
Zean membaringkan miring tubuhnya diatas ranjang tepat disamping Ellina yang tengah tertidur pulas membelakanginya. Ia menggeser pelan tubuhnya merapatkan diri pada punggung perempuan itu kemudian melingkarkan lengan kokohnya pada perut Ellina.
Zean sudah kembali ke apartemennya sejak setengah jam lalu. Dia yang telah membersihkan diri memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak setelah seharian ini kelelahan bolak-balik mengurus dua wanita yang sama-sama berarti dalam hidupnya.
Berarti dalam arti lain.
Ellina adalah istrinya. Wanita yang ia cintai saat ini, yang tengah mengandung buah hatinya dan harus ia jaga dengan segenap jiwa. Sementara Lyora, wanita itu adalah wanita masalalunya, yang pernah mengisi hatinya, yang kini mengharuskannya bertanggung jawab atas segala apa yang terjadi pada wanita itu.
Zean berharap dengan dia menemani Lyora hingga wanita itu sembuh secara fisik dan psikis, itu akan membuat rasa bersalahnya terbayarkan. Walau dia tau, itu semua tidak akan bisa mengembalikan kehormatan Lyora yang sudah dirusak oleh Devan atas perintah kakeknya.
Memikirkan semua itu, pikiran Zean terasa berat. Bukankah secara tidak langsung dia sudah mengkhianati Ellina?
Sebenarnya dia ingin bersikap jujur pada wanitanya. Tapi ketika mengingat Ellina yang berkaca-kaca menanyakan tentang dirinya yang akan kembali pada Lyora atau tidak, membuat Zean mengambil kesimpulan bahwa sekecil apapun ia menceritakan tentang Lyora, pasti akan membuat Ellina terluka.
Dan Zean tidak mau itu terjadi. Dia tidak mau memberati pikiran Ellina dengan hal-hal yang tidak semestinya dipikirkan oleh wanita itu, yang nantinya malah akan berimbas pada perkembangan buah hati mereka.
Zean menghela napas panjang. Mencoba menyingkirkan rasa bersalahnya terhadap sang istri.
Dengan gerakan lembut dia mengusap perut Ellina. Sementara kepalanya ia tenggelamkan dikelembutan rambut wanita itu. Menghidu aromanya yang terasa menenangkan dengan mata terpejam.
Namun ternyata apa yang dilakukan Zean membuat Ellina yang sedang terlelap dibuai mimpi seolah ditarik paksa kealam sadarnya.
Secara alami wanita itu membuka mata dan langsung mencengkram erat lengan kekar yang tengah mengusap-usap perutnya.
"Masih ingat pulang rupanya?!"
*
*
*
Sementara ditempat lain, tepatnya di rumah sakit.
Lyora tampak menatap langit-langit kamar dengan tatapan nyalang. Pikirannya menerawang jauh pada perkataan Zean beberapa jam lalu saat masih menemaninya dirumah sakit.
Lelaki itu berkata bahwa pertemuannya dengan Ellina diawali dengan kesalahan. Bahkan pernikahannya pun tidak didasari oleh rasa cinta. Namun seiring berjalannya waktu ditambah dengan kebersamaan yang mereka lalui, lelaki itu mulai menyadari kalau dirinya jatuh cinta pada wanita itu.
Ya, wanita itu, Ellina.
Seketika kesakitan merambati hati Lyora, memukul-mukul rongga dadanya tanpa ampun hingga menciptakan rasa nyeri tak terperi.
__ADS_1
Seolah kenyataan itu belum cukup menghempaskannya kedasar jurang, Zean secara terang-terangan menegaskan bahwa meskipun dia merasa bersalah atas perbuatan kakeknya, lelaki itu mengatakan dengan jelas, bahwa dia tidak akan pernah bisa kembali pada Lyora. Karena selain hati lelaki itu sudah tertaut pada Ellina, perasaannya pada Lyora pun sudah sirna.
Kalau sudah begini, apa artinya jalannya untuk mendapatkan lelaki itu benar-benar tertutup?
Tak terasa bulir bening keluar dari sudut mata Lyora. Rasanya dia tak tahan dengan semua ketidak adilan yang menimpanya.
Jelas semua kesialan ini berawal dari lelaki tua renta itu!
Tuan Wildan.... Ku pastikan kau akan membayarnya!
*
*
*
Ellina masih terus berusaha melepaskan tangan Zean yang melingkari pinggangnya. Seolah tak tahu malu lelaki itu semakin merapatkan diri dan memerangkap Ellina dengan menindihkan kakinya ke kaki Ellina.
