Pada Kenangan Yang Membawa Luka

Pada Kenangan Yang Membawa Luka
Terikat


__ADS_3

" Kamu mau kan nginep tempat aku, aku yakin mama aku juga pasti bolehin kamu buat nginep di rumah aku. Yaa Taa yaaa, plissss " pinta Langit dengan begitu manisnya padaku.


Aku harus bagaimana sekarang, aku tak mungkin menolak, karena aku secara tidak langsung telah terikat kontrak untuk terus menjaga Langit, namun bagaimana dengan esok, jika Dean datang ke rumahku dan aku tidak berada dirumah, maka apa yang akan Dean fikirkan.


" Hmm, yaudah malam ini aku nginep di rumah kamu. Cuma besok aku harus pulang pagi pagi yaa, soalnya aku kan masih harus kerja besok " jawabku dengan mau tidak mau.


" Okee Ta, besok pagi supir aku bakalan anterin kamu kok. Makasih ya sayang " ucap Langit yang tersenyum begitu sumringah padaku. Sementara tante Maya hanya tersenyum melihat kami berdua tanpa mengatakan apapun.


Aku hanya menganggukkan kepalaku, dan ku tolehkan kembali kepalaku ke arah jendela mobil Langit, sementara Langit masih terlihat begitu nyaman berbaring di pundakku.


Mobil yang membawa kami, melaju dengan cepat, tak butuh waktu yang lama, akhirnya aku tiba di rumah Langit. Rumah yang begitu megah dan mewah, rumah yang kemarin pernah aku datangi, namun dengan keadaan yang berbeda. Dan hari ini aku kembali datang ke rumah ini, justru malah berstatus sebagai kekasih Langit, bukan lagi sebagai tamu di acara pertunangannya.


Langit perlahan turun dibantu oleh supir mereka, karena keadaan Langit juga masih lemas.


Tante Maya tiba tiba menarik tanganku ke hadapannya.


" Ta, kamu harus bersikap selayaknya kekasih Langit ya, jangan melakukan atau mengatakan hal hal yang akan membuat Langit mengingat masa lalunya. Sebelum kita tiba disini, saya sudah menyuruh asisten saya untuk menyingkirkan semua barang barang ataupun foto yang ada kaitannya dengan Farah. Karena saya sudah memutuskan bahwa kehidupan Langit akan dimulai dengan ingatannya saat ini, dan itu bersama kamu, paham? " ucap tante Maya yang membuatku semakin seperti terikat.


" Sudah ayok masuk, Langit pasti nungguin kamu di dalem " ucap tante Maya yang meninggalkanku lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Aku hanya tertunduk lesu, aku terus memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya jika terus seperti ini. Dengan langkah berat, aku akhirnya ikut masuk ke dalam rumah yang begitu megah ini.


" Kamu langsung aja ke kamar, Langit uda dibawa ke kamarnya, kamu tau kan kamarnya dimana? " tanya tante Maya.


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


" Kamarnya ada di lantai atas dan kamarnya ada di sebelah kanan " ujar tante Maya.


Aku hanya langsung melangkahkan kakiku menuju tangga rumah Langit, aku tak mengatakan apapun kepada tante Maya, karena perasaanku pun sudah begitu kacau.

__ADS_1


Langkah demi langkah aku lewati, akhirnya aku sampai di depan pintu kamar Langit, jantungku kembali berdegup kencang, aku terus membayangkan apa yang akan ku lakukan bersama Langit jika kami hanya ditinggalkan berdua di dalam kamar.


Kretttt..........


Aku membuka perlahan pintu kamar Langit yang ternyata memang tidak dikunci. Dan ku lihat Langit sedang tertidur di atas tempat tidurnya, namun dengan mata yang masih terjaga.


" Kok lama kamunyaa " rengek Langit padaku.


" Emm iyaa tadi aku ngobrol bentar sama mama kamu " jawabku sembari menutup pintu kamar Langit.


" Mama aku gak ngomong yang macem macem kan ke kamu? " tanya Langit.


" Emm enggak kok Lang " jawabku tersenyum padanya.


" Yaudah sini dong sama aku " tangan Langit melambai ke arahku.


Kenapa jantungku berdetak semakin kencang begini.


Melihat Langit yang sedang merebahkan diri seperti itu, dan tangannya yang melambai ke arahku. Ahhhh!! sungguh membuatku menjadi berfikiran yang tidak tidak.


Satu demi satu kakiku kulangkahkan menuju Langit, hingga tibalah aku di dekat Langit, Langit menatap ke arahku dan dengan cepat dia menarik tanganku, yang membuatku jatuh terduduk di dekatnya.


Aku begitu gugup, dan Langit terlihat sangat santai dengan senyuman yang tak berhenti meredup dari bibirnya.


Langit menaikkan sedikit tubuhnya dan merebahkan kepalanya di pangkuanku. Hal ini sungguh membuat jantungku semakin tidak santai dengan detakannya.


Dia menarik tanganku perlahan, dan meletakkan tanganku di atas kepalanya. Dia lalu menggerakkan tanganku dengan gerakan seperti mengelus helaian helaian rambutnya.


Lalu ia mengambil tanganku yang satu lagi untuk ia dekap di dadanya.

__ADS_1


" Aku seneng banget, ternyata di balik kecelakaan aku, akhirnya mama aku luluh juga sama hubungan kita " ucap Langit kepadaku.


" Apaan sih Lang, masak iya kecelakaan itu kamu syukuri " jawabku.


" Ya kan bener, gara gara itu mama akhirnya setujuin hubungan kita " jawab Langit.


" Ya tapi tetep aja, yang namanya kecelakaan itu musibah, dan gak harusnya kamu syukuri " jawabku lagi.


" Biarin aja, apapun itu aku gak peduli, yang penting aku bisa terus sama kamu " jawab Langit yang langsung memeluk pinggangku dengan eratnya.


Aku hanya memegang kepalanya, dengan perasaan bersalah sekaligus perasaan perasaan lain yang tidak bisa aku jelaskan.


" Oh iyaa pinjem hp kamu dong Ta " ucap Langit sesaat setelah melepaskan dekapannya.


" Haa?! buat apaa?! " jawabku yang agak panik.


" Ihh kok gitu sih kamu, kayak kaget gitu. Aku mau pinjem aja, mau lihat foto foto kita dulu, sekalian aku mau ngabadiin momen kita sekarang ini " jawab Langit.


" Emm kenapa gak pakek hp kamu aja? " ucapku untuk menghindari situasi ini.


" Kata mama hp aku rusak, makanya aku pinjem hp kamu " jawab Langit yang semakin membuatku panik.


" Ayokk dong Taa, pinjemm " rengek Langit.


Aduh, bagaimana ini. Jika Langit membuka isi ponselku, maka ia pasti akan sangat kaget, karena isi ponselku sudah pasti banyak diisi oleh momenku bersama Dean.


" Taaaaa..... " Langit terus meminta padaku dan membuatku semakin panik.


Bagaimana ini, bagaimana?

__ADS_1


__ADS_2