
Setengah jam sebelumnya.
Dikamar pribadinya, Zean tengah berdiri menatap dirinya didepan cermin. Lelaki berparas tampan itu sudah siap dengan pakaian pengantinnya. Hanya saja ia masih enggan turun karena ia masih belum percaya bahwa dirinya akan menikah hari ini.
"Kau sudah siap?!" tanya Zidan yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamar Zean.
"Ya Ayah, aku sudah siap." jawab Zean sambil melirik sang ayah lewat pantulan cermin.
"Kalau begitu ayo turun. Beberapa kerabat sudah datang dan ingin bertemu denganmu. Sapalah mereka sebelum acaranya dimulai."
Zean menghela napas berat lalu menganggukkan kepala.
"Baik Ayah! Sebentar lagi aku akan turun."
Sesaat Zidan terdiam. Lalu ia melangkahkan kakinya menghampiri sang putra dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Kau gugup?" tanya Zidan.
"Sedikit."
Zidan terkekeh kecil.
"Santailah. Hal ini biasa terjadi pada setiap calon pengantin. Termasuk pada Ayah ketika dulu menikahi ibumu." ucap Zidan sembari menepuk-nepuk pundak Zean.
"Ayah sangat beruntung memiliki Ibu." ucap Zean sambil membalikkan tubuhnya hingga keduanya berdiri saling berhadap-hadapan.
"Tentu saja. Ibumu pun sangat beruntung memiliki Ayah. Sudah tampan, gagah, ditambah lagi Ayah kaya raya." jawab Zidan dengan pongah.
Sontak Zean tertawa mendengar gurauan sang ayah.
"Kau pun beruntung memiliki Ellina. Dia wanita yang baik. Ayah berharap semoga pernikahanmu langgeng sampai maut memisahkan."
Deg.
Perlahan tawa Zean memudar. Bagaimana mungkin pernikahan mereka akan langgeng sampai maut memisahkan, sementara dia sudah berencana akan langsung menceraikan Ellina begitu Ellina melahirkan.
Sebab sejak awal niat Zean menikahi Ellina hanya karena ia tidak mau Zyl menerima karma atas perbuatan buruknya kepada perempuan itu.
Bahkan untuk kehidupan anak mereka kelak Zean sudah memikirkannya matang-matang.
Dia akan membawa anak itu bersamanya dan memberikan Ellina uang kompensasi sebagai ganti rugi.
Lamunan Zean buyar ketika Zidan kembali menepuk pundaknya dan berkata bahwa ia akan keluar lebih dulu untuk menyambut kedatangan kerabat mereka.
Setelah kepergian sang ayah, Zean mende sah pelan. Ia langsung berjalan menuju nakas kemudian mengambil sesuatu dari sana. Sebuah kotak cincin.
__ADS_1
Ya, cincin yang dulu akan diberikannya pada Lyora. Kini cincin itu tak berarti apapun lagi baginya.
Setelah pertemuannya dengan Lyora kemarin, Zean semakin yakin bahwa dia memang harus melupakan wanita itu.
Setelah beberapa saat memandangi cincin tersebut, Zean langsung membuangnya ketempat sampah dan segera keluar dari dalam kamar.
******
Seluruh keluarga menyambut hangat kehadiran Zean ditengah-tengah mereka.
Dengan senyum mengembang Zean pun menyapa dan menyalami anggota keluarga mereka satu persatu.
Tampak Darren pun sudah hadir disana bersama seorang wanita yang menemaninya.
Tak ketinggalan Tiara juga datang memenuhi undangan Ellina untuk memberikan ucapan selamat.
Disaat Zean tengah sibuk berbincang, dari arah belakang beberapa tamu lainnya terdengar berbisik-bisik hingga membuat Zean penasaran dan membalikkan tubuhnya kebelakang. Dan..
Deg.
Tepat saat itu juga tatapan Zean langsung tertuju pada wanita yang akan dinikahinya.
Zean memandangi Ellina dari atas sampai bawah. Ia tak menyangka bahwa Ellina akan tampil begitu cantik dan anggun hingga membuatnya terpesona.
