
Percintaan panas mereka baru berakhir ketika waktu hampir menjelang pagi hari. Itu pun dengan Ellina yang terus menerus memohon meminta untuk dilepaskan karena dia merasa kelelahan.
Zean benar-benar menjamah tubuh Ellina tanpa ampun. Namun walau begitu semua dilakukannya dengan lembut mengjngat Ellina sedang hamil.
Kini kedua insan itu tengah berbaring dibalik selimut tebal. Menghalau rasa dingin yang tercipta dari pendingin ruangan yang sebelumnya tidak terasa akibat pergulatan panas mereka.
Zean memeluk tubuh Ellina dengan erat. Sejak beberapa menit lalu perempuan itu tampak sudah memejamkan mata. Sementara dirinya masih saja terjaga.
Ancaman Ellina masih terngiang-ngiang ditelinga Zean. Bisa-bisanya wanita rapuh ini mengancamnya. Dia masih ingat betul bagaimana dulu Ellina sering ketakutan padanya hanya dengan melihat sorot matanya yang tajam dan mendengar suaranya yang tegas.
Tapi kini hanya karena kesalahannya kemarin, Ellina sudah berani menentangnya, bahkan mengancam akan pergi jauh darinya dengan membawa anak mereka jika dia kembali berbuat salah.
Jelas Zean tidak akan membiarkan itu terjadi. Bahkan meski kelak Ellina tahu bahwa secara diam-diam dia membantu Lyora dan perempuan itu marah padanya, Zean takkan pernah membiarkan Ellina pergi darinya.
Tanpa sadar Zean mencengkram pundak wanita itu, begitu kuat namun tidak menyakiti.
Selain memikirkan ancaman Ellina, tiba-tiba Zean terpikirkan ucapan Devan. Bajingan gila itu pernah mengatakan kalau dia mencintai Ellina?
Kurang ajar!
Berani sekali dia mengatakan itu padanya! Apa didunia ini sudah tidak ada wanita lagi yang mau dengan bajingan itu sehingga dia harus merebut miliknya?
Tentu Zean tidak akan membiarkan wanitanya jatuh lagi dalam perangkap lelaki sialan itu.
Dengan refleks Zean mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, namun tak mengendurkan pelukannya terhadap Ellina.
Dia membuka layarnya dengan sebelah tangan. Melihat informasi yang dikirimkan asisten pribadinya perihal tugas yang dia berikan untuk menghancurkan Devan.
Tak lama seringai puas terbit diwajah Zean. Sepertinya dia akan tidur lelap setelah ini.
*
*
*
Waktu menunjukkan pukul 10 pagi. Selepas kepergian Zean kekantor, Ellina memutuskan untuk kembali kekamarnya guna mengistirahatkan tubuhnya yang begitu pegal setelah semalaman digempur habis-habisan oleh lelaki itu.
Sedangkan segala urusan pekerjaan rumah tangga, Ellina sudah menyerahkan semuanya kepada ART yang disewa suaminya. ART itu datang pukul 6 pagi dan pulang setelah pekerjaan selesai. Zean melakukan itu supaya Ellina tidak kelelahan dan tetap fokus menjaga kehamilannya.
Sepertinya lelaki itu sangat antusias menjadi seorang ayah.
Dengan bersandar pada dipan ranjang Ellina mengelus perutnya sembari mengulas senyum. Ia tidak menyangka akan sampai pada titik ini. Titik dimana dia menjadi wanita yang begitu dicintai oleh suaminya.
Dalam hati Ellina berdoa semoga Zean terus mencintainya sampai akhir hayat. Setia kepadanya seperti yang dilakukan mendiang ayahnya kepada mendiang ibunya.
__ADS_1
Tanpa sadar bulir kristal jatuh membasahi pipi Ellina. Ia sungguh merindukan sosok kedua orangtuanya itu. Tiba-tiba Ellina terpikirkan untuk mengunjungi makam keduanya. Tentu saja dia harus meminta izin lebih dulu pada Zean.
Ellina pun meraih ponselnya dari dalam tas. Ia ingin segera memberitahu niatnya itu pada suaminya.
Akan tetapi ternyata ponselnya masih dalam keadaan mati. Sama seperti terakhir kali ia menggunakannya ditaman. Ellina mengambil charger kemudian men-charge nya.
Setelah itu Ellina mulai menghidupkan ponsel tersebut. Namun alangkah terkejutnya ia ketika menyadari banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab yang masuk.
Ternyata dari Devan.
