
Ellina mendudukkan dirinya ditepi ranjang. Raut mukanya tak berubah, masih tampak kesal karena Zean tak mempercayainya. Apa suaminya itu pikir dirinya adalah perempuan murahan yang dengan mudahnya melarikan diri bersama lelaki lain?
Astaga...
Tanpa sadar bulir bening menyeruak dikedua sudut mata Ellina. Perempuan itu segera menyekanya dan menghirup oksigen untuk menangkan diri. Ia melirik kearah pintu, namun tak ada tanda-tanda bahwa Zean akan masuk menyusulnya.
Bukankah lelaki itu tadi merasa bersalah? Seharusnya dia datang, meminta maaf dan merayunya bukan?
Oh tidak Ellina! Apa yang kau pikirkan?!
Dengan refleks Ellina mengetuk-ngetuk pelan pelipisnya. Bagaimana bisa dia berpikir begitu. Dia bukanlah gadis remaja labil yang jika sedang merajuk ingin di rayu.
Tapi pada hakikatnya seorang perempuan yang sedang marah pasti ingin dibujuk dan diberi pengertian dengan kalimat-kalimat lembut dan menenangkan yang terucap dari mulut pasangannya bukan? Apalagi saat ini dirinya sedang hamil yang membuatnya menginginkan perhatian lebih.
Ellina mendesah pelan.
Setelah beberapa saat bergelut dengan segala pikiran yang ada dikepalanya, pada akhirnya Ellina memutuskan untuk menunggu.
Cukup lama dia berdiam diri didalam kamar. Melewati detik demi detik dengan harapan Zean akan menemuinya, tapi rasa penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya diluar sana mengalahkan egonya.
Ellina beranjak dari ranjang dengan perasaan kesal berkali-kali lipat.
Perlahan Ellina memutar knop pintu. Dibukanya pintu itu sedikit lalu secara sembunyi-sembunyi dia mengintip.
Tak ada jejak-jejak kehidupan diruang tengah. Semuanya tampak sunyi. Sontak Ellina membuka lebar pintu didepannya dan dia melangkah keluar.
Pandangannya mengedar kesegala penjuru ruangan. Dan seketika ketakutan mulai melingkupi dirinya kala menyadari bahwa saat ini dia hanya seorang diri diapartemen itu.
Apakah Zean meninggalkan dan mengurungnya lagi? Tidak.. tidak! Bukankah lelaki itu sudah berjanji bahwa dia tidak akan melakukan itu lagi padanya?!
Secara impulsif Ellina segera berlari kearah pintu utama dan membukanya. Sontak pintu itu langsung terbuka hingga membuat Ellina terpaku lalu tak lama ia menghela napas lega. Ternyata Zean menepati janjinya.
Lalu kemana lelaki itu pergi? Kenapa tak memberitahunya?!
Ellina kembali menutup pintu masih dengan rasa jengkel dihatinya. Ia berjanji ketika Zean pulang nanti dia akan memberi pelajaran dengan mendiamkan lelaki itu.
*
*
__ADS_1
"Apa ada yang terluka?" tanya Zean dengan nada khawatir. Ekspresinya diliputi kepanikan luar biasa.
Ketika pihak rumah sakit tempat Lyora dirawat mengabarkan kalau perempuan itu baru saja terjatuh dari brangkar ketika berusaha mencapai kamar mandi, dengan segera Zean melesat pergi kerumah sakit tanpa sempat berpamitan pada Ellina.
"Tidak ada. Aku baik-baik saja. Maaf sudah membuatmu khawatir dan repot-repot datang kemari." ucap Lyora dengan perasaan tak enak karena sudah membuat lelaki dihadapannya ini panik.
"Aku sudah meminta suster untuk tidak menghubungimu, tapi suster mengatakan bahwa harus ada salah satu pihak keluarga yang menjagaku, supaya ketika aku membutuhkan bantuan mendesak dan suster penjaga sedang sibuk aku bisa mengandalkan pihak keluarga. Tapi kau tahu sendiri bukan aku sebatang kara. Jadi secara impulsif ditengah kebingunganku, aku memberikan nomor ponselmu pada pihak rumah sakit." lanjutnya dengan lirih.
Zean tampak termenung. Ia mengamati wajah Lyora yang begitu pucat sebelum akhirnya ia menjawab kemudian.
"Mulai sekarang anggaplah aku keluargamu."
Kalimat Zean jelas menarik perhatian Lyora. Wanita itu menatap Zean dengan kening berkerut bingung.
"Maksudmu?"
