
"Bercerai?!"
"Ya. Bercerai!"
"Tapi kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?"
Jelas Ellina tersentak kaget saat mendengar permintaan Zean.
Lelaki yang baru satu hari menjadi suaminya itu tiba-tiba saja mengatakan ingin menceraikannya setelah nanti ia melahirkan.
Membuatnya seketika berpikir sebenarnya kesalahan fatal apa yang sudah dia lakukan?
"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun." jawab Zean tenang.
"Lalu?!"
Sejenak Zean mengambil nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.
"Dengarkan ini baik-baik Ellina. Kau ingat bukan aku pernah mengatakan bahwa aku tidak ingin anak itu lahir tanpa seorang ayah?"
Ellina mengangguk pelan.
"Sebenarnya bukan hanya itu saja alasannya. Masih ada alasan lain. yang belum sempat kuberitahukan padamu." lanjut Zean.
"Apa alasan lain itu?" tanya Ellina. Raut wajahnya terlihat penasaran. Jelas perasaannya berubah mendadak tidak enak.
Zean menatap Ellina lekat-lekat. Masih dengan posisi kedua tangan diatas meja dan saling bertautan.
"Aku hanya tidak ingin kau menanggung malu karena hamil diluar nikah dan tanpa suami."
Deg
__ADS_1
Seketika Ellina tercekat. Jadi hanya sebatas itu tanggung jawab Zean padanya? Menikahinya hanya untuk menutupi aibnya lalu setelah itu membuangnya dan anak mereka begitu saja?
Bukankah itu keterlaluan?
"Maksudmu, kau sedang mengasihaniku?" tanya Ellina lirih.
"Anggaplah begitu!" jawab Zean dengan tanpa perasaan.
Lagi-lagi Ellina harus menelan pil pahit. Namun ia berusaha tegar. Jelas ia tidak bisa menuntut lebih pada Zean.
Pernikahan mereka terjadi memang tanpa didasari rasa cinta. Semua berawal karena kesalahan dan keadaan yang memaksa. Dan Ellina harus bisa memaklumi itu.
Sekejap Ellina menutup matanya berusaha menarik nafas sebaik mungkin karena saat ini rasanya begitu sesak sekali.
Kemudian Ellina kembali menatap Zean sembari mencoba tersenyum seakan-akan itu semua tidak jadi masalah baginya.
"Baiklah aku mengerti alasanmu. Mari kita bercerai setelah aku melahirkan. Aku akan membawa anak ini bersamaku pergi sejauh mungkin dari kehidupanmu agar kita tidak saling mengganggu." ucap Ellina pada akhirnya ia hanya bisa pasrah.
"Tidak! Kau tidak akan membawa anak itu bersamamu karena setelah kau melahirkan aku yang akan membawa anak itu bersamaku!"
"Maksudmu?!"
Jelas Ellina tampak terkejut mendengar ucapan Zean.
"Kau akan membawa anak ini?!" tanya Ellina laginsembari memegangi perutnya yang masih rata.
"Ya, aku akan membawa anak itu bersamaku! Untuk itu aku menawarkan sebuah kesepakatan padamu. Aku akan memberikanmu sejumlah uang sebagai kompensasi, terserah kau ingin berapa yang jelas kita bercerai dan biarkan aku membawanya!" jawab Zean cepat.
Ellina nampak tercengang. Ia tidak habis pikir bisa-bisanya Zean mendapatkan ide segila itu. Memisahkan anak dari ibunya.
Tentu saja Ellina tidak setuju. Seketika amarahnya tersulut.
__ADS_1
"Apa kau pikir aku tidak waras?! Hingga aku harus menukar darah dagingku dengan uang?! Maaf Tuan Zean yang terhormat sampai mati aku tidak akan pernah melakukan hal sekeji itu!"
"Jika kau ingin bercerai mari kita bercerai! Tapi anak ini akan tetap bersamaku karena aku ibunya dan aku yang melahirkannya! Aku tidak akan menukarnya dengan apapun!" ucap Ellina begitu menggebu-gebu.
Seketika rahang Zean mengeras. Ia pikir sejak kapan Ellina berani melawannya.
Bahkan gadis itu begitu lantang menolak kesepakatan yang ia tawarkan.
"Kau tidak berhak menolaknya Ellina! Anak itu juga anakku! Darah dagingku! Lagipula setelah kita bercerai kau bisa menikah dengan laki-laki lain yang kau cintai dan memiliki banyak anak dengannya! Untuk apa susah payah membawa anakku bersamamu? Belum tentu kau mampu menghidupinya dengan layak!" ucap Zean sarkas.
Jlebb
Bagaikan anak panah yang mengenai sasaran seketika kata-kata Zean langsung menancap tepat dihati Ellina.
Ellina tersenyum getir tanpa bisa lagi membendung airmatanya.
"Daripada memberiku saran untuk menikah dengan laki-laki lain, kenapa tidak kau pakai saja saranmu sendiri?! Kau bisa menikahi gadis yang kau cintai dan memiliki banyak anak bersamanya bukan? Kenapa harus repot-repot mengambil milikku?!" balas Ellina.
Ia beranjak dari duduknya sambil menyorot tajam kearah Zean.
"Sampai mati aku tidak akan pernah menukar anak ini dengan apapun!"
Ellina lantas berbalik hendak meninggalkan ruang makan, namun tiba-tiba...
"Akkhh!"
Gadis itu meringis sembari memegangi perutnya.
"ELLINA!" teriak Zean. Saat itu juga ia berlari menghampiri sang istri yang kesakitan.
.
__ADS_1
.
Bersambung...