
Mobil Papa memasuki parkiran rumah sakit. Gue keluar bersama Mama. Ditangan ada kantong makanan yang gue beli di jalan. Entah kenapa, akhir akhir ini nafsu makan meningkat drastis. Kata Mama, itu normal untuk anak seusia gue.
Papa dan Mama berjalan lebih dulu di depan, gue di belakang kini menghentikan langkah saat menangkap sesuatu yang menarik.
"Mama." teriak Yesaya, otomatis dua orang di depan gue menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Ada apa, Yesa?" tanya Yolanda mengeryitkan keningnya.
"Ma, Yesa pengen beli buah. Itu di seberang ada yang jual." jawab Yesaya menunjuk ke arah toko buah.
"Iya, tapi lihat-lihat kalo nyebrang, Yesa." ucap Yolanda sambil mengangguk dan mengambil kantong jajanan dari tangan gue.
Sedikit tergesa, gue berlari kecil menuju penjual buah. Kebetulan jalan di sekitar rumah sakit sedang lenggang, itu mempermudah gue.
Tidak tanggung-tanggung gue membeli 3kg buah apel merah, 3kg buah sunkist dan 3kg buah anggur. Setelahnya gue kembali menuju rumah sakit.
Di koridor, gue berpapasan dengan Suster Elly dan sedikit memberikan senyuman untuknya.
"Yesa?" panggil Diego.
Mendengar ada yang memanggil, gue menoleh dan langsung terkejut. Antara percaya dan tidak, seseorang yang memanggil gue adalah Diego.
Dia terlihat pucat dan di sampingnya berdiri gadis muda belia.
"A - aku ingin berbicara pada kamu." ucap Diego
Ada rasa benci melihat pria ini lagi, tapi membuat banyak pertanyaan bermunculan, maka gue harus mengesampingkan perasaan itu.
"Saya juga! terlalu banyak yang ingin saya tanyakan!" jawab Yesaya tegas.
Dia menunduk, gue kasihan melihat itu.
Di mana sifat angkuhnya dulu? dan lagi, kenapa dia bersama gadis lain sedangkan Yesi, kekasihnya berbaring tidak sadarkan diri.
Kaki gue melangkah menuju taman rumah sakit. Dari sudut mata, gue menangkap Diego merangkul gadis itu. Dalam hati, gue berkali-kali mencibir kesal, seperti ini pria yang di cintai Yesi? sungguh buta sekali dia.
Di bangku bercat putih, gue duduk dan menatap lurus ke depan. Diego mengambil posisi duduk di samping gue. Gadis yang gue tahu bernama Melisa memberikan privasi kepada kami. Sebelum beranjak dia mengusap punggung tangan Diego dan mengatakan.
"it's ok." jawab Melisa.
__ADS_1
Dan itu menambah kebencian gue berkali-kali lipat. Apa yang ada di pikiran pria ini? Dia bermain dengan dua wanita.
Selama beberapa menit, tidak ada yang memulai bicara.
"B - bagaimana keadaan, Yesi?" tanya Diego membuka percakapan.
"Bagaimana katankamu? seharusnya kamu sudah mengetahui jawabannya!" jawab Yesaya.
"A-aku, maafkan aku?" ucap Diego lagi.
Tangan gue terkepal erat dan enggan menjawab.
"Yesi seperti ini sekarang gara-gara aku." ucap Diego menyesal.
Gue menelan ludah keluh. Sebegitu cintanya Yesi, sampai dia rela kecelakaan demi Diego?
Gue mengangguk mengerti, tanpa menunggu Yesi siuman dan mendengarkan penjelasannya. Gue tahu keputusan apa yang harus gue ambil.
Dengan cepat gue berdiri, karena merasa pertanyaan gue sudah terjawab. Bahkan jawabannya sangat memuaskan sebelum gue bertanya.
Belum sempat gue melangkah menjauh, pergelangan tangan gue di tahan. Tanpa menoleh gue tahu itu ulah Diego.
"Apalagi yang perlu di jelaskan? semuanya bagi gue sudah jelas! Jelas kalau gue salah karena berada di antara kalian!" jawab Yesaya menatap ke arah Diego.
"Tidak! aku yang salah! aku menjebak Yesi! Aku yang membuat dia datang ke club untuk menemui aku dan mengancam kalau dia tidak datang aku akan mencelakai kamu dan Yesi sama sekali tidak tahu akan hal itu." ucap Diego dengan suara bergetar.
Mata gue terbelalak kaget mendengarnya, secepat kilat gue berbalik menatap tajam Diego.
"Dasar kamu laki-laki brengsek!" ucap Yesaya kehabisan kata-kata untuk menyerapahi pria ini.
