Painful Love Story

Painful Love Story
My Angel


__ADS_3

Ditengah semilir dinginnya angin malam, Devan berdiri diatas balkon kamarnya.


Netranya menatap nyalang lurus kedepan. Satu tangannya memegang segelas wine sebagai teman pelipur lara.


Pikirannya saat ini tengah melayang pada pernyataan Ellina tadi siang.


Aku sudah menikah.


Tiga kata itu seolah mampu memporak porandakan hatinya. Harapannya untuk memiliki gadis dambaannya itu pupus sudah.


Ditambah lagi saat Ellina mengatakan bahwa dirinya tengah hamil. Tentu tak ada celah lagi bagi Devan untuk memperjuangkan cintanya.


Devan tersenyum getir. Ia menertawakan dirinya sendiri.


Kenapa hidupnya selalu seperti ini? Kenapa dirinya harus jatuh cinta pada seseorang yang tak bisa ia miliki? Bukankah itu menyakitkan?!


Devan menyesap minumannya hingga tandas lalu menaruh gelas tersebut ditembok pembatas.


Sudah lama ia tak merasakan yang namanya jatuh cinta. Kesehariannya hanya diisi dengan pekerjaan dan pekerjaan.


Memiliki perusahaan besar dan menjadi pengusaha hebat nyatanya tak membuat Devan dikelilingi cinta. Hidupnya hampa.


Bahkan Devan sempat berpikir untuk tak pernah menikah.


Bukan tanpa sebab. Perceraian kedua orang tuanya yang penuh drama menjadi alasan bagi Devan hingga membuatnya enggan membina rumah tangga.


Tapi setelah ia bertemu Ellina, prinsipnya berubah. Ia ingin menjalin hubungan dengan gadis itu dan ingin mempersuntingnya.


Gadis yang mampu menarik perhatiannya. Gadis yang membuat jiwanya kembali bersemangat.


Gadis dengan karakter lembut dan keibuan. Gadis dengan paras yang cantik dan anggun. Bahkan hanya dengan melihat senyuman diwajahnya saja membuat hati Devan menjadi damai.


Namun siapa sangka, gadis yang dipujanya ternyata milik orang lain.


"Huffh!" Devan menghela nafas berat.


Sejenak ia terpikirkan sesuatu. Saat tadi ia mengantar Ellina, dirinya sempat meminta nomor ponsel gadis itu dengan alasan pertemanan.


Tentu Ellina tak menaruh curiga. Ia mengetik nomor phone-nya di ponsel Devan. Lalu men-savenya dengan namanya sendiri, Ellina.


Secepat kilat Devan merogoh ponselnya yang ada disaku celana. Dengan lincah jemarinya mencari kontak gadis itu. Setelah dapat, dipandangnya nama yang tertera disana lekat-lekat.


Entah apa yang ada dipikiran laki-laki itu. Tiba-tiba ia mengganti nama Ellina menjadi My Angel. Seketika Devan tersenyum puas.


"Andai kau masih sendiri Ellina, aku pasti akan menjadikanmu bidadariku. Tapi tak apa. Selama aku menginginkannya, kau akan tetap menjadi bidadari dihatiku." gumam Devan.


Demi mengobati sedikit rasa patah hatinya, Devan mengirimi Ellina pesan.


[Good Night And Sweet Dream, Ellina!]


Send

__ADS_1


"My Angel." dua kata yang Devan ucapkan namun tak ia ketik dalam pesan.


******


Menumpuknya pekerjaan dikantor mengharuskan Zean untuk lembur.


Ia tak bisa menyerahkan semua tanggung jawabnya pada asisten pribadinya, karena separuh pekerjaannya pun sudah dihandle oleh asistennya itu.


Bahkan saking fokusnya, Zean sampai melewatkan makan siangnya dikantor. Namun ia tak pernah melupakan sedikit pun tentang Ellina.


Menanyakan kabar wanitanya sudah menjadi kewajibannya sehari-hari.


Wanitanya?!


Ya, selama seminggu ini Zean baru menyadari perasaannya terhadap gadis itu. Sepertinya ia sudah jatuh cinta pada Ellina.


Berawal dari rasa kasihan, simpati dan puncaknya saat jiwanya seolah terbakar ketika melihat Ellina tersenyum pada laki-laki lain dipusat perbelanjaan, membuat Zean meyakini hatinya bahwa ia memiliki perasaan lebih terhadap gadis itu.


Namun untuk sekarang Zean tak bisa mengungkapkan perasaannya karena terhalang gengsi.