Lelaki itu menanyakan keadaannya. Akan tetapi Ellina yang sudah tahu betapa jahatnya Devan yang telah menjebak Lyora, tanpa berpikir panjang perempuan itu langsung memblokir nomor Devan.
*
*
*
"Hai! Bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Zean yang baru saja tiba dirumah sakit dan langsung masuk kedalam ruang rawat Lyora. Lelaki itu berjalan mendekat sambil tersenyum.
Lyora yang sedang menonton televisi seketika menoleh kearah pintu lalu membalas senyuman Zean.
"Hai juga! Seperti yang kau lihat, keadaanku sudah jauh lebih baik." jawabnya.
Zean menarik kursi kemudian mendudukkan dirinya disamping brankar Lyora.
Lyora tersenyum simpul.
"Kau tidak pergi ke kantor?" tanya Lyora.
"Ya tadinya aku akan langsung ke kantor, tapi berhubung jalan menuju kantor satu arah dengan rumah sakit ini akhirnya aku memutuskan untuk menjengukmu dulu."
Mendengar jawaban Zean yang begitu perhatian padanya, jelas hati Lyora merasa senang.
"Terimakasih Zean."
"Sama-sama."
"Oh ya, barusan dokter mengatakan kalau sore ini aku sudah boleh pulang dan bisa menjalani perawatan dirumah." ucap Lyora memberitahu.
Zean menaikkan sebelah alisnya. Menatap Lyora dengan tidak yakin.
"Benarkah?" tanya Zean memastikan.
Lyora mengangguk.
__ADS_1
"Hem. Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan langsung pada dokternya."
"Baiklah nanti akan aku tanyakan, jika benar kau boleh pulang hari ini maka aku yang akan mengantarmu pulang ke apartemen." putus Zean.
"Tidak perlu Zean. Pekerjaanmu pasti banyak sekali. Biar aku pulang naik taksi saja." tolak Lyora.
"Aku tidak sedang memberimu penawaran Lyora, ini adalah keputusanku."
Lyora menarik napas panjang. Lelaki dihadapannya ini memang selalu bertindak semaunya. Tapi jujur saja memang itu yang dia inginkan.
"Baiklah. Terserah kau saja, itupun jika tidak merepotkanmu."
"Tentu saja tidak."
Sejenak keduanya terdiam. Lyora pun kembali mengalihkan perhatiannya kearah televisi. Namun tak lama wanita itu membelalakkan mata karena terkejut.
"Erlangga Corporation?? Bukankah itu perusahaan Devan?!" seru Lyora.
Sontak pekikkan Lyora menarik perhatian Zean hingga lelaki itu ikut melihat kearah tv. Dan tak lama seringai skeptis muncul dibibirnya setelah melihat berita tersebut.
Akhirnya kehancuranmu tiba Devan.
Dalam berita itu dikabarkan bahwa perusahaan Devan tiba-tiba mengalami pailit akibat banyaknya hutang yang ditanggung oleh perusahaan tersebut kepada perusahaan lain.
Padahal setahu khalayak, belum lama ini perusahaan Erlangga Corporation baru saja bangkit dari kebangkrutan setelah menerima suntikan dana yang cukup besar dari perusahaan asing. Yang ternyata perusahaan itu adalah perusahaan milik Tuan Wildan.
Sayangnya semua orang tidak tahu bahwa dalang dibalik kehancuran Devan untuk kali kedua ini adalah Zean.
Lyora langsung mengalihkan tatapannya kearah Zean ketika tak mendengar jawaban dari lelaki itu. Keningnya berkerut saat melihat Zean tengah tersenyum misterius sambil bersedekap tangan.
"Jangan bilang kau yang melakukan ini Zean?" tanya Lyora dengan nada menuduh yang kental.
Zean membalas tatapan Lyora dengan santai.
"Bajingan itu pantas menerimanya, setelah apa yang dilakukannya padamu, padaku, juga pada Ellina." jawab Zean tanpa berniat membantah.
"Pada Ellina?!" beo Lyora tidak mengerti.
Zean pun mulai menceritakan apa yang dilakukan Devan pada Ellina ditaman juga kata-kata lelaki itu yang mencintai wanitanya ketika dia menghajarnya habis-habisan.
Tanpa Zean sadari bahwa cerita yang ia sampaikan pada Lyora merupakan angin segar bagi wanita itu setelah semalaman wanita itu menangis karena frustasi ketika tak menemukan jalan untuk mendapatkan kembali hatinya.
Jadi Devan mencintai Ellina? .... Wow...Bukankah ini berita bagus Lyora? Sepertinya dewi keberuntungan sedang berpihak padamu.
.
__ADS_1
.