Painful Love Story

Painful Love Story
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Dikediaman Tuan Wildan, suasana diruang tamu terasa begitu menegangkan.


Seluruh anggota keluarga tengah berkumpul dengan raut wajah yang cukup serius. Hanya Tuan Wildan dan Zean yang tidak berada disana.


Sedari tadi Zidan terus menatap intens pada seorang perempuan yang tengah duduk dihadapannya saat ini. Siapa lagi jika bukan Ellina.


Sesekali Zidan membuang nafas kasar berusaha meredam emosinya yang bergejolak didalam dada.


Ia sudah mendengar semua ceritanya dari Andita. Jelas Zidan begitu terkejut dan shock saat mengetahui Zean telah menghamili seorang gadis tak dikenal.


"Kau tidak perlu khawatir, akan kupastikan putraku bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah dia lakukan kepadamu." ucap Zidan saat melihat ketakutan diwajah Ellina.


Ellina tak menjawab. Ia hanya diam seraya menggigit bibirnya dan menundukkan kepala. Jemarinya diatas paha saling bertautan.


Haruskah ia senang mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh ayah dari pria yang telah menodainya itu?


Tentu tidak.


Ellina begitu takut pada Zean. Apalagi ketika ia mengingat kemarahan pria itu beberapa waktu lalu kepadanya.


Jika bukan karena Andita yang memaksanya untuk ikut ke kediaman Tuan Wildan, mungkin saat ini Ellina lebih memilih mencari tempat tinggal baru untuknya.

__ADS_1


"Bertanggung jawab apa?!"


Tiba-tiba suara Tuan Wildan mengejutkan semua orang yang ada disana.


Lantas Zidan dan yang lainnya pun berdiri menatap Tuan Wildan yang tengah berjalan kearah mereka.


"Siapa gadis itu?" tanya Tuan Wildan saat melihat Ellina tengah dirangkul oleh Andita.


"Duduklah Ayah! Ada hal penting yang harus kita bicarakan."


******


"Apa kau bilang?! Zean menghamili perempuan ini?!" tunjuk Tuan Wildan dengan mata melotot tajam kearah Ellina. "Yang benar saja Zidan?! Apa kalian semua sedang bercanda!"


"Kami tidak bercanda Ayah! Jika Ayah tidak percaya Ayah bisa tanyakan langsung kebenarannya pada cucu kesayangan Ayah setelah dia pulang nanti." ujar Zidan.


"Ya, aku pasti akan tanyakan langsung padanya. Aku yakin cucuku tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Apalagi pada gadis sepertinya. Bisa saja dia hamil anak pria lain bukan?!"


Deg.


Saat itu juga pandangan Ellina terangkat. Dadanya begitu nyeri ketika mendengar tuduhan Tuan Wildan.

__ADS_1


"Ayah!" geram Zidan.


"Kenapa?! Bisa saja kan ucapanku benar?" Tuan Wildan membalas tatapan Zidan. "Dengar Zidan, jika benar Zean menyentuhnya di klub malam, bukan tidak mungkin dia mengangkangkan kakinya juga pada pria lain bukan? Perempuan rendahan tetaplah perempuan rendahan Zidan. Jangan pernah tertipu oleh wajahnya yang polos!"


"Perlu kalian ingat, zaman sekarang banyak sekali penipu yang menghalalkan segala cara hanya demi mendapatkan uang! Untuk itu kalian harus berhati-hati!" Tuan Wildan merendahkan pandangannya pada Ellina dengan tatapan menghina.


Ellina meremas kedua tangannya. Hatinya luar biasa perih saat ia harus kembali menerima hinaan dari Tuan Wildan.


Apa serendah itukah dirinya dimata semua orang?


Padahal Ellina sudah ikhlas jika Zean tidak mau bertanggung jawab akan janin yang dikandungnya. Toh lelaki itu juga tidak sepenuhnya bersalah.


Tak terasa air mata Ellina jatuh membasahi pipi. Sudah cukup hinaan yang ia terima dan sepertinya dia harus pergi dari sana. Saat Ellina berusaha mengumpulkan keberanian untuk berucap, tiba-tiba suara seseorang mendahuluinya.


"Dia bukan penipu Kek! Aku memang telah menghamilinya. Dan aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku!"


Seketika semua orang menoleh kebelakang. Mereka begitu terkejut saat melihat Zean sudah berdiri diambang pintu.


"Zean?!"


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2