Painful Love Story

Painful Love Story
Bab 55


__ADS_3

Pagi hari dirumah sakit milik Tuan Wildan.


Ellina mengerjap dan membuka mata ketika kesadarannya mulai kembali. Ia memfokuskan pandangannya menatap langit-langit kamar yang terasa asing baginya. Bau obat tercium, menyeruak kedalam indera penciumannya.


Dan bertepatan dengan itu, tiba-tiba wajah Zyl muncul dihadapannya.


"Kakak ipar! Kau sudah sadar?!" seru Zyl dengan nada senang dan haru.


"Aku dimana?" tanya Ellina dengan suara parau.


"Kau berada di rumah sakit Kak. Untung semalam aku dan Adrian menemukanmu tepat waktu dan segera membawamu kemari kalau tidak..."


"Janinku..." dengan refleks Ellina memegang perutnya. Ia ingat terakhir kali ia mengalami kontraksi hebat sebelum akhirnya ia jatuh pingsan. "Bagaimana dengan janinku?" tanya Ellina dengan bibir bergetar.


"Janin anda baik-baik saja Nona. Semalam dokter kandungan telah memeriksa anda. Beruntung janin anda sangat kuat hingga masih bisa diselamatkan. Akan tetapi, jika hal seperti ini sampai terjadi lagi kemungkinan anda akan kehilangan janin anda. Oleh sebab itu dokter menyarankan supaya anda menghindari stress berlebih agar tidak memicu kejadian serupa." jawab Adrian yang sedari tadi berada diruangan itu bersama Zyl.


Ellina melirik sekilas kearah Adrian. Raut wajahnya menunjukkan kelegaan sekaligus kesedihan setelah mendengar pernyataan tersebut. Lalu ia menatap perutnya dengan sendu.


"Maafkan Ibu, Nak. Karena kesalahan Ibu, Ibu nyaris kehilanganmu." Ellina berucap sambil menitikkan air mata.


Zyl menoleh kearah Adrian, memberinya isyarat lewat mata agar lelaki yang berprofesi sebagai dokter pribadi keluarganya itu keluar sebentar, karena ia ingin berbicara empat mata dengan Ellina.


Adrian yang mengerti pun menganggukkan kepala lalu memohon izin undur diri.


Setelah kepergian Adrian, Zyl menarik kursi dan mendudukkan diri disamping brankar kakak iparnya. Ia ikut mengelus perut Ellina yang terdapat keponakannya didalam sana dengan lembut.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Kak? Kenapa kau bisa terkunci didalam kamar?" tanya Zyl dengan hati-hati sambil menatap wajah Ellina.


Sontak Ellina menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusap perut, lalu menoleh kearah Zyl yang menunggu jawabannya.


"Kakakmu yang mengunciku." jawab Ellina dengan suara tercekat.


"What?! Zean menguncimu?!" pekik Zyl tidak percaya.


Ellina mengangguk kemudian menangis. Ia teringat kejadian kemarin sore, dimana Zean begitu murka saat melihatnya bersama Devan ditaman kota. Lalu dengan kasar pria itu menyeretnya pulang dan menguncinya didalam kamar tanpa peduli rintihannya.


Dengan berlinang air mata, Ellina menceritakan apa yang dialaminya pada Zyl tanpa dilebih-lebihkan. Dan tentu saja Zyl merasa terkejut sekaligus geram saat mendengar cerita kakak iparnya itu.


Ia tidak habis pikir bagaimana mungkin kakaknya tega mengurung istrinya sendiri didalam kamar tanpa ada seorang pun diapartemen mereka?


Seandainya Zean tahu kalau Ellina baru saja mengalami pendarahan dan nyaris kehilangan janin mereka, ia yakin saudara kembarnya itu akan menyesal seumur hidup.


"Memang siapa temanmu itu? Dan darimana kau mengenalnya?" tanya Zyl penasaran. Karena setahunya, Ellina hanya memiliki seorang teman dan itu pun perempuan yaitu Tiara. Jadi tidak mungkin rasanya jika Zean cemburu pada Tiara hanya karena melihat mereka duduk berduaan bukan?


"Devan. Namanya Devan. Kami berkenalan dipusat perbelanjaan setelah aku menolong keponakannya yang terjatuh." jawab Ellina pelan.


Deg


"Siapa?! Devan?!" ulang Zyl dengan nada terkejut.


Ellina mengangguk.


"Ya Devan. Kenapa? Kau mengenalnya?" tanya Ellina.

__ADS_1


Sejenak Zyl terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak mengenalnya, tapi ..." Zyl tampak berpikir, apa mungkin Devan teman Ellina adalah Devan yang sama yang menghancurkan hubungan Zean dan Lyora?


Zyl mulai menggabungkan cerita sang nenek dan Ellina. Lama ia terdiam hingga ia terkesiap ketika Ellina memanggil namanya.


"Zyl!"


"Ya?!"


"Tapi apa?" tanya Ellina dengan nada menuntut.


