
" Haloo Ta haloo, kamu dimana? aku mau ketemu Ta sekarangg, plis Ta, kamu dimana, kasih tau akuu " Bian mencecarku dengan begitu banyak pertanyaan mengenai keberadaanku sesaat setelah aku mengangkat telvon darinya.
" Aku ya di sekolah dong Bi, ni kan jam aku ngajar, untung anak anak lagi ngerjain soal jadi aku bisa angkat telvon dari kamu, emangnyaa ada apa sih Bi? kenapa tiba tiba nelvon aku dan nanyakin aku kek gitu, kayak panik banget gitu lagi " Aku yang mendengar Bian menelvonku dengan cara seperti itu lantas membuatku menaruh rasa penasaran sekaligus cemas.
" Jam berapa kamu pulang Ta? " tanya Bian masih dengan nada bicara yang terdengar mencemaskan.
" Yaa siang gitu Bi, jam 2 an, emang ada apa sih Bi? " Aku terus menanyakan perihal apa sebenarnya maksud dari semua pertanyaan dan nada nada kecemasan Bian.
" Yaudah nantik aku jemput ya Ta kamu di sekolah, pokoknya ntar kabarin kalau kamu uda pulang " nada bicara Bian terdengar cepat, sungguh membuatku bingung.
" Haaa?! jemput. Gak biasanya deh Bi " Aku masih penuh perasaan bingung dengan sikap Bian.
" Udah nantik secara langsung ajaa yaa aku jelasin semuanya " Bian lantas langsung mematikan telvonnya.
" Halooo, Bi halooo. Loh kok gak ada suaranya sih " Ku cek ponselku dan Bian ternyata sudah mematikan telvonnya.
" Ada apa sih Bi, kok kamu kayak panik banget, aduhh ada apa yaaa " Gumamku dalam hati. Aku terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, Bian sungguh tidak biasanya bersikap seperti ini, apalagi tadi dia terdengar begitu serius dan panik, mendadak ada sesuatu yang mengganjal perasaanku.
Bel pulang sekolah berbunyi, berhubung aku pun tidak memiliki pekerjaan apapun lagi di sekolah lantas aku langsung menelvon Bian untuk menjemputku.
" Haloo Bi, aku uda pulang nih, kamu bisa jemput aku sekarang " Bian yang biasanya selalu lama jika mengangkat telvon dariku, ntah mengapa kali ini ia langsung menjawab telvonku bahkan sebelum hitungan 5 detik aku menelvonnya. Ini membuatku semakin yakin bahwa yang ingin disampaikan Bian adalah sesuatu yang sangat penting.
" Oke oke otw Ta, tunggu yaa " Jawab Bian yang langsung mematikan telvonnya.
Aku menunggu di dekat gerbang sekolah. Dengan sejuta kecemasan yang merayap di dalam dada, aku sungguh ingin tau, apa yang sebenarnya ingin disampaikan Bian.
Tak lama aku menunggu Bian akhirnya Bian datang menghampiriku dengan motornya.
" Ayok Ta naik " Bian hanya membuka kaca helmnya.
__ADS_1
Aku naik dan langsung ku berondong Bian dengan pertanyaanku.
" Bi ada apa sih sebenernyaa? Kamu aneh banget tau gak sih hari ini, gak biasanya Bi kamu kayak gini, ada apa sih Bi? "
" Udah nantik kamu bakalan tau " Jawab Bian singkat seraya mengencangkan laju motornya.
Aku hanya bisa terdiam sembari berdoa dalam hati semoga tidak ada hal yang buruk terjadi.
**Di Rumah Sakit**
" Loh Bi, kok ke rumah sakit sih. Bi ada apa sih Bi haaa?! Bi siapa yang sakit Bi? " Aku langsung bertanya pada Bian saat Bian mengarahkan motornya menuju area rumah sakit.
Bian hanya terdiam, secepat mungkin ia mencari lahan kosong untuk memarkirkan motornya.
" Biiii, jawab dong Biiiii " Aku menarik jaket hitam yang Bian pakai siang itu, rasa khawatirku benar benar memuncak seketika itu juga.
Aku hanya mengikuti Bian di belakangnya, perasaanku kian bergejolak, semua cemas gelisah dan khawatir bercampur menjadi satu. Seperti hendak meledak di dalam diriku.
Bian akhirnya memberhentikan langkahnya di depan sebuah ruang rawat bertuliskan VIP104.
Jantungku semakin berdetak dengan kencangnya, ketika Bian menggiringku untuk memasuki ruangan tersebut. Langkahku kian berat, semakin berat. Dan saat aku benar benar berada dalam ruangan ituu, Astagaaaaa.....
Seorang pria terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur ruangan ini dan saat ku lihat dari dekat sosoknya ternyata,
" La...Lang....Langittt " Tubuh dan suaraku gemetar, melihat pria yang terbaring di hadapanku saat ini adalah Langit. Aku menutupi mulutku dengan kedua tanganku, sungguh tidak ku percaya apa yang ku lihat di hadapanku saat ini, Langit terbaring koma.
" Bi, ini apaa Bi? Langit Bi, ini beneran Langit haa?! Apa yang terjadi Bi? " Aku masih dengan suara yang sedikit gemetar menanyakan tentang apa yang terjadi pada Langit.
" Dia kecelakaan Ta, udah 5 hari dia koma " Jawab Bian dengan suara yang lemah.
__ADS_1
" Kecelakaan? Dimana Bi? Gimana kejadiannya? "
" Waktu dia mau pergi ke acara ulang tahun temennya Farah. Dia kecelakaan bareng Farah Ta, dan Farah.... gak bisa diselamatkan dalam kecelakaan itu " Bian menundukkan kepalanya setelah menjelaskan semua pertanyaanku.
Aku membeku, aku sungguh tidak tau harus berkata apa. Sesuatu yang bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun difikiranku bahwa kejadian seburuk ini akan terjadi menimpa Langit.
Ntah mengapa rasanya sungguh sedih melihat Langit terbaring tak berdaya seperti ini, biar bagaimanapun Langit pernah menjadi bagian penting di dalam hidupku, Langit pernah memberikan banyak kenangan indah saat kami masih bersama dulu. Walaupun ada begitu dalam rasa sakit yang pernah Langit ciptakan untukku, tapi tetap saja melihat Langit dalam keadaan seperti ini sungguh membuat hati kecilku menangis.
Mataku tak bisa lepas dari Langit yang terbaring di hadapanku, saat aku terlarut dalam perasaanku yang kian kalut melihat Langit,,,,
Tokk..tokkk..
Pintu kamar Langit diketuk perlahan oleh seseorang yang lantas membuatku tersentak dari lamunanku.
Aku menoleh ke belakang dan ternyata Mama Langit yang berdiri disana, dia melihat ke arahku dengan tatapan sendu.
" Kamu Zetaa? " Dia menanyakanku sesaat setelah memperhatikan wajahku.
" Emm..i..yaa..tan..te " Jawabku dengan sedikit terbata bata.
" Tante boleh bicara sebentar sama kamu gak? " Tante Maya mengajakku keluar untuk berbicara padaku.
" Emm boleh tante " Aku lantas mengikuti Tante Maya yang berjalan di depanku.
" Bentar ya Bi" gumamku perlahan pada Bian, Bian menganggukkan kepalanya.
Apa yang sebenarnya ingin Tante Maya bicarakan padaku?
__ADS_1