"Aku tahu terlalu terobsesi dengan Yesi, sampai hal apapun aku lakukan untuk mendapatkan cintanya! Dan sore itu,Yesi datang. Dia bahkan meminta bantuan, memohon untuk menjelaskan pada kamu kalau itu hanya kesalahpahaman." ucap Diego dengan suara serak, dia memohon dengan setengah memaksa dan merendahkan dirinya.
"Kamu tahu,Yesa? hati aku sakit melihatnya seperti itu, dia terlalu mencintai kamu sampai melakukan hal-hal rendah! Egoku sangat tinggi, tentu saja aku tidak mau menuruti kemauan, Yesi. Bahkan aku memilih berlari di banding melihat hubungan kalian membaik." ucap Diego tersenyum sinis.
Tubuh gue bergetar hebat mendengar penjelasan Diego. Lagi lagi gue terduduk lemas di rerumputan hijau. Sesak dada gue mendengar hal itu. Sangat sesak sampai gue benar benar sulit bernapas.
"seharusnya aku yang tertabrak, tapi Yesi menyelamat aku.Yesi memilih mendorongku. Sebagai ganti tubuhnya yang tertabrak mobil. Dan sebelum kesadarannya benar benar hilang, dia memohon padaku untuk menjelaskan padamu kalau aku dan Yesi tidak memiliki hubungan seperti yang kamu kira, Yesa." ucap Diego dengan tatapan datar.
Diego meremas rambutnya dan tubuhnya semakin bergetar.
__ADS_1
"A - aku bersalah pada kalian, maafkan aku." ucap Diego dengan suara bergetar.
"Tidak Diego! sampai kapanpun gue nggak akan pernah memaafkan kamu! biar rasa bersalah menghantui kamu sampai kapanpun! ingat itu Diego!" ucap Yesaya sambil telunjuknya teracung di depan muka Diego.
Tanpa menunggu apa-apa lagi, gue berlari pergi dari hadapan Diego.Tangan gue terkepal menahan rasa sakit bercampur sesak di dada karena sangat membenci Diego.
Membenci dia yang ada di tengah tengah gue dan Yesi, membenci dia yang menghancurkan hubungan kami, dan benci karena membuat gue tidak mempercayai Yesi.
Dengan kencang gue mendorong pintu ruang ICU dan mendekat ke tempat Yesi berbaring lalu duduk dan mengambil tangannya, gue mencium punggung tangan Yesi.
"Seharusnya gue mempercayai kamu, Yesi. Seharusnya gue mendengarkan penjelasan Yesi lebih dulu. Gue yang salah! seharusnya gue yang pantas di hukum!" ucap Yesaya, dia memukul-mukul dada yang terasa semakin sesak.
Mama mendekap tubuh gue yang bergetar.
"Yesa, ada apa?" tanya Yolanda lembut sambil menggenggam tangan gue.
"Yesa bersalah, Mama. Yesa seharusnya mendengarkan penjelasan, Yesi. Seharusnya nurutin kata-kata, Mama." jawab Yesaya sambil menunduk.
"Yesa, dengar! Kamu tidak salah apa-apa! Ini hanya musibah, bukan salah kamu." ucap Yolanda sambil memegang pundak putranya.
"Tapi seandainya Yesa mendengarkan penjelasan Yesi dan lebih memilih mempercayainya, pasti Yesi nggak akan berbaring koma seperti ini." ucap Yesaya suaranya serak dan melemah.
Badan gue terasa hampir tidak ada tenaga, bahkan kini lemas sambil menatap Yesi nanar.
"Tidak, sayang! Ini bukan salah kamu atau siapa-siapa," ucap Yolanda dengan lembut dia mengusap punggung tangan gue.
Di ruangan ini hanya gue dan Mama. Papa sudah kembali ke kantor, Mama Siska pulang begitu juga Papa Roman dia sudah kembali ke kantornya.
"Mama bisa tinggalin Yesa sama Yesi?" ucap Yesaya meminta.
"Iya. Mama kasih waktu untuk kalian berdua. Tapi, janji! jangan sakiti diri kamu, Yesa. Ingat!" jawab Yolanda tersenyum bijak.
Mata gue mengerjap, dengan sesak gue mengangguk kearah Mama.
"Mama keluar dulu. Kalau ada apa-apa, langsung telpon ya, Yesa?" ucap Yolanda sambil beranjak keluar.
"Maafkan gue, Yesi. Maaf? gue egois lebih memilih mendengarkan kebohongan daripada mempercayai Yesi." ucap Yesaya sambil menelungkupkan kepala.
__ADS_1
Tangan gue menggenggam tangan Yesi erat dan mengusapnya pelan. Seandainya gue di posisi Yesi, gue nggak bakal tahu bagaimana sakitnya. Tidak di percayai oleh orang yang di sayangi itu sangat menakutkan. Bahkan untuk membayanginya saja gue nggak bakalan sanggup.