
Zean melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Tak lagi ia pedulikan keselamatannya karena saat ini perasaannya benar-benar sakit dan hancur.
Ingatan ketika Devan memberinya bukti bahwa sang kakek telah mempermainkan dirinya membuatnya shock.
Berulangkali Zean menjambak rambut frustasi. Berulangkali juga ia memukul stir kemudi. Dia marah sangat marah, bahkan sampai pada titik kecewa.
Zean tak habis pikir kenapa kakeknya bisa melakukan ini padanya? Bukankah kakeknya tahu bahwa dia sangat mencintai Lyora.
Lyora...
Mengingat nama wanita itu seketika Zean merasa bersalah. Seharusnya dia menyelidiki dulu kebenaran yang disampaikan Lyora ketika terakhir kali mereka bertemu di cafe. Bukan malah menghardiknya dengan kasar.
Sungguh Zean amat sangat menyesal. Hingga tanpa sadar netranya membasah karena penyesalan yang menderanya.
******
Begitu tiba dikediaman sang Kakek, Zean yang sudah dipenuhi oleh amarah segera keluar dari mobil dengan wajah merah padam sambil memegang sebuah map berisikan bukti yang dibawanya dari rumah Devan.
Lelaki itu langsung masuk tanpa mempedulikan para pengawal kakeknya yang memberi hormat padanya didepan pintu utama.
Yang ada dipikiran Zean saat ini adalah ia harus segera bertemu dengan sang kakek dan menanyakan langsung alasan mengapa kakeknya sampai hati membuat skenario untuk menjebak Lyora, walau sebenarnya ia sendiri sudah tahu kebenarannya dari Devan.
Ketika Zean memasuki ruang keluarga, netranya langsung menemukan sosok yang dicarinya. Sang Kakek saat ini tengah asyik menonton televisi ditemani sang nenek sambil sesekali tertawa renyah. Walau sudah berusia lanjut, keduanya memang selalu tampak mesra.
Itulah yang Zean lihat. Sampai ia berharap kelak ia bisa menemukan dan menikah dengan sosok wanita sederhana seperti ibu dan neneknya. Dan ia menemukan kesederhanaan itu pada Lyora.
Tapi sayangnya harapan itu kini telah hancur. Dan kehancuran itu dibuat oleh kakeknya sendiri.
Zean menyeka air matanya lalu menghembuskan napas kasar.
Dengan langkah lebar ia segera berjalan menghampiri keduanya. Lalu tanpa bisa ditahan lelaki itu membanting kasar map yang ia bawa keatas meja. Hingga Tuan Wildan dan Nyonya Liyana terhenyak dan mendongak menatapnya.
"Zean?!" ucap Tuan Wildan dan Nyonya Liyana bersamaan.
"Bisa Kakek jelaskan semua ini?!" suara Zean tertahan dibalik giginya yang terkatup rapat.
"Zean, ada apa Nak? Kenapa wajahmu penuh luka seperti itu?" tanya Nyonya Liyana khawatir saat melihat penampilan cucunya yang berantakan dan penuh lebam. Dia pun langsung berdiri menghampiri Zean.
"Aku seperti ini karenanya Nek." jawab Zean singkat. Pandangan matanya menatap nyalang kearah sang kakek.
"Apa maksudmu?" tanya Tuan Wildan tak mengerti.
"Ambil dan bukalah map itu Kek. Kau pasti akan mengerti!"
__ADS_1
Tuan Wildan terpaku melihat sikap sang cucu yang sedikit kasar, ini bukan Zean yang biasanya. Dan entah kenapa tiba-tiba perasaannya mendadak tidak enak.
Ditatapnya map tersebut. Tuan Wildan menghela napas berat kemudian meraih map tersebut lalu membukanya dengan tenang.
Namun ketenangan yang ia tunjukkan tidak bertahan lama karena didetik berikutnya raut wajahnya terlihat tegang.
Apa ini?! Bagaimana bisa surat ini ada pada Zean?!
Melihat keterkejutan diwajah kakeknya, hati Zean semakin sakit, marah, dan kecewa.
"Sekarang jelaskan padaku Kek, kenapa Kakek melakukan ini?!" tanya Zean dengan dada naik turun menahan amarah.
"Darimana kau dapat surat ini Nak?" bukannya menjelaskan, Tuan Wildan malah balik bertanya.
"Devan yang memberikannya!"
Deg
Devan?! Kurang ajar! Bukankkah anak itu sudah berjanji untuk menjaga rahasia ini?!
