
"Ellina?!"
Andita merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan Tiara. Dan seketika ingatannya tertuju pada satu orang wanita yang ditolongnya beberapa jam lalu di swalayan.
Nama perempuan itu adalah Ellina dan kebetulan perempuan itu juga sedang hamil.
Tapi.. tapi perempuan yang ditemuinya mengatakan jika suaminya tengah bertugas keluar kota. Jadi Andita rasa bukan dia perempuan yang dimaksud oleh bawahan putranya.
"Apa kau mengenal perempuan itu?" tanya Andita pada Tiara.
"Ya Nyonya, saya mengenalnya. Dia sahabat saya Nyonya." jawab Tiara gugup.
"Sahabatmu?"
Tiara yang tengah menunduk pun mengangguk pelan.
"Bagaimana kau tahu jika putraku yang sudah menghamili sahabatmu?"
Dengan gamblang Tiara mulai menceritakan kembali semua yang diketahuinya dari Ellina pada ibu atasannya itu. Tak ada sedikitpun yang terlewat dan dilebihkan, hingga setelah ia selesai bercerita terdengar helaan napas berat yang keluar dari mulut Andita.
Sebulan lalu?
Andita langsung teringat dimana Zean pada waktu itu meminta izinnya untuk menginap di apartemen Darren.
Itu berarti sebulan lalu Zean tidak benar-benar menginap di apartemen Darrren.
Sontak Andita menggeleng pelan seraya menatap Zean dengan perasaan kecewa. Andita tidak menyangka bahwa sekarang sang putra sudah berani membohonginya.
"Lalu dimana perempuan itu tinggal? Bisakah kau antarkan aku padanya?"
Tiara langsung mengangkat pandangannya. Sementara Zean menatap sang Ibu dengan tatapan tak percaya.
"Te-tentu Nyonya, saya akan mengantarkan anda pada Ellina." jawab Tiara cepat.
"Kalau begitu tunggu apalagi? Kita pergi sekarang!"
"Ibu!" panggil Zean. Ia berusaha mencegah ibunya pergi.
"Pulanglah! Kau bisa jelaskan semuanya nanti dirumah!" titah Andita.
__ADS_1
Andita segera meninggalkan ruangan Zean diikuti oleh Tiara dibelakangnya. Begitu pintu tertutup, Zean langsung menjambak rambutnya frustasi dan berteriak meluapkan emosinya.
Brakk
Zean menggebrak meja dengan keras. Ia tidak habis pikir jika sang Ibu akan mempercayai cerita bawahannya itu begitu saja.
"Ellina... Perempuan sialan! Kau benar-benar ingin memerasku? Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa?!" geram Zean dengan napas memburu seraya mengepalkan erat tangannya. Lelaki itu kembali menggebrak meja.
Tiba-tiba Zean teringat Darren. Bukankah Darren yang mencarikannya gadis perawan pada malam itu?
Sepertinya dia harus menanyakan tentang Ellina pada Darren untuk membuktikan kebenaran ucapan Tiara.
Tak ingin membuang waktu, Zean meraih ponselnya dan lekas menghubungi sahabatnya itu.
******
Didalam perjalanan, Andita dan Tiara tampak terdiam. Keduanya tenggelam dengan pikiran masing-masing.
Andita masih tidak percaya bahwa putra kebanggaannya telah melakukan perbuatan tercela.
Kenapa Zean bisa melakukan hal seperti itu? Apa semua ini karena perpisahannya dengan Lyora? Hingga Zean melakukan tindakan diluar kendalinya?
Sejenak Andita memejamkan mata sembari memijat pelipisnya yang terasa pening.
Disisi lain, Tiara yang masih merasa gugup dan takut perlahan memberanikan diri melirik kearah Andita secara diam-diam.
Ia bisa melihat kekecewaan diwajah ibu atasannya itu.
Tapi apa yang bisa ia lakukan? Niat hati hanya ingin memberitahu atasannya saja tentang keadaan Ellina yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya, tapi yang terjadi malah ibu dari bosnya itu datang tiba-tiba dan mendengar semua perdebatan mereka.
Sungguh diluar dugaan.
Tiara yang sedang dalam keadaan terdesak pun tidak bisa melakukan apa-apa selain berkata jujur. Karena Tiara tahu bahwa Andita adalah orang baik.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya keduanya sampai di kos-kosan Ellina. Tiara dan Andita segera turun dari mobil dan mendatangj kamar Ellina.
Namun betapa terkejutnya Tiara saat mendapati Ellina tengah mengepak baju-bajunya sambil terisak.
"Ellina!"
__ADS_1
Sontak Ellina menoleh. Ia langsung menghambur kearah Tiara dan memeluk sahabatnya.
"Tiara!"
Tiara mencoba menenangkan Ellina dengan mengusap punggungnya. Lalu mengajak Ellina untuk duduk disisi ranjang.
"Apa yang terjadi Ellina?" tanya Tiara ketika melihat Ellina sudah mulai tenang.
Ellina pun mulai bercerita bahwa dirinya baru saja diusir oleh pemilik kos, lantaran dirinya hamil diluar nikah. Pemilik kos juga mengatakan bahwa ia harus segera pergi supaya penghuni kos lain tidak tertimpa sial karena kondisinya.
Tiara dan Andita yang mendengar hal itu pun tampak geram dibuatnya.
"Keterlaluan sekali!" kesal Tiara. "Baiklah Ellina, kau tidak perlu bersedih. Kau masih bisa tinggal dirumahku!"
"Tidak Tiara!"
Sontak secara bersamaan Ellina dan Tiara menoleh keasal suara. Ellina tampak terkejut ketika melihat wanita paruh baya yang sudah menolongnya membayarkan susu di swalayan beberapa waktu lalu itu tiba-tiba berada didalam kamarnya.
"Nyonya?! Anda? Kenapa anda bisa ada disini?" tanya Ellina dengan bingung.
Andita yang sejak tadi berdiri sambil memperhatikan interaksi keduanya tersenyum lembut pada Ellina. Ia berjalan menghampiri keduanya lalu mendudukkan dirinya disamping kiri Ellina dan mengusap jejak airmata perempuan itu.
Jujur saja, awalnya Andita pun merasa terkejut kalau ternyata perempuan bernama Ellina yang dihamili Zean adalah perempuan yang sama yang ditemuinya diswalayan.
Entah kenapa perasaan Andita mengatakan bahwa Ellina benar-benar tengah mengandung benih putranya.
"Perkenalkan, namaku Andita Wijaya. Aku ibu dari Zean Arion Wijaya."
Deg.
Seketika netra Ellina membeliak sempurna.
"I-ibu dari Tuan Zean?!"
Andita mengangguk mengiyakan. Lalu menggenggam tangan Ellina erat.
"Kedatanganku kemari ingin meminta maaf padamu atas perbuatan putraku yang tidak bermoral. Sungguh, aku sangat menyesali kejadian ini. Dan sebagai bentuk pertanggung jawaban dari keluarga kami, maukah kau ikut denganku dan tinggal bersama kami?"
.
__ADS_1
.
Bersambung...