"Aku akan menebus kesalahan Kakekku dengan menjagamu Lyora. Kau bisa mengandalkanku jika kau memerlukan bantuan. Kapanpun itu." jawab Zean dengan ekspresi serius layaknya mengucap janji.
*
*
"Cukup Zean! Aku sudah kenyang." ucap Lyora sambil membekap mulutnya.
"Tidak Zean. Aku mohon! Jangan memaksaku!"
Zean menghela napas panjang. Kemudian menatap Lyora dengan perasaan jengkel.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu." Zean menaruh mangkuk berisi bubur itu keatas meja disamping brangkar.
"Minumlah dulu, selang setengah jam baru minum obatmu." Zean menyodorkan gelas berisi air putih kehadapan Lyora. Lyora meraih gelas itu dan meminum isinya lalu setelah selesai mengembalikannya pada Zean.
"Terimakasih."
Zean mengangguk pelan seraya menaruh gelas itu diatas meja.
"Oh iya, bagaimana kabar Ellina? Apa dia tahu kalau kau menemaniku disini?" tanya Lyora penasaran.
Deg.
__ADS_1
Zean terkesiap mendengar pertanyaan Lyora.
"Kau tahu nama istriku?" Zean balik bertanya, karena seingatnya dia belum pernah memberitahu Lyora nama istrinya.
Lyora tersenyum tipis.
"Ya, aku tahu nama istrimu karena satu minggu sebelum kalian menikah kami pernah bertemu. Waktu itu dia sedang bersama Zyl, dan Zyl memperkenalkan Ellina sebagai calon istrimu." jelas Lyora sambil mengingat kenyataan pahit itu.
"Oh begitu rupanya." jawab Zean acuh.
"Jadi? Apa Ellina tahu kalau kau menemaniku disini?" Lyora mengulang pertanyaannya dengan nada mendesak.
Zean menatap Lyora lekat sebelum akhirnya ia menjawab kemudian.
"Tidak. Dia tidak tahu. Dan aku memang tidak ingin dia tahu."
Kening Lyora berkerut, menatap Zean dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa?" tanya Lyora.
"Aku hanya ingin menjaga perasaannya. Ellina tahu kalau kita pernah memiliki hubungan sebelumnya. Dan aku tidak ingin dia salah paham jika tahu aku menemanimu disini. Apalagi saat ini dia sedang hamil. Sebagai sesama wanita kau mungkin tahu sedikit banyaknya jika hormon ibu hamil begitu mudah berubah-ubah." jelas Zean.
Perkataan Zean yang panjang lebar, tanpa sadar membuat percikan api cemburu dihati Lyora. Perempuan itu meremas sisi sprei demi menahan pergolakan jiwanya.
Zean begitu memikirkan perasaan Ellina. Dan barusan Zean mengatakan apa? Ellina sedang hamil? Itu berarti... itu berarti dugaannya benar kalau Zean ternyata mencintai Ellina. Jika sudah begini otomatis jalannya untuk mendapatkan kembali lelaki yang ia cintai itu akan pupus. Sebab Lyora tahu bahwa Zean adalah tipikal pria setia.
Tidak... ini tidak boleh terjadi! Zean hanya miliknya! Dan dia akan melakukan segala cara untuk membuat lelaki itu berpaling padanya! Termasuk cara licik yang dia pakai sore tadi.
Ya, sebenarnya Lyora tidak benar-benar terjatuh. Semua itu hanya rekayasanya supaya Zean datang kerumah sakit dan meninggalkan Ellina.
Dia sengaja meminta suster untuk menghubungi Zean dengan iming-iming sebuah bayaran. Sebab dia tidak bisa menghubungi Zean secara langsung karena selain nomor ponselnya masih di block oleh lelaki itu dia juga tidak membawa ponselnya.
Lagipula Lyora tidak ingin merendahkan diri dengan mengemis perhatian pada Zean. Dia hanya perlu membuat Zean terus merasa bersalah atas perbuatan kakeknya, dan dengan begitu lambat laun Zean akan jatuh kepelukannya.
Memikirkan semua rencananya itu, perlahan-lahan kepalan tangan Lyora yang meremas sprei terurai. Netranya menyala oleh kilat tekad yang kuat.
Kemudian layaknya iblis berwajah malaikat, Lyora tersenyum lembut menanggapi ucapan Zean.
"Ya, kau benar. Akan lebih baik jika Ellina tidak tahu kalau kau menemaniku. Itu pasti akan sangat mengganggu pikirannya." jawabnya penuh arti terselubung.
__ADS_1
.
.