Pada Kenangan Yang Membawa Luka

Pada Kenangan Yang Membawa Luka
Takut


__ADS_3

" Ta, kamu bilang tadi tangan Langit ada pergerakan bener Ta? " Tante Maya yang baru saja tiba tanpa basa basi menyerempetku dengan pertanyaan yang membuat wajahnya begitu sumringah.


" Iyaa tante, tadi waktu aku abis ngomong sama Langit, dia gerakin jari jarinya perlahan, aku aja kaget tan, tapi beneran dia gerakin jarinya " jawabanku pun tak kalah semangat dari nada bicara Tante Maya padaku.


" Alhamdulillah, ya ampun tante bersyukur banget Ta, ternyata bener kata Bian kamu yang memang bisa menyelamatkan Langit " Tante Maya mengambil kedua tanganku ke dalam dekapan tangannya.


" Bener kan Ta, cinta Langit ke kamu tu bawa keajaiban, tu liat aja buktinya. Kamu sekarang harus sering sering mampir ngunjungi Langit Ta, siapa tau Langit bisa segera sadar kalau sering sering dikunjungi sama kamu " Bian menyerobot dengan ucapannya yang tat kala membuatku mendadak mengingat seseorang di benakku.


" Emmm Bi, bisa keluar sebentar gak " aku mengajak Bian berjalan ke luar bersamaku. " Sebentar ya tante " tolehku ke arah Tante Maya diiiringi panggutan kepala Tante Maya yang tersenyum menatap ke arahku.


" Ada apa Ta " ucap Bian sesaat setelah aku dan dia telah berada di luar ruangan.


" Aku mikirin Dean lo Bi, aku takut gara gara ini hubungan aku sama Dean yang jadi terancam " ujarku pada Bian.


" Ya kamu jangan bilang dong Ta ke Dean masalah ini, setidaknya sampai Langit bener bener sadar, aku deh ntar yang bantu Ta " jawab Bian sembari menyandarkan tangannya di dinding.


" Ya justru itu Bi, aku gak mau terus terusan bohong ke Dean. Dan kalau sampai ni ya, seandainya suatu saat Dean tau aku uda bohong ke dia, gak tau deh aku Bi, aku gak tau apa yang akan terjadi selanjutnya " aku mendudukkan diriku di kursi tunggu tepat di samping Bian.


" Terus maksud kamu gimana Ta? kamu mau jujur gitu ke Dean, kalau kamu sekarang lagi bertugas untuk ngejagain Langit? " Bian ikut duduk di sampingku.


" Aku gak tau Bi aku bingung. Kalau aku jujur aku takut Dean bakalan salah paham sama aku, tapi kalau aku gak jujur aku takut Dean suatu saat bakalan tau dan Dean pasti bakalan kecewa banget karena tau aku selama ini uda bohongin dia " aku tak bisa menutupi raut cemas di wajahku, situasiku kali ini benar benar membuatku bingung.


" Yaudah jalanin aja dulu Ta, ntar kalau ada apa apa, aku bakal bantuin jelasin ke Dean, oke " jawab Bian menenangkanku.


Aku hanya menoleh ke arah Bian, dan kutarik nafasku dalam dalam.


" Udah malem deh nih Ta, pulang yuk, Tante Maya jugak udah disini kan, besok kita kesini lagi nemuin Langit " ujar Bian setelah menoleh ke arah jam tangannya.


" Yaudah pamitan dulu deh Bi "


Aku dan Bian akhirnya berpamitan kepada Tante Maya.

__ADS_1


" Kita pamit ya Tan " ucapku pada Tante Maya.


" Ohh iyaa, hati hati ya, besok kamu kesini lagi kan Ta? " tanya Tante Maya padaku.


" Emm iya tan, besok aku kesini lagi " jawabku.


" Makasih yaa Ta, Bi. Yaudah hati hati kalian yaa " ucap Tante Maya sebelum akhirnya kami berlalu dari pandangannya.


***** Keesokan Paginya.


Tadi malam ketika aku melihat Langit di rumah sakit, aku sama sekali tidak berkabar dengan Dean. Aku terlalu fokus pada Langit sehingga secara tidak langsung aku telah mengabaikan Dean yang notabene adalah kekasihku sesungguhnya.


" Aku telvon Dean aja deh ya, aku ajakin dia sarapan di rumah, mumpung masih pagi banget " Gumamku selepas aku bangun dan mengecek ponselku.


" Halo De, kamu uda bangun? " tanyaku setelah telvonku dijawab olehnya.


" Emmm...haaa...i..yaa..ni baru bangun " suara Dean terdengar malas malasan.


