
Selama film diputar, ekspresi Zean terlihat masam dan kesal. Bagaimana tidak?!
Niat hati ingin menghabiskan waktu menonton berdua bersama wanita yang dicintainya agar kencannya berkesan, tapi yang terjadi malah sang sahabat tiba-tiba muncul dan mengacaukan semuanya.
Dengan mengancam akan memberitahu Ellina tentang alasan konyolnya menikahi gadis itu jika ia tak diajak bergabung, akhirnya mau tidak mau Zean mengizinkan Darren untuk menonton film bersama.
Tapi dengan syarat mereka harus duduk dibaris bangku terpisah.
Darren dan kekasihnya pun setuju. Pada akhirnya mereka mengadakan kencan ganda dadakan.
Disaat film berlangsung, mereka berempat tidak benar-benar menonton.
Konsentrasi Ellina dan Zean pecah kala mendengar suara menjijikan dari baris sebelah kiri diseberang tempat mereka duduk.
Dengan tidak tahu malunya, Darren mencumbu wanita yang diajaknya berkencan didalam studio bioskop.
"Benar-benar ba.jingan! Aku yang menyewa dia yang menikmati!" umpat Zean.
Ia menyembunyikan kepala Ellina didadanya sambil menutup mata perempuan itu agar tak melihat kelakuan Darren.
Ellina hendak protes namun ia tak berani saat melihat ekspresi Zean yang kesal.
Akhirnya Ellina lebih memilih diam. Ia tak jadi menonton dan malah lebih menikmati aroma mint tubuh sang suami yang memenuhi diindera penciumannya. Menenangkan.
Film telah usai, mereka keluar dari studio dengan raut wajah berbeda. Zean yang tampak kesal dan Darren yang begitu senang. Sementara para wanita hanya diam.
Zean menyuruh Darren untuk pergi ketempat lain. Ia tak ingin kelanjutan acara kencan yang telah disusunnya dengan matang menjadi berantakan.
Awalnya Darren menolak. Namun ketika melihat Zean mendelik tajam kearahnya seolah memberi isyarat akhirnya Darren pun mengerti bahwa sahabatnya itu tengah melakukan pendekatan.
Begitu mereka berpisah, Zean mengajak Ellina ke Time Zone yang ada di mall tersebut. Kedua insan itu bermain sepuasnya.
"Bisa tidak?!" tanya Zean tepat dibelakang Ellina yang hendak mencapit boneka.
Deg
Seketika tubuh Ellina menegang. Wajah mereka yang bersisian menghadap kotak kaca berisi beragam boneka membuat Ellina salah tingkah.
"Ehmm.. Aku.. aku baru akan mencobanya."
Tanpa izin Zean menyentuh tangan Ellina lalu mulai mengarahkannya pada boneka.
"Perhatikan baik-baik!"
Hanya dengan sekali gerakan Zean berhasil mendapatkan satu boneka harimau berukuran sedang yang lucu. Lalu ia berikan boneka itu pada Ellina.
__ADS_1
Tampak Ellina sangat senang menerimanya. Dan saking senangnya refleks Ellina mencium salah satu pipi Zean.
Cup
"Terimakasih!"
Sontak Zean terkesiap lalu menatap Ellina lekat-lekat. Sementara Ellina yang tersadar dengan apa yang dilakukannya langsung terkejut dan menatap Zean dengan perasaan bersalah. Hingga keduanya kini saling bertatapan.
*****
Tak terasa malam semakin larut. Setelah puas bermain dan perut sudah kenyang, Zean dan Ellina memutuskan untuk pulang.
Selama diperjalanan keduanya tak henti-hentinya mengumbar senyum saat mengingat kekonyolan mereka bermain di Time Zone.
Bahkan kini kedua sejoli itu sudah tak canggung lagi untuk saling menggenggam tangan dan memandang. Meski belum ada kata cinta yang terucap.
Sesekali Zean menoleh kearah Ellina, pun dengan Ellina yang menoleh kearah Zean.
Kemudian mereka tertawa bersama walau tak ada yang dibahas. Seolah-olah bahasa tubuh mereka sudah cukup menggambarkan perasaan keduanya saat ini.
"Kau senang?" tanya Zean.
"Sangat! Terimakasih sudah mengajakku berkencan!" jawab Ellina.
"Aku harap ini bukan kencan terakhir kita." sekilas Zean melihat Ellina lalu kembali melihat jalanan didepannya.
Tiba-tiba ponsel Ellina berdering. Ia melepaskan tautan tangannya dari Zean. Lalu merogoh ponselnya dari dalam tas.
Ellina melihat id si pemanggil. Uncle Kenzi.
Mau apa dia menghubungiku?!
Ellina jadi ingat, hari ini sudah beberapa kali Devan mengiriminya pesan. Bahkan sejak semalam. Entah apa maksudnya. Yang pasti tak ada satupun pesan dari Devan yang Ellina balas.
Bagaimana Ellina akan membalas, jika pesan yang dikirim Devan menurutnya tidak pantas dikirimkan kepada seseorang yang sudah berumah tangga sepertinya?!
Devan mengucapkan selamat malam, selamat pagi, menanyakan sedang apa, sudah makan atau belum, jangan telat makan dan sebagainya.
Jika dipikir bukankah pesan seperti itu hanya pantas dikirimkan pada seorang kekasih?
Demi menghargai perasaan Zean, Ellina menolak panggilan tersebut. Lalu mematikan ponselnya.
Sekilas Zean melihat tindakan Ellina, membuatnya penasaran untuk bertanya.
"Kenapa dimatikan?"
__ADS_1
Deg
"Tidak apa-apa. Tidak penting." jawab Ellina cepat. Ia segera memasukan kembali ponselnya kedalam tas.
"Tidak penting? Memang telepon dari siapa?" selIdik Zean.
"Hmm, Uncle Kenzi." jawab Ellina ragu.
Zean mengernyitkan dahi.
"Uncle Kenzi? Siapa dia?"
"Dia.. Dia adalah paman dari anak kecil yang pernah aku tolong sewaktu dipusat perbelanjaan. Kau ingatkan, anak kecil yang pernah kuceritakan padamu?!" tanya Ellina.
"Ya. Aku ingat. Kau memberikan nomor ponselmu pada pamannya?!" nada suara Zean terdengar tidak suka.
Ellina mengangguk pelan.
"Ya... dia yang meminta."
"Untuk apa?!"
"Dia bilang kami bisa berteman."
"Berteman?!" sorot mata Zean berubah tajam.
Tiba-tiba Zean menepikan mobilnya dipinggir jalan. Cemburu mulai merayapinya. Ia berusaha tetap tenang dengan menarik nafas dalam-dalam.
"Zean, kenapa kita berhenti disini?!" tanya Ellina. Namun Zean tak menjawab.
"Ellina." panggil Zean. Pria itu menoleh pada Ellina begitu juga dengan Ellina hingga kini keduanya saling bertatap-tatapan.
"Ya?!"
"Mulai sekarang terbukalah padaku!"
"Maksudmu?!"
"Lupakan semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu sebelum kita menikah. Aku ingin kita memulai semuanya dari awal. Aku tidak ingin ada orang ketiga diantara kita. Aku harap kau mengerti maksudku!"
"Memulai semuanya dari awal?" ulang Ellina yang tak mengerti.
Zean mengangguk.
"Ya memulai semuanya dari awal."
__ADS_1
.
.