Saking terpesonanya Zean sampai tak menyadari bahwa Ellina kini sudah berdiri dihadapannya dengan menundukkan pandangan.
Semua orang yang mendengarnya sontak tertawa hingga membuat wajah Zean berubah merah padam. Begitu pun dengan Ellina.
Hanya ada satu orang yang tidak menikmati moment tersebut, siapa lagi jika bukan Tuan Wildan.
Raut wajah lelaki tua itu begitu masam saat melihat rona malu diwajah cucunya.
Pada akhirnya detik-detik yang menegangkan pun terlewati.
Zean dengan lancar sukses mengikrarkan janji suci pernikahan. Dan mereka pun telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Zean menyematkan cincin dijari manis Ellina lalu mencium keningnya walaupun enggan. Hal itu ia lakukan karena dorongan dari kerabat terdekatnya.
Sementara Ellina hanya bisa diam dengan perasaan tak menentu.
Suara tepuk tangan meriah pun terdengar dari orang-orang yang menyaksikan.
Setelah para keluarga dan kerabat secara bergantian memberi ucapan selamat pada kedua mempelai, acara kembali dilanjutkan dengan makan-makan bersama.
******
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Ellina sedari tadi sudah membersihkan diri dan duduk ditepi ranjang.
Sementara Zean masih berada dibawah, mengobrol bersama keluarganya.
Ellina tampak bingung. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Karena ini bukan kamar yang biasa ia tempati, melainkan kamar Zean, lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.
Andita menyuruh Ellina untuk tidur dikamar sang putra karena jelas status mereka kini sudah berubah dan tidak mungkin mereka tidur dikamar terpisah.
Bahkan Andita menyerahkan semua tugas dan tanggung jawabnya pada Ellina untuk mengurus Zean dan melayani kebutuhannya.
Tentu siap tidak siap Ellina harus menerima tanggung jawab tersebut.
Tak lama pintu kamar terbuka. Ellina yang tengah melamun seketika langsung berdiri karena terkejut. Begitu pun dengan Zean yang juga terkejut mendapati Ellina berada dikamarnya.
Sejenak keduanya saling memandang. Namun secepat kilat Zean membuang pandangan itu dan merubah ekspresinya menjadi datar.
Tanpa sepatah kata pun Zean segera menutup pintu dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara Ellina hanya bisa menggigit bibirnya dengan perasaan serba salah sambil menatap punggung suaminya yang menghilang dibalik pintu.
Setelah 15 menit berlalu, Zean yang sudah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaiannya berniat untuk beristirahat.
Namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat Ellina tengah meringkuk diatas ranjangnya sambil menutup dirinya dengan selimut. Jelas pemandangan itu membuat Zean geram.
Kurang ajar! Siapa yang memberinya izin untuk tidur diranjangku?!
Zean memang tidak menyukai ada orang lain yang tidur diranjangnya, apalagi orang itu adalah Ellina. Wanita lemah yang sudah membuatnya terikat dengan status pernikahan yang tidak diinginkannya.
Tanpa basa basi Zean segera melangkahkan kakinya mendekati Ellina. Lalu membuka selimut yang dipakai Ellina dengan kasar.
Saat Zean hendak menghardik perempuan itu, tiba-tiba netranya tak sengaja melihat selembar foto yang tengah dipeluk oleh Ellina.
Zean pun mengambil foto tersebut dan memeriksanya. Ternyata foto itu adalah foto Ellina bersama kedua orang tuanya dimasa lampau.
Beberapa saat Zean memandangi foto tersebut lalu melirik kearah wajah Ellina yang sedang tertidur.
Zean melihat bahwa ada jejak air mata disudut mata perempuan itu yang menandakan bahwa Ellina baru saja menangis.
Dan entah kenapa tiba-tiba ada perasaan iba di hatinya. Dia yang tadinya ingin mengusir Ellina dari ranjangnya mendadak mengurungkan niatnya dan membiarkan perempuan itu terlelap disana.
"Kali ini aku membiarkanmu tidur diranjangku, tapi lain kali tidak akan!" bisik Zean sambil menaruh kembali foto Ellina dan membenarkan selimutnya.
.
.
__ADS_1
Bersambung...