Pada Kenangan Yang Membawa Luka

Pada Kenangan Yang Membawa Luka
Takdir apa ini?


__ADS_3

" Setelah saya memeriksa dan mengajukan beberapa pertanyaan, terkait masa lalunya dan juga tentang dirinya, saya bisa menyimpulkan bahwa Langit saat ini sedang mengalami Amnesia Retrograde, dimana penderitanya tidak dapat mengingat sebagian atau bahkan semua masa lalu mereka, hal ini dikarenakan kecelakaan kemarin mengakibatkan trauma pada kepala Langit " dokter menjelaskan dengan sangat terperinci, yang membuatku terdiam seribu bahasa setelah mendengarkan penjelasannya.


" Ya ampun Langit " tante Maya terlihat begitu cemas.


" Lalu bagaimana dok, apa yang harus dilakukan? " lanjutnya.


" Tindakan saat ini yang bisa dilakukan untuk penderita Amnesia adalah selalu dampingi dia, dan apapun yang ada di ingatannya saat ini, usahakanlah untuk tetap seperti itu. Karena jika dia memaksakan untuk mengingat ingatan yang sebenarnya, maka akan sangat berbahaya bagi Langit " ucap dokter.


Suasana di sana mendadak hening, setelah dokter memberikan penjelasan kepada kami. Aku tidak habis fikir dengan apa yang saat ini terjadi. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tidak mungkin meninggalkan Langit begitu saja, tapi aku juga tidak mungkin untuk terus berpura pura menjadi kekasih Langit, disaat aku pun sudah memiliki kekasih yang sebenarnya.


" Ta " tante Maya menolehkan pandangannya ke arahku.


Aku hanya terdiam, memandang balik tante Maya dengan tatapan sendu.


" Tante tau kamu mungkin akan menolak ini, tapi tante mohon, tolong bantu Langit sekali lagi Ta, tante mohon banget sama kamu " wajah tante Maya terlihat sangat sedih, nada bicaranya sedikit gemetar.


" Aku gak tau harus gimana tan. Aku uda punya kehidupan aku sendiri sekarang, yang bener bener dengan susah payah udah aku bangun. Cerita aku bersama Langit dulu, udah membuat aku kecewa banget tan. Dan sekarang kalau tante minta aku untuk kembali menjadi pasangan Langit, maaf aku gak bisa tan. Aku uda punya pasangan, dan gimana perasaan dia kalau sampek tau hal ini, maaf tan kali ini aku gak bisa bantu " jawabku dengan perasaan yang penuh lara, aku tidak tau apakah ini keputusan yang benar atau tidak.


" Tante mohon Ta, kamu liat kondisi Langit sekarang, kamu tau sendiri kan apa akibatnya kalau Langit memaksakan ingatannya. Tante tau Langit uda pernah jahat sama kamu, tapi apa kamu tega Ta " tante Maya tak sanggup menahan air matanya, hal yang jujur membuatku semakin berada pada kebingungan yang luar biasa.


" Emm tan, apa gak sebaiknya kita masuk dulu temuin Langit, masalah ini kita bahas nanti. Kasian Langit, aku liatin dari sini, dia kayak kebingungan banget " Bian tiba tiba ikut berbicara saat ia melihat Langit terlihat bingung di dalam sana.


Tante Maya hanya menatapku dengan tatapan sendu nya, aku hanya tertunduk bingung, tentang apa yang harus aku lakukan sekarang.

__ADS_1


Mereka akhirnya masuk kedalam ruangan, sedangkan aku masih berada di luar, aku duduk dan ku tutupi wajahku dengan kedua tanganku. Fikiranku kacau, aku benar benar ada dalam perasaan dilema. Tuhan, takdir apa ini?.


" Ta " panggil Bian.


" Ehh iyaa " jawabku dengan sedikit kaget.


" Langit nyariin kamu tu " ujar Bian yang membuatku menghela nafas dalam dalam.


" Iya, aku ntar lagi masuk " ucapku sembari membenarkan rambutku yang agak berantakan.


" Oke " jawab Bian singkat yang langsung berlalu dari hadapanku.


Aku masuk dengan langkah berat, Langit sudah tersenyum dari jauh ke arahku. Aku tidak berani menatap wajahnya, aku hanya berjalan dengan tatapan yang ntah kemana.


" Kamu kemana aja sih, lama banget di luar " ujar Langit dengan wajah sedikit bete padaku.


" Emm yaudah, abis ini kamu jangan kemana mana ya, disini aja temenin aku " Langit mengeluarkan sikap manjanya padaku, hal yang dulu juga memang sering ia terapkan ketika sedang bersamaku.


" Hmm iyaaa, aku temenin kamu " jawabku berusaha untuk mempercepat situasi ini.


Kantung celanaku mendadak bergetar, aku segera mengecek dan ku lihat ada telvon dari ibuku. Tidak biasanya dia menelvonku, kalau bukan karena ada hal yang penting.


" Emm bentar ya, aku dapet telvon dari ibu aku " ucapku pada Langit. Langit hanya menganggukkan kepalanya diiringi senyum yang mengembang di wajah maskulinnya.

__ADS_1


Aku tidak mengetahui, bahwa tante Maya ternyata mengikutiku dari belakang.


" Assalammualaikum, halo bu ada apa, tumben telvon? " sapaku dengan nada lembut kepada ibuku.


" Walaikumsalam, Ta " suara ibuku terdengar lirih.


" Loh bu kenapa? kok suaranya kayak habis nangis gitu ?" tanyaku khawatir.


" Bapak kamu Ta " jawab ibuku.


" Bapak, kenapa bu? " tanyaku yang semakin khawatir.


" Bapak kamu sakit, dan saat ini sedang butuh biaya besar untuk operasi " jawab ibuku dengan suara yang semakin berat.


" Ya ampun bapak sakit bu, terus gimana keadaannya sekarang? " air mataku tumpah.


" Bapak harus di operasi, dan biayanya itu besar sekali Ta " jawab ibuku.


" Zeta bakal cobak usahain disini ya bu, ibu tenang dulu, biar Zeta yang cari gimana caranya " ucapku berusaha menenangkan ibuku, padahal aku sendiri juga bingung, darimana aku bisa mendapatkan uang secepat dan sebanyak itu.


Seperti sebuah pukulan keras untukku di hari ini, semua hal membuatku bingung harus bagaimana.


Aku tak kuasa menahan air mataku, aku tidak tau harus berbuat apa saat ini. Aku menundukkan kepalaku dan terus larut dalam tangisku.

__ADS_1


Aku tidak tau kalau tante Maya sedari tadi telah mendengarkan pembicaraanku dengan ibuku. Dia tiba tiba menghampiriku dan berkata


" Tante bisa bantu kamu Ta, tapi kamu tau kan apa yang harus kamu lakuin "


__ADS_2