Tampak Tuan Wildan mengetatkan rahangnya.
"Ada apa Kek? Kenapa Kakek tampak terkejut? Ah, Kakek pasti tidak menyangka bukan kalau Devan akan memberikan surat ini padaku?"
"Surat pengalihan nama kepemilikan perusahaan?" ucapnya pelan setelah membaca surat tersebut. Lalu netranya melirik kearah sang suami. "Suamiku, kau memberikan begitu saja perusahaanmu di Singapore pada orang lain? Memangnya siapa Devan? Dan kenapa banyak sekali transferan dana keperusahaan Erlangga?"
Tuan Wildan tak menjawab pertanyaan Nyonya Liyana, fokusnya saat ini hanya pada Zean. Bagaimana pun caranya dia harus membuat Zean percaya akan penjelasannya.
"Kau marah karena Kakek memberikan perusahaan di Singapore pada Devan? Kalau itu masalahnya Kakek bisa jelaskan Nak. Asal kau tahu Kakek tidak memberikan perusahaan secara cuma-cuma. Ada hal yang Devan lakukan untuk perusahaan kita. Sehingga Kakek memberinya imbalan berupa perusahaan tersebut."
Zean tersenyum getir. Bahkan sampai detik ini kakeknya masih saja berbohong padanya.
"Benar begitu Kek?"
"Tentu saja. Mana mungkin Kakek berbohong padamu."
"Kalau begitu apa yang Devan lakukan untuk perusahaan kita sampai Kakek memberinya imbalan yang begitu besar bahkan sampai membantu perusahaan Ayahnya yang nyaris bangkrut? Boleh aku tahu?"
Mendengar pertanyaan Zean seketika wajah Tuan Wildan kembali tegang. Dia yakin Zean sudah mengetahui rahasianya.
Devan sialan!
"Kakek tidak bisa menjelaskan itu padamu Zean. Lagipula meski kau cucuku, kau tidak berhak mencampuri urusan Kakek." tegas Tuan Wildan hingga membuat Zean bertambah geram.
__ADS_1
"Kalau aku tidak boleh mencampuri Kakek kenapa Kakek mencampuri urusanku?!" tanya Zean dengan suara meninggi.
Seketika Tuan Wildan berdiri dari duduknya.
"Apa maksudmu?! Urusanmu yang mana yang Kakek campuri?" Tuan Wildan tak kalah marah.
Melihat situasi yang tak terkendali, Nyonya Liyana mencoba menengahi.
"Zean, katakan apa yang membuatmu begitu marah agar kami mengerti. Dan kenapa wajahmu penuh luka?"
"Nenek ingin tahu apa yang membuatku marah?"
Nyonya Liyana mengangguk.
"Ya katakan Nak."
"Suami tercinta nenek ini, dia telah mempermainkan hidupku Nek."
Nyonya Liyana semakin bingung dengan jawaban sang cucu.
"Mempermainkan hidupmu bagaimana? Katakan dengan jelas!"
Zean menatap Tuan Wildan dengan tajam, begitu pun dengan Tuan Wildan seolah keduanya tengah beradu kekuatan.
"Nenek tahu? selama ini ternyata Kakek hanya berpura-pura baik pada Lyora dan merestui hubungan kami. Padahal sebenarnya tidak. Alasannya hanya karena status sosial. Parahnya demi memisahkan kami, Kakek menyuruh Devan mendekati Lyora supaya Lyora terkesan berselingkuh dariku. Dan sebagai imbalannya, Kakek membantu perusahaan Ayah Devan yang nyaris bangkrut, serta memberikan perusahaan di Singapore sebagai bonus jika lelaki itu berhasil membuatku memutuskan hubungan dengan Lyora dan membencinya!"
Deg
"Apa??" Nyonya tampak terkejut mendengarnya. Begitu pun dengan Tuan Wildan. Lelaki tua itu memejamkan mata seraya menipiskan bibir.
Devan, aku bersumpah kau akan menerima akibatnya!
"Kau tidak bisa menuduh Kakekmu tanpa bukti yang kuat Zean!" ucap Tuan Wildan dengan mendelik tajam.
Zean menggeleng pelan, tak percaya jika kakeknya masih saja mengelak. Kemudian Zean mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan mengangkat benda itu ke udara.
"Kurasa bukti disini cukup kuat untuk membuat Kakek mengakui semuanya."
Seketika netra Tuan Wildan dan Nyonya Liyana menatap kearah benda tersebut.
.
.
__ADS_1