
" Sayang.... bangun yuk " aku menggoyangkan perlahan tubuh Dean sesaat setelah semua makanan yang aku masak telah aku siapkan di atas meja makan.
" E...mm... " Dean hanya bergumam, dia hanya membuka sedikit matanya.
" Ayokk bangun dong, waktunya sarapan, mumpung masih panas nii " Seruku seraya menaikkan badan Dean untuk segera bangun.
" Iyaaa... aku bangun " Jawab Dean masih dengan malas malasan.
" Hari ini special deh, aku bakal suapin kamu sarapan okee " seruku sembari mengambil nasi dan juga sayur sop yang tadi telah aku masak.
" Makasih yaaaa " Dean tersenyum ke arahku, ahhh lesung pipinya sungguh membuat senyum Dean terlihat begitu manis.
" Aaaaa....emmmmm " ucapku sembari memasukkan sesendok makanan ke mulut Dean, lalu sesendok selanjutnya ke dalam mulutku.
Begitu seterusnya hingga kami menyelesaikan sarapan pagi ini dan berangkat ke tempat kerja.
**** Disekolah
" Ta, ntar malem aku jemput yaa " pesan masuk dari Bian membuatku teringat akan tugasku membantu Langit.
Astaga, alasan apalagi yang harus aku katakan ke Dean, karena aku yakin, nanti malam sudah pasti ketika aku bersama Langit aku tidak mungkin bisa berkabar dengan Dean.
Bagaimana ini, sampai kapan aku terus seperti ini. Langit, ku mohon cepatlah sadar, agar semua ini bisa segera normal kembali. Aku pun tak mungkin terus membohongi Dean seperti ini. Aku mana mungkin sanggup menyakiti hati seseorang yang telah menjadi kekasihku saat ini.
Fikiranku terus mengeluarkan opini opininya, mengapa aku membuat diriku terjebak dengan urusan yang justru membuatku kacau sendiri.
Aku masih menunggu ojek online pesananku untuk mengantarkan aku pulang ke rumah. Fikiranku masih melayang layang memikirkan semua ini. Sebab, hanya karena menolong Langit, aku secara tidak langsung jadi belajar berbohong kepada Dean. Sungguh hal yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan.
**** Di Kantor Dean
" Woy De, istirahat dulu kek, uda siap kan " Arga menepuk pundak Dean, menyuruh Dean untuk duduk bersamanya.
__ADS_1
" Iyaa iyaa ni udah siap kok " jawab Dean sembari membereskan kertas kertas yang berantakan di mejanya.
" Nyantui dulu kita, toh bentar lagi jam balik " ujar Arga sembari meminum secangkir kopi hangat di tanganya.
" Yeeee kamu kan gituu, emang selalu nyantui Ga " jawab Dean yang juga ikut duduk di samping Arga.
" Hahahaha hidup harus gitu De. Ehhh btw kamu bilang tadi malem mau pergi makan sama Zeta kan yaa? " tanya Arga.
" Iya tadinya sih gitu Ga, cuma gak jadi, si Zeta pergi ke acara temennya jadi ya batal deh. Tapi kok tumben banget ya kamu kepo soal aku sama Zeta, kenapa emang Ga? " Dean yang tidak biasa melihat Arga tiba tiba menanyakan perihal Zeta, sontak membuatnya bingung.
" Haa?! masak sih?! perasaan aku tadi malem liat Zeta deh " jawab Arga yang semakin membuat Dean bingung.
" Maksud kamu Ga? Ohhhh....kamu ada di acara temennya Zeta juga ya? " jawab Dean yang masih tidak mengerti maksud Arga.
" Enggak De, aku liat dia di rumah sakit. Gak tau deh lagi jenguk siapa " jawab Arga yang sontak membuat Dean kaget.
" Ahhh gak mungkin, orang dia bilang ke aku dia lagi di acara temennya kok. Gimana bisa dia ada di rumah sakit, salah liat kali Ga " jawab Dean yang masih tidak percaya dengan ucapan Arga.
" Ahh masak sih Ga, gak mungkin dong Zeta bohongin aku " jawab Dean yang memasang raut cemas di wajahnya.
" Yaudahlah De, orang dia bohong kan juga buat jenguk orang ke rumah sakit, bukan bohong buat jalan sama laki laki lain kan, santai lah " Arga menjawab dengan begitu santai. Sementara Dean, semua ucapan Arga tadi lantas menjadi sebuah ganjalan di hatinya.
**** Di Rumah Dean
" Bro aku langsung mandi yaa gerah banget nii " ucap Arga begitu menginjakkan kakinya di rumah Dean.
Karena malam ini Arga akan menginap di rumah Dean.
Dean hanya memanggutkan kepalanya ke arah Arga, sembari berjalan menuju kamarnya.
Ia merebahkan tubuhnya, menatap langit langit kamarnya. Fikirannya masih tertuju pada ucapan Arga mengenai Zeta tadi malam. Ia terus berfikir mengapa Zeta berbohong padanya. Walaupun benar yang dikatakan Arga, bahwa kebohongan Zeta bukanlah untuk pergi bersama laki laki lain, tapi tetap saja, yang mengganjal di hati Dean adalah, apa alasan Zeta berbohong padanya.
__ADS_1
Dean mengambil guling di sampingnya. Ia memeluk guling itu dengan sangat erat, dalam hatinya ia masih terus memikirkan Zeta, sembari juga terus berharap semoga kebohongan Zeta bukanlah untuk sesuatu hal yang buruk.
****
Tringgg.....tringgggg....
Aku menolehkan pandanganku ke arah ponselku yang tergeletak disampingku.
Ku lihat ternyata ada panggilan masuk dari Dean, sesegera mungkin ku angkat telvon darinya.
" Halo sayang "
" Halo Ta, lagi apa? " sapanya setelah mendengar suaraku.
" Gak ada nih, lagi tiduran aja, kamu lagi apa?, tumben telvon gini?" tanyaku.
" Emmm..enggak aku cuma mau bilang, ntar malem pergi yuk, gantiin yang tadi malem, bisa kan? "
" Waduh, gimana ni, kalau aku tolak apa alasanku cobak, tapi kalau aku gak tolak aku kan ntar malem harus ketempat Langit, gimana dong " gumamku di dalam hatiku.
" Eee..mmm, g..gi..ma..naa ya De, aku gak bisa deh kayaknya ntar malem " jawabku terbata bata, yang membuatku semakin menunjukkan kegugupanku.
" Emm kenapa? kamu ada acara atau apa? " tanya Dean setelah mendengar ucapanku.
" Haa? Emm..i..yaa. A..ku " lidahku seolah semakin terbelit untuk berbicara pada Dean, aku bingung memikirkan alasanku.
" Kok kamu kayak bingung gitu sih jawabnya? Kenapa? kamu mau pergi ke rumah sakit lagi yaa? " tanya Dean yang sontak membuatku yang tadinya berbaring kini terperanjat bangkit karena begitu kaget.
" Haaa?! emmm mak...sud, kamuu ? " jawabku dengan jantung yang benar benar tak terkontrol detakannya, bagaimana Dean bisa tau.
" Aku tau, tadi malem kamu gak ke acara temen kamu kan, tapi kamu ke rumah sakit " jawab Dean yang membuat jantungku semakin memacu detaknya, bagaimana ini, apa yang harus aku katakan kepada Dean.
__ADS_1