Pacarku Kakak Kelasku

Pacarku Kakak Kelasku
yesa: posesif


__ADS_3

     "Yesi, diminum susunya. Setelah itu kita bergegas ke rumah sakit untuk cek kandungan." ucap Yesaya.


       Istri manisnya ini sedang duduk di ruang Tv. Dia makan roti panggang sambil menonton film kartun frozen. Gue duduk di samping menemaninya.


      Matanya tidak lepas dari layar datar itu, Mulutnya tidak berhenti mengunyah, bahkan dia tidak menjawab kata kata gue.


      Memasuki usia kandungan tujuh bulan, Yesi semakin manja. Bahkan dia tidak pernah lagi membantu Mama di dapur, karena setiap kali dia mencium  bau aroma masakan ataupun  bau sesuatu apapun dia akan muntah.


        Sebenarnya gue kasihan, tapi nggak ada yang bisa gue lakukan selain memberikan kasih sayang yang luar biasa untuknya.


      "Sayang, minum susunya?" ucap Yesaya sambil menarik dagu Yesi agar dia menoleh.


      Matanya mengerjap lucu, pipinya mengembung karena mengunyah roti panggang. Pandangan gue bahkan tidak sedikitpun berpaling.


       "Iya, Yesi minum. Tapi habisi roti panggang nya dulu, ya?" ucap Yesi, setelah mengatakan itu, dia menoleh kembali ke arah televisi.


       Gue hanya menghela napas, Yesi ini semakin membangkang saja. Bukannya menurut, dia malah berlama-lama mengunyah roti panggang,  kadang dia terpaku diam beberapa detik pada TV, setelah itu makan dalam gerakan lambat.


      Dan gue memutuskan untuk kembali membaca novel. Beginilah pekerjaan kami, tidak mempunyai pekerjaan serius yang dilakukan. Bahkan beberapa bulan ini, gue menyerahkan restoran  sepenuhnya pada Rasya. Dia manager restoran yang ada di Jakarta. Dan Rizal, manager Restoran yang ada di Tangerang. Mereka adalah orang kepercayaan gue.


       Biasanya gue akan melakukan kunjungan satu bulan sekali atau tiga bulan sekali, tapi di tahun ini sepertinya tidak bisa. Karena gue masih belum bisa meninggalkan Yesi.


       "Ada apa?" tanya Yesaya membuat dia mendongakkan kepalanya.


     "Yesi tidak habis Mas. Sudah kenyang sekali." ucap Yesi sambil menyerahkan roti panggangnya.


    "Tentu saja kenyang, sudah dua roti panggang yang masuk ke dalam perut kamu, Yesi." ucap Yesaya terkekeh.


       "Ini permintaan, Baby. Mau tidak mau Mommy harus memenuhinya." ucap Yesi mengerucutkan bibirnya.


      "Iya, sayang, sekarang minum susunya." ucap Yesaya sambil mengacak puncak kepala istrinya.


     "Ugh, Mas tahu bukan Yesi itu nggak suka bau susu." ucap Yesi refleks menutup hidung.


         "Tetap harus di minum, nggak boleh banyak alasan." ucap Yesaya sedikit memaksa.


     "Dasar pemaksaan." ucap Yesi dan meraih gelas susu. Seperti biasa tangan kanan memegang gelas, tangan kirinya menjepit hidung.


    Kami berada di ruang Dokter Vina untuk memeriksa kandungan Yesi. Dan tentu saja gue yang memilih dokter perempuan, gue nggak akan rela ada laki-laki lain menyentuh Yesi. Walaupun itu Dokter sekalipun!


        Mulai dari mengukur berat badan, memeriksa tekanan darah, dan yang terakhir memeriksa denyut jantung. Gue bahkan terpaku menatap layar komputer, di sana menampilkan bayi kecil.


        Detak jantungnya seolah terdengar nyaring di telinga gue. Tanpa sadar gue menggenggam erat tangan Yesi.

__ADS_1


        Selesai USG, kami kembali duduk. Dokter Vina terlihat sibuk mencatat di kertasnya. Gue sibuk tersenyum bahagia sambil mengecup punggung tangan Yesi.


      Sungguh, dia memberikan kebahagiaan yang tak terkira untuk gue.


        "Selamat, pak, Bu. Bayinya sehat dan berjenis kelamin perempuan." ucap Dokter Vina tersenyum, dia menyerahkan hasil USG pada kami.


       Yesi memandang gue dengan mata berkaca-kaca. Dia terlihat sangat senang dan bahagia, gue mengusap punggungnya sambil mengangguk.


       "Dan ini resep yang harus Bapak tebus." ucap dokter Vina menyerahkan secarik kertas resep pada gue.


