
Setelah semua persoalan selesai, Andita menyuruh Ellina untuk beristirahat dikamar tamu yang sudah disediakan oleh salah satu pelayan dikediaman Tuan Wildan.
Ellina yang memang merasa kelelahan pun tak membantah dan menuruti perintah calon ibu mertuanya itu.
Setelah selesai membersihkan diri, Ellina mulai merebahkan tubuhnya diatas ranjang sembari menatap langit-langit kamar dengan tatapan nanar. Dan entah kenapa, tiba-tiba Ellina merasa insecure.
Didalam hatinya Ellina bertanya-bertanya, apakah keputusannya menerima Zean sebagai suaminya sudah tepat? Mengingat perbedaan strata sosial diantara mereka sangatlah jauh. Bagaikan langit dan bumi.
Ellina sangat sadar bahwa dirinya hanyalah gadis miskin yang tidak memiliki apapun.
Sedangkan Zean? Hampir satu negeri ini tahu bahwa lelaki itu adalah pewaris tahta dari keluarga Wijaya yang memiliki kekayaan tak terhingga.
Memikirkan kenyataan itu tanpa sadar bulir bening keluar dari kedua sudut mata Ellina. Sambil mengusap perutnya Ellina mencoba menguatkan hati. Ia berpikir, mungkin ini adalah takdir terbaik yang harus ia terima.
Lambat laun netra Ellina memberat dan tak lama ia pun tertidur pulas.
Waktu menunjukan pukul 1 pagi. Tiba-tiba Ellina terjaga ketika merasakan mual yang amat sangat.
Ia segera beranjak dari ranjang dan berlari kecil kearah kamar mandi.
Sesampainya didepan wastafel, Ellina langsung memuntahkan semua makanan yang tadi disantapnya ketika makan malam. Seketika tubuh Ellina pun menjadi lemas.
Ellina menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar mandi sembari mengusap pelan tengkuknya. Lalu dengan susah payah Ellina berjalan keluar dan mendudukkan dirinya disisi ranjang.
"Ya Tuhan... kapan mual ini berakhir?"
Tiba-tiba Ellina terpikirkan untuk membuat teh hangat. Namun sesampainya didapur, Ellina malah kebingungan ketika hendak mencari teh dan gula.
Ingin bertanya pada pelayan juga tidak mungkin mengingat hari sudah larut malam. Sudah pasti para pelayan dirumah tersebut tengah beristirahat setelah lelah seharian bekerja.
Pada akhirnya Ellina mencari sendiri. Dengan berjinjit Ellina membuka satu persatu lemari yang menempel pada dinding.
Dan ia pun berhasil menemukan apa yang dicarinya. Namun lagi-lagi ia kebingungan ketika melihat wadah-wadah itu berada dikotak paling atas. Hingga sulit untuk digapai.
"Ck! Bagaimana ini?!"
Ellina tampak berpikir. Sepersekian detik kemudian ia langsung teringat pada kursi yang ada diruang makan. Dengan segera Ellina mengambil kursi itu lalu menaikinya secara perlahan.
Akan tetapi ketika Ellina hendak turun tiba-tiba saja kursi tersebut sedikit goyang hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Akh!" pekik Ellina.
__ADS_1
Beruntung disaat yang tepat sepasang tangan kokoh berhasil menyangga tubuhnya dari belakang.
"Dasar bodoh!"
Deg.
Seketika tubuh Ellina membeku. Ia hafal betul siapa pemilik suara tersebut. Refleks Ellina menolehkan kepalanya kesamping dan betapa terkejutnya ia ketika tatapannya bertemu langsung dengan tatapan Zean yang begitu tajam.
"Tu-tuan?!"
Tanpa menjawab sepatah katapun, Zean segera menurunkan tubuh Ellina dengan hati-hati lalu menatap perempuan itu dengan wajah merah padam.