" Okee sayaaaaaaaangggg " Dean menjawabku dengan suara yang masih terdengar sayup.


" Hahaha ihh panjang banget a nyaa. Yaudah kamu siap siap ya sayang yaa, jangan lanjut tidur lagi lo yaaa. Yaudah sampai ketemu nantik yaa De " ucapku sebelum ku matikan sambungan panggilanku.


Kurang lebih 15 menit setelah aku menelvonnya, Dean akhirnya datang ke rumahku. Mentari kala itu masih belum menunjukkan sinarnya, aku yang saat itu tengah memotong sayuran untuk menu sarapan kami lantas langsung bergegas membukakan pintu untuknya.


" Haiii " ucapku setelah melihat wajah kekasihku dihadapanku.


Dean hanya tersenyum kepadaku.


" Aku ngantuk banget Ta " Dean duduk di kursi ruang tengah rumahku, wajahnya terlihat begitu lesu.


" Loo kok bisa masih ngantuk sayang, kenapa sih emangnya De, tadi malem kamu ngapain emang? " aku bertanya sembari menyentuh halus pipinya.

__ADS_1


Dean menatapku dengan tatapan polosnya, wajahnya memang terlihat sangat lesu pagi ini.


" Tadi malem aku begadang, aku gak bisa tidur " jawab Dean yang kemudian membaringkan tubuhnya ke pelukanku.


" Kok gak bisa tidur, kenapa emangnya sayang, kamu kan juga bisa telvon aku kalau kamu gak bisa tidur " Aku membelai rambut halus Dean yang menutupi dahinya.


" Aku abis mimpi buruk tadi malem " jawab Dean yang semakin mengeratkan tubuhnya di pelukanku.


" Mimpi buruk? ya ampun, mimpi apa De? " jawabku dengan menoleh dan mengangkat perlahan wajahnya ke arahku.


" Aku mimpiin kamu Ta " jawab Dean dengan nada suara yang lirih.


" Mimpiin aku? mimpi gimana emang De, kok sampek bikin kamu gak bisa tidur gitu? " aku kembali mengusap lembut pipinya.


" Di mimpi itu aku ngeliat kamu ada di sebuah taman, dan waktu aku panggil kamu, kamu gak denger Ta, aku terus panggil panggil nama kamu, dan kamu masih gak denger, dan waktu aku mau nyamperin kamu, aku malah ngeliat kamu gandengan tangan terus pergi sama laki laki yang aku gak tau itu siapa. Aku takut Ta, mimpi itu keliatan nyata banget, aku takut mimpi itu beneran jadi nyata, " Dean menjawabku dengan suara yang semakin lirih, tangannya memelukku semakin erat, wajahnya ia rundukkan ke dalam tubuhku.


" Emm ya ampun sayang, itu cuma mimpi. Aku disini, aku gak mungkin ngelakuin hal itu sama kamu. Jangan kamu fikirin lagi ya mimpi kamu itu, aku gak akan kemana mana kok, aku sama kamu terus " Aku mengelus punggung Dean dan berusaha untuk menenangkannya.


" Udah tenang yaaa, kalau kamu masih ngantuk kamu tidur aja dulu sebentar disini, sambil nungguin aku masak. Lagian masih ada cukup waktu kok " aku mengangkat wajah Dean perlahan, lalu aku ambilkan ia bantal dan selimut untuk ia pakai tidur.


Aku baringkan tubuhnya di kursi panjang ruang tengah rumahku.


Aku mengelus rambutnya sampai ia benar benar terlihat sangat mengantuk dan barulah aku kembali ke dapur untuk melanjutkan masakku.


" Hmm maksud mimpi Dean apa ya, kok bisa dia tiba tiba mimpiin aku gitu " aku bergumam dengan diriku sendiri, aku terus memikirkan mimpi yang membuat Dean begitu takut tadi malam.


Aku yang melihat Dean barusan benar benar semakin tak tega bila memikirkan apa yang telah aku lakukan di belakangnya. Aku telah membohongi orang yang begitu takut kehilanganku.


Walaupun aku hanya sebatas membantu Langit, tapi tetap saja, Langit adalah masa laluku, yang sewaktu waktu bisa saja ada keadaan tak terduga yang berubah seiiring berjalannya hari.


Tapi apapun itu aku telah berjanji dan berusaha untuk tetap menjaga komitmen ku kepada Dean, aku akan segera menyelesaikan semua urusanku membantu Langit dan aku akan kembali melanjutkan kehidupan normalku bersama Dean setelah Langit sembuh.

__ADS_1


__ADS_2