Pada Kenangan Yang Membawa Luka

Pada Kenangan Yang Membawa Luka
Beban Baru


__ADS_3

" Maksud tante apa? " jawabku yang masih sedikit terisak.


" Kamu harus jadi pacar Langit, gak masalah kalau pura pura, yang penting kamu bersikap dan berperan selayaknya pasangan Langit seperti dulu " jawab tante Maya, sudah ku duga pasti ini kemauannya.


Aku berfikir sejenak, aku tidak mungkin menolak tawaran ini, karena aku memang membutuhkan uang dalam waktu yang cepat. Tapi jika aku menerima tawaran ini, bagaimana dengan Dean, apa yang akan Dean fikirkan tentangku jika ia tau semua ini, aku juga tidak mungkin terus menutupi masalah ini dari Dean, karena cepat atau lambat aku yakin Dean pasti akan tau. Astaga Tuhan, hidupku sudah seperti sebuah drama saja.


" Kamu gak bisa berfikir terlalu lama Ta, kamu harus fikirin ayah kamu yang sudah harus ditangani secepat mungkin. Tante yakin, ini juga tidak akan merugikan kamu sama sekali. Gimana Ta? " tanya tante Maya yang semakin membuatku terpojok.


" Hmm demi orangtua aku, baiklah tante, aku akan menerima tawaran yang tante kasih ke aku " jawabku setelah aku bergulat dengan hati dan logikaku.


" Tante yakin kamu pasti bakalan ambil keputusan ini. Ini keputusan yang tepat Ta " ujar tante Maya yang tersenyum kepadaku.


Selepas perbincangan dan kesepakatan yang telah aku buat dengan tante Maya, akhirnya ia mentransfer uang yang telah ia janjikan ke rekening ibuku. Aku lega masalah orangtuaku disana bisa terselesaikan, tapi aku juga merasa terbebani disini, akan tanggung jawabku terhadap Langit dan tanggung jawabku terhadap perasaan Dean.


Malam berlalu begitu saja, keadaan Langit pun sudah semakin membaik sehingga kami bisa membawanya pulang.


" Kamu ikut anterin aku pulang kan " ucap Langit kepadaku.


" Haa? Emm... "


" Iya dia ikut kita pulang kok " belum sempat aku menjawab tante Maya memotong percakapanku dengan ucapannya.


" Emm makasih ya ma, Langit seneng banget mama uda baik sama hubungan aku dan Zeta " jawab Langit dengan senyum yang begitu manis dari wajahnya.


Aku hanya tertunduk lesu, mau tidak mau aku tetap harus menjalankan apa yang diinginkan oleh tante Maya, karena aku telah berhutang atas nama orangtuaku padanya.

__ADS_1


Bian yang telah mengerti situasiku pun hanya bisa terdiam, dia hanya memberikanku semangat ketika Langit dan ibunya berjalan lebih dulu di hadapanku.


**** Di dalam mobil


Langit membaringkan kepalanya di bahuku, seolah memang benar aku adalah kekasihnya. Dia bersikap sangat manja padaku, bahkan setelah kami berada di dalam mobil.


Langit, andai kamu tau, aku bukanlah kekasihmu lagi, melainkan hanya mantan yang pernah begitu kau sakiti dulu.


Hp ku mendadak kembali bergetar, dalam hati aku penasaran, apakah ini panggilan dari ibuku lagi. Aku perlahan mengambilnya dari tas ku, dan begitu ku lihat, astaga!!! panggilan itu ternyata dari Dean.


Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan sekarang.


" Dari siapa Ta, kok gak kamu angkat " tanya Langit setelah menyadari bahwa ada panggilan masuk ke ponselku.


" Haa..i.yaa..ini dari te..men a..ku, gak papa, gak penting " jawabku tergagap.


Aku akhirnya mematikan ponselku, untuk mencegah Dean akan menelvonku kembali. Aku benar benar merasa sangat bersalah pada Dean, aku telah menyakiti Dean, sungguh Dean maafkanlah aku.


**** Dirumah Dean


" Zeta kok gak angkat telvonku yaa, perasaan uda malem gini masak iya dia belum balik sih " ucap Dean setelah panggilan darinya tidak dijawab oleh Zeta.


" Cobak deh aku telvon lagi " gumamnya sembari kembali menghubungi Zeta.


Terdengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang dihubungi sedang tidak aktif.

__ADS_1


Dean terdiam, fikirannya mulai memikirkan hal yang macam macam.


" Tadi perasaan masih aktif, kok sekarang malah jadi gak aktif yaa " Dean semakin resah memikirkan Zeta.


" Zeta sebenernya lagi ngapain sih. Kenapa setiap kali dia keluar, dia jadi gak ada kabarnya sama sekali kayak gini yaa " Dean terus saja memikirkan hal yang bukan bukan tentang Zeta, perasaannya campur aduk antara khawatir, cemas dan juga curiga.


****


Sepanjang perjalanan, fikiranku hanya tertuju pada Dean. Aku menjadi galau sendiri memikirkan masalah ini. Aku tak bisa berhenti memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya atas situasi yang sudah menjebakku saat ini.


Aku takut ini akan menghancurkan hubunganku dengan Dean, dan aku juga takut jikalau Langit tau, Langit pun pasti akan merasa tersakiti, sedangkan Langit di kondisinya yang seperti sekarang ini, sangat pantang baginya untuk mengalami hal hal yang berat.


" Hei Ta, kamu kenapa?, kok kayaknya murung banget dari tadi, ada apa? " Langit menyadari wajahku yang memang sedari tadi menunjukkan raut cemas.


" Emm enggak kok gak papa " aku tersenyum padanya, senyum yang sungguh palsu, senyum yang hanya aku gunakan untuk menutupi perasaanku yang ntah bagaimana bentuknya ini.


" Beneran? " tanya Langit lagi.


" Iya Lang beneran " aku meyakinkan Langit untuk tak perlu mengkhawatirkan keadaanku yang sebenarnya sudah sangat kacau ini.


" Makasih ya Ta, kamu mau ikut anterin aku pulang. Pokoknya ntar waktu aku uda seratus persen pulih aku janji bakal ajakin kamu jalan terus pergi kemanapun kamu mau, okee " ucapnya dengan raut wajah penuh bahagia.


Aku hanya menganggukkan kepalaku dan tersenyum padanya.


" Malam ini kamu nginep ya di rumah aku Ta, kepala aku masih pusing banget, aku masih butuh kamu banget disamping aku " ucap Langit yang mengejutkanku.

__ADS_1


" Haa?! nginep?! "


__ADS_2