
Aku harus mengatakan apa pada Dean, tidak mungkin aku jujur bahwa aku ke rumah sakit karena aku sedang membantu Langit tersadar dari komanya. Tentu jika aku mengatakan itu maka Dean pasti akan sangat kecewa padaku.
Aku diam untuk beberapa saat,
" Haloo..Taa...kamu masih disitu kan? " Dean sedikit menaikkan suaranya.
" Haa?! emm...iyaa iyaa aku masih disini kok " jawabku yang kaget mendengar suara Dean.
" Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi, kamu ke rumah sakit kan? terus kenapa kamu bohong sama aku? siapa emangnya yang lagi kamu jenguk? " Dean menghujaniku dengan berbagai pertanyaan yang membuatku harus berfikir seribu kali untuk menjawabnya.
" Ahh..emm..iyaa maaf ya De, aku gak jujur sama kamu, aku takut ngerepotin kamu soalnya " jawabku sesuai dengan apa yang otakku fikirkan.
" Gimana bisa sih kamu bilang ngerepotin, dan kenapa jugak harus repot kalau cuma anterin ke rumah sakit. Emang siapa yang lagi sakit? " tanya Dean.
Ini lah pertanyaan yang pasti akan sangat sulit untuk aku jawab. Apa yang harus aku katakan.
" Emm...iyaa..ituu...aduhh..siapaa.. Haa..iyaa iyaaa guru di sekolah jugak, temen aku ngajar, dia sakit, iyaa..temen aku yang guru jugak " jawabku spontan setelah aku memikirkan alasan yang menurutku terbaik.
" Emmm gituu. Aku uda mikir yang macem macem tau soal kamu. Lain kali jangan bohong gitu dong Ta, aku kefikiran banget tau gak sih " Dean menjawabku dengan nada bicara yang sedikit kesal.
" Iyaa maaf ya sayang yaa, lain kali aku pasti jujur sama kamu. Aku cuma gak mau ngerepotin kamu, udah itu aja kok " jawabku menenangkan hatinya.
__ADS_1
" Emm yaudah deh gak papa. Oh iya ntar malem kamu mau jengukin temen kamu itu lagi yaa? " tanya Dean.
" Emm enggak De, ntar malem tu aku mau ke....itu...apa, ke rumahnya Yola..iya.. Yola. Dia baru pulang kampung soalnya " jawabku dengan kembali memikirkan alasan yang lain.
" Emm gituu, yaudah deh lain kali aja kita pergi " jawab Dean. Aku tau ada nada kekecewaan dari cara bicara Dean.
" Emm gak papa kan sayang. Ntar kita ketemunya sekalian malam minggu aja, gimana? " tanyaku.
" Emm yaudah deh, sekalian malmingan " jawab Dean.
Ntah bagaimana harus ku jelaskan, sebenarnya aku merasa begitu tidak enak karena harus terus membohongi Dean. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah terlanjur berjanji untuk membantu Langit. Aku tidak mungkin menghentikan semua itu begitu saja.
**** Di Rumah Sakit
" Ehh iyaaa tan ada apaa? " jawabku dengan berjalan sedikit cepat ke arah Tante Maya.
" Langit Ta, Langit " jawabnya dengan wajah yang begitu sumringah.
" Langit kenapa tante? " jawabku yang heran melihat ekspresi Tante Maya.
" Langit, uda mulai sadar Ta " seru Tante Maya yang membuatku begitu terkejut.
__ADS_1
" Haa?! serius tante? Langit uda mulai sadar ? " jawabku sembari meyakinkan Tante Maya akan apa yang ia ucapkan.
" Iyaa Ta, dia mulai sadar. Dokter bilang Langit nunjukin progres yang luar biasa. Tadi dia juga uda mulai buka matanya, cuma masih lemes banget " Tante Maya menggenggam tanganku.
" Aku boleh liat gak tan " jawabku.
" Boleh dong Ta, boleh banget. Kalau perlu kamu ajakin lagi Langit ngobrol, biar dia makin semangat "
Tante Maya mempersilahkanku masuk ke dalam ruangan Langit. Bian yang sedari tadi berdiri menemaniku pun tak kalah bersemangat dengan apa yang baru ia dengar.
Aku duduk disamping Langit, sementara Bian dan Tante Maya berada di luar ruangan.
Aku mengambil tangan Langit dan ku genggam.
" Lang, tuh kan bener kata aku, kamu tu kuat. Kamu pasti bisa lewati semua ini, kamu harus segera sadar, supaya aku bakal tepati janji aku ke kamu " ucapku pada Langit agar Langit bisa segera sepenuhnya sadar.
Sesaat setelah ucapanku padanya, Langit terlihat kembali menggerakkan perlahan tangannya, kali ini pergerakan tangannya terlihat lebih aktif dibandingkan yang aku lihat kemarin malam.
Ku lihat wajahnya dan secara perlahan lahan Langit mulai membuka matanya. Astaga, Langit benar benar membuka matanya. Aku sangat terkejut melihatnya, aku pun bergegas memanggil Tante Maya, dan dokter kemudian masuk memeriksa Langit sesaat setelah Tante Maya memanggilnya.
Akhirnya Langit sadar juga, dan tugasku berarti sudah selesai. Aku tak perlu berbohong lagi pada Dean.
__ADS_1
Namun dugaanku ternyata salah besar. Ada hal tak terduga yang ternyata sudah menantiku setelah ini.