
" Kamu sekarang bisa pulang, tapi pulang sendiri yaa, karena saya tidak mengizinkan supir saya untuk mengantarkan kamu " ucapnya dengan sinis.
" Tenang aja, aku jugak gak mau kok dianterin sama supir anda. Permisi " tanpa fikir panjang aku langsung bergegas pergi keluar dari rumah itu.
" Aku gak nyangka, ternyata tante Maya gak berubah. Aku bener bener udah menjebak diri aku sendiri, tapi aku jugak gak bisa keluar dari situasi ini gitu aja, aku harus gimana sekarang " ucapku mengerutkan dahiku.
Aku sungguh berada pada keadaan yang secara tidak langsung perlahan lahan akan membunuhku. Dan seandainya saja waktu itu aku tidak memiliki rasa iba terhadap Langit, mungkin situasinya tidak akan menjadi seperti ini, dan andai saja aku memiliki uang untuk biaya perobatan ayahku, mungkin ini juga tidak akan menjadi serumit ini.
" Ya ampun uda jam setengah 1 malem, mana ada kendaraan yang lewat cobak jam segini " gumamku.
Aku kemudian berfikir untuk menghubungi Dean, tapi aku fikir itu tidaklah mungkin, karena Dean pasti akan mencurigaiku, dan akan membuat situasiku jadi tambah rumit.
Akhirnya aku putuskan untuk coba menelvon Bian.
" Semoga Bian angkat deh " gumamku sembari menelvon Bian.
" Haloo..Taa.. " ucap Bian dengan suara kantuk.
" Haloo..Bi. Bi tolong jemput aku dong, aku di depan rumah Langit ni " ucapku.
" Haaa?! bukannya kamu nginep ya?! " tanyanya heran.
" Enggak, nantik aku ceritain deh yaa. Tapi plis jemput aku dong Bi " pintaku.
" Emm yaudah oke oke, tunggu yaa " jawabnya.
Syukurlah (batinku), Bian bersedia menjemputku.
" Kamu kok gak jadi nginep sih Ta " tanya Bian tak lama setelah aku naik ke atas motornya.
__ADS_1
" Ribet Bi aku ceritainnya, nantik deh aku ceritain lebih jelasnya " jawabku.
" Ada apa sih Ta, kepo deh aku " ucap Bian.
" Nantik aku ceritain "
Kami pun akhirnya tiba di rumahku, malam pun kian larut, jalanan yang kami lewati begitupun daerah sekitar rumahku tampak sangat sepi, aku tidak mungkin membiarkan Bian pulang dalam keadaan sepi seperti ini, aku takut Bian akan kenapa kenapa di jalan jika memaksakan diri untuk pulang.
" Kamu nginep di rumah aku aja deh Bi, uda malem banget ni soalnya. Kamu kan tau, jalan menuju rumah kamu itu sepi banget dan rawan begal kan, aku takut ntar terjadi apa apa lagi sama kamu " ucapku pada Bian.
" Iya sih Ta, ngeri jugak. Tadi aja aku ngebut banget pas lewat situ. Tapi gak papa emang ni aku nginep? " tanya Bian.
" Gak papa Bi, lagian kemaren kan kamu pernah nginep sini waktu sama Yola kan, lagi pula ibu kos aku kan uda tau kamu, kita temenan jugak uda lama banget, jadi ya gak ada masalah kan yaa harusnya " jawabku.
" Hahaha iya sih Ta, kayak sama siapa aja yaa " ucapnya.
" Taukk kamu tu, biasa aja kali Bi. Lagian kan kamu tidur di sofa aku di kamar " ujarku.
Aku terdiam beberapa saat, ku tarik nafasku dalam dalam.
" Tante Maya itu gak sebaik yang kita fikir Bi " ucapku.
" Haa?! maksud kamu? " tanya Bian bingung.
" Dia ternyata cuma pura pura doang, dia sengaja ngelakuin itu supaya aku mau nolongin Langit. Dan finally, aku akhirnya terjebak " jawabku.
" Tunggu deh, aku masih agak gak ngerti deh Ta " ucap Bian yang terlihat semakin heran.
" Tante Maya itu sebenernya gak sukak kalau aku itu deket deket lagi sama Langit, dia pura pura baik sama aku hanya demi Langit, bahkan dia sampek nawarin bantuan ke orangtua aku supaya apa? supaya aku makin terjebak, dan dia bisa memperlakukan aku sesuai dengan kemauan dia " jawabku yang membuat Bian terperangah.
__ADS_1
" Haaaa?! serius kamu Ta?! " tanya Bian.
" Serius Bi, dia ngomong sendiri di depan aku. Ya makanya itu, sekarang aku ngerasa bahwa aku uda memasukkan diri aku sendiri ke lubang masalah, aku uda terlanjur terjebak Bi, dan gak akan segampang itu buat aku keluar dari masalah ini " jawabku.
" Ya ampun Ta, aku gak nyangka lo, ternyata tante Maya setega itu " ucap Bian.
" Aku sendiri jauh lebih gak nyangka Bi. Tapi mau gimana lagi, aku juga sekarang gak punya uang sebanyak itu untuk ngelunasi hutang aku ke tante Maya, dan sekalipun aku punya uangnya, aku juga gak mungkin lepas gitu aja, karena apa? karena Langit udah terlanjur nganggep aku masih sebagai pacar dia, dan kalau aku pergi dari kehidupan dia gitu aja, aku gak tau deh apa yang akan terjadi. Sumpah, hidup aku ribet banget sekarang Biiiiiiiiii " gumamku kesal.
" Sabar ya Ta, aku yakin kamu pasti bisa lewati ini " ucap Bian menenangkanku.
" Yaudah deh Bi, aku istirahat dulu yaa. Oh iyaa, thanks lo udah mau jemput "
" Iya sama sama Ta, yaudah istirahat gih " ucap Bian.
Pagi menjelang, namun suasana masih terasa gelap. Ku lihat jam dindingku yang ternyata sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Astaga, aku hanya tertidur kurang lebih 3 jam.
**** di luar rumah Zeta
Dean yang sedari tadi malam tidak bisa menghubungi Zeta, akhirnya pagi ini datang menemui Zeta. Ia penasaran, dan begitu ingin menanyakan perihal masalah tadi malam.
Dean turun dari motornya dan melihat ada sepatu pria di depan rumah Zeta.
Degggg....
Jantung Dean mendadak terhenyak.
" Sepatu siapa ini? " tanyanya sendiri dalam hati.
Dean tidak langsung mengetuk pintu rumah Zeta. Ia mengintip dari balik jendela depan rumah Zeta. Dan betapa kagetnya Dean saat melihat di dalam sana ada tubuh seorang pria sedang tertidur pulas di sofa ruang tamu Zeta. Wajahnya tak terlihat jelas, karena ia menghadap ke arah sofa. Namun Dean bisa memastikan bahwa itu adalah seorang pria. Dean juga melihat ada sebuah motor terparkir di dalam rumah Zeta, Dean semakin berfikiran buruk setelah melihat semua itu.
__ADS_1
Dean terperanjat, emosinya mendidih, ia menggedor gedor pintu rumah Zeta.