     "Tekanan darah Bu Yesi sedikit tinggi, jadi saya sarankan untuk mengontrol emosi dan pola makan, selain itu tidak ada yang perlu di khawatirkan." ucap dokter Vina tersenyum.


       "Terima kasih, Dok." ucap kami serentak menjabat tangan dokter Vina.


"Sama sama." Jawab dokter Vina.


         


     Setelah dari rumah sakit, kami berbelanja perlengkapan bayi. Yesi terlihat sangat antusias saat memilih baju, beberapa kali dia berdecak karena gemas dengan pakaian  mungil itu.


         Kami hanya membeli beberapa baju dan pampers saja. Selebihnya sudah tersedia tanpa diminta.


         Mama Yolanda dan Mama Siska sudah membeli dari awal kehamilan. Bahkan satu ruangan penuh dari antusiasnya dua orang tua itu.


        Keringat menetes di pelipis Yesi, dia tanpa kelelahan. Tanpa segan gue langsung menggendongnya setelah membayar belanjaan di kasir.


       Mendudukkannya di jok, gue memasang seat belt untuknya, setelah itu  duduk di belakang kemudi lalu memutar mobil.


      Sebelum melajukan mobil, gue menoleh pada Yesi untuk mengusap keningnya. Ada yang membuat Yesi tidak nyaman.


    "Kaki Yesi pegal dan kram." ucap Yesi dengan mata berkaca-kaca.


        "Berhenti menangisnya, nanti kalau sudah sampai di rumah, Mas pijitkan." ucap Yesaya menenangkan istrinya.


        Dia mengangguk dan mengusap air matanya menggunakan punggung tangan.


       Gue mulai memacu mobil dengan perlahan, selama perjalanan tidak terdengar suara Yesi. Gue memutuskan untuk menoleh dan menemukan dia tertidur.


       Pandangan gue teralih kedepan, beruntung jalanan  lumayan lenggang, sehingga dengan mudah gue menepikan mobil. Sedikit menurunkan jok agar Yesi mendapat posisi yang nyaman.


         Gue mengecup puncak kepalanya, setelah itu melajukan mobil kembali.


       Saat memasuki gerbang rumah, gue menemukan ada beberapa mobil asing yang terparkir.

__ADS_1


       Gue menggendong Yesi dengan sangat hati-hati, tapi sebelum melangkah di teras, Yesi melenguh dan membuka matanya.


     "Sudah sampai?" tanya Yesi.


     "Sebentar lagi," jawab Yesaya.


        Gue mendekat pada pintu dan menekan nomor kombinasi password. Saat masuk gue terkejut dengan kehadiran Uli, Ryan, Ivan, Dea, Rika, Daffa, dan sial ada Jovan juga.


       Mengeram, gue langsung menyembunyikan Yesi. Tapi terlambat dia sudah mengetahui ada teman temannya bertamu.


      "Mas, turunin Yesi." pekik Yesi.


    "Tidak! kamu lagi kecapean, katanya minta di pijit?" ucap Yesaya mengalihkan pandangan pada mereka.


"Besok saja bertamunya, Yesi kecapean." ucap Yesaya.


         "T - tapi Yesi kangen mereka." ucap Yesi menundukkan pandangannya, lagi lagi matanya berkaca-kaca. Membuat gue nggak tega dan akhirnya menyerah.


       "Baiklah...." jawab Yesaya.


      Seketika moodnya langsung berubah.


"Terima kasih." ucap Yesi, bahkan dia mencium pipi gue lama.


       Dasar licik! gue mendengus dan langsung menuruninya. Bahkan baru menginjak lantai, Yesi berlari buru buru menuju ruang tamu dan duduk di sebelah Jovan.


       Kontan saja gue kesal dan menyusulnya, gue duduk di tengah tengah Yesi dan Jovan.


         "Duh, bumil makin cantik aja." ucap Dea memuji.


      "Iya, Yesi. Rika ikut mengangguk. lo cantik banget." ucap Rika.


       Gue menunjuk mereka satu persatu kecuali Dea dan Rika.


"Jangan pernah tertarik sama Yesi!" ucap Jovan.


       Mereka semua terkekeh, kecuali Jovan, dia mengusap puncak kepalanya dengan canggung.


        "Tenang, Yesa. Walaupun Yesi cantik, saya tidak suka istri orang," ucap Jovan lagi.


       "Betul! Jovan benar." ucap Ivan langsung terkekeh.


Tapi gue nggak ambil pusing dengan jawaban mereka.

__ADS_1


     Sekarang gue sibuk dengan Yesi, entah kenapa dia selalu menatap Jovan. Beberapa kali gue menemukan dia mencuri curi pandang pada Jovan.


      Gue langsung panas di buatnya, tapi mencoba mempertahankan nada bicara, karena Yesi mudah tersinggung saat ini.


__ADS_2