Painful Love Story

Painful Love Story
Pemandangan Pagi Hari


__ADS_3

"Tidak akan ada perceraian! Bukankah sudah kubilang kita lupakan kesepakatan itu! Tidak perlu membahasnya lagi! Kau mengerti?!" ucap Zean dingin.


Lelaki itu membalas tatapan Ellina tak kalah tajam. Dipikirannya saat ini hanya tentang kondisi kesehatan gadis itu dan calon anak mereka.


Jika sesuatu terjadi pada Ellina dan janinnya hanya karena kesalahan yang dia buat, apa yang akan ia katakan pada ayah dan ibunya nanti?


Sudah pasti Andita dan Zidan akan menyalahkannya karena tidak bisa menjaga Ellina dan calon janinnya dengan baik.


"Kenapa tiba-tiba menyuruhku melupakannya? Bukankah sebelumnya kau sangat ingin bercerai? Kenapa hm? Apa lagi yang kau rencanakan untuk mengambil anakku?!" tanya Ellina sarkas.


"Rencana?! Apa aku terlihat selicik itu?! Apa kau lupa janin itu bukan hanya anakmu Ellina! Tapi juga anakku!" jawab Zean dengan penuh penekanan.


Ellina tersenyum sinis.


"Kenapa kau begitu yakin?! Bagaimana jika janin ini bukan darah dagingmu?! Kau lupa? Kau pernah mengataiku seorang ja lang bukan? Mungkin saja ini hasil benih orang lain bukan benihmu!"


"ELLINA!" bentak Zean. Lihatlah perempuan ini benar-benar menguji kesabarannya.


Seketika Zean mengeratkan rahangnya. Refleks ia mencengkram kedua pipi Ellina dengan satu tangan kokohnya. Menyorot Ellina dengan tatapan membunuh seolah ingin memakan gadis itu hidup-hidup.


Jelas Ellina bergidik melihat kemarahan Zean. Tapi sebisa mungkin ia menyembunyikan ketakutannya.


Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan lelaki itu. Semua demi melindungi janinnya.


Ellina bersumpah tidak akan membiarkan Zean membawa anak mereka begitu saja saat ia melahirkan nanti.


Hingga tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu. Ellina terpaksa membuat Zean meragu bahwa itu bukanlah benihnya. Dengan harapan lelaki itu akan melepaskannya tanpa syarat.


"Kau pikir aku percaya dengan omong kosongmu hm?! Hanya aku yang menyentuhmu! Dan aku yakin seratus persen bahwa janin itu adalah benihku! Jangan coba-coba membodohiku Ellina! Kita bisa melakukan tes DNA untuk membuktikannya!" saat itu juga Zean melepaskan tangannya dari wajah Ellina.


Ellina terdiam tanpa bisa berkata-berkata. Ia menatap Zean dengan tatapan marah benci jadi satu.


"Ini sudah malam! Lebih baik kau beristirahat! Dan jangan pernah berpikir bahwa aku akan melepaskanmu, oke?! Karena itu tidak akan pernah terjadi."


Setelah mengatakan itu Zean merapihkan selimut Ellina. Kemudian mematikan lampu yang berada diatas nakas dan bergegas keluar dari kamar tersebut.


Ellina menatap kepergian Zean dengan tatapan hampa.


Seketika airmata yang sejak tadi diibendungnya tumpah.


Percayalah ia tidak sekuat itu. Saat Zean menyatakan ingin bertanggung jawab, ia tak menampik bahwa ia begitu bahagia.


Walau ketakutan akan dicampakkan dalam pernikahan lebih mendominasi karena tak adanya rasa cinta, namun Ellina berusaha untuk menerima lelaki itu.


Setidaknya calon anak mereka bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


Tapi siapa sangka, baru satu hari menikah Zean sudah mematahkan harapannya.


Lelaki itu berkata akan menceraikannya setelah ia melahirkan dan akan membawa anak mereka bersamanya.


Bayangkan betapa sakit dan hancurnya hati Ellina mendengar hal tersebut.


Bagaimana bisa lelaki itu berpikir ingin memisahkan ibu dari anaknya yang baru lahir dan menukarnya dengan uang?!


Ellina hanya bisa menangis. Ia jadi teringat pamannya. Seandainya lelaki biadab itu tidak menjualnya pada seorang mucikari mungkin hidupnya tidak akan sehancur ini.


******


Zean menghempaskan tubuhnya diatas ranjang. Ia memejamkan mata sembari memijat pelipisnya dengan satu tangan.

__ADS_1


Setelah melewati ketegangan bersama Ellina rasanya kepala lelaki itu begitu sakit seolah mau pecah.


Dan saat ini Zean benar-benar dilanda kegalauan. Antara mempertahankan atau melepaskan Ellina.


Jika ia mempertahankan wanita yang tengah mengandung anaknya itu berarti peluangnya untuk mendapatkan kebebasannya kembali sangatlah tipis.


Dia harus siap terjebak hidup bersama wanita yang tidak dia cintai itu entah sampai kapan waktunya.


Sedangkan jika dia melepaskan Ellina tentu resikonya jauh lebih besar. Dia akan kehilangan calon anak mereka karena Ellina sudah jelas menolak kesepakatan itu mentah-mentah.


Beberapa kali terdengar helaan nafas berat dari mulut Zean.


Namun tiba-tiba ia tersenyum kecil ketika mengingat tindakannya saat mengompres perut Ellina.


Rasanya begitu aneh. Dekat dan hangat.