Zyl menatap Ellina lekat-lekat. Dan tak lama kemudian ia mulai menceritakan apa yang terjadi pada kakeknya begitu juga perbuatan sang kakek pada Zean.


Sontak Ellina begitu terkejut mendengarnya. Ia tidak menyangka jika Tuan Wildan akan mampu bertindak sejauh itu demi menikahkan cucunya dengan keluarga yang sepadan dengan keluarga mereka.


Lalu Ellina dan Zyl mulai menyimpulkan bahwa Devan teman Ellina, adalah orang yang sama yang menghancurkan hubungan Zean dan Lyora atas perintah Tuan Wildan.


******


"Sejak kapan kau mengalaminya?" Zean menatap Lyora dengan dingin. Saat ini keduanya berada diruang rawat. Dirumah sakit berbeda dengan Ellina.


Semalam sejak pingsannya Lyora, Zean langsung membawa wanita itu kerumah sakit. Keadaan Lyora begitu lemah, hingga membuat Zean khawatir. Dan rasa khawatir itu semakin menjadi tatkala dokter mengatakan bahwa Lyora menderita sebuah penyakit mematikan. Leukemia.


"Ah, kau sudah tahu rupanya." jawab Lyora sambil tersenyum getir.


"Jawab pertanyaanku Lyora, sejak kapan kau mengalaminya?"


"Lyora!"


Lyora memalingkan wajahnya kesamping lalu menitikkan air mata.


"Satu tahun yang lalu." ucapnya lirih.


Deg.


"Satu tahun yang lalu?!" Zean tampak terkejut. "Kenapa kau tidak memberitahuku? Bukankah saat itu kita masih..." Zean tak melanjutkan kalimatnya.


"Masih bersama? Ya, aku sengaja merahasiakan penyakitku darimu. Aku takut kau meninggalkanku setelah tahu bahwa ternyata aku adalah wanita penyakitan."


Mendengar jawaban Lyora, jantung Zean serasa diremas. Bisa-bisanya Lyora berpikir seperti itu terhadapnya.


Tatapan Zean yang tadinya kesal kini melembut. Zean menggenggam tangan Lyora dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengusap lembut kepala wanita itu.


"Maafkan aku." bisik Zean lirih.


Lyora menoleh kearah Zean hingga kini keduanya berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.


"Berhentilah meminta maaf. Kau tidak bersalah."


Zean menundukkan kepalanya dalam. Jemari kokohnya semakin erat menggenggam tangan Lyora seolah lupa batasan bahwa kini mereka bukan lagi sepasang kekasih.


"Zean, kau menangis?" tanya Lyora yang melihat bahu Zean bergetar. "Zean!" Lyora menggoyangkan tangannya yang digenggam oleh lelaki itu.

__ADS_1


"Aku akan membiayai semua pengobatanmu sampai kau sembuh seperti sedia kala." ucap Zean seraya mengangkat kepalanya. Wajahnya tampak membasah oleh air mata.


"Tidak perlu. Aku masih mampu membiayai diriku sendiri."


"Ini bukan penawaran, tapi keputusan. Aku sudah memutuskan untuk membiayaimu. Jadi kau tidak berhak menolaknya."


Lyora terdiam, ternyata prianya masih sama seperti dulu, keras kepala.


"Terserah kau saja." jawabnya tak ingin berdebat.


Sejenak keheningan membentang diantara mereka. Menciptakan suasana canggung yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya. Hingga pertanyaan Lyora membuat Zean tersadar.


"Kau tidak ingin pulang? Istrimu pasti sedang khawatir menunggumu dirumah." ucap Lyora. Ada rasa sakit ketika ia mengatakan kalimat itu.


Ellina.


Zean langsung teringat wanitanya. Wanita yang ia kurung sejak kemarin sore karena rasa cemburu yang menggayutinya saat melihat Ellina bersama si brengsek Devan. Bagaimana mungkin ia melupakan Ellina?!


Seketika Zean bangkit berdiri dengan wajah gelisah.


"Astaga! Bagaimana bisa melupakannya!" ucap Zean sembari mengusap kasar wajahnya.


Lyora mengamati ekspresi Zean, apa mungkin Zean mencintai Ellina?


"Kalau begitu pulanglah!" titah Lyora dengan berat hati..


"Tapi bagaimana denganmu?"


Lyora mencoba tersenyum.


"Tidak perlu mengkhwatirkanku. Ada suster yang akan menjagaku disini." jawabnya seolah penuh pengertian.


"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang."


Lyora mengangguk.


Baru saja Zean hendak berbalik, tiba-tiba Lyora menahan tangan lelaki itu.


"Zean."


Zean menoleh hingga keduanya saling memandang satu sama lain.


"Ya?"


"Berjanjilah kau akan kembali." pinta Lyora.


Zean bergeming menatap Lyora dengan ragu.


"Aku mohon!"


.


.

__ADS_1


__ADS_2