Tak mau menyerah Ellina terus memberontak. Jelas dia masih marah dan kesal pada suaminya ini. Bukan hanya masalah ketidak percayaan lelaki itu padanya, tetapi juga masalah dirinya yang ditinggalkan seorang diri tanpa lelaki itu berpamitan padanya dan baru pulang menjelang dini hari.
Zean beralasan bahwa ada urusan pekerjaan mendadak yang mengaharuskannya datang keperusahaan.
"Lepaskan!" sentak Ellina sambil terus berusaha menyingkirkan lengan Zean dan menendang-nendang kakinya kesembarang arah hingga sprei yang melingkupi kasur besar itu kusut masai.
"Tidak! Sebelum kau memaafkanku!" bisik Zean serak tepat ditelinga Ellina. Membuat kuduk perempuan itu meremang.
"Kau selalu saja meminta maaf tapi kau juga selalu sengaja membuat kesalahan! Apa memang sudah hobbymu berbuat salah lalu dengan mudah meminta maaf?!" ketus Ellina.
Entah datang dari mana keberaniannya itu. Yang pasti Ellina ingin meluapkan emosinya.
"Aku tidak pernah sengaja melakukan kesalahan Ellina. Dan membuat kesalahan bukanlah hobbyku. Sungguh kali ini aku benar-benar minta maaf karena sudah berpikiran tidak-tidak padamu dan juga meninggalkanmu tanpa berpamitan."
Cup.
Zean mendaratkan kecupan hangat dipipi Ellina hingga membuat Ellina terkesiap karenanya.
"Jangan marah lagi sayang. Aku mohon! Aku bisa gila jika kau mendiamkanku seperti ini."
Cup.
Lagi, Zean mengecup pipi wanita itu. Bahkan kali ini dilakukannya berkali-berkali hingga membuat Ellina merasa kegelian karena ulahnya.
__ADS_1
"Hentikan Zean! Kau membuatku geli!" serunya sembari menahan tawa sekaligus menahan wajah Zean dengan tangannya.
"Aku baru akan berhenti jika kau mau memaafkanku."
Zean kembali melakukan aksinya, membuat Ellina sontak tertawa lepas. Wanita itu membalikkan tubuh telentang hingga wajah mereka saling berhadapan.
"Baiklah... baiklah aku akan memaafkanmu!" seru Ellina menyerah dengan nafas tersengal.
Zean menyeringai. Menatap wanitanya dengan binar kemenangan.
"Sungguh? Kau memaafkanku?!" tanya Zean memastikan.
Ellina mendongakkan dagu sebelum ia menjawab tegas kemudian.
"Ya aku memaafkanmu! Tapi ini yang terakhir! Jika sampai kau menyakitiku lagi, membohongiku bahkan sampai mengkhianatiku, maka bukan hanya aku tidak akan memaafkanmu. Tapi aku juga akan pergi jauh meninggalkanmu dengan membawa anak kita, ingat itu!"
Deg
Zean tersentak. Ekspresinya menggelap ketika dengan berani Ellina mengancamnya.
Zean menundukkan kepala, sebelah tangannya menangkup sisi pipi perempuan itu mengusapnya perlahan lalu menyentuhkan ujung hidungnya pada hidung Ellina hingga nafas mereka saling bersinggungan.
"Itu tidak akan pernah terjadi. Takkan ku biarkan kau pergi dariku." jawabnya parau.
Baru saja Ellina ingin membantah, Zean lebih dulu membenamkan bibirnya pada kelembutan bibir perempuan itu. Kali ini bukan hanya kecupan tetapi berupa lu matan.
Di pagutnya bibir ranum itu dengan lembut, bahkan sesekali lidahnya bergerak menggoda supaya Ellina membalas ciumannya.
Semakin lama ciuman Zean semakin menuntut. Bahkan kini tangannya sudah bergerilya kemana-mana.
Ellina yang mendapat serangan mendadak itu hanya bisa pasrah. Jika sudah begini dia tahu apa yang diinginkan suaminya.
Secara alami, Ellina melingkarkan kedua tangannya kebelakang kepala dan punggung Zean. Mengusapnya halus hingga membuat gelenyar panas dalam tubuh lelaki itu bergolak oleh hasrat yang siap meledak.
Perlahan Zean melepaskan tautan bibir mereka, ditatapnya wanita yang ia cintai ini dengan pandangan berkabut.
"Aku menginginkanmu Ellina."
*
*
__ADS_1