Apa mungkin karena adanya makhluk kecil yang besemayam didalam perut gadis itu hingga membuatnya terlena?


Ya, bisa jadi.


Seketika Zean tersadar lalu membasuh wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Kemudian beranjak duduk lalu melepaskan seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya hingga hanya menyisakan celana boxer pendek yang menutupi aset berharganya.


Dia selalu tidur dalam keadaan seperti itu jika berada dikamar seorang diri. Menurutnya lebih leluasa dan nyaman.


Setelah mematikan lampu, netra Zean semakin lama semakin memberat dan lambat laun akhirnya ia pun terlelap.


******


Waktu menunjukan pukul 6 pagi. Ellina sudah berkutat didapur.


Kebetulan makanan yang dibeli begitu banyak. Zean berpikir wanita hamil pasti memiliki nafsu makan berkali-kali lipat.


Hingga ia kalap dan tanpa pikir panjang lelaki itu memesan makanan dengan jumlah porsi untuk lima orang.


Sambil menunggu makanan hangat, Ellina membuat susu hamil untuknya dan kopi untuk Zean.


Dia pikir bukankah ini sudah menjadi bagian dari tugasnya sebagai seorang istri dalam melayani suami?


Meski hatinya masih dongkol terhadap lelaki itu karena kejadian semalam, namun ia harus tetap menghormatinya.


Ketika Ellina sedang sibuk mengaduk kopi, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara bariton seseorang dari arah belakang.


"Kau sedang apa?" tanya Zean.


Lelaki itu berjalan dengan santainya menghampiri Ellina sambil menguap dan mengucek mata. Tampak terlihat wajah bantalnya yang menandakan ia masih mengantuk.


Zean terpaksa bangun dari tidurnya karena tidak sengaja mendengar suara berisik peralatan makan saling beradu dari arah dapur.


Saat itu Ellina memang tengah membereskan bekas makan mereka semalam lalu mencucinya.


Ellina yang mendapat pertanyaan mendadak sontak membalikkan tubuhnya kebelakang.


Namun seketika netranya membulat sempurna saat ia melihat sebuah pemandangan yang tak biasa dihadapannya. Dan tiba-tiba...


Traaang


"Aaaaaaaa....!!!"

__ADS_1


Ellina menjatuhkan sendok yang digunakannya mengaduk kopi disusul dengan sebuah teriakan histeris.


Buru-buru ia menutup rapat matanya dengan kedua telapak tangan. Dan kembali membalikkan tubuhnya memunggungi Zean.


Zean yang mendengar teriakan Ellina tentu saja terkejut bukan main.


Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya dan berniat berjalan mendekati istrinya itu.


"Hey! Ada apa?! Kenapa berteriak?!" tanya Zean panik.


Ellina yang menyadari pergerakan Zean langsung mengarahkan satu tangannya kebelakang sementara satu tangannya lagi berusaha menutupi matanya.


"STOP! TETAP DITEMPATMU! KAU MEMBUATKU TAKUT!" teriak Ellina.


Zean yang bingung dengan ucapan Ellina jelas mengerutkan keningnya. Sampai detik ini ia masih belum sadar dengan apa yang terjadi.


"Membuatmu takut?! Why?!"


Saat itu juga Zean mulai memperhatikan dirinya sendiri dari atas sampai bawah.. Dan seketika...


"Oh Shitt!"


Sontak Zean membelalakan matanya ketika ia menyadari bahwa saat ini dirinya hanya mengenakan ce lana da lam boxer abu-abu super ketat tanpa penutup lainnya.


Bahkan terlihat jelas sesuatu dibawah sana menegang dan tercetak sempurna dibalik celananya itu.


Sedangkan tubuh bagian atasnya yang polos tanpa sehelai benangpun menampakkan otot-otot lengannya yang kekar dan perutnya yang six pack bagaikan roti sobek.


Membuat wanita mana saja yang melihatnya pasti akan menggila dan merasakan panas dingin. Karena penampilan Zean pagi ini benar-benar hot.


Secepat kilat Zean berbalik. Tangan kirinya menutupi aset berharga miliknya sementara tangan kanannya jelas menutupi sebagian wajahnya karena malu.


"Ma-maaf aku tidak sengaja! Aku pikir ... Ah sudahlah!" Zean tak melanjutkan kata-katanya.


Ia pikir untuk apa juga menjelaskan pada Ellina, bukankah lebih baik ia segera menghilang dari hadapan gadis itu?


Secepat kilat Zean melesat meninggalkan dapur dan kembali masuk kedalam kamar.


Brakk


Saking malu dan paniknya lelaki itu menutup pintu dengan cukup keras.


Menyadari Zean sudah pergi, perlahan Ellina menurunkan tangannya dari wajah.


Ia meraup oksigen sebanyak-banyaknya, menetralkan degub jantungnya dan mencoba mengatur nafasnya dengan baik.


"Oh Tuhan mimpi apa aku semalam?!"


Ellina langsung menyambar gelas berisikan susu hamil miliknya di meja dapur lalu meminumnya tanpa jeda hingga benar-benar tandas tak bersisa.


"Huff!"


Ellina membuang nafas kasar sambil menaruh gelas yang sudah kosong keatas meja lalu mengelap mulutnya dengan punggung telapak tangan.


"Benar-benar memalukan! Bisa-bisanya dia keluar dalam keadaan seperti itu?! Apa dia sengaja melakukannya untuk menakutiku?!" decak Ellina. Jelas ia terlihat kesal.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2