Sebab dulu ia pernah memaki Ellina habis-habisan untuk kesalahan yang gadis itu tak lakukan.


Lantas demi menutupi gengsinya, Zean lebih memilih mengawali pendekatan mereka dengan cara berbeda.


Ia meminta haknya sebagai suami yang tentu saja tak akan mungkin ditolak oleh Ellina sebagai seorang istri. Dengan begitu mereka bisa selalu berdekatan.


Licik?!


Namun satu hal yang pasti, setelah malam panas yang mereka lewati seminggu lalu perasaan Zean tak main-main. Ia semakin yakin untuk tak melepaskan Ellina.


Bukan karena hasratnya semata, tapi karena dirinya benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu.


Bahkan nama Lyora dihatinya perlahan memudar walaupun belum sepenuhnya hilang.


Begitu pekerjaannya selesai Zean segera pulang ke apartemennya.


Rasanya ia tidak sabar untuk bertemu dengan Ellina. Sosok wanita yang sangat dia rindukan.


Ada rasa bersalah menyusup kedalam hati karena hari ini Zean hanya sekali mengirimi Ellina pesan.


Dan demi menebus kesalahannya Zean menyempatkan diri membelikan setangkai mawar merah sebagai bentuk permintaan maafnya pada gadis itu.


Saat tiba didalam apartemen, pandangan Zean mengedar.


Beberapa lampu telah dimatikan. Wajar, karena waktu sudah menunjukan hampir tengah malam.


Zean bisa menebak pasti saat ini Ellina sudah tertidur pulas.


Segera ia melepas sepatu dan menggantinya dengan sandal rumah, lalu dengan perlahan Zean melangkahkan kakinya kedalam kamar Ellina.


Dan benar saja dugaannya, gadis itu sudah terlelap diatas ranjang.

__ADS_1


Zean tersenyum simpul. Lantas ia berjalan menghampiri Ellina dan mendudukkan dirinya disisi ranjang.


Ia menaruh bunga mawar yang dibelinya disamping kepala Ellina.


Kemudian tangannya terulur membenahi sulur rambut gadis itu. Mengusap wajahnya dengan lembut dan menatapnya penuh cinta.


Sekilas Zean mengecup bibir Ellina kemudian mendaratkan kecupan hangat diujung kepalanya.


Dengan lirih Zean berbisik.


"I Love You My Wife."


******


Pagi telah tiba. Sinar mentari mulai menerangi bumi dan seisinya. Bahkan seberkas cahayanya masuk tanpa permisi melalui celah tirai yang sedikit terbuka.


Ellina mengerjap ketika segaris sinar itu mengenai wajahnya. Ia membiasakan matanya dengan cahaya dan mulai memfokuskan pandangannya secara perlahan.


Dan seketika senyumnya mengembang kala ia melihat sesosok pria yang sangat ia rindukan sejak kemarin siang tengah memeluknya.


Ellina memberanikan diri mengangkat satu tangannya berniat mengusap wajah tampan nan tegas itu.


Ia benar-benar menyentuh dan mengusapnya. Mulai dari alis, mata, hidung, bibir, hingga rahangnya yang kokoh.


Ellina berharap sang pemilik wajah tidak buru-buru terbangun agar ia bisa lebih lama menyentuh dan memandangnya hingga puas.


"Kau menyukainya?"


Deg


Seketika netra Ellina membeliak sempurna. Dia pikir lelaki itu belum bangun dari tidurnya, tapi ternyata dugaannya salah. Buru-buru Ellina menjauhkan tangannya dari wajah Zean.


Namun secepat kilat Zean menahannya. Hingga tangan Ellina masih menempel diwajahnya.


Perlahan Zean membuka mata hingga kini tatapan keduanya bertemu dan saling mengunci.


"Kau menyukainya?" tanya Zean. Mengulang pertanyaan yang sama.


"Apa?!" tanya Ellina gugup. Ia benar-benar malu karena sudah tertangkap basah memandangi lelaki itu.


Zean tak menjawab. Ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ellina. Kemudian meraih bunga mawar yang ada dibelakang kepala gadis itu.


"Untukmu. Aku harap kau menyukainya." Zean menyodorkan bunga tersebut ditengah-tengah mereka seraya menatap dalam bola mata gadis itu.


Ellina nampak tercengang. Ia yang sama sekali tidak paham maksud dari laki-laki dihadapannya saat ini hanya bisa menatap bunga dan wajah Zean bergantian.


Dia memberiku bunga?! Apa maksudnya??


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2