue. "Gombal!" ucap Yesi memukul kecil dada suaminya, bertolak belakang dengan pipinya yang bersemu merah.