"Apa kau tidak punya otak hah?!" tunjuk Zean tepat dikening Ellina. Sementara Ellina hanya diam tak berani menjawab. "Kau lupa kalau kau sedang hamil? Apa kau sengaja ingin mencelakai anakku?!" tuduhnya.
Sontak Ellina menggeleng cepat.
"Ti-tidak Tuan! Mana mungkin aku tega mencelakai anakku sendiri. Aku hanya ingin membuat teh hangat karena perutku mual. Tapi wadah-wadah itu berada diatas dan sulit dijangkau hingga aku berpikir untuk menggunakan kursi supaya bisa mengambilnya. Sungguh aku tidak tahu kalau ternyata kursi itu rusak." jawab Ellina panjang lebar dengan raut wajah dipenuhi ketakutan.
Sayangnya jawaban Ellina sama sekali tak digubris oleh Zean. Tanpa diduga lelaki itu mencengkram kedua pipi Ellina dengan kuat hingga membuat Ellina meringis kesakitan.
"Tu-tuan!"
Deg.
Secepat kilat Ellina langsung menganggukan kepalanya. Dan disaat itu juga Zean melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar.
"Sekarang kembali kekamarmu!" titah Zean.
Tanpa menunggu perintah dua kali Ellina segera meninggalkan dapur dengan perasaan sedih.
Sementara Zean yang mengetahui apa yang diinginkan Ellina langsung membuatkan teh untuk perempuan itu.
Ya, meski ia merasa kesal dengan tindakan Ellina yang ceroboh, Zean tidak bisa menutup mata bahwa Ellina melakukan itu karena gejala kehamilan yang dialaminya.
******
Keesokan harinya.
"Oh God! Sungguh kau akan menikahinya brother?!" Darren cukup terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh sahabatnya itu.
Ia tidak menyangka bahwa Zean akan benar-benar menikahi Ellina.
__ADS_1
"Hemm. Bukankah itu idemu?!" sinis Zean.
Darren hanya berdecak sambil membawa dua gelas minuman dingin ditangannya lalu menaruhnya diatas meja tepat dihadapan Zean.
Saat ini Zean tengah berada di apartemen Darren. Sepertinya rencana pernikahan yang begitu mendadak membuatnya merasa stress hingga ia butuh teman untuk diajak berbincang.
"Ya itu memang ideku. Tapi aku menyarankannya demi kebaikanmu juga kawan."
Zean hanya diam tak menanggapi.
"Oh ya, apa kakekmu setuju dengan keputusanmu itu? Mengingat bagaimana beliau selalu saja berusaha menjodohkanmu dengan para putri rekan bisnisnya. Padahal saat itu kau sudah memiliki kekasih. " tanya Darren.
Zean menggeleng pelan sembari mengambil minumannya.
"Kakek sama sekali tidak setuju dengan pernikahan ini! Bahkan sampai detik ini dia tidak mau berbicara padaku."
"Benarkah?!"
"Hemm."
"Tapi menurutku restu kakekmu tidak terlalu penting! Niatmu untuk bertanggung jawab pada Ellina sudah benar. Selanjutnya terserah padamu."
"Aku akan menceraikannya setelah bayi itu lahir!" jawab Zean cepat.
"Really?! Bagaimana jika nanti kau jatuh cinta padanya sebelum dia melahirkan?! Apa kau akan tetap menceraikannya?!" pancing Darren.
"Jatuh cinta padanya?!" Ck! Impossible."
Sontak Darren terkekeh mendengar jawaban sahabatnya itu.
"Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini brother! Apalagi jika kalian sudah tinggal satu atap. Aku yakin seiring berjalannya waktu benih-benih cinta itu akan tumbuh. Dan jika itu terjadi, aku adalah orang pertama yang akan memberikanmu ucapan selamat."
Zean hanya menanggapi ocehan sahabatnya itu dengan tersenyum sinis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Seolah menepis semua kemungkinan yang akan terjadi setelah ia menikah nanti.
"Aku bersumpah aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya! Akan kupastikan itu."
.
.
Bersambung...
__ADS_1